BERDAUN RINDU BERBUNGA SUNYI

BERDAUN RINDU BERBUNGA SUNYI
BAB 39 : KISAH OMA MARWIYAH


__ADS_3

"Mamah yang bilang. Kamu bakal masuk Sekolah Menengah Atas di Bogor. Titik." kata


Mamah.


"Nggak. Rosa nggak mau. Apa enaknya kuliah di Bogor" Dari dulu Rosa nggak pernah mimpi ingin kuliah di luar negeri kota." Seperti biasanya, Rosa dan kemauannya yang keras.


"Ini demi masa depanmu, Cha." kata Mamah lagi.


Rosa cemberut!


Segala sesuatu selalu sudah diputuskan tanpa di diskusikan terlebih dahulu dengan yang bersangkutan. Dirinya!


"Kalau kamu memang mencintai Rosa, kamu mestinya mendukung dia untuk Sekolah Menengah Atas di Bogor demi masa depannya." kata Papah kepada Fakih. Fakih hanya mampu terdiam. Kata-kata Papah Rosa ada benarnya. Apalagi kalau Rosa tidak mau Sekolah Menengah Atas di Bogor cuma karena demi dia.


Tidak adil buat Rosa.


Dia cewe' yang cemerlang. Dia harus mendapat kesempatan meniti karier setinggi mungkin. "Cha, yang dibilang papah elo benar juga. Gue nggak berhak berdiri di tengah jalan, menghalang-halangi elo." Fakih lalu berdiri. "Selamat malam. Terima kasih atas undangan makan malamnya. Selamat tinggal, Rosa." Lanjut Fakih.


"Tunggu, Fakih?" Rosa mengikuti Fakih yang sudah sampai di ruang tamu. Merasa diacuhkan, Rosa lalu memegang lengan Fakih.


"Kih. Dengerin gue dulu, kenapa sih? Sampai dua menit yang lalu, gue nggak tahu kalau gue bakal lanjut Sekolah Menengah Atas di Bogor. Nggak pernah ingin, nggak pernah terpikir pula. Selama ini gue selalu memikirkan Sekolah Menengah Atasnya di Kotabumi aja. Elo nggak berdiri di tengah jalan gue, Kih. Kalau elo pergi, elo justru membawa pergi impian gue." Ucap Rosa sedih.


"Cha, coba pikirkan. Gue nggak ingin suatu saat gue, atau elo, bertanya-tanya, seandainya saja waktu itu Rosa melanjut Sekolah Menengah Atas di Bogor? Gue nggak akan pernah begitu, dan nggak akan pernah membuat elo merasa seperti itu. Jujur saja gue nggak suka mendengar ide untuk sekolah di Bogor. Sama sekali nggak ingin. Sama sekali bukan karena elo, juga. Percaya deh, gue cukup keras kepala. Elo pun tahu. Kalau gue memang ingin Sekolah Menengah Atas di Bogor, nggak ada seorang pun atau apa pun yang bisa mencegah gue." jawab Rosa tegas.


"Cha, ini kesempatan bagus buat elo, buat masa depan elo. Gue nggak mau jadi penghalang. Elo bisa bilang nggak menyesal sekarang, tapi nanti-nanti, gue yang bakal menyesal, pasti. Menyesal karena orang yang penuh bakat seperti elo nggak berusaha sebisa mungkin untuk mengembangkan kemampuan elo." Ucap Fakih mendalam.


"Kenapa orang-orang selalu ingin memutuskan perkara untuk gue? Apa gue nggak bisa mengambil keputusan sendiri? Apa orang lain, termasuk elo, tahu apa yang terbaik untukku?" Jawab Rosa.


"Dalam hal ini, ya. Saat ini gue bisa melihat, sekolah di Bogor adalah yang terbaik untuk elo. Seandainya gue ada di posisi elo sekarang, gue pasti mengambil kesempatan itu tanpa pikir panjang. Sorry, Cha. Gue mesti pulang sekarang. Terima kasih makan malamnya. Good night?" Oma rupanya mendengarkan percakapan barusan, karena dia tepat berada di luar ruang tamu.


"Selamat malam, Oma." kata Fakih berpamitan. "Senang sekali bisa bertemu dengan Oma. Sekarang saya tahu dari mana Rosa mendapat segala kualitas baik pada dirinya." Pujian yang ikhlas keluar dari hati Fakih melalui perkataannya.


"Kih,?" Rosa nggak tau lagi mesti ngomong apa. Sepertinya Fakih sudah yakin sekali pada keputusannya. Rosa jadi berasa ingin menangis.

__ADS_1


Cengeng sekali, kutuknya dalam hati. Rosa lalu berlari ke kamarnya. Fakih menoleh mendengar langkah lari Rosa. Ditatapnya sampai bayangan Rosa menghilang.


"Cha... Ocha...?" Oma mengetuk pintu kamar Rosa. Rosa sudah dua jam tidak keluar kamar. Dari luar, terlihat lampu di kamarnya masih terang benderang. Rosa mengusap air matanya yang sedari tadi mengalir terus tanpa henti. "Tidak ada salahnya membuka pintu buat Oma", pikirnya.


Masih memeluk boneka Panda nya yang besarnya lumayan, setengah badannya, Rosa memutar kunci pintu kamarnya.


Begitu Oma masuk, buru-buru dikuncinya lagi pintu itu.


"Wah" kasihan tuh Panda jadi basah?" kata Oma berusaha menghibur cucu tersayangnya itu saat melihat wajah Niken yang basah air mata dan bibir mungilnya cemberut. Dari kecil kalau marah Rosa selalu memonyongkan bibirnya yang memang merah itu.


"Oma, mestinya aku tahu aku bakal sakit begini kalau jatuh cinta. Ini semua salahku sendiri. Aku bodoh sekali." Ucap Rosa dengan manja pada Oma nya.


"Yang Oma tahu, Fakih tadi pasti benar-benar sayang sama kamu. Dia mau datang ke rumahmu walaupun tahu dia bakal dicaci-maki habis-habisan. Itu berarti cintanya untukmu lebih berharga buatnya dari pada harga dirinya. Sesuatu yang untuk cowo' biasanya sangat dia junjung tinggi." Rosa masih diam saja, memikirkan baik-baik kata-kata yang barusan Oma bilang. Oma melanjutkan, "Dia bahkan rela melepaskan sesuatu yang sangat berharga buat dia itu, cintanya, demi masa depanmu. Demi yang dia pikir terbaik untukmu. Jadi dia pergi itu bukan karena dia berhenti mencintaimu, tapi karena dia teramat sangat mencintaimu, Ocha. Kamu mestinya tidak boleh bersedih." Lanjut Oma.


"Tapi Ocha nggak pengen koq sekolah di luar kota. Ocha pengen masuk Sekolah Menengah Atas di Kotabumi. Ocha kan juga sudah sering bilang sama Oma, kan" Papah pasti juga tahu kalau selama ini mendengarkan apa yang


Rosa katakan. Selama ini Rosa berusaha keras susah-susah mengumpulkan nilai-nilai bagus. Rosa nggak bisa berubah arah begitu saja. Papah memang selalu begitu." Rosa mengomel panjang lebar.


"Oma tahu. Dari dulu kamu selalu bilang keinginanmu itu. Papahmu mungkin nggak tahu, karena dia tidak pernah di rumah. Saran Oma, kamu lakukan apa yang kamu inginkan. Ambil keputusan terbaik yang kamu bisa, sesudah itu, jalani keputusan itu dengan sepenuh hati." Jelas Oma.


"Oma lihat, Papah dan Mamahmu benar-benar tidak setuju saat ini melihat kamu dan Fakih pacaran. Selama kamu masih sama Fakih, Papahmu pasti berusaha untuk melepaskan kamu dari dia. Mungkin akibatnya akan fatal. Terutama buat Fakih. Papahmu bisa saja menghalalkan segala cara untuk memisahkan kamu dan Fakih. Kamu mungkin bakal menyesal kalau meneruskan hubungan kamu sama Fakih sekarang. Mungkin ini yang terbaik. Kita lihat saja bagaimana nanti. Oma janji akan bantu kamu. Kamu tenang saja." Lanjut Oma lagi.


"Janji Oma?" Kata Rosa.


"Ya, janji. Yang jelas nanti Oma akan lapor ke papahmu bahwa kamu sudah putus hubungan sama Fakih. Jadi keadaan aman terjamin dulu.


Oma belum punya ide sekarang ini bagaimana caranya membantumu. Tapi pasti beres deh?"


Ada sedikit kelegaan di hati Niken. "Lagipula," lanjut Oma lagi. "Oma lihat Fakih begitu mencintaimu. Rasa sayang itu tidak bisa cepat hilang seperti ditiup angin. Kalau memang jodoh nanti pasti kembali lagi." Lanjut Oma.


"Ocha juga sayang sama Fakih. Kenapa sih susah amat sudah sama-sama sayang tidak bisa bersatu?" keluh Rosa.


Oma tersenyum sambil mengelus-elus rambut Rosa.

__ADS_1


"Mau denger cerita cinta Oma?" Tanya Oma, Rosa mengangguk, tertarik. "Kamu tahu kan kalau Oma itu juga anak orang kaya, walaupun nggak sekaya kamu sekarang?"


Rosa bingung. "Tapi kata Papah, waktu Papah masih kecil, papah nggak punya duit, makanya Papah bisa berhasil seperti sekarang ini karena gemblengan dari Opa?"


"Iya. Tunggu dulu. Oma belum selesai cerita, kan. Baru saja dimulai. Oma itu anak orang kaya di Tulang Bawang. Opa itu cinta pertama Oma. Oma ketemu dia, waktu Oma masih umur enam belas tahun. Dia anak pengusaha saingan ayah Oma. Karena tahu bakal dilarang pacaran, terutama karena waktu itu jarang orang pacaran. Oma bahkan sudah dijodohkan sama anak seorang juragan minyak yang kaya dari Way Kanan." Cerita Oma.


"Wah" Oma pacaran juga, yah" Terus, bagaimana jadinya?" Rosa tambah tertarik.


"Waktu itu jaman perang. Lima tahun kami pacaran sembunyi-sembunyi, tidak ada orang yang tahu. Ketika pada suatu saat, rumah dan pabrik ayah Opamu yang memang letaknya bersebelahan, terbakar habis. Sejak saat itu, Oma nggak pernah dengar lagi kabar Opa selama setahun lebih. Sementara itu, Oma sudah hampir dinikahkan sama pria dari Way Kanan itu. Mendadak sebulan sebelum pesta pernikahan, Opamu muncul di rumah. Sehat walafiat." Kisah Oma.


"Lalu?" tanya Rosa.


"Lalu, dia melamar Oma. Tentu saja tidak diperbolehkan. Apalagi semua tahu kalau Opa mu bukan lagi anak orang kaya, karena ayahnya sudah bangkrut karena kebakaran itu. Opa mu rupanya selama setahun bekerja memeras keringat sampai bisa membeli rumah kecil di Tulang Bawang itu.


Baru dia berani melamar Oma. Oma tidak peduli tidak direstui orang tua, besoknya Oma sama Opa menikah catatan sipil. Karena peristiwa itu, Oma sama sekali tidak mendapat hak warisan keluarga. Oma tidak peduli. Oma tidak butuh warisan." Lanjut Oma dengan kisah klasiknya.


"Ooh" pantesan Oma ngotot nggak mau jual rumah yang di Tulang Bawang. Rupanya rumah bersejarah, ya?" Tanya Rosa.


"Jadi kamu dengar sendiri, Oma juga pernah mengalami seperti yang kamu alami sekarang. Mencintai tapi tidak memiliki. Oma bahkan tidak tahu Opa mu masih hidup selama setahun lebih. Tapi kami berdua sama-sama mencintai, jadi bisa bersatu lagi." Kisah Oma membuka mata hati Rosa.


Rosa nggak percaya ternyata Oma nya ini punya kisah cinta yang seru.


"Melihat kamu sekarang, Cha, Oma jadi seperti melihat diri Oma sendiri waktu Oma masih muda. Kamu mesti yakin sama keinginanmu sendiri. Pasti kamu dapat jalan. Kamu boleh percaya deh kata-kata Oma. Lihat Oma. Saksi hidup bahwa cinta itu ada." Lanjut Oma.


"Terus cowo' Way Kanan itu bagaimana nasibnya, Oma?" tanya Rosa geli.


"Oh, dia juga nggak betul-betul ingin menikahi Oma. Dia juga terpaksa koq di jodohkan. Sesudah Oma menikah sama Opa mu, dia pernah datang ke rumah, berterima kasih." Jawab Oma.


"Wah, jadi pada jaman orang pada di jodohin, Oma sudah berani pacaran. Oma pasti nakal sekali yah?" goda Rosa. "Tapi Oma hebat deh, pacaran backstreet 3 tahun nggak ketahuan. Oma top deh." kata Rosa sambil mengacungkan jempolnya.


"Ada-ada saja kamu ini, Cha." Oma tersenyum.


"Makasih ya Oma, Ocha jadi terhibur abis denger cerita Oma. Sekarang Oma pasti capek. Oma tidur sama Ocha ya malam ini. Biar boneka Panda tidur di lantai." Ucap Rosa.

__ADS_1


"Kasian, sudah basah masih tidur di lantai lagi. Masuk angin dia nanti?" gurau Oma.


__ADS_2