
Pagi yang mendung ini, memungkinkan aku untuk berangkat ke sekolah sedikit jam ngaret dari biasanya yang selalu on time kalau tidak salah ingat dan untungnya hari ini mendung dan kemungkinan akan turun hujan. Jadi biasanya tidak akan ada Upacara Bendera. Jam 07:00 Waktu Indonesia Barat aku sudah berada tepat di depan pintu gerbang yang hampir aja mau ditutup.
"Eh mba Rosa, Tumben telat mba" Sapa Pak Satpam yang sudah kenal dan baik sama aku.
"Hehe iya pak, maaf dan permisi ya pak!" tanpa basa-basi aku langsung nyelonong aja masuk melewati pintu gerbang sekolah langsung menuju ke kelas.
Seperti biasa kalau baru masuk ke kelas pasti suasana kelas rusuh kaya pasar yang isinya cuma ibu-ibu lagi tawar menawar harga sembako plus kawan-kawannya, atau seperti di terminal bis yang rame dengan bapak-bapak yang menawarkan tahu dan kacang sembari mata rada melotot berharap para penumpang mau pada beli.
Dalam kelas seperti biasa aku duduk dengan Intan Putri, tepatnya di bangku paling depan berhadapan dengan meja guru. Karena aku suka di depan, selain jadi paham pelajaran yang di berikan juga biasanya di anggap murid paling teladan dan jadi contoh buat murid yang duduk di bangku paling belakang dan juga kalau di bagian belakang bakalan nggak konsentrasi mengikuti pelajaran yang ada malah ngobrol dan bercanda dengan yang lainnya.
"Sssttttt…!" ucap salah satu temanku si Nazaruddin yang duduknya paling pojok kiri dekat pintu kelas yang hobi banget jagain pintu seperti pak satpam yang ada di gerbang sekolahan. Biasanya Nazaruddin mengasih kode sandi morse seperti Itu pertanda ada guru atau seseorang yang tiba-tiba akan mau masuk kelas.
Dan ternyata…!!!
Fakih sang ketua kelas baru di lanting menggantikan Bambang Wahyudi yang sudah purna tugas dari jabatan ketua kelas sebelumnya.
"Huuuu...! dasar lu Zar!" teriakan kenceng dari pojok belakang kelas yang merasa sedikit di buat kelabakan gara-gara kodenya tadi yang nggak jelas.
"Harap tenang sebentar!" Fakih mulai pasang aksi serius dalam memberikan sedikit pengumuman yang kaga tahu penting atau nggaknya. "Dengerin, buat semua! Pengumuman penting sekali! Ibu Siswati nggak masuk mengisi pelajaran beliau di karenakan masih menunggu putranya tercinta menjalani operasi apendiksitis atau bahasa kesehatannya usus buntu, jadi untuk jam pelajaran saat ini free memory, akan tetapi beliau memberikan tugas yang lumayan berat nih, kita semua di anjurkan saat mata pelajaran beliau harap tenang dan jangan berisik! Kalau ada yang berisik, nama kalian bakal di catet ma Rosa sebagai Wakil Ketua kelas. Sekian Terima Kasih!" Kan gayanya Fakih nggak penting banget tetapi untuk perintah dari Bu Siswati emang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya sebab kalau nggak bisa-bisa besok dapat bonus special alias siap-siap aja dapet hukuman bersihin kelas setelah pelajaran terakhir.
Dan saatnya sangat tepat sekali buat para cewe'-cewe' yang doyan ngerumpi, benar-benar waktu yang sangat tepat, jadi jangan sampai disia-siakan, karena sangat jarang terjadi jam kosong seperti ini.
"Cha... Ocha...!" tanpa sadar seseorang memanggil namaku. Dia tidak lain dan tidak bukan adalah Fakih Alfarizi sang ketua kelas yang diam-diam memang ada hati di antara kedua makhluk berlainan jenis ini. Ingat! Setiap cewe' pasti nggak bisa dan nggak mungkin banget ngungkapin perasaanya secara duluan dan rasanya itu berat banget kalau memang ada terjadi demikian.
"Hmmm...! Ya, ada apaan Kih?" Jawab Rosa sambil menoleh kepada Fakih yang sudah berada tepat disampingnya.
"Ngak apa-apa! Cuma pengen manggil aja!" jawab Fakih, sedikit ada senyum disudut bibirnya.
Dan hal ini membuat aku bertanya-tanya. Kenapa? Ada apa? Mengapa? Karena apa?
Aku dengan Fakih emang sekelas tapi nggak pernah berbicara layaknya aku dengan Intan yang sering becanda dan tertawa bareng, aku dan Fakih cuma bicara langsung kalau itu masalah pelajaran atau masalah kelas yang emang wajib segera di bicarakan berdua, tetapi kalau udah soal pribadi kami rada-rada menahan agar jangan terlalu terlihat pada murid-murid yang KePo dan Lebay di kelas.
Entah kenapa aku kalau di deketnya rasanya pengen cepat-cepat menjauh, tapi kalau aku menjauh darinya pengen cepat-cepat mendekat. Dan hal ini yang kadang membuat kami di buat sebel tingkat dewa yang paling tinggi tingkat kesebelannya.
"Hayoooo loh, Fakih kenapa tuh Cha!" Tanya Intan penasaran. Karena kepada Intan lah aku menceritakan semua tentang perasaanku kepada Fakih karena tahu kalau Intan sahabat terdekat Fakih kala masa mereka bersama masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Dan Intan pun emang sahabat yang cuek, mulutnya nggak pernah seperti ember pecah dan sedikit pun Intan nggak pernah membahas lagi apa yang dia dengar atau lihat, cukup dia tau ya udah masa bodo setelahnya.
"Nggak ngerti gue Tan ama tuh Anak, tiba-tiba aja seperti itu. Nanti deh pulang sekolah gue tanyain ma dia, apakah ada maksud yang tersembunyi ma gue!" jawab Rosa sambil mengangkat bahunya.
Sepulang sekolah, setelah keluar dari kelas dan tepatnya di depan gerbang sekolah!.
"Fakih…! Fakih Alfarizi...!" teriak Rosa memanggil nama Fakih dari kejauhan sambil berlari-lari kecil kearahnya.
Sambil sedikit ngos-ngosan Rosa mencoba berusaha untuk mengatur nafasnya dulu. "Kih! Elo kenapa sih tadi? Buat gue penasaran tahu!."
"Nggak ada apa-apa kok Cha!, Gue pulang duluan ya, udah ditungguin Agus di depan, aku nebeng ma dia soalnya." Jawab Fakih santai, lalu melambaikan tangan kepadaku.
"Oooh okey deh! Hati-hati di jalan ya!" Rosa membalas lambaian tangannya.
"Ooh iya Cha!," Fakih berbalik.
"Iya ada apaan?" jawab Rosa penasaran.
"Elo nanti sore ada waktu nggak?" tanya Fakih.
"Heemm iya!" Jawab Rosa lembut.
"Nanti sore jam 3 gue jemput elo ya Cha!" Fakih menjawab dengan wajah terlihat bahagia dengan senyum mengembang.
"Mau ngapain Kih?" tanya Rosa penasaran.
"Kita jalan ya!" jawab Fakih dengan kembali memperlihatkan senyum manisnya.
"Ya ampun, apa nggak salah yang baru gue denger nih...! Rosa sadarlah Cha!!. Apa Fakih ngajakin gue jalan? Aaaaah...!" aku berasa seperti orang gila yang senyum-senyum sendiri di depan gerbang sambil dilihatin banyak mata murid-murid yang lalu lalang ingin segera pulang ke rumah mereka masing-masing.
Aku bergegas pulang dan di perjalanan perkataan Fakih seakan-akan terus terngiang di pikiran bermain-main di kepalaku, entah mungkin aku sudah mulai mencoba menjadi gila?
***
__ADS_1
"Mah, Ocha pulang!" Ucap Rosa sesampainya di rumah.
"Iya Cha!, nggak ada kegiatan apa Cha kok pulangnya rada cepetan?" Tanya mamah melihat anak gadianya sudah berada di rumah.
"Iya mah, gurunya pada males ngajar kali mah!" Canda Rosa pada mamahnya.
"Makan dulu sana!" Ucap mamah lagi.
"Enggak deh mah, nanti aja. Oh ya mah, nanti jam 3 sore Ocha boleh keluar ya mah!?" Pinta Rosa.
"Mau kemana Cha?" Tanya mamah.
"Ehmm..mau jalan, mah!" jawab Rosa sedikit gugup.
"Hayo... sama siapa?" goda mamah.
"Apaan sih mah, sama temen Ocha kok!" jawab Rosa yang langsung bergegas menuju kamar tercinta sekalian menghindari kelanjutan dari pertanyaan-pertanyaan mamah yang semakin memohokkanku.
Rasanya terasa enak pake banget sangat ketemu tempat tidur kesayangan sambil rebahan sebentar setelah lelah di sekolah.
Tiba-tiba bayangan Fakih muncul seketika...!!!
"Nanti gue jemput jam 3 sore…!"
"Aduuuuhh!!. kenapa gue malah mikirin Fakih melulu yah, dia kan cuma mau ngajak jalan aja dan kenapa gue bisa kaya gini." Batin Rosa dalam hati yang paling dalam.
Jam menunjukkan pukuk 3 sore kurang lebih 10 menit.
Aku udah dandan cantik, ya seperti biasa pakai baju warna pink dan jins warna biru muda...ya!, dandanan simple and praktis ala anak remaja gaul sekarang gitu, yang katanya ala-ala kekinian.
"Ya elah, adik gue wangi bener ya!?" goda Diana Mayangsari kakak cewe' satu-satunya yang super lebay tapi sangat baik dan sayang dengan adiknya.
"Yeeee biar dong kak, ntar Rosa dikira putri dari kayangan kan!" Ucap Rosa tertawa.
"Haaa... kayangan? mimpi kali ye!" ejeknya.
"Udah kak, kakak mah godain Ocha mulu jangan coment ngapa?!" Ucap Rosa.
"Tante, Fakih izin pamit ya, mau ngajak Ocha jalan-jalan!" Suara Fakih terdengar dengan sangat lembut.
"Iya, tante titip Ocha yah, hati-hati ya Kih!" pesan mamah.
Kemudian kami berdua pamit bersama lalu melanjutkan tujuan semula dan dijalan kami sangat-sangat menikmati pemandangan di sepanjang jalan yang di lewati.
"Kita mau kemana emangnya Kih?" tanya Rosa.
"Kita ke rumah makan Suroboyo ayam bakar aja yuk, Cha!" jawab Fakih. Yang kebetulan banget Rosa pun belum makan siang.
"Hemm okehlah! Ikut aja deh!" Jawab Rosa kemudian.
***
"Mas dan Mba, mau pesan apa?" Tanya Pelayan rumah makan itu.
"Elo mau apaan Cha!?" tanya Fakih sembari memperlihatkan daftar menu kepada Rosa.
"Apa ya...!, hemm Ayam Bakar ma jus alpukat deh" jawab Rosa.
"Oooh okey, kalau Mas nya mau makan apa?!" Tanya Pelayan rumah makan itu lagi pada Fakih.
"Sama aja deh nggak apa-apa! ucap Fakih kepada pelayan rumah makan.
" Oke Mas dan Mbak, di tunggu sebentar ya!" Ucap pelayan rumah makan itu.
Ditengah-tengah suasana seperti ini aku bingung mau bicara atau mau sekedar tanya apa gitu karena rasanya susah nih mulut mau ngomong. Fakih juga banyak diamnya, nyatanya sekarang tetep senyum-senyum. Mungkin dia bingung mau ngomong apa seperti apa yang aku rasakan juga dan akhirnya pesenan kami datang dan membuat suasana mulai ceria.
"Cha...!" Ucap Fakih.
__ADS_1
"Iya...!, Kih!" Jawab Rosa sambil mengambil sendok.
"Lucu ya, biasanya kita banyak cerita pas bedua begini bingung mau cerita apaan!" Ucap Fakih.
"Heee, gue juga bingung mau cerita apaan!" Balas Rosa.
"Udah sering elo Cha diajak jalan seperti ini?!" Tanya Fakih.
"Nggak, baru kali ini!" Jawab Rosa.
"Akhirnya gue bisa ngobrol dengan bertatapan langsung ama elo ya Cha, berdua aja lagi!" Ucap Fakih lagi.
"Emang kenapa?" Rosa pura-pura bertanya yang sebenernya dia pun mengiyakan perkataan Fakih juga.
"Ya nggak apa-apa Cha, cuma kali ini bisa ngobrol berdua buat seneng aja, biasanya kalau di kelas nggak bisa ngobrol berdua seperti ini kan!" Jelas Fakih.
"Elo malah nggak makan Kih, malah ngeliatin gue mulu? Ada apaan coba!" tanya Rosa.
Fakih malah tersenyum. "Udah habisin aja makannya, gue seneng liat elo lagi makan... Kan jarang-jarang bisa begini!" ucap Fakih dan kemudian dia melahap pula makanannya.
Lalu aku merasa terbang melayang dan perasaan pipi ini terasa berubah menjadi merah, dan akupun menunduk untuk menutupinya sambjl tetap menghabiskan makananku.
"Udah selesai?" tanya Rosa.
"Udah, yuk!" Rosa mengajak ke kasir, kemudian mengeluarkan dompet untuk membayar makanan mereka.
"Ngapain Cha!?" Tanya Fakih.
"Mau bayar lah!" Ucap Rosa.
"Udah gue aja yang bayar, kan gue yang ngajak Ocha tadi!" jawabnya sambil mengeluarkan lembaran duit berwarna biru dari saku celananya.
***
"Kita ketaman kota dulu yuk Cha, kebetulan hari ini malam minggu jadi mungkin disana rame!" ucap Fakih waktu sedang berjalan melaju mengendari sepeda motornya.
"Boleh, gue juga belum pernah ke sana!" Jawab Rosa setuju.
Kemudian tibalah Fakih dan Rosa di sebuah taman kota, banyak anak-anak kecil pada bermain dan bersenda gurau dengan ke dua orang tuanya. Kami memilih kursi kayu yang berada di pojok sebuah pohon akasia yang lumayan rimbun, dari posisi ini, kami bisa melihat dengan leluasa luasnya taman kota tersebut dengan beraneka ragam pengunjungnya.
"Nih buat elo Cha, sambil duduk minum fanta dingin dan chiky jagung enak jugakan!" Fakih menyodorkan makanan ringan yang di tawarkannya pada Rosa.
"Hemm, makasih ya Kih" ucap Rosa.
"Kalau lihat anak-anak kecil pada main seperti itu jadi kangen dengan masa kecil Cha!" Ucap Fakih kemudian.
"Elo pengen balik lagi jadi anak kecil pa Kih?!" Tanya Rosa becanda.
"Ya nggak lah, cuma seneng aja dengan kehidupan yang anak-anak kecil jalani, tanpa beban dan tanpa mengenal masalahkan!" Jelas Fakih.
"Iya juga, mana pernah mereka mengenal masalah ya!" Balas Rosa.
"Emang elo sekarang ada masalah apa Cha?!" Tanya Fakih.
"Ya pasti ada lah Kih!" Jawab Rosa.
"Iya udah kalo gitu mulai saat ini kalau Ocha ada masalah dan perlu teman curhat boleh kok cerita!" Jelas Fakih.
Kemudian suasana hening...!!!
"Cha...!" Tiba-tiba Fakih berkata.
"Iya, ada apa?" Tanya Rosa.
"Elo mau nggak jadi pacar gue!?" Tanya Fakih.
"………………………..!!!"
__ADS_1
Aku terdiam, terasa dalam kebingungan dan rasa bimbang! mendengar ucapan yang di katakan Fakih barusan.
Maksudnya apa? Apa ini nyata? Apa aku nggak salah dengar?