
Nah...sampai...
Kedua sahabat ini sudah sampai di tempat tujuannya. Ya, ini rumah Riyan pacar Windy. Rumah yang tepat di seberang rumah Jack.
Rumah yang tidak begitu mewah dan hanya satu lantai dengan halaman yang luas dan toko di depannya. Di garasi juga terparkir satu mobil pribadi.
(rumah Anya dan Riyan)
"Ayok Lia kita masuk, bang Riyan lagi gak di rumah, aku sengaja datang pas dia lagi ngurus wisudanya di kampus biar kamu lebih nyaman aja" ucap Windy dengan senyuman.
"oh ya..terus gak apa apa kita berkunjung win?" tanya Aliyah.
"It's okey kok Lia. Aku udah sering main kesini Mama Papa bang Riyan baik kok seriusan, jadi kamu tenang aja yaa, gak usah khawatir deh" jelas Windy sangat yakin.
"Assalamualaikum.." kata Windy memberikan salam sambil mengetuk pintu.
"waalaikumsalam" jawab Anya dari balik pintu.
ceklek.. pintu terbuka..
"Eh kak Windy, ngapain kak? bang Riyan ngampus, masa gak tau sih" ucap Anya ketus sekali.
"Hmm..aku mau ketemu kamu lah dedek bukan ayang bebeb" jawab Windy.
"ya udah masuk" balas Anya.
Anya mempersilahkan mereka duduk dan membuatkan minuman untuk Windy dan Lia serta beberapa cemilan.
"aduh repot-repot banget sih adik iparku yang cantik dan imut ini" ucap Windy yang melihat Anya datang dengan minuman dan kue.
Namun Anya tidak menggubris celoteh itu. Pandangannya tertuju pada gadis di sebelah Windy, gadis cantik berhijab yang duduk dengan tenang itu.
"eh kak win bawak teman ya, kenalin kek ke aku" cetus Anya lagi.
"oh iya lupaa kan, kenalin teman aku Ukthy A'liyah" jawab Windy.
"Aliyah bukan A'liyah" balas Lia.
"nama aku Anya kak, senang bisa ketemu kakak" sapa Anya sembari menyalami Lia.
"kakak Aliyah, senang juga bisa ketemu kamu Anya" balas Lia.
Windy mengeluarkan paper bag yang di bawanya untuk Anya.
__ADS_1
"Anya, ini kakak bawain sesuatu, di ambil ya, semoga Anya suka" ucap Windy sembari menyodorkan paper bag yang cukup besar itu.
"hmm nyogok lagi ya? awas ya kalau gak bagus. Gak boleh pergi sama bang Riyan" balas Anya judes.
Raut wajah Anya memang sangat tidak enak di pandang saat bertemu dengan Windy, entah dendam kusumat apa yang Anya simpan pada Windy. Padahal Windy kerap memberinya hadiah hadiah yanh mahal dan bagus. Namun tetap saja Anya masih seperti tidak menerima Windy.
"di buka dulu, mana tau suka" balas Windy.
Anya membuka paper bag itu dan waw..isinya adalah sepatu idaman Anya, Anya sudah lama merengek minta dibelikan sepatu mahal ini pada abangnya Namum sampai sekarang bang Riyan belum juga membeli kan. Akhirnya Anya kini mendapatkan sepatu idaman nya itu. Dalam hati Anya sangat senang.
"waahh bagus banget ini mah..sepatu idaman aku.." batin Anya.
"ehmmm..bagus bagus..makasi ya" jawab Anya cuek lagi.
"kakak senang kalau kamu suka" balas Windy.
"kakak ke toko dulu ya, nyapa Mama. Kamu di sini aja ya Li temanin Anya" tambah Windy.
Windy pun pergi meninggalkan Lia dan Anya berduaan.
"kak Lia teman nya kak Windy ya" tanya Anya
"iya Anya, kami sudah sahabatan lamaa sekali" jawab Lia.
"hmm aku lihat kak Lia sama kak Windy beda jauh karakternya" balas Anya.
"Anya kuliah dimana?" tanya Lia.
"Di universitas xxx kak" jawab Anya
"oh ya..bagus donk kampusnya, jurusan apa?" tanya Lia lagi.
"Teknik arsitektur kak" balas Anya dengan nada tidak semangat.
"massya allah hebat,, belajar yang rajin ya Anya supaya jadi arsitek yang handal" ucap Lia dengan nada kagum.
"Makasih kak Lia" balas Anya.
Sikap Anya ke Lia sungguh berbeda dari sikapnya ke Windy. Anya kelihatannya lebih menyukai Lia ketimbang Windy. Aliyah juga merasakan perbedaan sikap Anya padanya. Aliyah yakin Anya anak yang baik dan ramah, namun entah apa yang membuatnya ketus ke Windy.
"Kak windy baik banget ya Anya, perhatian banget sama kamu sampai di belikan hadiah begitu" pancing Lia.
"ehmm iya sii kak Windy baik dan suka kasih hadiah" jawab Anya yang tiba tiba kembali ketus.
"Hmm..kak Lia lihat Anya seperti kurang suka dengan kak Windy, kenapa dek? ada apa?" tanya Aliyah dengan lembut sekali.
__ADS_1
Wajah Anya sekita langsung menjadi sedih. Dia seperti ingin cerita tapi masih berat.
"Anya...gapapa cerita aja sama akak, mana tau akak bisa kasih Anya masukan. Kakak teman dekat kak Windy jadi kak tau betul windy orangnya seperti apa" ucap Aliyah mencoba meyakinkan Anya.
Perkataan Lia membuat Anya luluh dan akhirnya mau cerita.
"Semenjak bang Riyan pacaran sama kak Windy, bang Riyan jadi kurang perhatian sama Anya, dulu bang Riyan main sama Anya, nonton bioskop sama Anya, dinner sama Anya. Tapi setelah pacaran bang Riyan selalu sama kak Windy terus" curhat Anya. Anya kini makin sedih.
"Anya bukan benci sama kak Windy, cuma Anya sedikit cemburu karena kak Windy seakan akan ngambil bang Riyan dari Anya. Bang Riyan setelah pacaran jadi jarang perhatian sama Anya, waktunya buat kak Windy terus" tambah Anya yang kini sudah mulai menangis.
Orang tua Anya hanya memiki dua anak, Riyan dan Anya. Usia mereka pun hanya terpaut 3 tahun. Dari kecil Anya selalu dengan bang Riyan dan Riyan sangat menyayangi Anya. Riyan selalu perharian dengan Anya dan memanjakan Anya. Jika mereka jalan berdua maka akan seperti orang pacaran, karena mereka begitu akrab.
Jadi wajar saja jika Anya merasa kehilangan Riyan, karena memang semenjak pacaran Riyan lebih sering memperhatikan pacarnya.
"Anya...sepertinya kak Lia paham perasaan Anya, tapi Anya jangan begitu terus, kak Lia yakin kok bang Riyan tetap sayang sama Anya dan perhatian sama Anya" jawab Lia.
"tapi kak.." bantah Anya. belum selesai bicara Lia memotong.
"Anya..kak Lia mau tanya, semenjak pacaran dengan kak Windy sikap bang Riyan berubah gak? jadi lebih baik kah? atau apa gitu" tanya Lia.
"hmmm bang Riyan gak banyak berubah si kak, ya awalnya bang Riyan itu malas kuliah dan nilainya jelek terus sampai sampai papa marah, tapi..setelah pacaran dengan kak windy bang Riyan jadi tambah rajin dan semangat kuliah. Makanya Mama sama papa merestui mereka pacaran" jawab Anya.
"nahh itu dia Anya..Anya jangan melihat buruknya saja lihat juga sisi baiknya. Anya senang kan kalau bang Riyan rajin kuliah bahkan akhirnya bang Riyan sekarang sudah jadi sarjana" ucap Lia.
"Anya..dengerin kakak, kak Windy itu baik banget orangnya, juga perhatian dan penyayang. Anya harus bisa buka hati Anya untuk dia" tambah Lia.
"Anya harus ingat juga bang Riyan, bang Riyan bahagia kan sama kak Windy?" tanya Lia lagi.
Anya menganggukkan kepalanya. Pertanda iya.
"Nah..Anya harusnya ikut bahagia juga, bang Riyan kan pria dewasa tentu dia menginginkan sosok gadis baik untuk menemani langkahnya kedepan, dan itu ada di kak Windy. Anya harus bisa merestui mereka juga. kasihan kak Windy" tambah Lia.
Mendengar semua nasihat Aliyah membuat Anya benar benar tersadar. Anya sekarang merasakan ketulusan Windy padanya dan keluarga nya. Windy memang sangat baik, seharusnya Anya bisa membuka mata dari dulu untuk Windy.
"kak Lia benar, Anya gak boleh egois gini makasih nasihatnya kak" balas Anya sambil memeluk Lia.
.
.
.
.
.
__ADS_1
sambung di part selanjutnya yaaa 🥰🥰