
"Gue boleh ikut main band?" tanya Ari. "Gue bisa main key board, kalau kalian masih butuh pemain. Tapi gue nggak punya key board cuma punya piano usang di rumah." Lanjut Ari.
"Eh, kebetulan kita memang sedang seleksi anggota baru, karena sebagian anggota band sudah kelas tiga, mereka ingin lebih banyak konsentrasi ke pelajaran. Termasuk Jimmy, pemain keyboard kita. Kalo elo emang suka musik rock, boleh ikut seleksi" kata Nelly menawarkan dengan gaya profesionalnya.
"Kapan seleksinya?"
"Rencananya sih minggu depan, sehabis selesai pulang sekolah." Jelas Nelly.
"Gue pasti datang. Kamu pegang instrumen apa sih?" tanya Ari. Kali ini dia sudah siap mental dengan apa pun jawaban Nelly. Dia tak bakal kaget kalau jawabannya "Bass Gitar" sekalipun.
"Drummer. Merangkap backing vocal dan kadang-kadang solo. Tergantung lagunya." Ucap Nelly menjelaskan.
"Tuh, kan, benar! harus siap mental. Nelly bisa nge-drum juga! Elo bisa main musik, Maksud gue selain drum." tanya Ari lagi. "Mengorek keterangan lebih lanjut tak ada salahnya, kan"
"Aku bisa main piano, gitar, harmonica, saxophone, trompet." Nah lho" bisa mati terkejut kalau nggak siap mental.
"Wah, Nel, jadi kamu bisa main band seorangan dong" Kamu bisa main bass gitar, melodi gitar, ngedrum, main keyboard, dan vocalist. Bikin solo band saja, lah." goda Ari.
Nelly diam saja.
Mendadak kepalanya jadi pusing, ia lalu memijit-mijit pelipisnya.
"Pusing?" tanya Ari.
"Iya." jawab Nelly singkat.
"Elo pasti lapar. Sorry yah gara-gara gue, elo ikut dihukum bu Aliantina." kata Ari penuh penyesalan.
"Nggak apa-apa. Elo juga belum makan. Sama kan? Jadi elo nggak layak mengasihani gue." Balas Nelly tersenyum.
***
"Kih...!, gue boleh minta tolong sama elo, Kih?" tanya Dian dengan nada super manjanya.
"Kalo gue memang bisa bantu, gue pasti bantu." jawab Fakih ramah.
"Tolong ajari gue Logaritma dong, gue sama sekali nggak ngerti. Besok Kamis ada ulangan matematika Logaritma." Ucap Dian manja.
"Boleh," kata Fakih yang memang jago matematika. "Di mana?" Tanya Fakih lagi.
__ADS_1
"Gue bisa datang ke rumah elo, supaya elo nggak usah susah-susah ke rumah gue. Sore ini bagaimana?" Tanya Dian balik.
"Baiklah. Jam tiga?" Jawab Fakih.
"Oke. Sampai ketemu nanti sore." kata Dian centil, sambil berlalu.
"Kih, ini sudah ketiga kalinya gue dengar Dian minta tolong tentang pelajaran Logaritma. Memangnya dia benar-benar bodoh?" tanya Rosa.
"Dia memang selalu begitu kalau mau ulangan. Jadi lupa semua, harus diulang kembali. Setiap ada bahan baru juga begitu." kata Fakih menjelaskan.
"Cantik-cantik tapi bodoh?" kata Intan geli.
"Kalo gue bilang, dia nggak bodoh koq. Gue pernah ambil dia di panitia acara seminar OSIS. Dia cukup berpotensi. Otaknya jalan. Feeling gue sih ini cuma cara dia untuk mengambil hati elo aja Kih." kata Rosa terlihat cemburu.
"Apapun alasannya Cha, gue cuma berbaik hati menolong dia. Gue nggak ada maksud-maksud lain." kata Fakih tegas.
"Gue tau elo nggak ada maksud-maksud lain. Siapa yang nuduh? gue bilang, dia yang punya maksud terselubung." kata Rosa masih dengan suasana cemburu.
Fakih hanya diam saja karena kata-kata Rosa masuk akal. Tapi dia tidak mungkin menolak menolong teman. "Kalau kita punya kelebihan, kita harus menggunakan kelebihan itu untuk menolong sesama." kata Fakih kemudian.
***
"Ada apa Yu?" Tanya Ari.
"Nelly...! Katanya mulai hari ini dia bakal diantar jemput Jimmy setiap hari. Termasuk ke kegiatan-kegiatan sekolah dan termasuk latihan band katanya." Ucap Ayu menjelaskan.
"Bukannya papah mamah Nelly nggak setuju dia nge-band?" tanya Ari heran. "Iya. Tapi sekarang mereka mengijinkan dengan syarat Jimmy harus ikut kemana pun Nelly pergi." Lanjut Ayu.
"Oooh?" desah Ari.
"Nelly yang malang. Seandainya saja aku bisa menolongnya. Salah...! Gue juga tadinya berpendapat begitu. Nelly ternyata sama sekali nggak ingin gue membantunya. Dia menuruti keinginan orang tuanya itu dengan senang hati. Aku berkali-kali tanya, apa dia suka sama Jimmy. Jawabnya selalu nggak." Ucal Ari. "Aku nggak ngerti gimana cewek sepandai Nelly bisa jadi bodoh sekali dalam masalah seperti ini. Seakan-akan dia sama sekali tidak ingin mengenal dan merasakan apa itu cinta. Gue sendiri memang belum pernah, tapi gue ingin sekali mengenal dan merasakan apa itu cinta." Lanjut Ari.
"Ri, gue memberitahu elo, cuma sekedar memperingatkan, jangan sekali-sekali elo menentang atau mempermasalahkan hal ini di depan Nelly. Gue sudah mencoba semalaman kemarin meyakinkan dia, buntut-buntutnya dia malah marah-marah. Ya sudah, aku akhirnya menyerah." Jelas Ayu lagi.
"Baiklah...! Sementara ini kita harus dukung Nelly. Walaupun gue masih tetap merasa keyakinan Nelly ini perlu diluruskan. Kalau dia memang bahagia seperti itu, yah kita mau nggak mau sebagai temannya harus dukung dia, kan?" Jelas Ari tegas.
"Itu dia Jimmy, Ri." kata Ayu sambil menunjuk ke arah luar gerbang. Benar saja, Nelly ikut turun dari motor Jimmy yang di parkir tidak jauh dari gerbang timur itu. Melihat kedua temannya ngumpul di dekat situ, Nelly berlari kecil ke arah mereka.
"Hallo friends?" sapa Nelly.
__ADS_1
"Punya bodyguard baru kamu yah?" Ari meledek.
"Mamah yang suruh. Mamah bilang, Jimmy bisa dipercaya. Perjanjiannya, gue harus mau membiasakan diri bersama dengan Jimmy." Jelas Nelly.
"Ooooo... Jadi elo sudah pasti akan jadi kekasih Jimmy?" tanya Ari cemburu.
Nelly mengangguk pelan. Ari berkata lagi, "Gue masih nggak mengerti?"
Ayu langsung menyeletuk, mengingatkan pembicaraan mereka barusan, "Ari...?"
"Nggak papa, Ri, elo mau ngomong apa?" tanya Nelly.
"Gue nggak mengerti. Elo udah pasti jadi kekasih Jimmy, elo nggak mau pacaran lagi sama gue. Apa maksud elo?" tanya Ari kesal.
"Gue nggak cinta sama dia. Kenapa mesti jadi kekasih dia? Karena pada akhirnya gue bakal menikah sama Jimmy, gue harus mulai membiasakan diri sama dia. Menikah kan nggak harus saling mencintai." Jawab Nelly lirih.
Ari baru saja mau bilang, "Harus, dong!", tapi Ayu sudah duluan menonjok perut Ari dengan sikunya.
"Sudah bikin pe-er bu Aliantina, Nel?" tanya Ayu mengalihkan bahan pembicaraan.
"Pe-er yang mana?" tanya Nelly.
"Bikin essay tentang biografi seorang pahlawan?" Ari mengingatkan walau sebenarnya dia kesal dengan keadaan antara dia dan Nelly.
"Aduh! Iya! Gue lupa. Mati gue. Koq bisa pikun begini sih!? Gimana nich?" kata Nelly panik.
"Tenang, tenang, Nel?" kata Ari. "Pelajaran bahasa masih jam ke lima. Kamu masih ada waktu untuk bikin essay itu." Lanjutnya lagi.
"Dapat biografi pahlawan-nya dari mana dong?" kata Nelly hampir putus asa.
"Begini saja deh. Gue kebetulan punya ide lain untuk bikin essay. Elo boleh menyalin essay punya gue, gue ntar buat baru lagi dengan tokoh yang lain." Kata Ari menyarankan.
"Kamu baek sekali, Ri! Kebetulan gaya nulis elo sama Nelly hamper sama. Pasti tidak akan ketahuan. Ide bagus tuh, Nel" kata Ayu.
"Gue nggak enak, Ri. Kamu musti nulis ulang lagi," kata Nelly.
"Ide sudah ada di kepala. Sementara kamu nyalin essay gue, essay baru gue buat pasti sudah selesai." kata Ari mantap.
"Tunggu apa lagi?" tanya Ayu. "Mumpung belum bel masuk nih, cepetan gih, bikin!" Lanjut Ayu.
__ADS_1