
Dua jam kemudian...!!!
Test yang dilakukan oleh murid baru ini telah selesai di kerjakan. Bu Ernawati masuk ke ruangan. Sedangkan cewe' ini memilih untuk tetap di dalam seraya menelungkupkan wajahnya di meja.
"Akhirnya selesai juga testnya. Capek banget gue. Mana belum ke isi lagi nie perut." Keluh Zahra lirih.
Kemudian terdengar derap langkah memasuki Ruang OSIS mendekati cewe' yang sedang menelungkupkan wajahnya itu.
"Ngapain loe masih disini. Bukannya pulang." Suruh Hendry tajam.
"Maaf Hen," Mengambil tas dan berjalan keluar Ruang OSIS dengan langkah gontai.
"Heh Tunggu. Ya ampun, panas banget lengan loe. Heh kenapa loe. Loe sakit?" Tanya Hendry khawatir seraya memegang dahi Zahra.
"Nggak apa-apa, cuma kecapekan aja kali. Gue duluan Ham, Oh ya Kih, makasih ya Nasehatnya berguna banget!." Balas Zahra.
Fakih tersenyum manis, sembari berjalan mendekati Hendry seraya berbisik...!!! "Hen, penyesalan selalu ada di belakang!", ucap Fakih lirih, Hendry terdiam sebentar!
"Ekh tunggu, gue anterin loe pulang." Tawar Hendry lembut.
"Nggak usah Hen, gue bisa pulang naik taksi." Jawab Zahra lemas.
"Loe nggak lihat nie udah jam berapa? Mana ada taksi jam segini. Udah loe gue anterin pulang aja. Keadaan loe juga nggak memungkinkan untuk pulang sendiri." Balas Hendry.
"Nggak apa-apa gue...!"
Belum sempat cewe' ini melanjutkan kata-katanya, dia sudah Ambruk atau pingsan. Dengan sigap Hendry menangkap tubuh Zahra dengan raut wajah khawatir.
"Ra, Zahra bangun, adduh gimana nie, bangun Ra!.” Ucap Hendry dengan nada khawatir seraya menepul pelan pipi Zahra. "Gue bawa ke Ruang UKS aja deh." Ceplos Hendry seraya menggendong Zahra menuju Ruang UKS.
Cowo' tampan ini menggendong tubuh Zahra menuju ke Ruang UKS. Perasaan bersalah langsung menyelimuti hati Hendry. Entah kenapa dia merasa sangat khawatir dengan cewe' ini. Setelah itu Hendry membaringkan Zahra di ranjang yang ada di Ruang UKS.
Kemudian dirinya beranjak keluar dari Ruang UKS dan menuju ke kantin dengan berlari. Setelah berhasil membeli nasi goreng serta teh hangat, cowo' ini kembali ke Ruang UKS dan meletakkan makanan dan minumanya di meja di samping ranjang.
Kemudian dirinya duduk di pinggir kasur seraya menggenggam tangan cewe' itu lembut. Entah kenapa cowo' ini berani melakukannya. Terasa hangat tangan cewe' ini. Beberapa saat kemudian tangan cewe' ini bergerak dan matanya terbuka. Otomatis cowo' tampan ini bangun dan melepaskan genggamanya.
"Loe udah sadar." Pekik Hendry kaget seraya bangun dari pinggir tempat tidur.
"Iyah...!. Gue kenapa ya? Ada di mana sekarang?" Tanya Zahra bingung.
"Loe ada di Ruang UKS, tadi loe pingsan jadi gue bawa loe kesini. Nie makan dulu, gue tahu loe pasti belum makan kan?" Ucap Hendry seraya memberikan nasi gorengnya kepada Zahra.
"Makasih, karena elo udah nolongin gue. Tapi kalau elo mau pulang juga gak papa kok." Ucap Zahra lirih.
"Nggak, gue mau disini sampai loe merasa baikan. Sejak kapan loe nggak makan?" Tanya Hendry.
__ADS_1
"Baru tadi pagi kok." Jawab Zahra singkat.
"Bohong banget loe. Udah jujur aja. Ini semua gara-gara gue kan? Sorry kalau gitu, gue tahu gue salah dengan ngebiarin loe belajar sendiri, gue minta maaf, gue sadar kalau gue salah." Ucap Hendry mengakui kesalahannya.
"Nggak, elo nggak salah kok. Gue yang minta elo buat nggak ngajarin gue kan?" Balas Zahra.
"Udah. Pokoknya gue yang salah, dan sekarang gue mau tanggung jawab. Sekarang loe makan." Suruh Hendry dengan lembut seraya memberikan nasi gorengnya lagi.
"Nggak akh, mual banget soalnya." balas Zahra.
"Justru karena loe belum makan makanya mual, udah nie gue suapin, pokoknya loe harus makan." Jawab Hendry ngotot.
"Gak usah, gue bisa sendiri...!" Ucap Zahra lalu merebut nasi gorengnya dari tangan Hendry.
"Ya udah." Ucap Hendry seraya duduk di pinggir tempat tidur ngelihatin Zahra makan.
"Hen, elo jangan nglihatin gue mulu napa, risih tahu." Ucap Zahra.
"Eh, iya maaf." Jawab Hendry terlihat gugup.
Beberapa menit kemudian. Zahra telah selesai makan dan menaruh piringnya di meja lagi. Dan Hendry mengambilkan teh hangatnya untuk di minum Zahra.
"Makasih ya. Sekarang gue mau pulang." Ujar Zahra lirih seraya turun dari ranjang.
"Gue anterin yah. Badan loe masih panas nie. Ntar kalo ada apa-apa sama loe gue tambah merasa bersalah." Tawar Hendry membantu Zahra berjalan.
Hendry terus membantu Zahra sampai ke parkiran mobilnya. Kebetulan hari ini Hendry membawa mobil. Jadi cewe' ini tidak merasa kedinginan di perjalanan nanti. Hendry membuka pintu mobil samping dan membantu Zahra masuk ke dalam mobil. Setelah itu dirinya memutar mobil lewat depan mobilnya dan masuk ke dalam kursi kemudi.
"Loe make jaket gue yah, biar loe anget badannya." Ucap Hendry menawarkan.
"Makasih Hen, tapi loe nggak apa-apa?" Ucap Zahra memastikan seraya membetulkan jaket Hendry.
"Nggak apa-apa, santai aja. Rumah loe di mana Ra?" Tanya Hendry seraya menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Di kompleks Perumahan Penawar Jaya No 310!" Jawab Zahra singkat.
"Ok gue tahu lokasinya, loe tiduran aja. Nanti kalau udah sampe dirumah loe gue bangunin." Balas Hendry.
"Iya...!, makasih." Ucap Zahra lirih.
Selama di perjalanan cewe' ini memang tettidur, terlihat dari raut wajahnya kalau cewe' ini sangat kecapekan dan kelelahan. Perasaan bersalah lagi lagi menyelimuti hati cowo' tampan yang sedang konsen untuk menyetir mobilnya. Sesekali cowo' ini menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik cewe' di sampingnya.
"Gue minta maaf banget sama loe Ra, gue yang udah bikin loe kaya gini, sekali lagi gue minta maaf." Ucap Hendry lirih seraya menatap cewe' cantik di sampingnya.
Beberapa menit kemudian mobil Hendry sudah memasuki kompleks Perumahan Penawar Jaya No 310 dan dengan cepat cowo' ini menemukan rumah dengan nomor tersebut. Setelah itu cowo' tampan ini menatap cewe' di sampingnya sejenak kemudian dirinya turun dan memasuki rumah yang lumayan megah itu. Kemudian menekan bel rumah itu.
__ADS_1
Terlihat wanita paruh baya membukakan pintunya.
"Iya den, ada apa yah?" Tanya seorang bibi yang menyambut kedatangan mereka.
"Maaf Bi sebelumnya. Orang tua Zahra ada di dalam bi?" Tanya Hendry sopan.
"Oh, nyonya sama tuan lagi keluar Kota den sama adik non Zahra juga, rumah ini kosong den, Cuma ada non Zahra, tapi non Zahra nya belum pulang." Celoteh wanita paruh baya itu.
"Oh gitu. Mmm, Zahra lagi tidur di mobil saya Bi, tadi dia habis ngikutin test jadi baru pulang sekarang." Hendry menjelaskan.
"Oh gitu den, ya udah bawa ke kamarnya aja den, ada di atas!" Ucap si bibi tangannya menunjuk kamar Zahra.
"Iya bi, sebentar yah...!" Ucap Hendry seraya kembali menuju ke pintu samping mobilnya tempat Zahra tidur dan membukanya serta melepaskan sabuk pengaman yang di pakai Zahra setelah itu menggendong gadis ini memasuki rumahnya dan menuju ke kamarnya.
Setelah sampai di kamarnya, Hendry kembali membaringkan cewe' ini dan menarik selimutnya untuk menutupi tubuh cewe' ini. Sementara Hendry sudah berlari menuju ke arah Bibi di dapur dan meminta kompresan untuk Zahra. Setelah selesai cowo' ini kembali ke kamar cewe' cantik itu dan mengompresnya.
"Ra, gue minta maaf banget sama loe. Kalau gue nggak egois waktu itu pasti loe nggak akan kaya gini." Gumam Hendry seraya membetulkan kompresan pada dahi Zahra.
Selama beberapa jam Hendry singgah di rumah cewe' cantik ini. Tidak mungkin jika dia meninggalkan cewe' ini yang dalam keadaan sakit di rumah sendirian. Sekarang jam di dinding sudah menunjukkan pukul 17.30 Waktu Indonesia Barat dan beberapa saat kemudian cewe' cantik ini bangun dari tidurnya.
Setelah berhasil mendudukan dirinya di kasur, cewe' ini baru menyadari jika ada orang lain selain dirinya di dalam kamar. Terlihat cowo' ini sedang menelungkupkan wajahnya di pinggir tempat tidur sementara dirinya duduk di kursi samping ranjangnya.
"Makasih buat semuanya Hen, gue baru tahu loe ternyata baik banget, tidak seperti sebelumnya awal gue ketemu elo!" Gumam Zahra kemudian menaruh kain yang sedari tadi digunakan Hendry untuk mengompres dirinya di meja samping.
Setelah itu cewe' ini turun dan keluar kamar.
Belum sempat cewe' ini melangkah keluar kamar, terdengar suara yang memberhentikan langkahnya. Itu suara Hendry. Ternyata cowo' tampan ini sudah bangun dari tidurnya.
"Mau kemana loe?" Tanya Hendry heran.
"Mau keluar Hen, bosen banget di kamar mulu." Jawab Zahra sekenanya dan melanjutkan langkahnya.
"Gue ikut. Kenapa loe gak ngebangunin gue." Ucap Hendry.
"Hmmm, habis tidur loe pulas banget, jadi gue nggak tega buat bangunin loe. Makasih yah Hen." Lanjut Zahra lagi.
"For What?" Tanya Hendry heran.
"For all, loe udah ngebantuin gue dan nungguin gue sampe gue siuman serta udah ngasih makanan sama minuman serta nganterin gue pulang dan ngompres gue." Terang Zahra secara detail dengan senyum manis.
"Itu nggak seberapa lagi, dibandingkan dengan kesalahan gue sama loe. gue masih ngerasa bersalah sama loe." Kata Hendry.
"Loe nggak salah apa-apa sama gue kok. Makasih ya buat semuanya." Ucap Zahra seraya duduk di sofa diikuti Hendry yang duduk disebelahnya.
Kemudian mereka berdua bercanda dan tertawa bersama. Entah apa yang menyebabkan dua insan ini menjadi dekat seperti sekarang, pada hal dulunya mereka seperti kucing dan tikus yang tidak pernah akur sebelumnya.
__ADS_1
Setelah jam dinding menunjukkan pukul 18.45 Waktu Indonesia Barat, Hendry memutuskan berpamitan kepada Zahra untuk kembali pulang ke rumahnya.