
"Kih...!" panggil Dian saat istirahat pertama.
"Kalau kamu mau mengkuliahi elo tentang Rosa, urungkan saja niat elo, Dian. Gue lagi nggak mood." kata Fakih.
"Nggak. Gue ke sini disuruh Rosa." Jawab Dian.
"Disuruh Rosa? Kemana dia? Koq hari ini nggak masuk?" kata Fakih sambil menunjuk kursi di sebelahnya.
"Dia masuk koq pagi-pagi tadi. Trus dipanggil Pak Umar Yamin, katanya kita mau ikut ambil bagian di acara festival di Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) tahun ini, kayaknya masih 10 bulan lagi sih. Bakal jadi acara besar-besaran, kayaknya. Ini dia keluar, ke Sekolah Perawat Kesehatan (SPK), mengurus pendaftaran dan ***** bengeknya. Gue cuma disuruh kasih ini ke elo, Kih!." kata Dian sambil menyodorkan sepucuk surat.
Dian terus berdiri di depannya selama Fakih membaca yang ditulis Rosa. Rupanya bukan surat, tapi sebuah puisi...!!!
***
Niat ikhlas walau kecil
Berusaha memeluk dunia
Jangan salahkan siapa-siapa
Dunia tak tergenggam
Mawar putih di taman hati
Akan selalu bersemi indah
Dengan buah kesabaran menanti
Tangan-tangan lembut membawa cahaya
Hujan gerimis menghapus dahaga
Menggapai hati selamanya
Sabar dalam segala mimpi
Yakin saatnya tiba semesta tersenyum
***
"Apa katanya?" tanya Dian.
"Kenapa?" tanya Fakih. "Dia bilang apa ke elo?" Lanjutnya.
__ADS_1
"Gue tahu semalam elo di undang makan malam. Gue pernah diundang makan malam, suasananya benar-benar nggak enak. Makanya belakangan gue nggak pernah mau datang kalau ada papah dan mamanya. Kemarin elo dibantai ya?" Tanya Dian di penuhi rasa ingin tahu yang besar.
"Nggak." jawab Fakih singkat. "Memangnya Rosa bilang apa ke elo?" Tanya Fakih.
"Pagi tadi dia cerita panjang lebar tentang kisah cinta neneknya. Dengan wajah ceria dia meyakinkan gue bahwa cinta sejati itu bener-bener ada, dan dia nggak akan berhenti sampai dia berhasil mendapatkannya kembali.
Gue sama sekali nggak ngerti maksudnya. Makanya gue tanya ke elo ini." Jelas Dian.
"Dia...? Dian, gue juga jadi nggak mengerti sekarang." Fakih jadi ikutan bingung. "Kemarin malam, aku sudah ucapkan selamat tinggal ke dia. Koq sekarang?" Ucap Fakih.
"Selamat tinggal? Maksudmu?" Tanya Dian.
"Gini deh. Kemarin, satu-satunya alesan yang berhasil membuat gue pulang cuma karena Rosa mau disekolahkan di luar kota tepatnya di kota Bogor katanya. Dan gue merasa bakal jadi penghalang prestasi Rosa kalau gue terus pacaran sama dia. Jadi gue pulang, dan gue lepaskan dia. Semalaman gue nggak bisa tidur. Gue bahkan menangis kemarin malam, karena nggak tahu gue mesti sedih atau gembira." Jelas Fakih.
"Kalau kemarin dia putus sama elo, kenapa dia nggak keliatan seperti orang habis putus?" tanya Dian.
"Itu dia yang bikin gue bingung. Jangan-jangan dia nggak mengerti maksud gue. Tapi setahu gue dia paham betul koq. Terakhir kali gue tinggal juga nangis koq. Bukannya gue ingin dia menangis, tapi koq dia masih bicara tentang cinta sih?" kata Fakih seakan-akan bertanya pada diri sendiri.
"Lantas, dia bilang apa di suratnya?" tanya Dian tambah bingung.
"Bukan surat, tapi puisi. Nih, baca aja sendiri. Pasti tambah pusing seperti gue setelah baca deh." Lanjut Fakih.
Dian lalu membaca puisi yang ditulis Rosa kemarin malam. Dia lalu mengernyitkan dahinya. Alisnya naik turun.
Rosa sedang berjalan masuk membawa setumpuk map di tangannya.
"Gimana Cha?" tanya Dian datang menghampiri Rosa di luar kelas.
"Bagus, kita bisa ikutan di acara festival. Sekolah Perawat Kesehatan dan sekolah dari luar kota juga bakal ikut ambil bagian, lho. Pasti ramai nih. Temanya "Generasi Membangun Bumi Pertiwi". Gue nggak tau kapan susunan panitia harus final, tapi yang jelas nggak dalam waktu dekat ini lah. Karena kan minggu depan udah mulai test kenaikan kelas." lapor Rosa berapi-api.
"Maksud gue bukan itu. Maksud gue dia?" kata Dian sambil menunjuk ke arah Fakih.
"Lha bagaimana" Udah elo sampaikan yang gue pesan?" tanya Rosa.
"Ya sudah. Makanya itu gue bingung." Jawab Dian.
"Ya sudah kalau sudah. Berarti sudah beres. Makasih ya Dian." Rosa tersenyum. Dian cuma menggeleng-gelengkan kepalanya. Rosa nggak sempat ngomong apa-apa ke Fakih karena bel sudah berbunyi.
Setelah bel pulang sekolah, Falih tidak tahan lagi untuk tidak angkat bicara. "Cha, elo bisa tinggal di kelas sebentar?" Ucap Fakih.
"Bisa saja. Apalagi kalo elo nggak berdiri-berdiri begini kan gue juga nggak bisa lewat." kata Rosa geli.
"Elo ini bagaimana, sih? Tersambar geledek tadi malam? Kena amnesia? Elo sudah baca yang gue tulis semalam?" tanya Rosa seperti nggak mendengar yang barusan Fakih katakan kepadanya.
__ADS_1
"Itu yang gue ingin ngomong." jawab Fakih.
"Sudah apa belum?" tanya Rosa lagi.
"Sudah dong. Tapi gue nggak mengerti maksud elo. Lebih baik elo bicara pakai bahasa yang bisa gue mengerti saja, deh." Balas Fakih.
"Wah, nggak seru, dong, kalau gue mesti menjelaskan segala-galanya. Apa tujuannya aku menulis puisi coba? Di analisa sendiri lah?" kata Rosa geli dan berusaha mengelak.
"Oke, nih gue baca lagi. Sekaligus gie berikan analisa gue. Kalau salah jangan marah ya, elo tahu sendiri bakat puisi gue rada minus." Balas Fakih.
"Mulai sana." Fakih membuka lagi kertas yang dilipat empat itu.
Niat ikhlas walau kecil. Berusaha memeluk dunia. Jangan salahkan siapa-siapa. Dunia tak tergenggam. "Seberapa kecil pun niat untuk berusaha mencapai cita-cita semua tergantung niat!" Fakih mulai berusaha mengartikan puisi Rosa kata demi kata.
"Aduh pinter! Kalau sudah besar mau jadi apa ya?" ledek Rosa. Fakih tersenyum geli.
"Memang gila ini anak", batinnya.
Mawar putih di taman hati. Akan selalu bersemi indah. Dengan buah kesabaran menanti. Tangan-tangan lembut membawa cahaya. "Cinta di dalam hati akan selalu ada dengan modal kesabaran dan niat ikhlas sang cowo'...!" Jelas Fakih dalam mengartikan puisi itu kembali. Hujan gerimis menghapus dahaga. Menggapai hati selamanya. Sabar dalam segala mimpi. Yakin saatnya tiba semesta tersenyum. "Hmm...! Kayaknya ini gue bisa menangkap. Elo bilang, kemarin kita putus tapi eli nggak nyalahin siapa-siapa, gitu kan? Elo tetap sayang dan menanti gue dengan sabar kan?" Jelas Fakih melanjutkan.
"Kira-kira begitu intinya. Tapi nggak cuma itu. Kita... kata "kecil" di situ menunjukkan fakta bahwa kita masih terlalu kecil untuk menggapai cinta saat ini. Jadi, gue sayang elo, elo sayang gue. Tapi ada hal-hal lain yang di luar jangkauan kita yang nggak memungkinkan untuk bersatu saat ini." Jelas Rosa.
"Gue paham dan mengerti sekarang!" Ucap Fakih.
"Kita udah ada di arah yang bener. Elo tadi bilang elo mengerti maksud gue, apa yang elo mengerti? Elo berusaha bilang, elo bakal tetap sayang sama gue, dan mau menunggu gue." Rosa tertawa. "Setelah elo pulang, gue menangis terus. Gue nggak tau berapa lama saat menangis itu, tapi sampe agak larut sih. Gue berusaha menenangkan diri dengan menulis puisi, tapi nggak ada kata-kata yang keluar. Semakin gue berusaha melupakan kesedihan gue dengan memikirkan sesuatu, semakin gue teringat elo, Kih...!" Ucap Rosa lagi.
"Sejauh ini masih bisa gue mengerti, karena gue juga mengalami hal yang sama. Lantas?" Tanya Fakih.
"Waktu itu gue memikirkan, betapa jelek nasib gue, sangat ironis sekali. Gue yang nggak pernah ingin jatuh cinta, yang tahu apa akibatnya kalau Gue jatuh cinta, akhirnya jatuh cinta juga, dan segera sesudah gue memberikan hati gue, gue mengalami akibat yang gue sudah tahu sebelumnya." Jelas Rosa.
"Cha...! Maaf kalau gue melukai elo. Gue nggak pernah bermaksud seperti itu. Gue benar-benar sayang sama elo, Cha!. Gue tahu elo mungkin nggak akan pernah percaya lagi sama gue habis kejadian semalam." Ucap Fakih.
"Gue tahu itu. Gue baru sadar setelah Oma masuk. Justru karena elo sayang sama gue, maka elo ambil keputusan semalam. Gue sangat menghargai pengorbanan elo, Kih. Dan itu bukan membuat gue jadi patah hati, tapi justru bangga, dan gue jadi tambah sayang sama elo." Jelas Rosa.
"Tapi gue nggak pengen elo tambah sayang sama gue, karena elo bakal tambah kecewa dan susah melupakan elo." Ucap Fakih.
"Elo nggak bisa mencegah itu. Gue sendiri juga nggak bisa. Elo tahu burung albatross nggak, Kih?" Tanya Rosa.
"Ya, Tahu...!" Jawab Fakih.
"Burung albatross merupakan simbol untuk seseorang yang tidak akan ingkar janji dan itu seumur hidup cuma satu pasangannya. Mereka menunggu sampai menemukan pasangannya, trus abis itu hidup berdua selama-lamanya. Sebelum yang cewe' datang, yang cowo' bikin sarang dulu, terus memanggil cewe'nya untuk datang, untuk tinggal di sarang yang baru saja dia buat. Bahkan bila terbang berdua pun, harmonis sekali. Kalau yang satu berubah arah 10 derajat, yang satu mengikuti arahnya, seperti dua garis sejajar di angkasa."
Fakih masih diam saja mendengarkan Rosa ngomong dengan matanya yang berbinar-binar.
__ADS_1