BERDAUN RINDU BERBUNGA SUNYI

BERDAUN RINDU BERBUNGA SUNYI
BAB 35 : GUE TIDAK KAYA


__ADS_3

"Fakih" tunggu dong!" teriak Dian menyusul Fakih yang sedang berjalan membarengi Rosa ke kantin saat istirahat pertama. Mereka berdua berhenti dan menoleh.


"Ada apa, Dian?" tanya Fakih setelah dekat.


"Besok gue ada ulangan matematika lagi. Ulangan yang lalu gue dapet jelek. Tolong dong, Fakih?" rengek Dian manja.


"Sudah dua kali ulangan matematika ini elo dapat jelek, Dian. Gue bukannya nggak mau menolong, tapi apa gunanya pertolongan gue kalo elo tetap saja dapat nilai jelek?" tanya Fakih.


"Gue nggak punya orang lain yang sanggup membantu gue. Please?" Pinta Dian masih dengan manjanya.


"Dian, tujuan elo minta tolong gue kan supaya dapet bagus, ya kan? Gue sudah berusaha semampu gue untuk mengajari elo, tapi nyatanya nggak ada hasilnya koq. Ini mungkin salah gue yang nggak sanggup mengajari elo, Dian." jawab Fakih.


"Ayo, dong. Gue berjanji akan lebih berkonsentrasi. Bagaimana?" Balas Dian lagi.


"Elo minta tolong Bu Ernawati, guru matematika elo, deh. Mungkin dia punya solusi yang lebih baik buat elo. Siapa tahu aja malah dia mau meluangkan waktu untuk mengajari elo?" saran Fakih.


"Nggak mau. Bu Ernawati galak dan benci sama gue. Dia kasih nilai jelek terus. Tolong gue, dong Fakih?" rengek Dian lagi.


"Tolongin dia, lah, Kih." jawab Rosa yang jadi jengah melihat Dian merengek melulu. "Gue bukannya nggak mau menolong, Cha. Tapi gue merasa usaha buat bantuin dia selama ini nggak ada hasilnya." keluh Fakih.


Setelah diam sesaat, Fakih berkata lagi, "Gue ada jalan lain. Rosa juga pandai matematika. Siang ini kamu ada acara apa, Cha?" tanya Fakih.


"Hah?" Rosa kaget. "Gue? ada acara apa yah? Gue ada extra badminton di lapangan indoor belakang jam tiga sore. Emangnya kenapa?" tanya Rosa curiga.


"Nah, gue juga ada basket jam tiga di lapangan luar. Kita kumpul di rumah gue, sekalian makan siang, jam setengah tiga semuanya harus sudah kelar. Elo pulang, gue sama Rosa kembali ke sekolah. Gimana?" Tawar Fakih.


"Ide jelek." kata Rosa.


"Lho! Jelek gimana?" tanya Fakih.


"Gue harus pulang dulu." kata Rosa. "Gue kan nggak bisa latihan badminton pake baju begini. Lagi pula, raket gue juga di rumah. Mau main badminton pakai tangan kosong?" tanya Rosa geli.


"Tuh, kan? Rosa nggak bisa. Elo saja, Kih. Yaaa?" bujuk Dian.


"Tunggu. Cha, elo abis badminton ngapain?" tanya Fakih.


"Pulang." jawab Rosa singkat.


"Ya tau, pulang. Maksud gue ada acara apa gitu?" Tanya Fakih.


"Nggak ada acara apa-apa." Balas Rosa.


"Sama dong. Mau nge date sama gue, Neng?" tanya Fakih becanda.


Rosa tertawa kecil. Dasar Fakih usil.


Fakih melanjutkan, "Begini,... maksud gue, Dian bisa ke sekolah atau ke rumah gue, terserah dia, sesudah jam setengah enam. Kamu selesai badminton jam lima kan, Cha?" Tanya Fakih lagi.


Rosa mengangguk. "Iya."

__ADS_1


"Setuju, Dian?" tawar Fakih.


"Baiklah. Gue nggak punya pilihan lain, kan?" tanya Dian.


Fakih mengangguk. "Bu Ernawati." Fakih lalu ketawa. Gimana nggak ketawa melihat wajah Dian seperti habis menggigit cabe rawit.


"Jadi nanti sore jam setengah enam gue ke rumah elo yah. Makasih Fakih?" kata Dian manja sambil nyelonong pergi.


Setelah Dian berlalu, Rosa memukul bahu Fakih.


"Apa-apaan sih, Kih, mengajak gue ikut-ikutan mengajari si cengeng itu?" tanya Rosa. "Gue capek mengajari dia, Cha. Gue harus terus-menerus mengulang yang gue ajarkan minggu-minggu sebelumnya. Begitu terus. Lumayan kalo dia lantas mendapat nilai bagus, gitu, paling tidak kan gue jadi merasa berjasa. Ini nggak. Jadi gue merasa buang-buang waktu saja." Jelas Fakih.


"Sudah tahu begitu koq malah ajak-ajak gue." Rosa merengut.


"Memangnya elo nggak cemburu ngeliat Dian seminggu sekali datang ke rumah gue? Frekuensinya lebih pasti dan lebih sering dari pada elo ke rumah gue lho?" goda Fakih.


"Nggak tuh." jawab Rosa sambil mengambil segelas es teh manis di meja kantin, lalu menyerahkan uang dua ratus perak ke ibu kantin sambil tersenyum.


"Masa nggak, sih? Gimana kalau nanti kamu nggak usah ikut ke rumah gue, nanti gue mau boncengin Dian ke toko buku, beli buku matematika, trus pulangnya beli es krim?" goda Fakih lagi. Masih kurang puas dia rupanya.


"Berani"!" ancam Rosa sambil melotot.


"Sarana transport gue cuma sepeda, jadi mau nggak mau gue harus boncengin dia kalau mau ke toko buku. Beli es krim kan karena ada toko es krim di sebelah toko buku." Lanjut Fakih.


Rosa merengut lagi. "Kamu sungguh-sungguh mau ke toko buku?" tanya Rosa kemudian.


Fakih tidak tahan lagi menahan tertawanya.


"Sebagai permintaan maaf, nanti sore setelah pulang badminton kita mampir beli es krim sebelum pulang. Gue boncengin. Mau?" Rosa tersenyum lebar.


Tentu saja dia mau...!!!


***


"Bagaimana tadi latihan badmintonnya?" tanya Fakih sambil menuntun sepedanya.


"Gue single lawan Febrina, menang. Double sama Jukky, kalah tipis sama Toni dan Angel. Gue emang nggak pernah sukses kalo suruh main double. Apalagi kalo lawan cowoknya cepat kayak Toni. Toni jago di double." keluh Rosa.


***


Sepanjang perjalanan dari sekolah ke kedai es krim mereka terus mengobrol. "Elo masih sering bikin puisi, Cha?" tanya Fakih.


"Iya. Tiap malam sebelum tidur." Jawab Rosa.


"Memangnya kalau nggak bikin puisi nggak bisa tidur?" Balas Fakih.


"Bisa. Cuma seringnya belum mengantuk, jadi dari pada nganggur ya bikin puisi." Jawab Rosa.


"Elo koq bisa yah bikin puisi gitu. Bagus-bagus lagi puisi elo. Setidaknya satu yang pernah gue baca itu. Gue dulu waktu di Sekolah Dasar pernah di suruh bikin puisi sebagai salah satu tugas untuk pelajaran bahasa Indonesia. Gagal total. Gue disuruh bikin puisi tentang pemandangan. Berhubung waktu itu gue sedang di rumah saja, dan rumah gue itu dekat pasar, jadi pemandangan yang gue lihat ya pemandangan pasar.

__ADS_1


Seperti ini nih kira-kira." Ucap Fakih.


"Pasar di Terminal Kotabumi yang bau


Banyak daging kambing dan sapi bau


Ikan-ikan banyak juga bau


Laler hinggap di tempat-tempat bau


Tak heran rumahku jadi ikut bau"


Rosa ketawa, lucu sekali Fakih berteriak-teriak bau...!!!


"Gue masih ingat betul ekspresi guru bahasa Indonesia gue waktu itu. Bu Rosi Sugita. Gue langsung dikasih nilai lima. Untungnya cuma sekali itu gue di suruh bikin puisi. Benar-benar perjuangan berat deh bikin satu puisi seperti itu saja." Jelas Fakih.


"Gue bikin puisi tu cuma menulis apa yang terlintas di otak. Nggak harus dengan kata-kata yang indah. Yang penting bermakna dalam." kata Rosa.


"Cha, apa sih yang elo nggak bisa? Elo tuh apa-apa bisa. Gue nggak bisa bikin puisi, nggak bisa jahit, nggak bisa masak. Kayaknya elo tuh segala bisa." Ucap Fakih lagi.


"Hmm...! apa yah yang gue nggak bisa!? Tadinya gue kirain, gue nggak bisa pacaran. Tapi elo udah buktiin bahwa gue salah. Gue cuma nggak mau nyoba aja." Rosa berpikir sejenak.


"Kamu bisa berenang?" tanya Fakih.


"Bisa. Waktu kecil gue les berenang. Di rumah ada kolam renang. Harus bisa renang, dong. Gimana kalau nggak sengaja kecebur?" Balas Rosa. "Oh. Gue tahu. Tapi jangan di ketawain yah. Gue nggak bisa dandan. Sama sekali nggak bisa. Gue tahu hasil akhirnya harus seperti bagaimana, tapi gue nggak tahu gimana caranya menuju ke hasil akhir itu. Pernah gue coba iseng-iseng, waktu pesta ulang tahun mamah, sekitar dua tahun yang lalu. Pakai segala macam peralatan make-up mamah. Coreng moreng persis pemain opera Cina. Putus asa, gue nggak pernah berusaha mencoba lagi. Gue bahkan nggak punya satu pun peralatan make-up sendiri. Lipstik sekalipun." Lanjut Rosa menjelaskan.


"Memangnya Mamah elo nggak pernah ngajarin?" Tanya Fakih.


"Nggak. Tapi Mamah punya ide bagus. Tiap kali mau ke pesta yang butuh make-up, gue ke salon. Masalah selesai, kan?" Jawab Rosa tersenyum.


"Bagaimana kalau elo nggak punya banyak duit, jadi nggak bisa ke salon tiap kali mau ke pesta?" Tanya Fakih lagi.


"Nggak tiap pesta gue ke salon koq. Cuma kalau pesta besar-besaran. Paling setahun satu atau dua kali. Kalo gue emang dilahirkan di keluarga yang lain, yang nggak punya banyak duit, pasti sekarang ini gue bisa dandan. Memang nasib gue harus begini, Kih." Jelas Rosa melanjutkan.


"Elo koq kesannya merana karena punya banyak duit. Orang tu biasanya sedih karena nggak punya duit. Lah elo yang punya banyak duit malah sedih." Balas Fakih.


"Kenyataannya, gue selalu bisa menemukan jawaban dari "tapi seandainya gue tidak kaya" setiap gue menemukan keberuntungan gue karena jadi anak orang kaya." Jawab Rosa.


"Misalnya?" Lanjut Fakih.


"Oke. Sebutkan keuntungan jadi orang kaya. Apa saja lah yang terlintas di otak elo sekarang." Tanya Rosa.


"Kamu punya rumah besar dengan fasilitas yang komplit?" Tanya Fakih.


"Rumah besar bener-bener bikin gue merasa kesepian. Fasilitas yang komplit, itu memang membantu gue untuk melepaskan diri dari kesepian. Kembali ke pertanyaan semula, seandainya, sendainya saja gue tidak


kaya, gue nggak butuh rumah besar, apalagi fasilitas yang komplit itu, karena gue nggak bakal kesepian." Jawab Rosa kemudian.


"Oke, oke. Elo jadi sedih kan" gue nggak pengen bikin kamu jadi sedih." Ucap Fakih.

__ADS_1


"Gue nggak sedih koq. Karena sekarang gue sudah ada elo, Kih." kata Rosa sambil memeluk pinggang Fakih dari boncengan sepedanya.


__ADS_2