
Nur Fitri telah sampai di kelas dan langsung menduduki bangkunya. Tak lama, Bagas sampai sambil ngos ngosan.
"Nur, kok lo marah deh? Kan gue cuma tanya." Kata Bagas.
"Tapi lo tuh kepo banget Gas!" Bentak Nur.
"Iya deh maaf ya Nur" balas Bagas sambil menuju bangkunya yang berada di belakang Nur.
"Eh Gas, bukan maksud gue buat marah marah sama lo. Gue lagi…" Belum sempat Nur berbicara dia sudah memotong.
"Iya gue tau. Lo lagi bete. Gue tau kok" kata Bagas.
"Iya maaf ya." Kata Nur.
KRING...! KRING...! KRING...!
Bel tanda istirahat telah berakhir pun sudah berbunyi. Saatnya Nur dan Bagas kembali focus untuk materi pembelajaran.
Dari awal kisah sudah di ceritakan dengan jelas kalau kelas A itu memang bisa dibilang dominan anak yang pintar, jadi sedikit sekali terjadi kebisingan untuk mengobrol dari satu siswa kepada siswa yang lain yang ada hanya keseriusan mereka untuk memperhatikan guru yang sedang mengajar.
Begitupun Bagas dan Nur.
Sudah dua mata pelajaran di mulai sejak habis istirahat tadi dan sekarang waktunya…!!!
KRING...! KRING...! KRING...!
Bel pulang pun berbunyi!
"Nur, lo pulang naik apa?" Tanya Bagas.
"Gue jalan kaki bareng anak anak. Lo mau bareng? Yuk." Balas Nur.
"Hmm.... Lo ke arah mana?" Tanya Bagas lagi.
"Gue ke arah sana. Lo ?" Kata Nur.
"Gue juga. Ya udah yuk bareng" kata Bagas.
"Hore ada temen barengan baru nih Nur! hehe" kata Nelly Lia.
"Woo. Nelly!" Kata Bambang cemberut.
"Lah lu kenapa?" kata Nelly.
"Nggak apa-apa!" balas Bambang singkat.
"Nur, jadi belajar di rumah lo?" Tanya Rosa.
"Jadi kok Cha. Yuk makanya cepet. Keburu siang" kata Nur.
"Lo mau ikut Gas?" Tanya Fakih.
"Gue kan baru. Emang dia mau ngajak gue?" Kata Bagas.
"Gaas, kita kan temen, mau baru atau lama sama aja. Masa gue gak ngajak lo sih" kata Nur.
"Oh... iya udah gue ikut dehh hehe." Balas Bagas.
Kini Fakih, Rosa, Bambang, Nelly, Intan, Nur dan Bagas segera berjalan ke rumah Nur. Rumah yang tidak begitu jauh dari sekolah, tidak begitu dekat juga.
***
Tidak beberapa lama, mereka akhirnya sampai di rumah Nur. Sehabis Nur mempersilakan masuk, ia langsung ke kamarnya guna mengganti baju.
Fakih, Rosa, Bambang, Nelly, Intan dan Bagas di persilahkan Nur menunggu dan duduk di ruang tamu. Sementara yang lain mengeluarkan buku pelajaran dari dalam tasnya, Bagas malah melihat lihat foto keluarga yang ada di dinding, meja, atas tivi, dan lain lain. Tak lama, Nur datang dengan pakaian yang sudah terlihat lebih santai.
"Kalian mau minum apa?" Tanya Nur.
"Apa aja deh asal gak ngerepotin" balas Rosa.
"Ok bentar ya." Tutur Nur lalu menuju dapur.
Bagas yang masih melihat lihat foto keluarga Nur, tiba tiba berbicara.
"Nur, orang tua lo kerja?"
Sepertinya Nur tidak mendengarnya.
"Bagas!" panggil Bambang. Bagas pun menoleh.
__ADS_1
"Apa?" Tanya Bagas bingung.
"Sini." panggil Bambang.
"Apaan sih?" kini Bagas tambah bingung oleh Bambang dan segera menghampirinya.
"Lo jangan pernah nanya tentang orang tuanya ke Nur. Apalagi bokap." Bisik Bambang.
"Loh kenapa?" tanya Bagas.
"Ya pokoknya jangan." Balas Bambang. Bagas tidak menjawab.
***
Saking asiknya mereka bersama, sampai tak dikira kalau sudah jam 5. Akhirnya mereka harus pulang dari rumah Nur.
"Nur, kita pulang dulu ya!" pamit Fakih.
"Iyaa udah sore nih' sahut Rosa.
"Ok.. Makasih ya udah mau mampir." Balas Nur.
"Maaf ya ngerepotin" ucap Bagas
"Ah engga kok. Biasa aja" balas Nur sambil melempar senyum.
"Udah ya bye.." kata Rosa sambil keluar dari pagar. Yang lain mengikuti.
"Bye" teriak Nur seraya melambaikan tangan
Fakih, Rosa, Bambang, Nelly, Intan dan Bagas pun pulang dari rumah Nur.
Seketika itu juga rasa hati Nur seperti berubah dan sangat merasa kesepian yang tercipta di dalam kesendirian yang sulit untuk dilukiskan keberadaannya di hati Nur waktu itu.
***
Nur telah selesai mandi dan kini ia memakai rok mini dan kaos rumah yang sederhana namun tidak menutup kecantikannya.
Nur memutuskan untuk makan malam.
Seperti biasa, makan malam sendirian sudah menjadi kegiatan sehari harinya.
Waktu menunjukkan pukul 20:40 Waktu Indonesia Barat dan Mamah Nur belum pulang ke rumah. Nur setia menunggunya di kamar dengan membaca buku, sesekali ia menonton televisi, main games dan lain lain. Tak terasa jam dinding di kamarnya telah menunjukkan pukul 23:28 Waktu Indonesia Barat. Terdengar suara klakson mobil pertanda meminta dibukakan pagar dan untung masih ada Mang Amat, yang bekerja membantu mengurus kebersihan rumah dan halaman rumah, selalu setia menunggu Mamah Nur pulang untuk membukakan pintu gerbang.
Terdengar suara bukaan pintu.
KREK...!!! KREK...!!! KREK...!!!
"Kamu sudah tidur sayang?" Tanya orang itu dan ternyata mamahnya Nur Fitri.
Nur tidak menjawab karena tengah berpura pura tidur, lalu mamanya mendekat dan duduk disamping Nur.
"Nur, andai kamu tau. Mamah sangat sayang banget sama kamu." Ucap mamah Nur sambil mengelus rambut anak perempuannya itu.
"GoodNight ya Nur. Maaf mamah belum bisa jadi mamah yang sempurna buat kamu." Ujar mamahnya Nur lagi, lalu mengecup kening Nur dengan sangat lembut penuh kasih sayang dan segera keluar dari kamar Nur.
Setelah mamah keluar, Nur bangun dari pura-pura tidurnya dan segera duduk.
"Aku juga sayang mamah" ujar Nur lalu kembali merebahkan tubuhnya dan segera tertidur dengan sebuah mimpi yang bermakna.
***
"Hai...!" sapa Nur ke teman-temannya di sekolah.
"Hai...!" balas Rosa, Intan, Nelly dan Fakih.
"Ngeliat Bagas nggak?" Tanya Nur.
Semuanya menggeleng.
"Ohh...!" Nur segera duduk di bangkunya.
"Tumben pagi-pagi dah nyari Bagus Nur?" Tanya Rosa.
"Ya masa iya gue nyariin Fakih, ntar yang ada gue kena jitak ama elo Cha!" Balas Nur tersenyum.
"Dasar lo Nur!" Balas Rosa tertawa.
Tak lama, Bagas datang dengan salamnya.
__ADS_1
"Assalamualaikum." Ucap Bagas di ambang pintu kelas sambil memasang muka senyum.
"Waalaikumsalam." Jawab Nur dan yang lainnya.
"Selamat pagi…! ucap Nur balik.
"Pagi Nur!" balas Bagas.
"Eh... Nur, tadi elo nyariin Bagas. Tuh udah dateng! ucap Rosa berkedip.
Bagas yang baru saja meletakkan tasnya dan duduk langsung menatap ke arah Nur dan Rosa.
"Ih apaan sih Cha!" balas Nur yang mukanya merona merah.
Saat Bagas melihat ke arah Nur, Nur menengok dan melihat Bagas tersenyum manis sangat manis. Segera Nur memalingkan pandangannya kembali ke depan.
"Cha ayo ke kantin." Ajak Nur sambil menarik tangan Rosa.
"Eeeee…. Bentar dong. Lo cantik-cantik arogan yeee" gerutu Rosa.
"Yaudah cepetan ah!" Balas Nur.
"Elo duluan aja ya! Atau ama yang lain dulu. Gue ada janji ma Fakih!" Jelas Rosa.
"Wah kalau dah urusan ma Fakih, gue nggak berani ikut-ikutan deh! Tuh Fakih dah datang!" Kata Nur sembari memberi isyarat pada Rosa kalau Fakih sudah datang menghampirinya.
"Yuk Nur ma gue aja ke kantinnya! Kalau gue di sini jadi keki sendiri lihat mereka berdua!" Ajak Intan ke Nur.
Mereka berdua tanpa Rosa segera bergegas berjalan menuju kantin, sedangkan Fakih menemui Rosa dan langsung terlihat serius berbicara walau terkadang masih terlihat senyum dan canda di tengah antara keseriusan obrolan mereka tersebut.
Saat Nur dan Intan keluar, Fakih dan Rosa terlibat pembicaraan antara sepasang kekasih yang semua anak-anak kelas A sudah mengetahuinya dan pastinya mereka juga tidak mau mengganggu mereka berdua. Nelly dan Nazaruddin menghampiri Bagas yang terlihat jelas memperhatikan Fakih dan Rosa dengan pandangan yang penuh tanda tanya akan kedekatan mereka sampai yang lain tidak ada yang mau ikut bergabung dengan keduanya.
"Wey broo…!" sapa Nazaruddin.
"Sok asik lo!" balas Bagas menoyor bahu Nazaruddin.
"Ah lu!" Nazaruddin membalas toyoran di bahu Bagas pula.
"Eh mau tanya dong, Fakih ma Rosa...!" Bagas bertanya tapi terhenti oleh sambaran penjelasan langsung dari Nelly tanpa banyak basa basi.
"Mereka berdua sepasang kekasih! Jelas!" Ucap Nelly.
"Beneran ya Nel!?" Tanya Bagas lagi meyakinkan diri.
"Yupz!" Jawab Nelly singkat. "Eh udah-udah nggak usah bahas Fakih ma Rosa deh, semua anak kelas A, bahkan satu sekolah ini dah tau tentang hubungan mereka kali Gas!. Eh Gas, menurut lo Nur gimana?" Tanya Nelly.
"Gitu ya! Ha? Nur? biasa aja ah!" jawab Bagas.
"Yang bener?" goda Nazaruddin.
"Iyaa. Gue Tanya ke kalian, Nur itu sebenernya anaknya gimana?" balas Bagas.
"Nur itu anaknya cuek, nggak pernah mikirin yang nggak penting, tapi asik kok." Balas Nelly.
"Hmm.. dia single?" Tanya Bagas.
"Naaah. Kenapa Gas? Lo suka? bilang dong!" ujar Nazaruddin sambil menyenggol bahu Bagas.
"Ah apaan si lo...!" Balas Bagas.
"Iya lah dia single. Dia itu paling gamau mikirin pacar. Seumur hidup dia aja katanya baru 1 kali pacaran. Itu juga waktu dia kecil!" balas Nelly.
"Kalau elo suka ma Nur artinya elo bakal saingan dengan Bambang, Gas! Dari dulu tuh anak bilang suka ma Nur tapi karena tau Nur nggak mau pacaran jadi nggak berlanjut!" Jelas Nazaruddin.
"Bambang sudah mengutarakan rasa hatinya dengan Nur maksudnya Zar?" Tanya Bagas minta penjelasan.
"Belum, karena tahu Nur nggak mau pacaran dia nggak berani merusak persahabatannya ma Nur!" Jelas Nazaruddin lagi.
"hah? Iya? Waduh!" ujar Bagas bingung.
"Kalo gue jadian sama dia, gue bisa jadi first love nya dong. Bagus tuh. Eh kok jadi ngawur gini sih pikiran gue!" batin Bagas sambil ngelamun sebentar.
"Kalau Rosa ma Fakih! Dah lama mereka jadian!" Tanya Bagas lagi melanjutkan.
"Jangan di tanya, cinta sudah lama terpendam. Sama-sama bertahan akhirnya meledak dan jadi deh!" Jawab Nelly.
"Dan Nelly salah satu dari sekian banyak cewe' yang kecewa setelah tahu Fakih jadian ma Rosa!" Jelas Nazaruddin lagi sambil mengedipkan matanya ke Nelly.
"Udah Zar, nggak usah ungkit-ungkit cerita lalu! Bukan gue aja kali yang tersingkirkan Intan juga menyerah ma Rosa!" Ejek Nelly nggak mau kalah.
__ADS_1
"Wah, seru nih kisah cinta Fakih dan Rosa!" Ucap Bagas.
"Bukan seru lagi, untuk sementara mereka pasangan yang Hits di sekolah ini! Belum ada yang nyaingin keduanya." Jelas Nazaruddin.