
Matahari baru saja menampakkan cahayanya. Cuaca hari ini sangat aneh, tidak seperti biasa sejuk tapi membuat gerah. Seorang cowo' mengendarai motornya bersamaan dengan sahabatnya di sampingnya. Mereka berdua berangkat bersama memasuki Sekolah Menengah Pertama Kotabumi.
"Bro, gue ke kelas dulu yah. PR gue lupa belum gue kerjain. Ok." Pamit Fakih melambaikan tangan seraya berlari menuju kelas.
"Dia udah berangkat. Pake motor, mereka berangkat bareng!" Ceplos Hendry ketika melihat sebuah motor berwarna hijau milik Bagas.
Kemudian Hendry meneruskan langkahnya, di koridor sekolah terlihat beberapa anak yang sedang berdesak-desakan, tepatnya di depan madding. Setelah anak-anak pada keluar dari kerumunan dan madding terlihat sepi, Hendry melihat ada apa sebenarnya.
"Prom Night?" Gumam Hendry bertanya pada diri sendiri.
"Eh Hen, kok nggak ada pemberitahuan sebelumnya sih sama anak OSIS. Gue nggak tau tuh kalau sekolah mau ngadain Prom Night?!" Ucap salah satu siswa yang notabenya sebagai anggota osis yang bernama Desma Saputra, dia disapa Desma.
"Oooh... Emang sengaja pak Budi Waluyo Bro untuk memberi tahukannya sekarang ini!" Jawab Hendry menjelaskan.
"Jadi loe udah tau? Apa nggak kecepetan?" Tanya Desma lagi.
"Iya tahu, ntar gue coba bilang sama pak Budi Waluyo deh, baiknya seperti apa! Ntar gue kabarin loe sama anak OSIS lainnya." Ucap Hendry.
"Sipppt bro. gue duluan ya." Pamit Desma disertai anggukan Hendry.
Kemudian Hendry melanjutkan langkahnya menyusuri jalanan sekolah menuju kelas dan berbagai masalah mulai bergelayut di pikiranya. Dari mulai perceraian orang tuanya, Zahra yang akhir-akhir ini sering emosi dan meluapkan kepada dirinya, lomba basket antar sekolah yang akan di laksanakan sebentar lagi dan Acara Prom Night yang waktunya sudah semakin dekat... Segalanya harus Hendry hadapi yang notabenya menjadi urusan dia sebagai ketua OSIS Sekolah Menengah Pertama Kotabumi.
"Ra... Zahra …!" Panggil Hendry setelah melihat cewe' nya melewati dirinya.
"Apa. Masih perduli juga. Gue kira, elo udah lupa sama gue." Ucap Zahra dengan nada ketus.
"Kok gitu sih mikirnya, nggak dong sayang. Gue tuh masih sayang dan perduli banget sama elo. Kenapa sampe mikir gitu sih." Balas Hendry bingung.
"Yah habis, elo itu nyebelin banget. Kesepian nie guenya. Malah elo ngelarang gue buat pergi." Balas Zahra kerus.
"Bukanya ngelarang sayang. Gue cuma khawatir aja sama elo. Lagian elo kan bisa minta tolong sama gue biar gue dateng ke rumah elo Ra!." Ucap Hendry masih terlihat santai.
"Khawatir? Hey, elo tuh udah tahu kan kalau gue tuh perginya sama Bagas yang notabenya adalah pacarnya Ayu teman kita juga." Bentak Zahra.
"Iyah... iyah. Tapi gue tuh cuma nggak mau elo ….!!!" Ucap Hendry terpotong lagi.
"Akh udah akh. Gue kalau lagi ngobrol sama elo bikin emosi aja deh. Udah akh, gue mau ke Perpustakaan dulu. Mau pinjem buku." Pamit Zahra seraya berlari menjauh dari Hendry.
__ADS_1
"Bro, loe kenapa sih masih aja sama dia. loe kan tahu sifatnya itu. Gue aja yang notabenya bukan siapa-siapa dia aja ilfeel banget denger perkataanya itu. Nggak peka lagi perasaanya. Mana tahu dia kalau loe lagi banyak masalah. Di tambah dia yang bikin masalah loe tambah banyak." Terang Ari yang tiba-tiba datang di belakang Hendry.
"Udahlah. Perlakuannya wajar lagi. Kalau misalkan dia udah kelewatan gue bakal negur dia, tapi untuk sekarang kayaknya nggak dulu deh. Oya, loe dah lihat belum iklan Prom Night di madding." Lanjut Hendry bertanya pada Ari.
"Udah bro, yang gue bingung, kok acaranya Prom Night di sekolah bisa di majuin secepat seperti itu dan gue nggak tau" Tanya Ari seraya merangkul Hendry dengan nada bingung.
"Sama sekali gue nggak tahu malah. Gue baru tahu tadi pas lihat di madding kalau acara Prom Night di sekolah di majuin. Istirahat nanti anterin gue ketemu Pak Budi Waluyo ya, Ri. Tanya masalah Prom Night ini!" Pinta Hendry.
"Ok my bro. gue pasti anterin loe!" Balas Ari.
***
Di kelas 2A, tampak Zahra sedang bercengkrama dengan sahabatnya yaitu Nelly sekaligus teman sebangku Zahra di tempat duduknya masing-masing.
"Ekh, gue lihat tadi pagi loe berantem yah sama Hendry. Kenapa?" Tanya Nelly.
"Dia cemburuan orangnya. Masa gue cuma pergi sama Bagas aja dia nggak ngijinin. Bukan nggak ngijinin sih. Dia ngijinin gue pergi sama Bagas tapi dia nggak suka gue jalan sama dia. Alasanya nggak masuk akal banget tahu nggak. Dia Cuma khawatir sama gue. Jelas-jelas dia tuh tahu gue pergi sama Bagas. Pake khawatir segala. Alay deh." Terang Zahra dengan nada sinis.
"Ra... Zahra, loe kapan berubah sih. Gue bingung deh sama loe. loe selalu aja kaya gini. dia itu cowo' loe Ra!. Loe sebenarnya cinta nggak sih sama Hendry atau loe jangan-jangan udah nggak nganggep Hendry cowo' loe lagi. Atau jangan-jangan loe punya perasaan sama Bagas?." Tebak Nelly seraya mengingatkan hubungan Zahra dengan Bagas.
"Apaan sih. Gue nggak ada perasaan apa-apa kok sama Bagas. Gue juga sayang sama Hendry, dan gue masih nganggep dia itu cowo' gue. Sembarangan aja loe ngomong." Ucap Zahra tidak terima dengan perkataan Nelly, sahabatnya.
"Iya... nona Nelly tersayang yang bawel dan cerewet." Balas Zahra pada Nelly.
"Huh. Kaya loe nggak bawel sama cerewet aja." Balas Nelly manyun, sedangkan Zahra cuma ngakak nggak jelas.
***
Beberapa hari kemudian. Hari ini adalah hari bebas bagi siswa siswi Sekolah Menengah Pertama Kotabumi, selain karena OSIS yang ingin mengadakan rapat tentang acara Prom Night, anak-anak basket juga harus mempersiapkan hari terakhir sebelum pertandingan karena besok adalah hari dimana pertandingan basket dimulai.
Hubungan Hendry dengan Zahra akhir-akhir ini menjadi renggang. Entah kenapa Zahra selalu berusaha menjauhi dari Hendry. Dan Hendry juga tidak punya banyak waktu buat membahas hal ini dengan Zahra akhir-akhir ini karena proses perceraian orang tuanya yang akan di adakan sebentar lagi. Maka dari itu, setiap kali Hendry punya waktu buat ngomong sama Zahra, Zahra selalu menghindar. Entah karena alasan apa dia menghindari dari Hendry. Pada hal permasalahannya pun tidak tahu itu apa.
"Bro, loe nggak apa-apa?" Tanya Fakih khawatir melihat sahabatnya yang duduk di kursi yang ada di ruang OSIS seraya melamun setelah anak anak OSIS sudah bergegas keluar ruangan karena rapat sudah selesai. Sepertinya Hendry dalam memimpin rapat juga tidak konsentrasi dan berkali-kali melakukan kata-kata yang salah yang keluar dari mulutnya.
"Nggak apa-apa bro, biasa aja kok gue." Jawab Hendry sekenanya.
"Gue ini sahabat loe Hen, dan gue tahu kapan loe baik-baik aja dan ada masalah." Lanjut Fakih.
__ADS_1
"Iya, gue ada masalah. Gue bingung ngadepin Zahra yang akhir-akhir ini menjauh dari gue, apa salah gue coba. Setiap kali gue pengin ketemu sama dia buat bicara empat mata dia selalu menghindar dari gue. Dan yang kedua tentang bokap nyokap gue yang sebentar lagi bakal bener-bener berpisah. Gue bingung." Terang Hendry seraya mengacak acak rambutnya.
"Masalah loe berat juga ya!. Loe jangan putus asa gitu dong. Mana Hendry yang dulu yang selalu ngebantuin temen-temenya kalau lagi ada masalah? Mana Hendry yang selalu berhasil nyelesaiin masalahnya sendiri tanpa minta bantuan sama orang lain?" Ucap Fakih memberikan semangat buat Hendry.
"Thanks Bro, gue bangga punya sobat kaya loe." Balas Hendry.
"Adanya juga gue yang bangga punya sahabat kaya loe Hen. kalau masalah Zahra, kalau loe tuh jodoh dia, loe bakal kembali lagi sama dia kaya dulu. Tapi kalau loe emang nggak jodoh, loe terpaksa harus bener-bener menjauhi dia." saran Fakih merangkul sahabatnya itu.
"Thanks Bro."
Ucap Hendry tersenyum ringan.
***
Keesokan harinya, hari yang ditunggu tunggu tiba, peserta yang mengikuti lomba sudah berkumpul semua di lapangan. Tinggal menunggu panitia yang membagi daftar lomba nanti. Sedangkan anak-anak cheers sudah standby di pinggir lapangan. Mereka dengan semangatnya mendukung anak-anak basket dari sekolah mereka masing-masing.
Ternyata tim Sekolah Menengah Pertama Kotabumi mendapat nomor keempat dalam pertandingan nanti melawan Sekolah Menengah Pertama Kalibalangan. Sehingga waktu yang sedemikian banyak digunakan oleh anggota basket Sekolah Menengah Pertama Kotabumi untuk beristirahat.
Waktu ini juga digunakan Hendry untuk membicarakan masalahnya yang terjadi dengan cewe' nya itu. Dengan santai, dia menyeret Zahra agar mau mengikuti dirinya. Mereka berdua berhenti di sebuah bangunan tua yang ada di samping stadion basket.
"Ngapain elo ngajakkin gue ke sini." Tanya Zahra cuek.
"Elo masih nganggep gue ini cowo' elo kan?" Tanya Hendry malah balik nanya.
"Elo tuh ngomong apa sih. Ya iyalah. Pertanyaan aneh yang pernah gue denger. Kalau gue mutusin elo baru elo itu bukan cowo' gue lagi." Jawab Zahra santai.
"Terus kenapa akhir-akhir ini elo nggak pernah mau gue ajak ngomong?" Tanya Hendry.
"Bukanya elo yang berusaha jauhin gue? kenapa elo tuh nggak berusaha buat ngomong sama gue, atau seenggaknya elo nemuin gue." Jawab Zahra masih dengan nada ketus.
"Gue tuh udah berusaha buat ngomong sama elo, tapi elo malah ……!" Ucap Hendry terputus.
"Hendry...!" Panggil seseorang yang mengakibatkan Hendry mengehentikan ucapannya.
Hendry menoleh ke sumber panggilan. "Ada apa Ri?" Tanya Hendry kepada Ari.
"Di panggil tuh sama Pak Dadang Kusuma. Katanya semuanya di suruh kumpul di lapangan." Terang Ari seraya berlalu meninggalkan dua sejoli yang mengalami masalah itu.
__ADS_1
"Gue pergi dulu, suatu saat nanti elo pasti tahu kenapa akhir-akhir ini gue tuh jauhin elo." Ucap Hendry seraya berlalu meninggalkan Zahra yang masih terlihat kesal.
"Maksudnya apa coba, udah akh. Pusing gue mikirin dia mulu." Gumam Zahra seraya memasuki stadion dan berkumpul bersama teman-temannya yang lain.