
Cewe' ini menyusuri lorong sekolah dan melewati ruangan-ruangan yang ada dan menuju keatap gedung. Menaiki tangga untuk bisa sampai di atap gedung membuat dirinnya kelelahan. Setelah berhasil menyusuri tangga akhirnya cewe' ini sampai di atap gedung.
Dia mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang ingin ditemuinnya. Dan dirinya menemukan cowo' itu sedang bersandar di tiang yang berdiri kokoh di atap gedung itu. Perlahan tapi pasti cewe' ini mendekati cowo' itu. Tentu saja dia tidak tahu cowo' yang bersender pada tiang itu siapa karena cowo' itu membelakangi dirinnya.
"Permisi...!" Ucap Zahra pasti.
Cowo' itu tidak menyahut panggilan cewe' itu. Atau lebih tepatnya cowo' itu belum mengetahui jika ada seorang cewe' yang berdiri di belakangnya.
“Maaf mengganggu, gue cuma mau minta tolong sama elo...?!” Tetap tidak ada jawaban dari cowo' di hadapannya yang sedang membelakanginya.
Karena merasa kesal cewe' ini pun mendekati cowo' itu dan berdiri tepat di hadapannya. Dan gadis ini sangat terkejut melihat siapa cowo' dihadapannya.
"Gila, ini beneran ketua OSIS Sekolah Menengah Pertama Kotabumi...? Mampus gue, gimana dong." Batin Zahra.
"Nggak ada cara lagi selain ini." Tiba-tiba Zahra mendekati cowo' itu dan langsung merebut buku yang sedang dibaca oleh cowo' itu dengan kasar, akibat perbuatan yang dilakukan cewe' ini, cowo' itu pun sontak kaget dan berdiri menatap Zahra tajam.
"LOE !!!" dengan menunjuk dan menatap Zahra dengan tajam, berkata singkat.
Zahra yang di tatap seperti itu jadi takut dan yang hanya gadis ini lakukan saat ini adalah menunduk.
"Loe ngapain sih gangguin gue mulu, gue kan udah pernah bilang sama loe jangan pernah gangguin gue. Loe berani-beraninya ngambil buku gue seenak jidat loe. Loe pikir loe siapa haaa." Bentak cowo' itu.
"Maaf...!, tapi tujuan gue kesini bukan mau ganggu loe, gue kesini Cuma mau ……!" Ucap Zahra terhenti.
"Mau apa, sini buku gue!" Ucap cowo' itu sembari merebut buku yang di pegang Zahra dengan paksa. "Loe selalu aja gangguin gue, lagian loe ngapain sih kesini," Ucap cowo' itu dengan nada masih membentak.
"Gue kesini cuma mau minta tanda tangan loe!" Gumam Zahra dengan raut wajah yang agak ketakutan.
"Tanda tangan? Maksud loe?” balas cowo' itu lagi bertanya.
"Nie...!" Ucap Zahra, menyerahkan map yang di kasih Kepala Sekolah tadi. "Loe tanda tangan di situ, ini perintah pak Umar Yamin!" Terang Zahra masih ketakutan.
"Udah nyadar loe posisi gue di sekolah ini apaan? Belagu banget sih loe jadi anak baru, nggak punya sopan santun. Sekarang loe dengan enaknya minta tanda tangan gue setelah loe lakuin apa yang gue benci. Hhhhaaa, minta tanda tangan yang lain aja sana." Ucap cowo' itu seraya pergi dan memasukkan tangan kanannya kedalam saku celananya dan tangan kirinya memegang buku.
"Hendry, gue tahu gue salah. Maafin gue. Sekarang gue minta tanda tangan loe. Ini perintah pak Umar Yamin dan gue disuruh kembali ke ruangannya secepatnya." Lanjut Zahra.
__ADS_1
Cowo' itu berhenti dan membalikan tubuhnya menatap cewe' di hadapannya tajam. Tatapannya menandakan sangat tidak bersahabat. Dan cowo' ini melangkah menuju ke cewe' itu. Sedangkan Zahra hanya menelan ludahnya kuat-kuat menandakan dia sangat takut melihat cowo' di hadapannya yang menatap dirinya tajam dan mendekat ke arahnya. Yang hanya dia lakukan hanyalah kata pasrah. Cowo' itu berhenti tepat di hadapannya dan masih menatapnya tajam.
"Sini mapnya...!" Cowo' itu mengambil map yang di pegang Zahra kemudian membukannya dan meraih bolpoin yang ada di tangan cewe' itu dengan kasar kemudian tanda tangan. "Udah kan? dan mulai sekarang jangan pernah ganggu gue lagi. Ngerti loe." Ujar ketua OSIS Sekolah Menengah Pertama Kotabumi itu seraya pergi.
"Makasih!" Teriak Zahra. Senyum merekah setelah melihat cowo' itu mau mentanda tangani proposalnya.
Cewe' ini pun beranjak dari sana dan langsung berlari menuju ke Ruang Kepala Sekolah. Setelah dia sampai di depan Ruang Kepala Sekolah. Zahra mengetuk pintunya dan membukanya setelah ada jawaban dari Kepala Sekolah itu.
"Maaf bu, saya lama. Ini mapnya." Ucap Zahra seraya menyerahkan mapnya.
"Tidak apa-apa. Ya sudah sekarang kamu boleh ke kelas kamu. Kelas kamu adalah kelas dua A Wali Kelas kamu adalah pak Sigit Suparman!" Terang Kepala Sekolah.
"Baik Bu, terima kasih." Ucap Zahra kemudian.
***
Di kelas dua A.
Semua anak-anaknya sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Ada yang bermain tebak-tebakkan, petak kumpet, dan tembak tembakkan. seketika itu murid murid langsung diam setelah wali kelas mereka memasuki kelas mereka.
"Pagi Paaaaaak.!" Suara serempak semua murid kompak seraya kembali ke tempat duduknya masing-masing dengan cepat.
"Baiklah, hari ini kita akan kedatangan murid baru. Dan kebetulah murid baru itu akan menjadi teman baru kalian.” Terang Pak Sigit Suparman.
“Cewe' apa Cowo' Bu, cantik gak.” Ujar Nazaruddin, murid paling rusuh di kelas mereka.
"Huhuhuhuhu...!" Teriak semua murid menyoraki Nazaruddin.
"Sudah... sudah. Nanti kalian tahu sendiri. Zahra ayo masuk." Ujar Pak Sigit Suparman menyuruh Zahra masuk.
Setelah Zahra masuk ke dalam kelas. Pak Sigit Suparman langsung menyuruhnya untuk memperkenalkan dirinya di hadapan teman-teman barunya.
"Pagi teman-teman. My name is Zahra Talita Putri. You can call me Zahra. Saya pindahan dari bandung. Semoga kalian bisa menerima saya untuk menjadi teman baru kalian. Salam kenal." Ucap Zahra memperkenalkan diri.
"Boleh Tanya nggak cantik." Ucap Bambang.
__ADS_1
"Nggak boleh, emang kenapa?" Sinis Ari yang memang sedari dulu musuh bebuyutan Bambang.
"Syirik aja loe, diem loe. Gue gak Tanya sama loe. Nggak ada kabel pake nyambung." Ucap Bambang sebal karena di ganggu oleh musuh bebuyutannya.
"Heh, kalo gak ada kabel. Nie kipas angin nggak bakalan nyala, lampu juga nggak bakalan nyala, gue tahu loe itu bego tapi jangan bego-bego banget dong. Malu maluin aja loe." Sinis Ari lagi.
"Heh, loe ngatain gue? Sialan loe. Bukanya loe yah yang bego, ngerjain matematika aja gak bisa, masa dapet nilai lima? Malu gue jadi loe." Ucap Bambang nggak kalah nyolot.
"Heh, loe tuh gak nilai diri loe sendiri apa?. mending gue dapet lima, nah loe empat ajah gak ada. Nilai loe tiga kan ???" bales Ari nggak kalah nyolot.
Seketika itu tawa langsung meledak oleh penghuni kelas dua A.
"Hey, udah udah. Diam anak-anak." Bentak Pak Sigit Suparman berwibawa.
"Iya Paaaaak...!" Balas anak-anak manis serempak.
"Baik Zahra, kamu bisa duduk di samping Ayu. Ayu angkat tangan kamu. Silahkan Zahra." Lanjut Pak Sigit Suparman bikin keki.
Kemudian Zahra melangkah menuju ke meja Ayu dan langsung duduk di sampingnya. Gadis ini pun tidak lupa menyunggikan senyum ramahnya kepada teman-teman barunya.
"Baiklah anak-anak. Sekarang Bapak permisi dulu karena ada tamu yang menunggu Bapak." Lanjut Pak Sigit Suparman.
Kemudian Pak Sigit Suparman keluar kelas. Seketika itu juga kelas dua A berubah jadi pasar lagi.
"Hay, kita ketemu lagi. Ternyata loe sekelas sama gue." Ucap Nur.
"Iyah, gue juga gak nyangka. Kalian ternyata di kelas ini." Balas Zahra.
"Oy Ra, tadi loe udah ketemu sama Hendry?" Tanya Nelly tiba-tiba.
"Mmm udah kok, kenapa Nel?" Tanya Zahra bingung dan kaku mendengar pertanyaan Nelly.
"Mmm, nggak apa-apa sihh. Loe sekarang udah tahu Hendry orangnya gimana kan? Nggak usah dimasukkin ke hati perkataan dia. Kalau aktifitas dia di ganggu emang gitu sifatnya. Apa lagi kalo lagi baca buku." Terang Nelly.
"Iyah Nel, dia orangnya emang aneh banget. Kenapa jadi bahas dia sih. Udah lah yang lain aja." Ucap Zahra mengalihkan.
__ADS_1
Kemudian mereka membahas masalah mereka masing-masing. Dan Zahra menceritakan kehidupannya selama di Bandung. Sekarang Zahra bisa menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sekitar. Dan dia mulai dekat dengan Nur, Intan dan Nelly.