
Seorang cewe' sedang menggigil kedinginan di sebuah halte yang tak jauh dari sekolahnya. Setelah dirinya berhasil keluar dari gerbang sekolahnya dirinya langsung menuju ke sebuah halte untuk menunggu taksi ataupun angkutan umum yang melintas di jalan di hadapanya. Setelah dirinya melihat jam, ternyata dirinya baru sadar bahwa jam segini tidak mungkin ada taksi atau bus yang lewat. Dirinya sudah tidak bisa mengandalkan orang lain lagi.
Sopir pribadi keluarganya sedang mengantar mamahnya menuju ke kantor beliau. Sedangkan Fadly seniornya dulu sedang ada acara di sekolahnya. Dan ayahnya tentu saja masih berada di kantor dan tidak mungkin dirinya meminta tolong pada ayahnya yang sedang sibuk dengan pekerjaanya. Dengan sabar cewe' cantik itu menunggu seraya duduk di bangku yang telah tersedia.
Beberapa saat kemudian, gerimis berdatangan. Dan tak lama kemudian, hujan pun mengguyur bumi dengan hebatnya. Dirinya sudah tidak bisa melarikan diri dari tempat ini. Jika dirinya lebih memilih untuk kabur dari tempat itu, maka sudah di pastikan akan basah kuyup. Maka dari itu, dia lebih memilih berteduh di halte. Walaupun tubuhnya sudah menggigil kedinginan akan tetapi itu adalah cara yang paling tepat seraya menunggu keajaiban yang datang kepadanya.
Tiba-tiba, ada sebuah motor yang berhenti di hadapanya. Seseorang yang sangat ia kenali sedang memarikan motor dan sang empunya langsung berlari ke arahnya. Dan dengan santai cowo' itu langsung duduk di sampingnya, membuat dirinya menatap cowo' itu dengan tatapan heran.
"Ngapain loe ngelihatin gue sampe segitunya. Gue ganteng? Emang. Baru tahu loe." Ucap cowo' yang sedang mengeringkan rambutnya dengan cara mengibas-ngibaskan rambutnya membuat cewe' cantik di sebelehnya terkena air yang ada di rambut cowo' itu.
"Hendry. Kena kan guenya. Ihhh, kalo mau ngeringin rambut jangan di sini dong. Udah tahu ada orang." Ucap Zahra kesal dan sebal.
"Yaelah, sewot banget non. Santai aja dong. Ini juga gara-gara loe" Balas Hendry santai.
"What !!! Salah gue? Emang yang nyebabin rambut loe basah gue apa." Balas Zahra nyolot.
"Bukan itu. Maksud gue, temen-temen nyuruh gue nyusulin loe kesini. Makanya gue kesini." Balas Hendry.
"Kalo loe kesini cuma buat bikin gue sebel. Mendingan jangan kesini deh. Udah tahu hujan pake nekad segala. Katanya juga loe mau pergi, kok malah kesini sih. Loe kesini karena terpaksa?" Tanya Zahra.
"Gue beneran tulus kok pengin nyamperin loe. Nggak pengin aja di salahin sama semua orang kalau terjadi apa-apa sama loe." Jawab Hendry sekenanya.
"Ya udah pergi sana. Gue jamin nggak akan ada yang nyalahin loe kalau gue kenapa-napa. Udah sana pergi. Gue disini sendirian juga nggak apa-apa. Dari pada loe disini karena terpaksa." Balas Zahra kesel bin dongkol.
"Please deh Ra...! Jangan mulai. Gue serius nih pengin nolongin loe. loe juga sampe kedinginan gitu. Muka loe pucet tuh gara-gara menggigil mulu dari tadi. Nih pake jaket gue dan gue jamin loe lebih anget dari yang tadi. Tenang aja di dalamnya nggak basah kok. Cuma luarnya aja." Ucap Hendry seraya melepas jaketnya dan memberikanya pada cewe' di sampingnya.
"Emangnya loe nggak kedinginan?" Tanya Zahra menyakinkan.
"Nggak kok. Gue udah biasa kali kena hujan. Oooyah Ra. Kayaknya hujannya bakalan lama deh, soalnya makin deres. Gimana kalau kita terobos aja hujannya. Biar loe pulang nggak kemaleman." Ucap Hendry.
"Gila loe Hen. Ini tuh masih deres banget hujannya. Mana loe bawa motor lagi. Jalannya juga licin, ntar kalo ada apa-apa gimana? Ntar kalau ada mobil lewat gimana? Ntar kalo loe nggak bisa ngimbangin motornya gimana? Kan bahaya. Lagian nunggu hujannya reda juga nggak ada salahnya kan. Dari pada kita masuk rumah sakit dan ……..!" Kicau Zahra.
"Ssssttttt, pikiran loe kejauhan non...! Mikir tuh yang positif napa sih? Pikiran loe negative semua. Emangnya gue mau bunuh loe apa? Kalo pun iya nggak mungkin diri gue terlibat. Gila apa? Lagian gue juga udah biasa bawa motor, bukan orang yang baru latihan motor kan?" Balas Hendry memotong kicauan Zahra.
"Iya sih, tapi kan nggak seharusnya nerobos hujan kaya gini Hen. Hujannya juga masih deres banget kaya gini. Nunggu bentar juga nggak masalah kan?" Lanjut Zahra.
__ADS_1
"Buat gue itu nggak masalah. Tapi buat loe itu masalah besar. Ntar kalo hujanya reda nanti malam gimana? Apa loe mau bertahan sampe malam juga disini? Nggak kan, makanya loe nurutin perkataan gue, gue jamin nggak akan ada apa-apa. Asal kita berdoa." Ucap Hendry membuat Zahra berfikir.
"Iya deh, tapi bener yah. Hati-hati...!" Lanjut Zahra.
"Siap Nyonya Besar. Mending jaketnya loe kancing deh. Supaya baju loe nggak basah." Ucap Hendry sambil tersenyum.
"Loe beneran nggak apa-apa Hen? Kan kalau nerobos hujan bakalan dingin banget. Loe juga cuma pake seragam, mendingan jaketnya loe pake ajah nih." Lanjut Zahra.
"Nggak, loe pake aja. gue nggak apa-apa. Kan tadi gue udah bilang. Gue udah biasa hujan-hujanan." Balas Hendry meyakinkan.
"Ya udah deh terserah loe aja...!" Ucap Zahra.
"Ya udah bentar ya, gue ambil motornya." Ucap Hendry seraya menerobos hujan dan langsung menujukan motornya ke hadapan Zahra.
Setelah dirinya berteriak memanggil Zahra untuk mendekat, dirinya langsung tancap gas meninggalkan halte itu. Tentunya dengan hujan-hujanan. Zahra sih masih mending ada jaket Hendry yang melindungi tubuhnya, sedangkan Hendry, dia hujan-hujanan demi Zahra. Ingat guys...!!!
Demi Zahra dia rela melakukan ini...!!!
Di tengah perjalanan yang cukup sepi, tiba-tiba motor Hendry berhenti secara mendadak. Otomatis Zahra dan Hendry langsung turun dari motor tentunya masih dengan hujan-hujananya.
"Nggak tau nih, ya udah mending loe berteduh dulu di bawah pohon itu." Ucap Hendry seraya menunjuk pohon rindang yang berada tak jauh dari tempatnya sekarang.
"Tapi Hen, ntar loe gimana?" Tanya Zahra akan keadaan Hendry.
"Gue mau ngecek motor gue dulu. Loe tunggu di situ buruan. Ntar kalo kelamaan disini loe bisa sakit. Udah sana." Usir Hendry halus.
"Nggak Hen. Gue mau disini aja. please dong, jangan nyuruh gue berteduh. Gue nggak mungkin berteduh sementara elo malah hujan-hujanan disini." Balas Zahra bertahan.
"Ra, hujannya makin gede. Please dong Ra!. Sekali ini aja loe nurutin gue. Cepetan berteduh kalo loe masih anggep gue sebagai sahabat loe. buruan...!" Lanjut Hendry.
"Iya deh, ya udah, gue kesana dulu ya." Ucap Zahra seraya berlari kearah pohon rindang tersebut setelah mendapat anggukan dari Hendry.
"Nie motor kenapa sih? Nggak join banget deh." Ucap Hendry seraya berusaha menyalakan motornya. "Sial...! Ternyata bensinya habis." Rutuknya setelah melihat jumlah bensin yang tersisa. Ternyata panahnya sudah berada di tanda merah. Kemudian, dirinya langsung mengambil kunci dan berlari menuju kearah Zahra yang sedang menggigil kedinginan di bawah pohon.
"Ra, loe nggak apa-apa?" Tanya Hendry setelah melihat wajah pucat Zahra.
__ADS_1
"Dingin banget kak." Jawab Zahra seraya memeluk erat tubuhnya sendiri.
"Ya udah sekarang kita cari tempat yang pas buat berteduh yuk. Bensin motor gue habis. Dan pom bensin dari tempat ini jauh banget, jadi mendingan kita cari tempat buat berteduh dulu yuk." Zahra mengangguk "Ya udah. Yuk...!" Ajak Hendry seraya menarik tangan Zahra menerobos hujan.
Kemudian dua insan ini berlari menelusuri jalanan yang sangat sepi, selain jalanan ini jauh dari tempat penduduk, jalanan ini juga terdapat pohon-pohon besar di tepi jalan. Bagaimana mungkin mereka dapat menemukan tempat yang cocok untuk berteduh sementara jalanan sangat ekstrim seperti ini.
Setelah berlari cukup jauh. Hendry menghentikan larinya karena cewe' yang ada di belakangnya tiba-tiba memperlemah genggamannya. Menyadari itu, cowo' ini pun membalikan tubuhnya dan menghadap Zahra. Dilihatnya Zahra sedang memegangi kepalanya dengan wajah yang sangat pucat.
"Ra, loe kenapa? Please bertahan dulu, kita kesitu dulu yuk." Ajak Hendry seraya memapah Zahra menuju ke gubuk yang tak jauh dari tempatnya tadi.
Setelah sampai, Hendry langsung mendudukan Zahra di tempat yang ada di gubuk tersebut. lebih mirip seperti ranjang yang sudah sangat usang. Kemudian dirinya membuat bantal dengan menggunakan kardus yang juga sangat rapuh. Kemudian di atasnya ia taruh beberapa helai kain untuk menutupi kardus tersebut dan dirinya langsung menyuruh sang cewe' untuk tidur menggunakan bantal buatan dirinya.
"Aduh gimana nih? Mana hujannya makin deres lagi. Gue nggak mungkin ngebiarin Zahra disini terus. Baju dia juga basah. Apalagi jaket gue. Gimana yah. Kenapa juga motor sampai kehabisan bensin segala lagi. Apes banget gue. Semoga ada keajaiban." Gumam Hendry rada panik.
Setelah beberapa saat berdiam diri di dalam gubuk. Akhirnya cowo' ini berinisiatif untuk mencari tumpangan yang akan lewat di jalanan itu dengan menunggunya di pintu gubuk. Sedangkan sang cewe' masih menggigil kedinginan serta meringkukan tubuhnya.
Beberapa menit kemudian, ada sepasang lampu mobil yang melaju tak jauh dari tempatnya dan menuju kearah jalan di hadapannya. Reflek, cowo' inipun berlari menuju ke tengah jalan membuat sang pengendara mobil memperlambat laju mobilnya dan tepat berhenti di hadapan sang cowo'.
"Hendry?" Ucap sang pengendara mobil kaget.
"Fadly, kebetulan banget loe disini. Mending loe sekarang turun dan bantuin gue buat bawa Zahra pulang ke rumah. Dia lagi menggigil di dalam gubuk itu, kayaknya dia demam gitu gara-gara kena hujan terlalu lama. Sorry, gue ngebuat cewe' loe sakit." Terang Hendry membuat Fadly menganga kaget.
"Yo, dia itu bukan ….!!!" Ucap Fadly terpotong.
"Udah deh, bukan waktunya buat ngobrol. Udah buruan loe ikut gue." Ucap Hendry seraya menarik tangan Fadly membawanya ke dalam gubuk dimana Zahra berada.
"Zahra...!" Pekik Fadly kaget melihat keadaan Zahra yang sedang menggigil kedinginan dengan muka pucat pasi dan tiduran di ranjang yang sangat kumuh.
Tanpa Berfikir panjang, Fadly langsung melepaskan jaket yang dikenakanya dan memasangnya ke tubuh Zahra setelah dirinya melepaskan jaket Hendry dan mengembalikanya ke sang empunya. Kemudian dirinya langsung membopong tubuh Zahra setelah mendapat persetujuan dari Hendry. Sedangkan Hendry masih terduduk di ranjang yang kumuh itu. Hendry tidak ikut dengan mobil Fadly karena motor dirinya masih berada di daerah sini, tidak mungkin jika dirinya meninggalkan motor itu.
"Maafin gue Ra, gue ngebuat loe sakit. Loe emang lebih pantes sama Fadly, dia lebih bisa menjaga loe. semoga loe bahagia sama Fadly. Gue sekarang percaya kalo loe bakalan aman sama dia dan gue juga percaya kalo Fadly bakalan ngasih yang terbaik buat loe dan akan selalu jagain loe." Batin Hendry.
Kemudian cowo' ini menuju ke motornya setelah sebelumnya berlari menuju ke pom bensin dengan hujan-hujanan dan masih menggunakan seragamnya yang sudah sangat basah.
Kemudian, cowo' ini melajukan motornya menuju kearah rumahnya.
__ADS_1