
Bel sekolah telah kembali berbunyi, menandakan kelas akan segera di mulai dan buru-buru aku masuk kelas. Kelas sudah sangat ramai dan tidak secara sengaja aku melihat dirimu. Berdiri tegak dengan postur tubuh tinggi dan wajah putih mencoba memimpin laju aktifitas kelas yang hiruk pikuk dengan suara-suara gaduh anak-anak yang bercanda, ngobrol bareng bahkan masih ada yang berlatian kesana kemari.
Langsung ku alihkan pandanganku tempat lain.
Perkenalkan namaku Nelly, lengkapnya Nelly Lia Fitriyani.
Inilah ceritaku, cerita seorang gadis remaja yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan sekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) favorit yang berada di Lampung Utara. Di sekolah, aku dikenal dengan sikapku yang rada cuek karena itu sudah jelas bukan, bagaimana karakter diriku. Di mana banyak orang yang mengatakan bahwa aku adalah cewe' yang "Masa Bodo" dengan urusan orang asal tidak mencampuri urusanku itu sudah lebih dari cukup.
Ya itulah pandangan orang tentangku, tapi mereka hanya mengetahui diri ini dari permukaan saja atau dengan kata lain dari luarnya saja karena apabila menilai diriku, aku merasa aku adalah orang yang sensitif. Aku bisa saja tiba-tiba menangis apabila melihat atau merasakan sesuatu yang bagiku menyedihkan atau membuatku terharu.
Dan inilah sebagian dari ceritaku...!!!
Dia…!!! Cowo' yang super sibuk dan yang sudah membuat hati ini penasaran, seperti yang ku katakan tadi, ia banyak digandrungi oleh kaum yang namanya cewe'.
Bagaimana tidak?
Lihatlah dirinya tinggi, putih, lumayan tampan, dan ia juga lumayan sangat pintar dalam segala hal seperti matematika dan ilmu hitung menghitung sampai pernah guru bidang study matematika dan ilmu hitung menghitung yaitu bu Ernawati mengatakan kalau dia adalah anak kesayangannya.
Gimana nggak buat kesal coba bayangkan, dari sekian banyak siswa dan siswi di kelas dua A, kenapa dia yang menjadi anak kesayangan. Kalau di tanya dengan kawan-kawan lainnya, karena dia sangat pintar mengerjakan semua tugas yang di berikan terkadang terlihat sangat-sangat sempurna, aktif di dalam setiap pelajaran dan selalu membantu tidak pandang siapa pun orangnya, peri hal itu pun aku hanya berani melihat dan bertanya tidak secara langsung tapi melalui perantara jelas menurut mereka saja penilaian itu terjadi.
Sampai pernah kami berempat, yang memang sekelas dengan dia dari kelas satu masuk kelas pilihan lanjut ke kelas dua masuk ke kelas pilihan lagi merasa terhaniaya dengan kepintaran dan ketenarannya.
Aku, Intan Putri, Nur Fitri dan Rosa Pratiwi ke empatnya cewe' dan dia sendiri cowo' berencana menyainginya dalam pelajaran matematika dan ilmu hitung menghitung hingga kami berempat berencana mengikuti les private dengan orang pintar dalam bidang keilmuan tersebut.
Tapi apa mau dikata, walau kami berempat sudah mengikuti lest private matematika dan ilmu hitung menghitung tetap saja yang selalu di banggakan oleh bu Ernawati tetap aja dia, pada hal nilai kami sebenarnya lebih baik. Dari itu kami berempat sadar, dia menjadi anak kesayangan bu Ernawati itu bukan karena nilainya selalu baik, karena dasarnya bu Ernawati sudah terlanjur sayang ma dia dan nggak mungkin kan seorang guru memutar balikkan fakta yang sudah di keluarkan berupa sebuah pengakuan untuk di tarik kembali.
Aku sering sekali mengobrol santai, apabila ada yang penting maupun tidak penting selalu aku utarakan dan bicarakan.
Saat hatiku sedang mekar berbunga harus semerbak seperti saat ini, aku merasa dia juga pasti merasakan hal yang sama. Karena setiap kali aku mencuri pandangan ke arahnya, pasti ia juga melihatku dan tersenyum tipis. Oh Tuhan rasanya seperti ada pesta kembang api di akhir tahun dalam dada ini. Hari demi hari, aku hanya berani seperti itu, berbicara sebatas pelajaran, kegiatan dan persoalan yang terjadi di kelas, terkadang melihatnya dari kejauhan tanpa berkata sedikit pun.
Dan tingkah aneh ini ditangkap oleh sahabat karibku, yaitu Rosa Pratiwi. Rosa adalah sahabatku sejak SD, kalau Intan adalah sahabat dia sejak SD dan hanya Nur yang Netral diantara kami berlima. Rosa terkadang bisa menebak dan mengetahui apa yang aku pikirkan dan rasakan tanpa harus bertanya terlebih dahulu.
"Kok senyum-senyum sendiri Nel?" Tanya Rosa.
"Ha! Apa?! Nggak, nggak apa-apa kok, Cha!" jawabku dengan sedikit kaget.
"Yang bener? Lagi....!!!" Lanjut Rosa.
"Apaan sih? Gue tuh nggak kenapa-kenapa, kali Cha!" Ucap Nelly menyembunyikan keadaan sebenarnya.
"Lagi jatuh cinta ya?" Tebak Rosa, yang lumayan membuat ku kaget.
"Ih! Apaan sih, enggak, jangan sok tahu deh," jawab Nelly rada gugup.
"Jangan bohong sama gue Nel, kayak baru kenal ama elo aja," timpal Rosa.
"Udah ah gue mau pergi dulu ya!." Nelly mengalihkan pembicaraan.
Sambil bergegas berjalan aku masih berpikir, "Aduh kok Rosa bisa tahu ya, padahal udah setengah mati gue berusaha menutupi perasaanku ke dia. Tapi kenapa Rosa bisa tahu? Gue berharap semoga dia nggak tahu, dan jangan pernah tahu. karena gue nggak mau dianggap cewe' gampangan atau apalah. Dan belum tentu juga kan dia suka sama gue, bisa jadi dia malah suka sama orang lain, dan sikapnya dia kemarin-kemarin ke gue itu hanya sikap ramahnya dia aja sama dengan keramahan yang dia berikan kepada semua orang. Aduh gue kok jadi ngerasa serba salah, pokoknya setiap ada dia, gue ngerasa bodoh dan nggak tahu harus ngapain. Dan terkadang saking deg-degannya gue sampe ngerasa kepala mulai pusing. Jadi gue selalu berusaha menghindar dari dia. Intinya gue belum dan nggak mau ambil resikolah." Batin Nelly dalam hati yang terlihat bimbang. "Gue nggak bisa bayangin kalau temen sekelas semua pada tahu tentang perasaan ini. Aduh jangan sampai deh. Bisa-bisa sampai lulus nanti gue bakal tetep diejek-ejek lagi." Lanjut suara hati Nelly kembali.
Dan hari hari ini pun berlalu, entah mengapa ada perasaan aneh aku tentang dia. Dan ini baru aku rasain waktu aku jalan berdua sama Rosa tanpa sengaja aku berpapasan sama dia. Anehnya kok dia jadi jarang ngelihat aku lagi ya, jadi malah sering ngelihat ke arah Rosa.
Apa jangan-jangan mereka dulunya udah deket atau sekarang lagi deket.
Pernah waktu aku jalan, tiba-tiba dia melambaikan tangannya ke arahku. Hah! Sumpah hampir aja, jantung ini mau copot. Tapi ternyata dia melambaikan tangan bukan ke aku malah ke Rosa. Ya ampun, apa-apaan nih. Terus aku tanya ke Rosa baik-baik.
"Cha, elo sepertinya sekarang sedang terlihat dekat ma cowo' ya?!" Tanya Nelly membuka pembicaraan menuju ke arah sasaran.
"Mmm... Maksud elo dengan siapa ya!?" Tanya Rosa balik.
"Ketua kelas kita!" Jelas Nelly.
"Oooh maksud elo ma Fakih? Kalau itu emang dekat lah. Kenapa emangnya Nel?" Tanya Rosa balik.
"Enggak cuma tanya aja sih. Kok aku sering lihat elo sama dia ya?" Lanjut Nelly.
__ADS_1
"Ah, masa sih. Kayaknya biasa aja deh," jawab Rosa datar.
"Kalian pacaran ya?" Vonis Nelly.
"Apa! Pacaran? Enggak kok. Baru mau, hehehe...!" Jawab Rosa tersenyum menawan sekali.
Dan jlebb!!! Rasanya kayak ada belati tajam yang menghunus masuk menghujam di hati Nelly. Aku nggak nyangka, padahal sebelumnya Rosa udah tahu, gimana sikapku ke Fakih.
"Baru mau apa ya Cha?" Kata Nelly pura-pura belum mengerti.
"Ya ampun Nel, kamu tuh ya. Ya baru mau pacaranlah. Bagaimana menurut elo dengan gue jadian ama Fakih, Nel!?" Tanya Rosa kemudian.
"Oooh menurut gue sih itu terserah elo dong Cha!." Nelly langsung terlihat tidak senang.
"Loh kok jawabnya gitu sih, Nel!?" Tanya Rosa melihat sikap Nelly demikian.
"Ya terserah elo aja, lagian siapa yang mau ikut campur urusan pribadi orang!" Jelas Nelly.
Dan aku langsung pergi tanpa menggubris Rosa sama sekali.
Tanpa terasa ada bulir-bulir air mata jatuh di pipi dan aku langsung menghapusnya, supaya orang lain nggak melihatnya. Waktu pulang sekolah dan anak-anak lain udah pulang, sekolah jadi sepi dan ini salah satu hobiku buat merenung duduk sendiri sambil melihat keatas langit yang di hiasi awan memulai berarak-arak menghitam nyaris menutupi birunya langit yang mempesona.
Aku masih berpikir kenapa sih?
Kenapa harus Rosa, sahabat ku sendiri dan apa mungkin kedekatan mereka sebelum rasa di hati ini ada? Tapi mengapa Rosa tidak pernah bercerita sama sekali? Apa Intan dan Nur tahu akan kisah hati mereka, kalau mereka berdua sudah tahu, mengapa sama sekali tidak pernah mengatakannya kepadaku. Jadi perasaan di hati ini terhadap Fakih tidak berlanjut seperti saat ini.
Kenapa sih, setiap kali aku suka sama seseorang cowo' pasti terjadi terus seperti ini dan ini terjadi bukan hanya saat sekarang saja.
Apa aku gak boleh suka sama orang ya?
Apa aku gak pantes buat jatuh cinta?
Aku mengumpat terus sampai akhirnya sebuah tangan menyentuh pundakku!
"Belum pulang elo Nel? Ngapain di sini sendirian?!" Tanya Intan tiba-tiba.
"Masih ada sedikit kerjaan ama Fakih soal pelantikan kepengurusan Pramuka Sekolah Nel!" Jawab Intan santai sembari duduk di samping Nelly.
"Ma Fakih, ya Tan?! Lah kemana dia kok nggak bareng elo Tan!?" Tanya Nelly sangat ingin tahu.
"Dah duluan dia, ada janji ma Rosa katanya!" Jelas Intan singkat.
"Ma Rosa Tan!?" Tanya Nelly menyembunyikan rasa di hatinya yang tidak menentu mendengar penjelasan Intan.
"Iya, emang ada apa lo Nel? Sepertinya ada sesuatu deh?!" Tanya Intan.
"Nggak apa-apa kok Tan!" Jawab Nelly singkat.
"Ada yang elo tunggu apa Nel?! Kalau nggak ada kita pulang yuk!" Ajak Intan.
"Tan! Boleh gue minta waktu elo sebentar!?" Tanya Nelly.
"Lah kan dari tadi dah gue sediakan waktu gue buat elo Nel, kalau ada sesuatu bilang aja lo! Siapa tahu aja gue bisa bantu!" Jelas Intan lagi.
"Cuma mau tanya sih Tan! Boleh ya!?" Lanjut Nelly. Intan tersenyum dan menggangguk santai, Nelly meneruskan ucapannya. "Elo dah tahu kalau Rosa dan Fakih pacaran?"
"Ya gue tahu, kenapa dengan mereka Nel?!" Tanya Intan. "Oooh... Gue tahu, jangan elo bilang kalau elo suka ma Fakih ya? Gue bosen dengerinnya, cape' dimana-mana tanya Fakih dah punya pacar belum? Rosa pacaran apa ma Fakih? Minta tolong kenalin dengan Fakih? Adeeeh... Leleh sangat gue Nel!" Jelas Intan.
"Kan elo sahabat yang paling lama dengan Fakih, jadi wajarlah kalau semua tanya ke elo!" Jelas Nelly.
"Iya...ya! Bener elo suka juga ma Fakih ya Nel?!" Tanya Intan kemudian.
Nelly mengangguk, Akhirnya Intan pun menjelaskan bagaimana kisah cintanya Rosa dan Fakih dari A sampai Z ke Nelly sampai bagaimana mereka bisa jadian.
"Setau gue Nel, Fakih belum pernah sih bilang kalau dia suka ma Rosa secara langsung, tapi Rosa sudah memberikan rambu-rambu ke Fakih akan hati dan perasaannya, gue rasa Fakih pun punya perasaan yang sama!" Jelas Intan lagi.
__ADS_1
"Kalau begitu mereka belum resmi pacaran dong!" Ucap Nelly.
"Yupz...! Tapi gue rasa elo jangan berharap terlalu tinggi deh Nel, ntar jatuh. Gue mau cerita ma elo nih, gue juga pernah waktu itu punya perasaan yang sama dengan elo Nel, tapi gue nggak mau jadi jerawat atau bisul yang tidak berani terus terang ma Fakih ya, bukan juga karena gue cewe' apaan yang sering di sangkakan orang nggak baik kalau bicara hati mendahului si cowo'. Gue bilang ma Fakih kalau gue ada hati ama dia!" Jelas Intan.
"Terus apa tanggapan Fakih saat elo terus terang begitu Tan?!" Nelly bertanya semakin ingin tahu.
"Dia malah tertawa, meluk gue dan bilang 'Tan, dari orok sampe badan segede ini gue ngerti elo dah kayak saudara gue sendiri, ntar kalau kita jadian terus ribut melulu nih, kita berdua nggak bisa lagi seakrab ini kan!' Begitu kata Fakih ma gue Nel!" Jelas Intan. "Gimana nggak kesel gue di gituin ma dia, ya langsung gue jitak kepalanya lah!" Lanjut Intan sambil tertawa mengenang kisah yang baru di ceritakannya.
Sampai di rumah aku langsung tidur, aku cape dengan hari ini, hari yang menyesakkan dada. Setelah panjang lebar mendengar kisah Intan yang di ceritakannya padaku, saat ini aku bertekad untuk segera menyelesaikan masalah ini, tanpa harus menyakiti hati orang lain.
Tapi aku mau tunggu dulu beberapa hari setidaknya agar supaya emosi di hati ini sedikit berkurang dulu. Besoknya aku berusaha menjauh dari Rosa, aku lagi nggak mau ngomong sama dia, dan nggak mau berurusan sama dia.
"Elo kenapa Nel, kok sepertinya sikap elo beda dari hari-hari kemarin?!" Tanya Rosa.
"Gue cuma butuh waktu sendiri aja Cha. Eh mana pacar elo kok nggak bareng ma dia?!" Sindir Nelly.
"Kok elo ngomong gitu sih Nel? Gue sama Fakih gak ada apa-apa!" Ucap Rosa.
"Halaaaaah! kemaren elo bilang apa ma gue, baru mau pacaran sama Fakih kan. Dan biar gue tebak, elo terima dia kan?!" Nelly terbawa emosi.
"Iya memang akan gue terima, kenapa elo nggak suka kalau gue deket sama Fakih ya? Elo nggak suka lihat gue bahagia ma dia? Atau jangan-jangan elo suka sama Fakih, Nel?!" Jelas Rosa sembari balik menyerang Nelly dengan segala macam pertanyaan.
"Kalau iya kenapa?" Nelly langsung meninggalkan Rosa yang diam mematung karena ucapanku.
Ya....! biarlah, biar dia tahu gimana perasaanku dan semenjak itu kami pun jadi bermusuhan.
Jangankan untuk jalan atau bermain bareng, ngobrol pun jarang kami lakukan bahkan kalau saling ketemu, yang ada malah lirik-lirikan.
Walaupun sebenernya aku udah nggak tahan dan akhirnya aku memutuskan untuk ngomong duluan.
"Hai Cha?" Sapa Nelly.
"Hai," Jawab Rosa datar.
"Boleh gue ngomong sama elo Cha!." Tanya Nelly.
"Ya...!!! Ngomong aja," jawab Rosa masih kesal.
"Ini penting, ini tentang kita." Jelas Nelly singkat.
"Oke, di mana?" kata Rosa agak penasaran.
"Ikut gue." Kata Nelly.
Akhirnya aku mengajak Rosa ke samping laboratorium sekolah yang terdapat kursi tunggu di sana.
"Cha! Gue minta maaf ya...!" Ucap Nelly tiba-tiba.
"Maaf, buat apa?" Rosa masih terlihat bingung.
"Buat semuanya, gue yang salah! Gue yang egois Cha. Seharusnya gue tahu tentang elo sama Fakih! sebagai sahabat elo, seharusnya gue musti tahu dan sadar gimana posisi elo karena ini masalah hati!" Jelas Nelly.
"Enggak kok Nel, elo nggak salah, guenya aja yang terlalu kebawa emosi. Gue juga minta maaf ya!" Ucap Rosa balik.
"Jadi kita balikan lagi nih!," ucap Nelly.
"Iyalah, jujur ya Nel, gue nggak tahan sehari aja nggak ngomong sama elo dan hari ini aku super-super lega bisa ngomong seperti ini lagi ama elo." Ucap Rosa tersenyum senang.
"Iya Cha, gue juga sama." Balas Nelly.
Dan akhirnya mereka pun berpelukan, dan bersama berjanji nggak boleh marahan lagi karena mereka sekarang paham dan mengerti kalau masalah apapun itu sebenarnya akan ada jalan keluarnya tanpa harus hanyut dalam emosi masing-masing.
Walau pun maksud yang ada di hati belum kesampaian, akan tetapi nggak apa-apalah, aku harus rela melepas Fakih demi sahabat, karena pacar bisa dicari di mana pun, tapi sahabat gak bisa, mereka orang yang susah dicari.
Dan aku nggak tahu kenapa aku bahagia, dengan apa yang aku lakuin, aku bahagia karena udah buat orang lain bahagia juga.
__ADS_1
Terkadang kebahagiaan datang di saat kita harus berkorban bukan?