
"Gue pengen seperti burung albatross itu. Gue sudah menemukan cinta sejati dan gue nggak perlu harus memilikinya sekarang, kalau sekarang memang bukan waktu yang tepat. Gue mau menunggu sampai saat yang tepat itu datang dan sampai kita bisa bersama lagi." Jelas Rosa.
"Jadi elo nggak bermaksud ngelupain gue?" tanya Fakih. Rosa menggeleng. "Sama sekali nggak. Elo bilang, suatu saat nanti kita pasti bersama lagi, begitu?" Lanjut Fakih.
"Tepatnya, gue cuma ingin bilang, gue akan terus mencintai elo. Elo sudah berhasil menunjukkan pada gue betapa rasa sayang itu ada buat gue. Saat ini percuma untuk di perdebatkan Kih, tangan-tangan kita tetap masih terlalu kecil, nggak berubah. Tapi dengan kesabaran, suatu saat nanti pasti kita bisa raih apa yang kita maukan." Jelas Rosa.
"Elo mau terus mencintai gue sampai kapan? Bagaimana kalau kita nggak akan pernah punya kesempatan untuk bersama lagi?" Tanya Fakih.
"Seperti burung albatross tadi, selamanya. Kalau gue nggak punya kesempatan untuk bersama lagi, setidaknya gue sudah puas sudah menemukan cinta sejati dalam hidup ini." Balas Rosa menjelaskan.
Fakih tertegun...!!! Dia tidak menyangka Rosa bisa sekuat dan setegar ini dalam menghadapi permasalahan hati yang ada di antara mereka berdua.
"Cha, elo pernah bilang, elo bakal jadi orang yang terbodoh dalam masalah cinta! Elo salah, Cha. Gue belum pernah denger orang bilang begini. Di senetron-senetron atau drama korea sekalipun. Baiklah kalau elo memang yakin. Gue pun akan menyimpan segala rasa cinta untuk elo selamanya. Elo baru saja memberikan gue kekuatan untuk itu." Balas Fakih dengan penjelasannya.
"Nah, sudah mengerti, kan? Gue boleh pulang sekarang? Nanti orang-orang mengira kita pacaran lho?" goda Rosa.
"Oh ya? Kita nggak mau itu terjadi. Ya kan?" kata Fakih yang berdiri bersandarkan meja sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Cha?" kata Fakih pelan waktu Rosa lewat di hadapannya.
"Apa lagi?" tanya Rosa.
Fakih lalu dengan sigap meletakkan tangan kanannya di punggung Rosa dan mendorong punggung Rosa ke arahnya. Kurang dari sedetik kemudian, wajah Rosa sudah berhadap-hadapan dengannya. Ditatapnya lekat-lekat sepasang mata yang membuatnya jatuh cinta itu. Lalu pelan-pelan Fakih mendekatkan bibirnya ke pipi Rosa. Rosa sama sekali nggak bisa bergerak atau berkata apa pun. Dia cuma bisa memejamkan matanya sambil tersenyum. Sebuah ciuman manis yang menggetarkan hati. Ciuman pertama buat keduanya.
Rosa masih memejamkan matanya waktu Fakih menarik kembali bibirnya dari pipi Rosa tiga detik kemudian. Dia baru membuka matanya saat Fakih memegang dagunya.
"Sayang sekali elo tadi nggak bisa merasakan gimana rasanya dicium gue." kata Rosa kemudian sambil tersenyum manis.
Rosa lalu pelan-pelan mencium pipi kanan Fakig sambil agak jinjit. Bibir mungilnya sudah mendaratkan ciuman tipis yang di pipi Fakih terasa hangat dan lembut.
"Gue yakin nggak semanis ciuman elo barusan." jawab Fakih setelah Rosa selesai.
"Gue kan cuma menirukan yang elo lakukan. Pembalasan namanya." jawab Rosa.
"Nah, sekarang, kalau ada yang melihat kita, pasti kita benar-benar dikira pacaran." kata Fakih tersenyum lebar.
"Oh ya, lupa. Terus bagaimana, dong?" Balas Rosa.
__ADS_1
"Ya elo pulang dong, cepetan kabur sana." kata Fakih sambil ketawa.
"Oke, gue pulang dulu yah, my friend." kata Rosa tersenyum, lalu mencium pipi Fakih yang kiri, lalu berkata "Yang sebelah sini iri nanti."
Rosa baru saja membalikkan badannya saat Fakih menariknya kembali.
"Bilang aja kamu minta dicium lagi." katanya.
Rosa ketawa. Fakih lalu mencium pipinya lagi. Kali ini sedikit lebih lama dari yang tadi.
"Kih, kita ini jadinya pacaran lagi apa nggak sih?" tanya Rosa.
"Nggak. Kita cuma saling cinta." Balas Fakih.
***
Ku yakin dalam hatiku, kau satu yang ku perlu.
Ku rasa hanya dirimu yang membuatku rindu.
Bila saat nanti kau milikku.
Karena ku tahu engkau begitu.
Hingga ku pasti menunggu selama apa pun itu.
Demi cinta yang kurasakan, yang hanyalah kepadamu.
Percayalah ku sungguh-sungguh mengatakan semua.
Yakinkan hatimu kau milikku
Karena ku tahu engkau begitu.
***
Selama berbulan-bulan, Rosa dan Fakih sama-sama bersabar memendam impian mereka untuk bersama. Sekarang mereka telah naik ke kelas tiga. Seharusnya anak kelas tiga tidak boleh punya menghabiskan banyak waktu di luar pelajaran, termasuk kegiatan organisasi sekalipun. Walaupun begitu, Rosa mendapat sedikit dispensasi, karena dia jadi ketua panitia acara festival akbar di Sekolah Perawat Kesehatan. Lagipula nilai-nilai Rosa tidak sedikitpun terpengaruh dengan kegiatan-kegiatan ekstranya. Waktu naik kelas yang lalu, Rosa meraih ranking pertama, Fakih cuma terpaut tipis di belakangnya, ranking dua. Acara puncak festival kali ini adalah pawai bunga. Peserta festival harus mendekor kendaraan berangkaikan bunga. Acara-acara lain yang berlangsung selama seminggu penuh itu antara lain lomba memasak, lomba matematika, fisika, kimia, komputer, lomba band, cerdas cermat dan masih banyak lagi.
__ADS_1
Festivalnya tinggal dua hari lagi dan semua sudah siap. Rancangan dekor untuk kendaraan bunga juga sudah siap. Kendaraan bunga harus didekor di lapangan pada satu hari sebelum hari terakhir festival, karena pawai bunganya di hari terakhir festival, maklum acara puncak.
Ujian kelulusan nasional tinggal tiga bulan lagi. Menjelang ujian, hampir setiap hari ada test atau ulangan. Sebagai persiapan ujian. Sampai rasanya sudah hafal semua bahan pelajaran dari kelas satu sampai kelas tiga. Untung sekali kegiatan di sekolah begitu banyak menyita waktu Rosa dan Fakih sehari-hari, jadi keduanya sama-sama tidak begitu memikirkan masalah mereka. Papah dan Mamah pun sepertinya percaya akan kata-kata Oma, sehingga sama sekali tidak pernah menyinggung-nyinggung nama Fakih lagi.
Rosa bahkan menurut saja mengisi formulir-formulir pendaftaran untuk berbagai Sekolah Menengah Atas di Bogor. Namun tekadnya sudah bulat, dia cuma ingin masuk fakultas kedokteran di Universitas Lampung, di Lampung. Fakih pun tidak tahu rencana Rosa ini, karena Rosa yakin, seandainya dia bilang ke Fakih, Fakih pasti akan memaksa-maksa dia lagi untuk ke Bogor saja. Rosa merasa keputusan yang diambilnya ini adalah yang terbaik, dan tanpa desakan atau paksaan pihak mana pun.
Keberadaan Fakih pun tidak masuk dalam pertimbangannya dalam mengambil keputusan. Ini adalah impiannya dari kecil, dan siapapun tidak bisa menghalanginya. Sore ini adalah latihan terakhir buat band yang akan tampil, termasuk band dadakan yang dibentuk Fakih dan kawan-kawan khusus buat acara festival kali ini. Rosa sebagai ketua panitia harus melihat seluruh acara latihan terakhir, termasuk band Fakih ini. Ada tiga band yang akan tampil dari Sekolah Menengah Pertama Negeri ini.
Rosa kali ini tidak mengambil bagian sama sekali di lomba band, karena dia lebih ingin berkonsentrasi di lomba kimianya. Lagipula dia tidak punya banyak waktu untuk latihan, karena mengorganisasi seluruh acara festival benar-benar sudah menyita banyak waktunya. Belum lagi harus belajar untuk ujian. Hari ini Rosa bisa lebih relaks, karena tugasnya hari ini Cuma menonton latihan terakhir. Banyak sekali anak-anak yang supportif hadir sore ini, terutama karena mereka ingin melihat band sekolah mereka sebelum tampil di lomba. Fakih sengaja tidak membentuk band dengan keyboad, karena dia sendiri juga tidak punya banyak waktu untuk latihan. Fakih sebenarnya juga tidak ingin ikut andil di band, karena dia juga mengikuti lomba matematika dan adu argumentasi serta cerdas cermat. Tapi akhirnya setelah dipaksa-paksa, dia mau jadi vokalis utama.
Rosa yang duduk di baris paling depan tak bisa melepaskan perhatiannya dari Fakih di panggung theatre yang terlihat manis sekali. Kocak sekali gaya Fakih di panggung, sesuai dengan lagu yang dinyanyikannya. Sambil terus menyanyi, Fakih berjalan turun panggung ke arah Rosa, lalu menyanyi di depannya, sambil menyambut tangan kanan Rosa sambil tersenyum. Rosa malu sekali, apalagi anak-anak yang lain bersorak-sorai semua. Dasar Fakih tidak tahu malu. Fakih terus menyanyi sambil menarik tangan Rosa untuk berdiri. Rosa menggelenggeleng sambil melotot. Tapi karena di dorong-dorong teman-teman kiri kanan dan belakangnya, mau tak mau Rosa berdiri juga. Fakih menuntunnya sampai kira-kira dua langkah dari kursi tempat Rosa duduk. Rosa jadi geli melihat Fakih yang menyanyi tepat di hadapannya sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya.
Anak-anak spontan tepuk tangan dan bersuit-suit setelah Fakih selesai menyanyi. Rosa kembali duduk. Mukanya merah padam karena malu. Untung sekali lagu Fakih tadi mengakhiri acara latihan terakhir band sore ini. Jadi anak-anak lalu bubar jalan.
"Elo payah tadi, Kih?" kata Rosa setelah agak sepi.
"Payah bagaimana? Jelek nyanyinya?" Tanya Fakih.
"Bagus koq nyanyinya. Tapi nanti kita dikirain pacaran lagi?" Balas Rosa.
"Nggak lah! Elo nggak sadar kalau elo satu-satunya cewe' yang duduk di baris paling depan tadi? Tenang saja! Mereka pasti nggak curiga." Jelas Fakih.
"Sudah siap lomba matematikanya, Kih?" tanya Rosa.
"Yah mau dipersiapkan seperti apa lagi? Hampir tiap hari ada ulangan matematika. Itu sudah bisa dibuat persiapan kan? Elo sendiri bagaimana?" Balas tanya Fakih kemudian.
"Gue di training terus sama Pak Hadi Parjono di laboratorium kimia. Lombanya kan teori dan praktek. Teori sih jauh lebih mudah daripada praktek. Tapi sepertinya gue sudah cukup menguasai bahan lah! Waktu ujian praktikum kimia kemarin gue dapat nilai bagus koq." Jelas Rosa.
"Iya, gue juga denger. Selamet yah. Gue denger elo dapet nilai tertinggi seangkatan buat ujian praktikum kimia sekaligus biologi. Yang kimia terutama, elo nomer satu, sementara nomer duanya nilainya lumayan jauh di bawah elo, Cha. Gue doain semoga sukses lah lombanya." Balas Fakih memberikan semangat.
"Lomba argumentasi dan cerdas cermat tiap hari ya, Kih?" Tanya Rosa lagi.
"Iya, soalnya pesertanya banyak, dan pake sistem gugur. Lumayan deg-degan juga, soalnya topiknya bakal ditentukan saat session itu, dan juga diundi pro atau kontranya. Semoga aja nggak dapet bahan yang aneh-aneh. Gue sudah rajin baca koran dan dengerin berita di teve setiap hari sih." Jawab Fakih meyakinkan.
"Wah, dengerin berita akhir-akhir ini justru bikin aku deg-degan. Bagaimana tidak? Demo di mana-mana. Suasananya tambah hari tambah panas deh. Kantor papah yang di Solo kena korban bakar-bakaran massal lho." Jelas Rosa.
"Oh ya! Cha" gue juga jadi kuatir dengan elo nantinya saat Sekolah Menengah Atas di kota Bogor sana!" Lanjut Fakih. Gue takut kalau?" Fakih menghentikan ucapannya.
__ADS_1
"Heh! jangan ngomong yang nggak-nggak, dong. Gue bisa jaga diri sendiri. Elo kan tahu kalo gue bisa karate! Nggak ahli sih, seperti elo Kih tapi kan lumayan bisa buat jaga dirikan." Jelas Rosa menenangkan.