
"hanya kamu Jeffry..papa mohon sama kamu nak" ucap Tomo.
"tapi pa..aku gak mungkin tinggal di Jakarta dan ngurus perusahaan papa itu, aku bahkan gak punya basic ngurusin perusahaan pa! aku hanya seorang mekanik mobil" ucap Jack.
"itu bukan masalah besar nak, jika kamu ikut dengan papa sekarang kamu bisa kuliah dulu di jakarta, kamu bisa mulai belajar bekerja di kantor juga nak, ada papa yang akan membantu kamu" jelas Tomo.
"maaf pa, tapi aku benar benar gak bisa! aku juga tidak menginginkan harta papa kok, yang penting sekarang aku sudah memaafkan papa" ucap Jack lagi.
"apa kamu tidak bosan hidup seperti ini" ucap Tomo
"apa?! bosan kata papa? aku sudah hidup seperti ini dari umur 6 tahun pa! dan aku yakin kok aku bisa sukses dengan kerja kerasku sendiri, tidak harus dengan harta papa!" ucap Jack.
Tomo sudah tidak bisa lagi membujuk Jack, entah apa yang di pikirkan oleh Jack hingga menolak harta papanya. Mungkin semua orang yang berada di posisi Jack akan senang dan pasti menerimanya.
Keluarga Albintara sendiri adalah keluarga konglomerat dari dulu, seperti sudah turun menurun kekayaannya. Elva sendiri juga sudah kaya dari ia lahir, dan kini kekayaan Elva di wariskan pada anak anaknya yaitu Tomo dan Kakaknya Tomi. Tapi Tomi dan istrinya sudah meninggal saat anaknya Gilang masih SMA, Tomi dan istrinya kecelakaan mobil dan meninggal bersama adik Gilang juga. Jadi harta bagian Tomi seluruhnya milik Gilang, dan kini Gilang sudah dewasa, sudah menjadi CEO sukses di Malaysia dan sudah menikah dengan orang Malaysia. Perusahaan Gilang yang di jakarta sudah ia jual ke paman nya yaitu Tomo, dan Gilang fokus tinggal di Kuala Lumpur.
Oleh sebab itu, saat ini hanya Jack pewaris tunggal keluarga Albintara, semua harta Elva dan Tomo akan menjadi miliknya, namun Jack menolak.
***
15 hari kemudian...
Tomo sudah kembali ke Jakarta dengan tangan kosong, dan membuat Elva sangat kecewa. Sementara Jack masih dengan senang hati menikmati pekerjaan dan hidup sederhana nya di Padang.
-Jam makan siang di showroom tempat jack bekerja-
Jack akhirnya menceritakan semua kejadian tentang hidupnya kepada Rendi, karena Rendi sudah di anggap seperti saudara oleh Jack.
"apa!!!? lu serius Jack?" tanya Rendi kaget hingga air yang sudah berada di mulutnya berhamburan keluar sampai mengenai wajah Jack.
"bang!! jangan nyembur nyembur lah" ucap Jack sedikit kesal.
"lu sih bikin gue kaget aja, wahh lu anak konglomerat Jack?" ucap Rendi
"papa dan Oma ku yang kaya bang, aku enggak" ucap Jack.
"ya makanya lu terima dong tawaran papa lu itu. Eh..jaman sekarang uang itu segala nya" ucap Rendi memainkan jari tangannya.
"astagfirullah..parah lu bang nganggap uang segalanya" banyak Jack.
"bukan gitu maksud gue Jack, gini lo, lu mau nikah kan sama cewe lu yang anak orang kaya itu?" tanya Rendi
Jack mengangguk.
"nah..gue yakin 100% pasti orang tua cewe lu setuju kalau tau lu anak konglomerat" ucap Rendi
"bang! gue gak mau beli Aliyah pake uang, apalagi pakai harta bokap gue bang" seru Jack.
"bukan gitu dodol, kok lu ga paham si"
"iya gue tau maksud abang apa, tapi gue gak mau menikahi Aliyah karena harta papa gue! gue mau usaha sendiri, sukses sendiri dan jadi kaya dengan usaha gue sendiri" tegas Jack.
"hah songong lu, mau sampai kapan? gue yang udah bertahun tahun kerja di sini aja gak kaya kaya, apalagi elu yang belum setahun, hahaha" ucap Rendi.
"kita liat aja nanti bang, ada Allah yang maha pemberi rezeki bagi hambanya"
"eh..lu gak sadar, bisa aja kan kalau ini itu rezeki dari Allah buat lu, mikir dong" ucap Rendi lagi.
__ADS_1
Jack tidak menanggapi Rendi lagi, dan kembali bekerja.
"eh tunggu dulu woi, belum abis ini jam istirahat nya" ucap Rendi yang melihat Jack sudah mulai beberes mobil.
"bang kalau mau kaya tu harus rajin, ahahah" ucap Jack.
--Jakarta
Hari ini Fero juga mengunjungi Anisa untuk melihat kondisi Nisa. Dan benar ternyata kondisi Nisa sudah lebih baik. Sehingga Fero boleh masuk dan menjenguk Anisa.
"aku pulang dulu ya Nis, semoga kamu cepat pulih dan kembali jadi Nisa yang dulu" ucap Fero.
"makasih Fer" balas Nisa.
Fero melangkah keluar ruangan Nisa.
"Nis, aku masih cinta sama kamu" bisik Fero yang hendak menutup pintu.
"hah? kamu ada bilang sesuatu ya" tanya Nisa yang mendengar Fero samar samar.
"enggak Nis, bukan apa apa, bye Nis, assalamualaikum"
"wa'alaikumsalam" jawab Nisa.
Sementara itu di kantornya Tomo sedang memikirkan nasib anaknya itu.
"apa yang harus aku lakukan supaya kamu mau Jeff" ucap Tomo.
"kalau bukan kamu siapa yang akan mewarisi perusahaan ini"
"seperti nya aku memang butuh bantuan Juita untuk hal ini" ucap Tomo.
Kairo, Mesir.
Aliyah sedang duduk di meja belajarnya dan menulis sesuatu di buku diary kesayangan nya itu.
Besok genap sudah satu tahun aku berada di sini, berpisah dengan Ayah dan Umi, berpisah dengan Kak Nisa, dan berpisah dengan kamu Jack.
Ternyata waktu cepat berlalu ya Jack, walaupun setiap harinya terasa begitu berat jika harus memikirkan rasa rindu ini. Kamu sudah harus mengirimkan buku baru jack, karena buku ini sudah habis, aku hanya bisa menulis selembar lagi di buku ini.
Jack, aku ingin mengadu tentang Abdullah lagi ke kamu..
Dia sudah ku tolak setiap hari Jack, tapi tetap saja tidak mau berhenti.
Dia selalu bilang "kalau kamu sudah jadi istri orang baru aku akan berhenti" ucapannya itu kadang membuat aku kesal.
Jack, tunggu aku sebentar lagi, dan kita akan bertemu, semoga di saat bertemu nanti kamu masih setia seperti janjimu dulu.
Dan itulah curhatan Aliyah di buku diary nya.
***
3 bulan kemudian.
Malam itu Juita mendapat telvon dari Tomo, Tomo meminta Juita dan Jack untuk segera ke Jakarta karena kondisi Elva sangat kritis, dan Elva ingin sekali bertemu Juita dan Jack.
"baik mas, besok aku akan berangkat ke sana dengan Jeffry" ucap Juita.
__ADS_1
Jack melihat raut wajah mama nya yang terlihat gelisah dan cemas.
"ada apa ma? papa bilang apa?" ucap Jack.
"Oma kamu nak, Oma kamu di rawat dan kondisinya kritis, dia ingin bertemu dengan kita" ucap Juita memegang bahu Jack.
"Oma.." ucap Jack.
"kamu siap siap ya, kita akan berangkat besok pagi, papa kamu sudah memesankan tiket untuk kita" ucap Juita.
"iya ma" balas Jack.
Keesokan harinya Jack dan mama sudah berada di Jakarta. Mereka di jemput oleh Tomo sendiri dan langsung menuju rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit Juita dan Jack masuk ke ruang rawat dan melihat kondisi Elva.
"Oma.." rintih Jack
Elva mencoba membuka matanya perlahan untuk melihat wajah cucunya itu.
"Jeffry..kamu datang nak" ucap Elva
"Juita..kamu juga datang" ucap Elva lagi.
"Ma..mama yang kuat ya..mama pasti bisa" ucap Juita memegang tangan keriput Elva dan terbalut infus.
"Mama..sudah lelah Juita, mama ingin istirahat" ucap Elva.
"Juita...maafkan semua kesalahan Mama, mama sangat jahat padamu" ucap Elva menangis.
"ma..Juita sudah memaafkan mama" ucap Juita
"Jeffry..maafkan Oma ya sayang, Oma juga sangat jahat padamu" ucap Elva lagi.
"Oma..aku juga sudah memaafkan Oma" ucap Jack.
"syukurlah kalau begitu..Oma sangat senang mendengarnya"
"Jeffry...Juita...tinggallah bersama Tomo, kalian harus bersama sama lagi, kalian harus bahagia seperti dulu lagi" ucap Elva.
"ma..kita akan tinggal bersama, jadi mama harus sehat ya" ucap Tomo
"berjanjilah untuk membahagiakan anak dan istrimu nak" ucap Elva kepada Tomo.
"iya ma..iya" ucap Tomo
"Juita..kamu mau kan bersatu lagi dengan tomo..ini semua demi anak kalian Jeffry" ucap Elva
Juita sedikit bingung ingin menjawab apa, tapi dalam hati kecilnya ia memang masih mencintai mantan suaminya itu, dan mereka pun tidak pernah bercerai secara hukum, hanya bercerai secara agama karena Tomo sudah menelantarkan nya selama belasan tahun. Akhirnya Juita menjawab iya.
"iya ma..Juita akan lakukan apapun permintaan mama" ucap Juita.
Elva tersenyum "Jeffry...papa kamu sangat sayang padamu, kamu harus menjadi anak yang berbakti" ucap Elva.
"iya oma.." ucap Jack.
"sekarang Oma bisa tenang...semalam Oma bermimpi bertemu Elang, Oma sangat rindu sekali dengan Elang, dan dia mengajak Oma pergi ikut bersamanya, dia bilang tempat di sana bagus, tapi kemarin Oma tidak bisa pergi karena ingin sekali bertemu kamu dan Juita. Sekarang Oma bisa pergi karena kalian bertiga sudah bersatu lagi. Oma tidur dulu ya..Elang pasti sudah menunggu lagi" ucap Elva yang kemudian memejamkan matanya, perlahan tangan yang semula di genggam oleh Juita itu jatuh ke ranjang.
__ADS_1
Semoga orang meneteskan air mata, Elva telah meninggal dunia...