BERDAUN RINDU BERBUNGA SUNYI

BERDAUN RINDU BERBUNGA SUNYI
BAB 46 : I LOVE YOU


__ADS_3

"Mari masuk Rosa. Fakih lagi tidur siang tuh. Katanya capek setelah tiga hari ikut kegiatan di sekolah. Dibangunkan saja. Sudah jam setengah lima sore ini." kata Ibu Fakih saat melihat Rosa datang.


"Hei, bangun, jangan ngorok terus!" kata Rosa, mengagetkan Fakih yang sedang tidur dengan pulas.


Rosa lalu menyalakan lampu kamar Fakih.


"Elo kejam deh Cha!. Masih pegal-pegal nih!" Fakih mengomel. Sepertinya dia belum betul-betul bangun.


"Jalan-jalan yuk." ajak Rosa.


"Malas ah?" kata Fakih bersiap-siap mau bobok lagi.


Rosa cepat-cepat menarik bantalnya. Buk! Kepala Fakih membentur kasur.


"Apa-apaan sih elo, Cha! Gue ngantuk nih?" kata Fakih sambil memohon-mohon Rosa untuk mengembalikan bantalnya.


"Ayo lah! Gue sudah sampai di sini masa, diusir sih? Cuaca di luar cerah tuh. Ayo keluar yuk?" ajak Rosa lagi.


"Elo kan yang dari tadi teriak-teriak ingin jalan-jalan. Gue kirain elo sudah ada rencana mau ke mana?" tanya Fakih geli.


"Gue kan cuma tanya elo ingin ke mana. Siapa tahu elo punya ide lebih baik. Kan baik gue menawarkan, kan? Kalo nggak ada ide ya gue kembali ke rencana semula." Balas Rosa.


"Memangnya menurut rencana jahat elo semula elo mau ke mana?" Balas Fakih cuek.


"Jahat? Ada deh?" kata Rosa sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Oke lah. Gue ikut saja." kata Fakih sembari menarik bantalnya lagi.


"Sialan, elo malah bobok lagi? Dasar tukang ngorok!" Rosa mulai mengomel lagi.


"Memangnya gue tadi ngorok?" tanya Fakih serius.


"Wah, keras sekali?" kata Rosa sambil tertawa geli.


"Seriusss?"!" tanya Fakih lagi.

__ADS_1


"Serius!" jawab Rosa ikut-ikutan pasang tampang serius.


Fakih lalu diam saja. Malu...dong!.


"Memangnya kenapa sih kalo ngorok?" tanya Rosa.


"Nggak enak saja. Selama ini kan gue bobok sendirian, jadi ngorok juga nggak masalah. Tapi misalnya gue menginap di tempat orang, atau kalau udah kawin nanti, kan kasihan istri gue kalau gue ngorok setiap malam. Bisa nggak bisa bobok dia." Fakih tambah kencang ketawanya.


"Culun sekali elo, Kih. Elo pasti tadi capek aja, jadi mengorok. Waktu gue di rumah elo, gue kadang-kadang keluar kamar ambil minum, elo juga tenang-tenang saja koq tidurnya. Lagi pula, kurasa kau butuh istri yang seperti gue?" kata Rosa sambil tersenyum.


"Kenapa?" Tanya Fakih singkat.


"Begitu kepala gue menempel bantal, gue pasti langsung tertidur. Makanya sebelum menyentuh bantal gue pasti bikin puisi dulu. Kalo nggak bisa-bisa batal nggak bikin puisi melulu setiap hari." Jelas Rosa.


"Tapi bagaimana bisa kawin sama elo! Kita pacaran saja nggak?" kata Fakih.


"Lho! Kita tu nggak pacaran to?" tanya Rosa bengong.


"Bagaimana sih? Kan elo yang bilang nggak mau pacaran dulu." Balas Fakih.


"Kamu kan cuma datang mengomentari laguku...!" Balas Fakih.


"Ah, Fakih, elo emang bodoh sekali! Elo nggak mau ya pacaran sama gue?" Balas Rosa kesal karena cowo' nggak peka banget.


"Lho! Apa gue pernah bilang nggak mau? Gue justru yang selama ini bilang cinta!" Ucap Fakih meyakinkan.


Rosa lalu terdiam. Pas dia lagi mau berbicara sepatah kata, kebetulan Fakih juga mau mengatakan sesuatu.


"Elo duluan, deh." kata Rosa.


"Nggak. Elo saja duluan." Balas Fakih.


"Gue sudah nggak punya siapa-siapa lagi kecuali elo, Kih. Akhir-akhir ini gue sering merasa kesepian banget di rumah. Jadi gue merasa beruntung masih punya elo. Rasanya Tuhan mengirimkan elo pada saat yang tepat?" Jelas Rosa.


"Ya udah yuk! Jadi nggak jalannya ini?" Tanya Fakih.

__ADS_1


"Ya jadilah! Awas aja kalau nggak jadi?!" Balas Rosa.


"Ah, elo memang kalo udah ada maunya?" Fakih mengomel sambil beranjak berdiri. "Oke, gue mandi dulu, kamu baca-baca majalah tuh" lanjut Fakih sambil menunjuk tumpukan majalah di lemari bukunya.


Setelah Fakih keluar kamar, Rosa mengamati kamar Fakih dengan cermat. Nggak banyak berubah sejak terakhir dia kemari. Kamar kecil Fakih ini nggak begitu rapi, tapi nggak acak-acakan. Paling mejanya aja yang penuh buku, sampai nggak ada tempat lagi untuk menulis. Tapi diluar itu semuanya rapi, tidak ada pakaian kotor di lantai, tidak ada makanan atau minuman di kamarnya. Eeeeh, ada juga foto Rosa di meja kecil dekat tempat tidurnya.


Rosa tersenyum sambil menyambar salah satu majalah yang tadi ditunjuk Fakih.


"Elo keluar dulu, gih." kata Fakih mengagetkan Rosa.


"Elo koq kilat mandinya?" tanya Rosa.


"Ya ini udah selesai. Sekarang gue mesti ganti baju. Makanya elo keluar dulu deh." kata Fakih sambil mengusir-usir Rosa keluar dari kamarnya. Tadi dia lupa membawa pakaiannya ke kamar mandi, seperti biasanya, jadi sekarang dia cuma membalutkan handuk di pinggangnya. Rambutnya basah habis keramas. Diam-diam Rosa mengamati Fakih yang bertelanjang dada. Seksi juga, berotot lagi. "Hihi?" Rosa tertawa dalam hati.


"Eh" cepetan dong. Elo koq malah bengong?" kata Fakih lagi.


"Iya iyaa! Galak amat! Ini gue keluar." kata Rosa keluar kamar sambil masih tertawa-tawa.


Begitu Fakih keluar kamar, Rosa yang tak sabar langsung menggandengnya keluar rumah.


"Pamitan sama ibu elo, cepat. Gue tadi sudah." Sambil jalan, karena masih ditarik-tarik dengan paksa oleh Rosa, Fakih berpamitan. "Bye Bu" doakan aku kembali utuh ya?" gurau Fakih.


***


Hari sudah mulai semakin gelap. Matahari pun mulai bersiap untuk kembali menyembunyikan tubuh dalam pergantian tugasnya. Tetapi pasangan yang satu ini tidak beranjak juga dari tempatnya. Entah apa yang mereka bahas. Mereka masih saja diam memandang pemandangan di hadapannya. Langit yang mulai berubah jadi orange ke kuning-kuningan, mengakibatkan pemandangan di hadapan menggambarkan sebuah pesona yang tak terlukiskan buah karya Sang Pencipta.


Dua pasang kekasih ini menikmati masa-masa indahnya sore ini, di pantai dekat kompleks mereka menghabiskan waktu bersama. Sang cewe' menyenderkan tubuhnya di bahu sang cowo' tampan ini. Sedangkan cowo' itu melingkarkan tangannya di pinggang sang cewe'.


"Indah banget ya Kih, gue pengin lihat ini terus sama bersama elo." Ujar cewe' ini semakin mempererat tubuhnya untuk mendekat ke tubuh kekasihnya itu.


"Iya Cha!. Gue juga pengin banget selalu sama elo terus. Gue janji nggak akan ninggalin elo sayang. Gue terlalu cinta sama elo. Elo juga harus janji sama gue." Ujar sang cowo' seraya menengadahkan kepalanya agar bisa menatap cewe' nya itu.


"Iya gue janji...! Gue sayang sama elo Fakih Alfarizi!" Ucap Rosa tersenyum.


"Gue juga sayang sama elo Rosa Pratiwi!" Balas Fakih.

__ADS_1


I love you. I always love you. Now, tomorrow and ever...!


__ADS_2