BERDAUN RINDU BERBUNGA SUNYI

BERDAUN RINDU BERBUNGA SUNYI
BAB 31 : GENCATAN SENJATA


__ADS_3

Belum sampe di pintu depan, ibu Ari sudah menjemput keluar.


"Silahkan masuk, wah, senang sekali kita kedatangan tamu." Sambutnya ramah.


"Kenalin, bu. Ini Nelly, teman Ari. Nel, ini ibuku." kata Ari. "Panggil saja ibu. Nama saya Susanti." kata ibunya Ari menjabat tangan Nelly. "Selamat ulang tahun, Bu." kata Nelly sambil menyerahkan kadonya.


"Waduh, repot-repot lho, nak Nelly ini. Ayo Ari, diajak masuk dong." Ucap ibunya Ari.


Pandu lalu mengenalkan satu per satu anggota keluarganya yang lagi berkumpul di situ semua.


Makanan malam itu sederhana, sayur tumis udang, gorengan tempe, sambal terasi dan ca kangkung. Nelly sudah tambah ca kangkung dua kali. Dia sangat menikmati suasana rumah Ari malam itu. Mungkin karena di rumah dia jarang, atau boleh dibilang hampir nggak pernah ada acara makan malam bareng. Apalagi karena keluarga Ari dengan begitu ramah menerimanya.


Mereka seolah-olah tidak menganggap Nelly sebagai tamu, melainkan seperti kedatangan teman lama. Melihat keluarga Ari begitu harmonis, Nelly sebetulnya merasa rendah diri. Tapi sebentar saja rasa rendah diri itu hilang, karena asyik mengobrol dengan Ari dan kakak-kakaknya.


Kalau sedang bersenang-senang memang waktu tidak terasa jadi berjalan begitu cepat. Tahu-tahu saja sudah jam setengah sembilan malam. Nelly harus pulang sekarang.


***


Siang itu, saat jam pulang sekolah, Ayu terengah-engah menghampiri Nelly yang sedang sibuk di theatre, mengurus gladi bersih buat acara panggung Gelar Seni besok.


"Nel! Nelly!!" panggil Ayu sambil berlari menuju panggung.


"Ada apa, sih?" Tanya Nelly bingung.


Ayu sibuk mengatur nafasnya. Nelly mengisyaratkan pada anak-anak sound system untuk istirahat sejenak.


"Ari, Nel! Dia sama Jimmy ada di halaman parkir belakang, berantem kata anak-anak. Mereka pada ramai-ramai mau nonton di sana. Cepetan dong!" "Hah"!" Nelly spontan menaruh mapnya di tangga panggung, langsung lari menuju ke halaman parkir motor dan sepeda di belakang sekolah.


Belum sampai halaman parkir, dari jauh sudah terdengar suara ributribut. Nelly mempercepat larinya. Ayu yang sudah kelelahan cuma bisa mengikutinya dari belakang.


Sesampai di situ, Nelly tidak bisa melihat apa-apa, karena banyak orang berkerumun di situ. Susah payah dia berusaha menembus kerumunan ke arah tengah.


Benar saja, Ari dan Jimmy ada di tengah-tengah kerumunan. Pipi Ari merah kena jotosan. Ada darah di sudut bibirnya. Baju mereka kotor dan amburadul. Rambut keduanya acak-acakan.


"Stop, stop! Apa-apaan sih kalian ini?" teriak Nelly, karena suasana masih begitu bising. "Dia yang mulai." Telunjuk Ari mengarah ke Jimmy.


"Gue nggak mau tau siapa yang mulai. Sudah, ayo ikut gue ke UKS." Balas Nelly sengit.


Keduanya tidak ada yang beranjak dari tempat mereka berdiri masing-masing.


Nelly mengulangi lagi, "Mau ikut gue ke UKS apa nggak?"


"Gue nggak akan pergi dari sini sebelum masalah ini diselesaikan." Kata Jimmy ngotot.

__ADS_1


"Masalah apa? Dan bisakah itu diselesaikan dengan cara kayak gini?" tanya Nelly. "Elo masalahnya!" tuding Jimmy. Nelly tersontak kaget.


"Gue?" tanya Nelly.


"Iya. Elo, Nelly. Dia menuduh gue yang enggak-enggak sama elo kemarin malam. Katanya gue ngerebut pacarnya. Dia bilang, Nelly itu hak miliknya dia. Nggak ada orang lain yang boleh sentuh dia. Gue bilang, Nelly itu bukan hak milik siapa-siapa. Dan lagi, gue sama Nelly cuma berteman. Eh...! dia nggak percaya malah nantang." jawab Ari emosi.


"Gue cuma bilang, elo harus menjauhi Niken, dia milik gue. Elo ngotot nggak mau koq. Siapa yang nggak emosi?" balas Jimmy.


"Stop. Sudah cukup. Muak gue mendengarkan argumen kalian. Jimmy, Ari benar. Gue sama dia cuma teman, dan gue belum menjadi hak milik elo. Gue juga nggak mau Ari jauhi gue." kata Nelly membela Ari, setelah mengetahui duduk permasalahannya.


Anak-anak masih ribut. Nelly merasa jengkel sekali. Apalagi setelah mendengar ancaman Jimmy tadi.


"Bubar! Semuanya bubar!" kata Nelly dengan suara lantang.


"Aduuh"!" Ari mengerang kesakitan.


"Sakit ya" Salah sendiri, kenapa mesti berantem sama Jimmy" Sekarang yang sisa tinggal sakitnya, kan?" Ucap Nelly.


"Pelan-pelan dong!" Ari masih mengaduh-aduh.


"Ya ini udah pelan-pelan, tahu! Elo tahan sedikit lah. Manja bener." Balas Nelly.


Baru kali ini Ari melihat wajah Nelly begitu dekat. Dari dekat gini jadi tambah jelas manisnya. Wajah Nelly bersih tanpa noda sedikitpun. Nggak ada jerawat, bisul, atau kurap.


"Kenapa?" tanyanya.


"Jujur aja, kamu manis sekali, Nel. Cowo' yang berhasil dapetin elo bakal beruntung banget. Gue juga nggak nolak kalo diberi koq." Ucap Ari tersenyum.


"Heh! Kalo ngomong yang bener!" Balas Nelly


"Duh! Jangan kasar gitu dong, perih nih!" kata Ari memegangi dagunya. "Makanya jangan macem-macem." kata Nelly mengancam.


"Aduh, iya deh" Iya?" Ari pasrah sambil memonyongkan bibirnya untuk dibersihkan lukanya.


"Nel, tadi Jimmy sama Ari gimana? Sudah gencatan senjata?" Tanya Ayu dengan nada kuatir.


"Ruwet dah, Yu. Jimmy keterlaluan banget. Akhirnya gue suruh dia pergi. Acara perjodohan akan gue batalkan." Jawab Nelly kesal.


"Separah itu, heh?" Nelly mengangguk. "Si Ari suka sama elo?" Tanya Ayu.


"Nggak. Siapa yang bilang?" tanya Nelly heran.


"Lha tadi, kenapa mereka berkelahi?" Tanya Ayu lagi.

__ADS_1


"Itu mah karena Jimmy yang kelewat cemburu aja." Balas Nelly.


"Nel, kalo misalnya, ini cuma misalnya lho ya. Misalnya Ari suka sama elo, Jimmy juga suka ama elo, elo pilih yang mana?" Tanya Ayu lagi.


"Nggak. Gue kan udah bilang, gue pastinya memilih yang terbaik buat gue." Jawab Nelly.


"Sungguh, bukannya elo sudah pernah suka ma Ari sebelum orang tua elo melarang keras elo pacaran nih?" tanya Ayu.


"Sungguhan. Kenapa sih? Elo naksir dia yah? Aaah...! Ayu naksir Ari? Bagaimana dengan Bagas?" goda Nelly.


"Bukan gue... Reni. Dia tadi nangis waktu dengar Ari berantem sama Jimmy gara-gara elo. Tau sendiri lah si Reni. Cengengnya minta ampun. Dia pake acara mendekam di kelas segala lho. Nangis sehabis-habisnya di situ. Sampe Bambang sama Bagas yang lagi bersih-bersih di kelas tadi jadi bingung dibuatnya. Kalo elo nggak keberatan, gue mau elo ngomongin Ari soal Reni. Soalnya dia kayaknya masih di kelas sekarang ini. Nggak mau keluar-keluar. Nggak mau makan segala. Siapa tau Ari bisa bujuk dia! Tolong Nel?"


"Kenapa elo nggak bilang ke Ari sendiri?" Balas Nelly.


"Ayolah, gampangan elo yang bilang ke dia. Dia pasti menurut sama elo." bujuk Ayu. "Iya deh, nanti gue bilangin. Tapi dia harus angkut-angkut speaker gede-gede itu dulu sama anak-anak. Abis itu ya?" Lanjut Nelly menjawab.


"Ari?" sapa Nelly waktu Ari baru saja selesai angkut-angkut, sambil menyodorkan tissue untuk mengelap keringatnya.


"Elo hari ini promosi tissue apa gimana sih" gue udah ngabisin tiga tissue elo hari ini." Ucap Ari.


"Kayaknya kamu butuh satu lagi deh." kata Nelly sambil menyodorkan satu tissue lagi. "Tapi yang ini buat Reni."


"Reni?" tanya Ari bingung.


"He... eh. Dia nangis sesiangan di kelas tuh." Ucap Nelly menjelaskan.


"Trus apa hubungannya sama gue?" Tanya Ari.


"Erat sekali. Dia nangis lantaran tau elo berantem sama Jimmy tadi, dan dia tau itu gara-gara gue. Sama seperti Jimmy, dia pasti merasa sedikit banyak cemburu. Banyak, mungkin." Jelas Nelly lagi.


"Lantas, gue bisa apa?" tanya Ari masih tak mengerti.


"Tu anak belum makan siang, dari tadi menangis terus, bikin bingung orang. Kalo nggak cepat-cepat di tolong, dia bisa pingsan, kehabisan tenaga karena belum makan, atau lebih parah, kehabisan air mata." Ucap Nelly tersenyum.


"Gue nggak berminat meladeni dia hari ini. Capek." jawab Ari ogah-ogahan.


"Ayo, dong. Gue juga merasa bersalah, nih. Paling nggak, temui dia. Jelasin kalo nggak ada apa-apa antara kita. Jadi dia nggak salah paham, dan yang penting nggak menangis terus." Lanjut Nelly menjelaskan.


"Elo sungguh-sungguh ingin gue deketi dia, Nel?" Tanya Ari.


"Kata Ayu sih, dia cinta sama elo. Nggak tau gimana koq dia bisa cinta sama orang konyol kayak elo, tapi kenyataannya emang iya. Reni cantik, lembut. Itu kan kriteria cewe' idaman elo, kalo nggak salah. Kenapa nggak diembat aja?" Lanjut Nelly becanda.


"Baiklah. Gue akan bujuk dia untuk pulang dan nggak nangis lagi. Rasanya nggak bakal susah sih. Nanti gue balik ke sini lagi." Lanjut Ari lesu.

__ADS_1


__ADS_2