
"Ari, kemari!" panggil bu Aliantina dengan nada galak.
"Saya, bu...!" jawab Ari sambil melangkahkan kaki menuju ke depan kelas.
"Ibu suruh kamu mengarang tentang pahlawan, kenapa kamu mengarang tentang ibumu?" bentak bu Aliantina.
Nelly menggigit bibirnya karena dia merasa bersalah sekali sudah mengambil essay Pangeran Diponegoro nya Ari. "Sudah terlambat sekarang, tetapi mengapa Ari terlihat tenang-tenang saja" batin Nelly.
"Ibu nggak bilang kan, pahlawan nya harus sudah mati apa masih hidup. Ibu itu pahlawan saya. Kalau bapak baca lebih jauh, bapak bisa merasakan jiwa kepahlawanan ibu saya. Ibu yang melahirkan saya dan ke empat kakak laki-laki saya. Ibu yang dengan penuh jerih payah membesarkan kami, dengan uang gaji bapak yang pas-pasan. Waktu saya masih kelas satu SD, saya sering mengomel karena baju seragam saya jelek sekali, karena lungsuran dari kakak saya yang nomer tiga. Setiap pulang sekolah, selalu saja ada tambahan lubang di baju seragam saya. Ibu selalu dengan hati-hati menambal lubang itu. Suatu hari, ibu mengejutkan saya dengan membelikan baju seragam baru. Saya sangat senang sekali. Saya tidak tahu kalau ibu menabung selama enam bulan hanya untuk membeli baju seragam saya itu. Sekarang bapak bilang, kalau bukan jiwa pahlawan, kata apa yang cocok untuk diberikan pada ibu saya itu?" pertanyaan keren Ari itu menyudahi kotbah panjang kali lebarnya.
Ibu Aliantina mengangguk-angguk puas, bahkan bertepuk tangan, diikuti oleh teman-teman sekelasnya. Nelly yang paling keras tepuk tangannya.
Ari lebih dari sahabatnya ini, memang tidak hanya rupawan, tapi manis juga hatinya.
***
Tiba-tiba ada nada bersemangat di kalimat Ari, "Kamu ada acara apa Jum"at tanggal 14 bulan depan?"
"Gak ada acara apa-apa. Emang kenapa?" tanya Nelly.
"Hari Jum"at tanggal 14 bulan depan, ibu gue ulang tahun. Kakak-kakak mau datang semua dari luar kota. Daripada bengong di rumah, kenapa elo nggak ikut ngerayain ulang tahun ibu gue? Ibu belum punya banyak teman, jadi bakal cuma acara keluarga aja. Mau ya?" Tanya Ari menawarkan.
"Makasih, Ri. Elo baek. Gue tau niat elo baik, pengen menghibur gue, biar gue nggak kesepian. Tapi nggak usah, ah." tolak Nelly baik-baik.
"Kenapa nggak?" Tanya Ari.
__ADS_1
"Ndak enak dong, gue nanti ngabis-abisin makanan lho?" goda Nelly.
"Nggak papa. Ayolah?" ajak Ari setengah memaksa.
"Baiklah." kata Nelly akhirnya. "Jam berapa gue harus sampe sana?" Balas Nelly.
"Jam 6 bagaimana" elo bisa ikut bantu-bantu nyapu, ngepel, masak-masak dulu?" kata Ari dengan senyumnya yang nakal. "Serius nich? Nel, elo musti mikir, gimana elo bisa keluar rumah tanpa Jimmy?" tanya Ari mengingatkan.
"Oh" iya! Aduh, anak jelek itu lagi." keluh Nelly.
"Gini deh! gue ada akal." kata Ari sambil tersenyum licik. "Kali ini kita harus jahat sedikit. Jum'at pagi itu, gue bisa bawa mobil kakak ke sekolah. Gue kerjain mobil Jimmy siang itu sebelum pulang sekolah, jadi gue bakal anterin elo dan Jimmy pulang. Gue akan pura-pura nggak begitu bisa nyetir, apalagi ke daerah atas, jadi gue akan suruh Jimmy nyetir mobil gue sampe ke rumah elo." Usul Ari.
"Oh" pinter juga elo, Ri! Jadi satpam bakal mengira itu mobil Jimmy, dan sorenya elo bisa jemput gue pake mobil yang sama. Gue bakal siap di depan pintu gerbang, jadi elo nggak usah turun mobil. Aduh, Ari baek, deh!" kata Nelly langsung mengerti rencana licik Ari, sambil mencubit pipi Ari gemas.
"Namanya juga Ari?" kata Ari sambil menepuk dadanya.
"Aduh, gue udah deg-degan terus nungguin elo?" kata Nelly.
"Gue malah santai saja. Lebih deg-degan waktu jemput elo nge-band itu." kata Ari sambil melirik Nelly. Sekilas dia bisa melihat Nelly pake rok. "Apa Nelly pake rok?!" Penasaran, kali ini dia nggak melirik lagi, tapi menatap dengan jelas, sambil mengucek-ucek mata. Dia nggak salah lihat. Nelly sore ini pake rok katun hijau muda sederhana, rambutnya dikepang tempel di belakang. Rapi sekali. Wajahnya tampak polos sekali dan cantik sekali walaupun tanpa make-up.
"Gue bawa kado buat ibu elo" kata Nelly mengagetkan lamunannya.
"Ah, elo ngado segala. Mestinya nggak usah, Nel." Balas Ari.
"Nggak apa-apa. Nggak repot koq. Cuma kain." Balas Nelly.
__ADS_1
"Hey, jangan gigit-gigit jari gitu dong" jelek?" kata Ari sambil berusaha menyingkirkan jemari Nelly jauh dari mulutnya.
"Sorry" gue memang begini kalo nervous." Nelly mengaku.
"Nervous?" Tanya Ari.
"Iya" gue belum pernah ketemu ibu elo, sekarang gue malah bakal ketemu seluruh keluarga elo. Gile?" Jelas Nelly.
"Alaaa" mau ketemu ibu gue aja nervous. Malu-maluin. Eh, gue kasih tahu nih, Pasti elo bakal disorot habis-habisan kalo elo memang pacar gue. Itu udah dialami oleh semua kakak-kakak ipar gue lo. Jadi elo santai saja. Ibu tahu kalau elo cuma teman koq." Balas Ari dengan pengharapan kembali dengan Nelly.
"Iya. Kenapa sih mesti nervous begini" Kayak mau ketemu calon mertua saja. Padahal waktu gue pertama kali mau ketemu calon mertua malah nggak nervous kayak gini." kata Nelly ketawa ngikik.
"Emang kamu udah pernah ketemu calon mertua?" Tanya Ari kecewa yang tertutupi.
"Udah. Mama papanya Jimmy maksud elo kan" Sudah dong. Mereka datang ke rumah. Gue sama sekali nggak nervous. Cuek saja. Pada dasarnya karena gue nggak respek sama papanya Jimmy, maupun sama mamanya. Itu keluarga jauh lebih hancur-hancuran dari pada keluarga gue." Jelas Nelly.
"Nah" kita udah nyampe. Turun yuk." ajak Ari sambil turun dari mobil. Rupanya Nelly masih belum ilang nervousnya. Ari lalu membuka pintu dari luar. "Hoi, manja sekali minta dibukain pintu segala, tuan putri" Minta dituntun masuk juga nih?" Ari meledeknya.
"Enak saja. Gue bisa jalan sendiri." Ari meraih lengan Nelly, mencegahnya untuk terus jalan.
"Tunggu. Sebelum elo masuk ke rumah, elo mesti maklum, rumah gue ini nggak rumah gedongan kayak rumah elo?" Jelas Ari.
"Elo lebih baik berhenti ngomong, sebelum elo bikin gue tersinggung." kata Nelly.
"Gue nggak bermaksud begitu. Maksud gue?" Ari ingin menjelaskan.
__ADS_1
"Gue tau koq maksud elo. Gue yakin rumah elo ini jauh lebih indah dari pada rumah gedongan. Elo nggak usah takut lah. Gue udah sering ke tempat yang jauh lebih buruk dari ini, rumah Ayu misalnya. Gue malah sering nginep sana dulu. Jadi elo nggak usah takut gue bakal merasa nggak nyaman." Ari takjub mendengar jawaban Nelly yang begitu tegas.