
Sekarang hanya ada mereka berdua di Ruang OSIS. Tepatnya Hendry dan Zahra. Hening...! Itulah keadaan yang sebenarnya yang terjadi di Ruang OSIS. Canggung, bingung, dan tak tahu apa yang harus dilakukan. Itulah yang dirasakan oleh sang ketua OSIS dan murid baru itu.
"Mmmm, kita mau terus terusan diem kaya gini? Udah gue mau pergi dulu. Mau lanjutin baca buku." Ujar Hendry seraya beranjak dari duduknya dan berniat meninggalkan Ruangan itu.
"Hen, kita mau mulai kapan belajarnya?" Tanya Zahra pelan dan sangat hati-hati.
"Terserah loe. Yang butuh juga loe kan? Gue tugasnya Cuma bantuin aja. Kalo loe udah ngerasa bisa ngapain loe minta tolong sama gue? Iya kan?" Balas Hrndry ketus.
"Gue nggak bisa dan gue butuh bantuin loe buat ngajarin gue." Jawab Zahra tegas. Entah keberanian dari mana dia bisa berbicara seperti itu.
"Up to you. Kalo loe butuh, loe bisa temuin gue. Dan satu yang harus loe inget. Jangan pernah ganggu gue di saat gue lagi fokus sama kerjaan gue. Ngerti loe...!" Balas Hendry.
"Huft." Hanya helaan nafas panjang yang terdengar setelah mendengar jawaban dari cowo' dihadapannya yang sudah menghilang sedari tadi.
***
"Pergi aja deh... Ke kelas...!" Ucap Zahra sendiri kemudian.
Gadis ini pun beranjak dari duduknya dan berjalan menyusuri lorong sekolah supaya bisa sampai di kelasnya. Setelah sampai dia lantas duduk di bangkunya seraya menyenderkan wajahnya ke meja.
"Kenapa Ra?" Tanya Nur seraya membelai lembut rambut sahabatnya itu.
"Gue bingung, apa yang harus gue lakuin sekarang." Gumam Zahra pasrah.
"Bingung kenapa Shill? Cerita ajah. Kita siap dengerin cerita loe kok." Ujar Intan yang berada tepat di belakangnya seraya mendudukan dirinya di depan Zahra.
"Iya Ra' cerita aja. Kita bakalan dengerin loe." Desak Nelly juga.
"Jadi gini ……….!" Zahra pun menceritakan apa yang terjadi di Ruang OSIS bersama dengan ketua OSIS yang cuek itu. "Jadi gitu guys, gue bingung apa yang harus gue lakuin?" Terang Zahra.
"Hmm, gue juga udah ngira sih bakal terjadi kaya gini. Gue juga bingung. Masalahnya Hendry itu orangnya kaya es batu. Beku banget dia. Boro-boro ngajarin loe Ra, ngomong ajah dia pelit banget." Komentar Nelly setelah mendengarkan cerita Zahra tadi.
"Menurut gue, loe Cuma bisa lakuin satu hal, yaitu elo cari Fakih deh! Yang bisa mencairkan es batu di hatinya Hendry hanya Fakih Ra!?" Ucap Intan.
"Kok bisa begitu Tan?" Tanya Zahra.
"Fakih pasti punya cara buat membuat suasana berubah! Yakin deh... Kita-kita aja kalau ada masalah yang rumit, ujung-ujungnya ke Fakih!" Ucap Intan kembali.
"Pernah dulu Bagas di skors karena di tuduh mengambil barangnya Dian, akhirnya semua selesai dengan cukup baik atas sarannya Fakih kok!" Jelas Nur menguatkan perkataan Intan.
"Ok, gue coba saran kalian! Tapi yang jadi pertanyaan gue, gue anak baru di kelas ini, gue belum sekali pun bertemu Fakih? Dan keberadaannya pun gue nggak tahu?" Ucap Zahra bingung.
__ADS_1
"Nah itu PR buat elo Ra! Kalau Rosa ada enak nyari Fakih, tapi sekarang ke duanya pada sibuk dengan acara yang sama dan di mana Fakih dan Rosa pun sulit untuk di pastikan!" Jelas Nelly.
"Rosa? Ada hubungan apa Fakih dan Rosa!" Tanya Zahra ingin tahu lebih jauh.
"Haaaa! Fakih kekasihnya Rosa Ra'! Jadi kalau elo mau temu Fakih, hanya Rosa yang tahu seperti apa?" Jelas Nur.
Zahra di ceritakan Nur kisah-kisah antara Fakih dan Rosa... Dari awal sampai akhir! Zahra segera mengerti akan maksud dari sahabat-sahabat barunya itu. Namun tetap menjadi pertanyaan Bagaimana dia bisa bertemu dengan Fakih dan di mana sekarang dia berada?
***
Setelah dipersilahkan masuk dan Fakih menutup pintunya kembali, Rosa menatap Fakih yang masih menyandarkan punggungnya di pintu. Membaca wajah Fakih yang penuh tanda tanya, Rosa tersenyum lagi, berusaha menghapus kegugupan dari wajah Fakih. Tapi ternyata tak semudah itu melenyapkan ketegangan itu hanya dengan sebuah senyuman.
"Cha...!" Fakih mendekat. "Sama sekali gue nggak bermaksud mengkorek luka elo..." Lanjut Fakih.
"Elo selalu begitu. Tidak pernah membiarkan gue selesai bicara. Gue juga tidak bilang elo mengkorek luka, koq." Fakih membisu.
Di biarkannya Rosa menyelesaikan kata-katanya kali ini. "Mendengarkan perkataanmu tadi, aku jadi menyadari dua hal penting.
Pertama, bahwa Papah dan Mamah justru sekarang malah tambah dekat dihati gue. Gue bukan anak yang tak berbakti. Sampai kapan pun mereka tetap papah dan mamah gue, yang memang jauh dari sempurna. Seperti halnya gue Kih, gue pun yang nggak sempurna. Tapi gue harus menemukan jati diri gue sendiri, kemauan sendiri. Gue nggak pernah ingin hidup di bawah bayang-bayang mereka selama mereka hidup, dan gue tidak ingin memulainya sekarang." Ucap Rosa. Wajah Fakih berubah cerah.
"Yang kedua?" tanya Fakih kemudian.
Fakih menatap mata bening Rosa. Rasanya tak salah bila dia menyimpulkan bahwa di situ ditemukannya penyesalan, kepercayaan dan harapan. Penyesalan akan keraguan dan sikapnya sendiri, kepercayaan
akan cinta Fakih, dan harapan akan kebahagiaannya bersama Fakih. Ditemukannya pula jawaban atas semua pertanyaannya. Secara refleks, Fakih menarik pinggang Rosa ke arahnya bak penari salsa. Ingin rasanya memeluk dan mencium Rosa saat itu juga. Untung dia ingat ini di ruang sound system pada jam pelajaran pula. Bisa berabe kalau sampai ada orang tahu.
Dengan berat hati dilepaskannya pinggang Rosa dari pegangannya. "Sebetulnya gue datang kemari cuma ingin berkomentar satu hal. Kenapa jadi berlarut-larut dan melenceng dari tujuan awal begini?" Rosa menepuk dahinya.
***
Tok... Tok... Tok...!!!
Suara ketukan pintu dari luar ruang sound system tiba-tiba terdengar. Fakih dan Rosa rada sedikit kaget!
"Ya, siapa di luar?" Jawab Rosa dari dalam ruang sound system.
Muncul seorang cewe' cantik, manis dengan tinggi lumayan dan kulit putih berseri indah dari balik pintu.
"Apakah gue sekarang berhadapan dengan Rosa Pratiwi? Dan Fakih Alfarizi?" Tanya Cewe' itu lagi yang tak lain dan tak bukan adalah Zahra Talita Putri.
"Iya benar, saya Rosa Pratiwi dan ini Fakih Alfarizi!" Jawab Rosa dengan tenang sembari memperkenalkan diri sendiri dan diri seorang Fakih.
__ADS_1
"Alhamdulillah akhirnya bisa bertemu kalian!" Jawab Zahra dengan rasa syukur.
Fakih dan Rosa mendengar kata-kata Zahra jadi sepandang-pandangan tidak mengerti maksud dari cewe' yang barusan datang ini.
"Hallo kak nama gue Zahra Talita Putri, di panggil Zahra. Gue anak baru di kelas dua A" Ucap Zahra sembari mengulurkan tangannya pada Rosa lalu Fakih.
"Hallo juga, loe bisa manggil gue Rosa dan ini Fakih!." Ucap Rosa.
"Akhirnya gue bisa temu dan berkenalan dengan ketua kelas A dan wakil ketua kelas A!" Ucap Zahra.
"Iya, kemarin-kemarin kita berdua dispensasi dari sekolah untuk tidak ikut kegiatan mengajar dan diajar di kelas jadi belum sempat bertemu ya!" Ucap Rosa.
"Apa yang bisa kita bantu ya Ra?" Tanya Fakih kemudian.
"Jadi gini ……….!" Zahra pun menceritakan apa yang terjadi di Ruang OSIS bersama dengan ketua OSIS dan Kepala Sekolah Menengah Pertama dan dua guru kesiswaan sampai masalah dan solusi yang di berikan Intan, Nelly dan Nur." Jadi gitu , gue bingung apa yang harus gue lakuin?" Terang Zahra.
"Menurut gue, loe bisa lakuin sesuatu hal, yaitu ……… loe mesti mencoba baik sama Hendry, loe berusaha ngomong sama dia. Basa-basilah, itu terserah loe seperti kebiasaan kita sebagai orang timur. Yang jelas loe ngajakkin hendry banyak ngomong. Tapi satu hal yang harus loe lakuin juga, jangan pernah bikin dia Emosi, masalah apa yang akan keluar dari mulutnya loe dengerin ajah." Saran Fakih.
"I agree with you. Sebaiknya loe lakuin saran Fakih tadi Ra', masalah jawaban Hendry nanti loe nggak usah banyak mikirin, yang penting loe bisa lolos dari test itu dengan nilai bagus. Sementara cukup itu aja yang lo fokusin dulu!" Tambah Rosa yang sependapat dengan jalan pikiran Fakih.
“Iya, makasih banget ya!. Kalian baru kenal sudah membantu dan memberikan solusi yang terbaik buat gue!" Balas Zahra.
"Iya, kalau kita berdua akan siap membantu siapa saja selagi kita mampu kok!" Jawab Fakih.
"Kalian buat gue terharu! Mau ya pada jadi teman gue!" Ucap Zahra lagi.
"Jangan temen dong Ra', gue nggak mau kalau jadi temen loe." Ucap Rosa nggak rela.
"Yahh Cha, masa loe nggak mau jadi temen gue?" Tanya Zahra kecewa dengan jawaban Rosa.
"Maksud kitaaaaaaa ….. kita mau loe jadi sahabat kita." Jawab Rosa tertawa.
“Akhhhh, kalian nie bikin gue khawatir ajah deh…!" Ucap Zahra.
"Hehehe...!" Rosa dan Fakih tertawa.
"Gue mau banget soalnya jadi sahabat kalian berdua." Ujar Zahra bahagia.
"Kita juga sudah pasti seneng banget punya sahabat seperti loe Ra'!" Ujar Fakih dan Rosa kompak.
"Seperti yang Intan katakan, Fakih dan Rosa begitu bersahabat, tidak memandang sahabat baru atau lama, cewe' atau cowo' mereka selalu siap membantu! Jika memang mereka berdua sepasang kekasih betapa idealnya! Buat gue jadi iri aja!" Ucap Zahra dalam hati.
__ADS_1