BERDAUN RINDU BERBUNGA SUNYI

BERDAUN RINDU BERBUNGA SUNYI
BAB 27 : PELAJARAN KOSONG


__ADS_3

"Setiap hati ada geraknya, kadang menghempas hasrat terpendam. Selimut diri dengan misteri hingga nafas terkadang bergetar akan sebuah kisah "Berdaun Rindu Berbunga Sunyi"


Kisah remaja berhembus samar, antara ada dan tiada karena masa hanya omong kosong belaka.


Mau melangkah apa? Seperti apa? Bagaimana? Itu akan menjadi pertanyaan lanjutan yang tiada terjawab untuk sementara waktu."


***


"Pelajaran kosong".


Tanyakan pada pelajar Sekolah Menengah Pertama di mana pun, kata-kata ini nilainya tinggi sekali, jauh lebih tinggi dari pada "Batal Ulangan" sekalipun. Mungkin kata-kata yang bisa menandingi nilai "Pelajaran Kosong" hanyalah "Seluruh Guru Rapat dan Semua Siswa Siswi Boleh Pulang!". Itulah sebabnya suasana kelas hari ini ramai sekali dan keramaian ini di mulai saat mereka mendengar bahwa guru Fisika, Pak Hadi Parjono, tidak bisa mengajar hari ini karena sedang menjalani perawatan Intensif di Rumah Sakit setelah menjalani operasi Apendik atau nama kerennya usus buntu.


Dengan mempunyai arti, dua pelajaran penuh, dua kali 45 menit, mereka bebas dari pengawasan guru karena guru-guru yang lain sibuk mengajar. Pak Hadi Parjono memberikan tugas meringkas dua bab dari buku diktat. Tapi rasanya murid-murid tidak ada yang menganggap penting tugas itu sekarang. Yang penting sekarang adalah pelajaran kosong, dan ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.


"Kalian bisa diam, tidak?" tiba-tiba saja Bu Nurul, yang sedang mengajar Geograpi dan Kependudukan di kelas sebelah, masuk ke dalam kelas A. Murid-murid cepat-cepat kembali ke tempat duduknya masing-masing.


Bertepatan dengan itu, Pak Umar Yamin, kepala sekolah Sekolah Menengah Pertama Kotabumi mengetuk pintu kelas. "Terima kasih, Bu Nurul. Saya akan jaga di kelas ini," kata Pak Umar Yamin.


"Rosa, tugas apa yang diberikan Pak Hadi Parjono?" tanya Pak Umar Yamin pada Rosa.


"Meringkas bab 3 dan bab 4 dari buku paket, Pak." jawab Rosa sebagai wakil ketua kelas.


"Bagus. Sekarang kalian duduk manis dan meringkas. Saya akan duduk di sini, menonton kalian meringkas." kata Pak Umar Yamin sambil duduk di depan, di kursi guru. Anak-anak terlihat kecewa. Hilanglah harapan mereka untuk bersenang-senang selama dua jam pelajaran. Seandainya saja bukan Pak Umar Yamin, sedikit banyak mereka pasti berani untuk menyatakan protes. Mereka sangat menghormati Pak Umar Yamin. Bukan karena dia galak, melainkan justru karena Pak Umar Yamin tidak pernah marah, tapi penuh wibawa. Jadi sekarang mereka terpaksa diam dan meringkas bab 3 dan bab 4 dari buku paket yang telah di berikan pak Hadi Parjono sebelumnya.


"Cha, gue boleh ikut lihat buku diktatnya" buku diktat gue ketinggalan." tanya Ari.


Rosa berpikir sejenak, lalu menjawab, "Nih, pinjam saja, Ri!. Gue sudah selesai meringkas. Kemarin malam gue nggak ada kerjaan, jadi sudah meringkas separuh. Pas anak-anak ramai tadi gue terusin meringkas yang separuhnya. Jadi elo boleh pinjam, Ri," kata Rosa sambil mendorongkan buku itu ke arah Ari.


Sebetulnya Rosa belum selesai, kurang satu sub-bab lagi, tapi dia lagi malas sharing satu buku dengan Ari. Lagipula Ari perlu mulai dari awal, sedangkan Rosa sudah hampir selesai, tinggal halaman terakhir.


"Terima kasih, ya Cha!" kata Ari, lalu mulai menulis.

__ADS_1


Rosa mengambil buku catatan kecil dari tasnya, menyobek secarik kertas dari situ, lalu sibuk menulis pula.


"Elo lantas menulis apa?" bisik Ari.


Rosa diam saja. Lagi malas menjawab perkataan cowo' ini.


"Cha...!?" Lanjut Ari.


"Bukan urusan elo. Elo meringkas saja, sana?" Jawab Rosa kemudian.


"Iiih" galaknya nona wakil ketua kelas." kata Ari, lalu meneruskan ringkasannya.


Diam-diam Ari mencoba membaca yang Rosa tulis. Cuma ingin tahu saja. Sekilas empat baris terbaca.


Kekacauan akan logika manusia.


Iblis bertopeng cinta.


Mekar di dalam hati.


Ari tercenung, dia bisa melihat cewe' yang satu ini sangat berbeda dari cewe' kebanyakan. Sorot matanya tajam dan terlihat begitu cerdas, dapat dipastikan dia penuh percaya diri. Wakil ketua kelas pula, karena ketua kelasnya merupakan kekasihnya sendiri Fakih.


Empat baris puisi yang sekilas dilihatnya senantiasa terbayang-bayang di ingatannya. Rosa bicara tentang asmara di puisinya. Jadi dia pasti pernah jatuh cinta, Ari menyimpulkan. Tapi dengan siapa? "Di mana dia sekarang" Puisi itu sendiri begitu misterius, susah menyimpulkan begitu saja dari empat baris puisi itu. "Gue harus berhasil mendapatkan kertas kecil itu, itu satu-satunya cara untuk mengetahui tentang Rosa."


***


Kisah cintamu dan deritamu karena berat menghadang dunia dalam kekacauan akan logika manusia.


Menyandang sebagai manusia, bisa malaikat juga bisa iblis dengan isyarat cinta.


Rasa dan asa hati lepaskan meninggalkan sebuah kenangan pahit akan kekecewaan.

__ADS_1


Kau, mekar di dalam hati namun tak berdaun.


"Huh"! Tetap saja tidak mengerti." keluh Ari.


Ari berhasil mencuri lihat buku mungil itu dari tas Rosa. Dibacanya berulang kali akan tetapi tetap saja penuh misteri. Siapa yang dimaksud "manusia" itu "Siapa bisa malaikat juga bisa iblis dengan isyarat cinta"


"Ah, benar-benar bikin penasaran cewek yang satu ini," gumamnya, sambil meletakkan kertas itu di atas meja.


Bagas, teman sekelas, sekaligus teman main basket Ari, menepuk pundaknya. "Hey, Ri! Tumben kamu enggak di kerumuni cewe' hari ini" sapa Bagas.


"Tadi gue bilang sama mereka, gue belum buat PR. Jadi mereka menyingkir." Jelas Ari.


"Apaan nich?" tanya Bagas mengambil kertas itu dari meja.


"Eh...! jangan?" cegah Ari.


Tapi terlambat, secarik kertas itu sudah berada di tangan Bagas. "Ini tulisan tangan Ocha, kan?" Bagas mengenali tulisan Rosa.


Ari diam saja. "Iya niiiih...! Wah Rosa bisa puitis juga, yach?" kata Bagas sambil tertawa.


Lalu membacanya keras-keras.


Teman-teman yang lain tertarik, lalu mulai berkerumun di situ. Bagas bak seorang penyair, berdiri atas meja dan mulai membaca puisinya, berulang-ulang.


Bel tanda istirahat selesai sudah berbunyi beberapa saat yang lalu, tapi anak-anak masih berkerumun di sekitar situ sambil tertawa-tawa melihat gaya Bagas yang kocak. Rosa yang hendak masuk kelas cuma bisa berdiri kaku di depan pintu. Malu sekali rasanya. Dengan mata geram ditatapnya Bagas lekat-lekat. Yang lain berhenti tertawa dan bubar jalan, menyadari Rosa sudah berada di situ. Bagas pelan-pelan turun dari atas meja, lalu mengembalikan kertas itu pada Ari, sambil tersenyum, "Terima kasih, kamu benar-benar ahli bikin ketawa." Rosa tidak berkata apa-apa waktu duduk. Ari tak sanggup menatap wajahnya. Dingin sekali tatapan matanya. Tapi dia merasa harus meminta maaf. Biar bagaimana kejadian tadi gara-gara dia.


"Sorry, Cha. Gue nggak berniat?" Ucap Ari.


"Sudah puas kamu sekarang?" serobot Rosa.


Percakapan mereka terhenti karena Bu Ernawati, guru matematika, sudah masuk ke kelas. Ari sempat melihat setitik air mata di sudut mata Rosa. Dia menyesal sekali. Rosa, di lain pihak, cuma satu kata yang ada di otaknya sekarang. "Perang!"

__ADS_1


__ADS_2