BERDAUN RINDU BERBUNGA SUNYI

BERDAUN RINDU BERBUNGA SUNYI
BAB 26 : LOMBA PUISI


__ADS_3

Seusai pelajaran, Nazaruddin bersama Ari berjalan menuju ke Kantin...!


Wajahnya terlihat berseri-seri setelah di umumkannya hasil ulangan mereka oleh wali kelas dua A pak Sigit Suparman yang rata-rata di atas angka delapan.


“Zar, lo mau pesen apa?” tanya Ari setibanya di Kantin.


“Gue nasi goreng aja, Ri!” ucap Nazaruddin.


“Eh, Zar, sebentar ya, gue mau beli minum dulu di depan.” balas Ari.


“OK, Ri!” Nazaruddin menjawab tanpa menengok sahabatnya itu.


Tak lama kemudian Ari sudah kembali. Air mukanya terlihat memendam kegembiraan. Setengah berlari ia menghampiri Nazaruddin yang tengah menyantap nasi goreng.


“Zar! Nazar! Kabar gembira!” seru Ari.


“Kabar apaan, Ri?” sejenak Nazaruddin berhenti mengunyah.


“Tadi sewaktu gue jalan lewat mading Sekolah, nggak sengaja gue baca pamflet, ternyata ada lomba!” terang Ari.


“Lomba apaan, Ri?” Tanya Nazaruddin penuh perhatian.


“Banyak, Zar! Ada lomba puisi, karya ilmiah sama festifal musik!” jelas Ari.


“Wah! Menarik juga, Ri! Emang kapan acaranya?” tanya Nazaruddin.


“Aduh, pamflet itu belum gue baca seluruhnya. Tapi, gue jadi punya ide OK banget buat lo, Zar!” Ari mulai menyantap nasi gorengnya.


“Maksud lo?” tanya Nazaruddin kembali.


“Iya, gue kan tau lo lagi pendekatan sama Intan. Nah, gimana kalo dia lo ajak ikut lomba? Cool khan?” jelas Ari.


“Boleh juga ide lo!” balas Nazaruddin. “Tapi, gimana caranya supaya dia mau ikut lomba ya?” pikir Nazaruddin lagi.


“Gampang, lo kasih tau aja dulu sama dia, gue yakin dia pasti mau kok!” Ari mengakhiri makannya.


“Berarti nanti gue harus jemput dia pas pulang sekolah?” tanya Nazaruddin.


Iya dong!” balas Ari tersenyum.


***


Selepas Dzuhur, Nazaruddin sudah menunggu setia di gerbang sekolah. Ia memperhatikan satu persatu murid-murid sekolah yang melintas di depannya. Tapi tak lama Intan sudah melambaikan tangan dari kejauhan sambil tersenyum.


“Lama ya, nunggu Zar?” tanya Intan.


“Ah, nggak. Gue seneng kok nunggu elo Tan!.” balas Nazaruddin.


"Kenapa nggak nunggu di ruangan OSIS aja tadi Zar?" Tanya Intan lagi.


"Nggak enak Tan, di lihat anak-anak yang lain!" Balas Nazaruddin.


Mereka berdua berjalan menuju ke jalan raya, bersamaan dengan murid-murid yang lain. Siang itu cuacanya cerah. Angin bertiup begitu lembut menemani mereka berdua sampai ke tepi jalan.


“Oh ya, Tan! nanti di sekolah mau ada lomba loh.” sapa Nazaruddin membuka pembicaraan.


“Lomba apaan?” Intan bertanya dengan diiringi senyum.


“Banyak, ada lomba puisi, karya ilmiah, dan band. Nah, rencananya gue mau ngajakin elo ikut lomba puisi, mau nggak?” tanya Nazaruddin setelah menjelaskan.


“Yah, gue kan nggak bisa berpuisi…!” keluh Intan.


“Gampang nanti gue ajarin, asal elo mau.” balas Nazaruddin serius.

__ADS_1


“Tapi, bener kan nanti diajarin dulu?” Intan masih terlihat ragu.


“Iya, tenang aja!” Nazaruddin kembali menegaskan.


Akhirnya Intan pun menerima ajakan Nazaruddin. Tak lama kemudian mereka berdua menaiki kendaraan menuju pulang.


***


"Assalamu’alaikum..!” ucap Intan sesampai di depan rumahnya.


“Heeee, Zar tunggu sebentar ya!” ucap Intan.


Nazaruddin duduk di sebuah kursi menunggu di teras, sedangkan Intan bergegas masuk ke dalam. Nazaruddin mengeluarkan beberapa lembar kertas dan pena dari dalam tasnya.


“Apa ya, tema yang cocok buat dipentaskan nanti..?” ucap Nazaruddin dalam hati.


Seketika ide bermunculan dalam benaknya. Setengah tersenyum Nazaruddin mulai menulis kata demi kata. Begitu seriusnya ia menatap lembaran kertas. Tiba-tiba, Intan muncul dari balik pintu sambil mambawa secangkir kopi hangat. Sesaat Nazaruddin mengangkat wajahnya menyimak sosok Intan yang tengah menghampirinya.


“Zar, ini kopinya!” Intan meletakannya di atas meja.


“Makasih ya, Tan!” ucap Nazaruddin.


Intan terlihat begitu anggun mengenakan kaos berwarna hijau muda.


Seperti biasa rambutnya selalu di ikat. Kemudian duduk tepat di samping Nazaruddin.


“Emang kapan sih mulai lombanya?” Tanya Intan.


“Sekitar satu mingguan lagi deh kayaknya.” jawab Nazaruddin.


“Nih, coba kamu baca deh. Bagus nggak?” Nazaruddin memberikan konsep puisinya.


“UNTUK SEBUAH CINTA…?” Intan mengangkat alisnya. Nazaruddin tersenyum.


Tak lama puisi pun tercipta sepenuhnya. Nazaruddin mulai mengajari Intan cara membacanya. Secara berulang Intan berusaha membaca serta memahami isi puisi tersebut. Sesekali mereka berdua bercanda ria tertawa dibawah indahnya sinar mentari senja yang mulai meredup sinarnya. Nazaruddin sempat menyanyikan sebuah lagu ciptaannya yang ia ciptakan khusus buat Intan. Suasana menjelang senja itu terkesan begitu romantis dan puitis bagi mereka berdua.


***


intan terlihat sedikit tegang menunggu nomor urutannya.


“Santai aja, Tan! Nggak perlu tegang! Nanti gue bantu do’ain biar semuanya lancar, OK?” ucap Nazaruddin memberikan support.


Intan mulai menaiki pentas. Ia sempat melambaikan tangan pada Nazaruddin. Air mata haru bercampur bahagia menggenang di pipi Nazaruddin dan dia bergegas berjalan ke depan pentas. Ia ingin menyaksikan Intan lebih dekat.


Sorak-sorai penonton begitu hingar bingar. Semua bertepuk tangan setelah Intan mulai membacakan puisinya. Teman-teman cowo' Nazaruddin, seperti Ari, Fakih, Bagas, Bambang, Elani pun tidak mau ketinggalan untuk menyaksikan acara yang meriah itu.


Sambil membaca, Intan sesekali memandang Nazaruddin yang berdiri setia di depannya, tepat di tengah-tengah penonton. Begitu menyentuh! Begitu syahdu! Intan membacakan puisinya. Hingga para juri sempat menggelengkan kepala sambil bertepuk-tangan.


Akhirnya tak lama Intan menyelesaikan bait demi bait terakhirnya dengan lancar. Setelah mengucapkan terima kasih dan salam, ia pun berjalan menuruni pentas. Nazaruddin yang berada di depan pentas pun segera berlari menghampiri cewe' itu.


“Gimana Zar, tadi gue?” sergah Intan.


“Top pake banget, Tan! Mudah-mudahan elo jadi juaranya ya!” Nazaruddin menjabat tangan Intan.


“Gimana kalau sekarang kita ke taman? Sambil menunggu pengumuman!” ajak Nazaruddin ceria.


“Yuk!” balas Intan.


Sesampainya di taman sekolah, mereka berdua duduk di atas rumput memandangi kolam di depannya. Kolamnya tidak terlau besar, tapi airnya jernih, sehingga ikan-ikannya dapat terlihat dengan jelas.


“Iiiih Zar, gue tadi tegang banget loh!” jelas Intan.


“Iya? Tapi kan elo akhirnya bisa juga mengatasinya.” balas Nazaruddin.

__ADS_1


“Alhamdulillah, mungkin itu berkat do’anya elo yang ikhlas juga!” balas Intan.


“Eh, Tan, sebentar ya! Gue mau kesitu dulu!” sela Nazaruddin tiba-tiba.


“Iiiih, elo mau kemana? Jangan lama-lama ya!” Cemas Intan.


Nazaruddin berjalan melewati beberapa pepohonan hingga tak terlihat lagi oleh Intan. Beberapa menit sudah berlalu, tapi Nazaruddin belum juga muncul. Intan memandang berkeliling dengan cemas.


Tiba-tiba, ketika Intan tengah menatap kosong ke tengah kolam, Nazaruddin muncul dari belakang hingga mengagetkan Intan.


“Dari mana sih Zar? Kok lama amat?” Tanya Intan yang masih kaget.


“Gue nyari sesuatu buat elo, Tan!” Nazaruddin menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya.


“Nyari apa?” Tanya Intan penasaran.


“Ini! Bunga buat elo!” Nazaruddin memberikannya.


Intan sempat terharu oleh kejutan Nazaruddin yang sederhana dan sudah biasa di lakukan oleh siapa saja namun buat Intan hal ini begitu mengesankan.


Pipinya memerah dan hasrat Nazaruddin pun merekah.


“Makasih ya!” Intan meraih bunga itu dan menciumnya.


“Oooi ya, Tan! Ayo kita kembali lagi ke pentas. Mungkin pemenangnya sudah diumumkan!”


***


Terlihat suasana pentas masih terlihat ramai. Benar dugaan mereka! Ternyata para juri tengah bersiap-siap mengumumkan para pemenangnya.


“Baiklah, setelah kami menilai penampilan dari para peserta lomba puisi tadi, maka dengan ini kami memutuskan, yang menjadi juara pertama dalam lomba ini adalah…”


Semua penonton menyimak dengan seksama termasuk Nazaruddin dan Intan tentunya.


“INTAN PUTRI…!” teriak juri.


Mendengar nama “INTAN PUTRI”, seketika Nazaruddin dan Intan terharu. Mereka berdua tidak menyangka bisa menang di lomba itu. Ari, Fakih, Bagas, Bambang dan Elani pun tak henti berteriak-teriak nama Intan di pinggir pentas.


Setelah mendapat tropy, akhirnya Intan pun pamit pulang dengan ditemani Nazaruddin. Hari sudah mulai senja. Sinar matahari terlihat kuning keemasan di ufuk barat membelai rambut Intan yang panjang terurai.


***


Sesampainya di rumah, Intan bergegas menerobos pintu depan rumahnya dengan riang gembira. Nazaruddin tertawa melihatnya.


“Mah, Pah! Intan juara!” teriak Intan dari dalam.


Ketika Nazaruddin tengah duduk menunggu di teras, Intan muncul bersama mamahnya dari balik pintu.


“Mah, kenalin! Ini Nazaruddin!” kata Intan pada mamahnya.


Nazaruddin mencium tangan mamahnya Intan sambil memperkenalkan diri. Mamahnya tersenyum dan Intan pun menyertainya.


“Makasih ya, udah ngajarin Intan berpuisi, sampai Intan bisa juara seperti ini!”


Mamahnya Intan tertawa senang.


“Sama-sama, bu,!” jawab Nazaruddin.


“O ya, Tan, Bu, Saya mau pamit pulang dulu!” Nazaruddin beranjak dari duduk.


“Iya, hati-hati ya!” jawab mamahnya Intan.


Intan mengantarkan Nazaruddin sampai di pintu pagar rumah.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum..!” ucap Nazaruddin.


“Wa’alaikumsalam…” jawab Intan sambil melambaikan tangan.


__ADS_2