BERDAUN RINDU BERBUNGA SUNYI

BERDAUN RINDU BERBUNGA SUNYI
BAB 6 : PUISI UNGKAPAN KATA HATI


__ADS_3

Fakih Alfarizi bukanlah seorang siswa populer yang setiap hari dikelilingi oleh murid-murid cewe', hanya seorang murid cowo' yang sederhana, simpel dan selalu mengkhayal dan banyak mimpi-mimpi yang membuat semangat dalam mencapai apa yang musti menjadi kenyataan.


Fakih mempunyai hobby akan semua jenis olahraga dan seni menulis cerpen, novel, menggambar dan membuat puisi sehingga lebih kearah sesuai kemampuan dan mengikuti ekskul Futsall dan ekskul majalah dinding (mading), dengan hobby itu sedikit demi sedikit banyak juga yang akhirnya mengenal nama Fakih Alfarizi kelas Dua A. Walau pun sebenarnya Fakih lebih senang jika banyak orang-orang yang nggak mengenali identitasnya, tapi ya sudahlah mau seperti apa lagi kalau nyatanya seperti itu.


Fakih mengambil ekskul mading di ikuti pula oleh Rosa Pratiwi, bukan Fakih yang ikut-ikutan atau Rosa yang ikut-ikutan hanya kebetulan saja. Karena Fakih di kepengurusan Osis menjadi ketua semua seksi karena itu lebih nyaman rasanya jika menjabat suatu pekerjaan sesuai dengan apa yang bisa dan mampu untuk melakukannya. Dan Rosa pun berpikiran sama, dia lebih memilih ekskul mading lebih menjurus fokus di pelajaran dan sudah banyak juga kegiatan yang mereka berdua ambil yang cukup menguras waktu, tenaga dan pikiran. Rosa yang sekelas dengan Fakih yaitu kelas A selalu di kenal bersama dalam segala hal, walau mereka berdua belum atau tidak paham arti sebersamaan itu karena bagi Fakih dan Rosa hanya sebatas sahabat saja belum lebih ke hal-hal yang mengarah akan cinta. Rosa mengikuti ekskul mading dan dia menjabat sebagai sekretaris yang selalu bersama dalam segala hal dalam menjalankan tugas mengurus mading sekolah.


Menurut Fakih dasarnya Rosa itu berbeda dengan murid-murid cewe' yang ada di sekolah SMPN satu Kotabumi ini. Walau pun bisa di katakan dia termasuk orang yang punya segalanya akan tetapi Rosa selalu berpenampilan apa adanya alias natural, disaat cewe'-cewe' lain mengikuti fashion zaman sekarang dan selalu berpenampilan seperti mau ke pesta dengan gincu sedikit tebal dan bedak semakin menor, hanya Rosa lah satu-satunya cewe' yang tak mengikuti gaya mereka itu menurut pendapat Fakih.


Rosa, buat Fakih merupakan seorang cewe' bagaikan bunga yang paling Indah di antara bunga lainnya, ia memancarkan kecantikan alami dalam tubuhnya, tanpa polesan make-up saja sudah cantik apa lagi kalau memakai make-up pasti ia sangat cantik sekali.


Rosa itu cantiknya luar dalam, sempurna.


Jam istirahat pertama Fakih berjalan menyusuri koridor kelas dua, langkah kaki dengan perlahan dan memelan saat beberapa meter lagi sampai di ruang mading. Fakih merasa aneh kepada diri sendiri karena selalu gugup bila berhadapan dengan Rosa, padahal Fakih sendiri sudah sering berbicara, bercanda, tertawa atau pun berinteraksi dengannya namun tetap saja kadang rasa gugup dan seakan-akan terlalu bersemangat kali.


Saat tangan Fakih hendak membuka pintu tiba-tiba pintunya ada yang membukanya dari dalam.


"Fakih...?"


Fakih mundur berjajar dua langkah dan tersenyum canggung. "Oh, hai Cha!,"


"Hai juga, mau ngirim puisi lagi?" Tanya Rosa pada Fakih.


Fakih mengangguk cepat, "Hmm, iya. Ini puisinya." jawab Fakih sambil menyerahkan selembar kertas berisi puisi yang sudah tertulis dengan rapih.


Rosa mengambil kertas dari tangan Fakih, lalu langsung membacanya dengan cepat. Dia tersenyum kecil lalu menatap. "Puisinya bagus, Kih..!."


"Makasih… Aku duluan ya!" ucap Fakih.


Rosa mengangguk pelan sambil tersenyum. "Iya." balasnya.


Fakih berjalan cepat meninggalkannya, "Perasaan gue jantung ini kenapa berdetak kencang saat melihat senyumannya yang manis sekali saat ini, bukankah gue sering melihat Rosa tersenyum tetapi kenapa saat ini sangat terasa berbeda sekali?, aaah... mungkin ini perasaan gue aja kali ya!" Batin Fakih.


Bunga-bunga di hati terasa bermekaran seperti di musim semi.


"Fakih...!"


Fakih mendengar ada yang memanggil namanya dan orang itu adalah Nazaruddin teman sekelas sekaligus teman satu tim dalam Ekskul Futsall. Nazaruddin menepuk bahu Fakih dan nafasnya terengah-engah karena berlari untuk menghampiriku.


"Abis dari mana? Dari tadi dicariin." Sapa Nazaruddin.


"Dari klub mading, emang ada apa?" Jawab Fakih.


"Ya...elaah masih aja kayak gitu, gak ada perubahan sama sekali." Nazaruddin menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum meremehkanku.


Fakih menyipitkan mata dengan malas. "Nggak usah dibahas, ada apa nyariin?"


"Sekolah kita akan mengadakan pertandingan Futsall di tantang dengan anak Sekolah Bhayangkari kalau tidak salah hari ini!" Jelas Nazaruddin detail.


"Hari ini?" Fakih rada kaget mendengar keterangan dari Nazaruddin.

__ADS_1


"Iya, Karena tadi semua guru olahraga baik dari SMPN satu Kotabumi dan SMP Bhayangkari sudah mengadakan rapat dadakan dan sudah ada kata sepakat kalau kegiatan Futsall di adakan hari ini." Tetang Nazaruddin kembali.


Gue mengangguk pelan. "Oooooh. Ok! Kantin yuk."


Kami berdua berjalan menuju kantin untuk mengisi perut karena cacing diperut sudah demo ingin diberi makan.


Lima belas menit kemudian bel masuk berbunyi, Fakih dan Nazaruddin segera pergi ke lapangan untuk bermain bola Futsall. Teman-teman kelas dua SMPN satu Kotabumi dan kelas dua SMP Bhayangkari sudah berkumpul di lapangan. Murid-murid cewe' sudah pada berkumpul di pinggir lapangan menjadi supporter kami.


Tim SMPN satu Kotabumi dan Tim SMP Bhayangkari sudah siap di lapangan dengan memakai kaos olahraga kebanggaan masing-masing, Tim SMPN satu Kotabumi berkaos biru tua dengan list putih sedangkan Tim SMP Bhayangkari berkaos coklat muda dengan list merah, Pak Dadang guru Olahraga yang menjadi wasit meniup peluitnya tanda permainan di mulai. Murid-murid cowo' dan cewe' dari ke dua sekolah terlihat berteriak menyemangati sekolahnya masing-masing ada juga yang meneriaki salah satu dari anggota Tim dengan menyebutkan namanya.


"Go Fakih! Go Fakih! Go!" Mereka semua meneriaki nama Fakih kebetulan sebagai Kapten Tim dan memakai ban Kapten di lengan kanannya.


"Go Joni! Go Joni! Go!" Mereka juga meneriaki Kapten Tim SMP Bhayangkari.


"SEMANGAT...!!!"


Nazaruddin menggiring bola ke daerah lawan Fakih segera berlari ke sebelah kanan. "Zar...!" Fakih memberi isyarat supaya Nazaruddin mengoper bolanya. Nazaruddin lalu menendang bola ke arah Fakih, Fakih menerimanya dengan baik tanpa membuang waktu, langsung menendangnya ke arah gawang dan bola pun masuk.


"GOOL!!!"


Murid-murid cewe' dan cowo' berteriak kencang sambil bertepuk tangan, teman-teman merangkul Fakih dan tersenyum senang.


Fakih sempat melirik kearah penonton dan menemukan Rosa yang tengah tersenyum lebar sambil bertepuk tangan senang.


Fakih senang melihatnya.


***


Rosa…!!!


Rosa…!!!


Aku tidak tahu pasti apa rasa di dalam hati ini makna dari sebuah persahabatan atau lebih ke arah sebuah cinta. Jujur aku tidak paham akan hal itu. Aku ingin jujur, akan tetapi aku takut dengan kejujuran akan rasa di hati ini akan berakibat yang tidak baik, kita akan menjauh atau kita semakin dekat. Tapi untuk hal itu, aku tidak mau mengambil keputusan yang membuat sebuah makna persahabatan kita menjadi rusak dan berantakan.


Mungkin cukup seperti saat ini saja...!!!


***


Fakih meletakkan alat tulis ke dalam tas dan sama sekali tidak berniat untuk memberikan puisi ungkapan hati yang baru saja gue tulis kepada Rosa. "Gue tak mempunyai keberanian dan juga takut kalau dengan memberikan puisi ungkapan kata hati dia benci kepada gue, gue tak mau dibenci oleh Rosa." Batin Fakih bergejolak.


"Kenapa, Kih? Ngelamun aja." Suara Nasaruddin mengagetkan.


"Nggak kenapa-napa, kantin yuk, Zar," ajakku pada Nazaruddin.


Nazaruddin menggelengkan kepalanya, "Nggak ah, Kih. Gue lagi ngirit uang buat beli sepatu bola baru."


"Oh, ya udah aku duluan ya...!"


Nazaruddin mengangguk pelan dan mengangkat sebelah tangannya.

__ADS_1


Gue pergi meninggalkan kelas menuju kantin, namun gue merasa curiga pada Nazaruddin karena tadi dia tersenyum misterius.


Bel masuk berbunyi Fakih segera kembali kekelas. Kecurigaan Fakih makin besar saat melihat Nazaruddin yang terlihat sedang menahan senyum saat melihat Fakih. "Kenapa, Zar?"


Nazaruddin berdehem pelan dan menggelengkan kepalanya. "Gak kenapa-napa...! Kih, ntar jangan dulu pulang ya." lanjutnya.


"Ada apa emang?" tanya Fakih bingung.


"Jangan pulang aja dulu." tegasnya.


Fakih hanya mengangguk mengiyakan. "Oke!"


Tak terasa sekarang sudah waktunya pulang, gue membereskan alat tulis, namun gue belum beranjak dari tempat duduk. Gue melirik Nazaruddin yang hendak pergi. "Zar, tunggu kok kamu malah pergi?"


Nazaruddin menatap gue dan keningnya berkerut. "Lhaaa...! Emang sekarang waktunya pulang, Kih,"


"Trus tadi elo nyuruh gue jangan pulang dulu emang ada apa?" tanya Fakih bingung.


Nazaruddin tersenyum lebar sambil menepuk bahu Fakih, "Tunggu aja di sini, nanti juga elo bakal tau. Udah ya... Gue pulang duluan."


Belum Fakih bertanya lagi, Nazaruddin sudah terlebih dahulu berlari meninggalkan Fakih sendirian. Fakih hanya menghela nafas panjang, Fakih tidak tau kenapa Nazaruddin menyuruhnya jangan pulang terlebih dahulu, apa ada hal penting?


Entahlah...!!!


Hampir sepuluh menit aku menunggu namun tidak ada tanda-tanda yang aneh di kelas ini, Fakih merasa kesal karena mau-maunya dibodohi oleh Nazaruddin, dan Fakih juga kesal kenapa percaya begitu saja dengan apa yang diucapkan oleh Nazaruddin, padahal teman sebangkunya itu orangnya suka jahil.


Fakih berjalan meninggalkan kelas dengan perasaan jengkel. "Awas ya Zar, tunggu pembalasan gue!". Gerutu Fakih dalam hati.


Saat sampai di depan pintu, Fakih kaget melihat seseorang sedang berdiri sambil menyandarkan punggungnya ke dinding.


"Rosa?"


"Fakih?"


Kami berdua sama-sama diam dan saling pandang, Fakih langsung tersadar dan mengerjapkan mata beberapa kali, Rosa pun melakukan hal yang sama.


"Ada apa, Cha?"


Rosa menggerakkan bola matanya gelisah, ia tersenyum kecil sambil menatap Fakih. "Emm, makasih ya puisi ungkapan kata hatinya."


Fakih mengernyit bingung. "Puisi ungkapan kata hati apa?"


Rosa membuka ranselnya dan mengeluarkan sesuatu. Rosa kemudian menyerahkan secarik kertas dan bunga Mawar putih. Fakih mengambilnya dan membaca kertas tersebut. "Ini kan..!!!" Fakih mengerjapkan mata tak percaya.


"Puisi ungkapan kata hati itu tentang aku kan?" Tanya Rosa.


Fakih menelan ludah, bagaimana bisa ada di tangan Rosa. "Iiii...itu, itu tidak seperti yang kau ba....!" belum selesai Fakih menjelaskan, Rosa sudah terlebih dahulu memotong ucapan Fakih.


"Makasih puisi ungkapan kata hatinya, gue suka kok, Kih," Rosa tersenyum manis kepada Fakih.

__ADS_1


Fakih terpesona melihat senyumannya.


__ADS_2