
H-5 pernikahan.
Semua semakin sibuk mempersiapkan hari pernikahan besok. Aliyah kini benar benar tidak bisa kemana mana, ia harus berkurung diri di kamar sampai hari ijab kabul nya.
Malam ini pertemuan kedua keluarga. Keluarga Aliyah dan Fero. Keluarga Aliyah di undang makan malam ke rumah Fero, tapi Aliyah tidak ikut, hanya umi dan abi saja.
Sementara itu Aliyah tinggal di rumah bersama kakaknya.
Di rumah Fero.
Ayah dan umi duduk di meja makan yang penuh dengan hidangan lezat. Keluarga Fero menyambut kedatangan ayah dan umi dengan ramah.
"ayo kita makan" ucap papa Fero
Selesai makan pembicaraan pun di mulai.
Papa Fero menjelaskan maksud dan tujuan mereka mengundang ayah dan umi, tentu saja membahas pernikahan yang sudah tinggal menghitung hari.
Pembicaraan serius dan menengangkan pun terjadi..
2 jam kemudian--
"kami sangat menghargai keputusan keluarga besar nak Fero, kami sangat berterimakasih atas pengertian nya" ucap ayah Aliyah
"iya pak haji buk aji, saya dan mama Fero tentu menginginkan yang terbaik untuk Fero" balas papa Fero.
"sekali lagi terimakasih pak Danil, kalau begitu kami pamit pulang" ucap ayah.
Fero dan keluarganya mengantar ayah dan umi aliyah ke pintu depan.
Nampaknya perbincangan itu berjalan lancar. Wajah ayah dan umi tampak sangat segar dan ceria saat sampai di rumah.
Anisa yang dari tadi menunggu ayah dan umi pulang langsung bergegas menghampiri ayah.
"yah, mi, gimana? bisa kan?" ucap Anisa
Ayah tersenyum dan duduk di sofa, umi juga ikut duduk di samping ayah.
"duduk dulu Nisa" ucap ayah
Anisa bergegas duduk di harapan orang tuanya itu dengan wajah tegang dan cemas.
umi meraih tangan Nisa "semuanya lancar" ucap umi
wajah Anisa langsung berubah rileks dan senyum bahagia "alhamdulillah..." ucap Nisa menghela napas panjang dan mengusap dadanya yang sedari tadi berdegup kencang.
"makasih ayah, umi" ucap Nisa yang sangat lega sekaligus senang.
Flashback beberapa hari lalu
-saat Anisa berbincang dengan Fero di caffe-
Anisa menatap mata Fero dengan tulus dan dalam. tatapan Nisa membuat Fero seakan serangan jantung.
__ADS_1
"kenapa ngeliatin aku kayak gitu nis?"
"aku mau tanya sesuatu sama kamu fer" ucap Nisa serius.
"apa nis?"
"gimana perasaan kamu ke Aliyah? apa kamu benar-benar mencintai Aliyah?" tanya Nisa
Fero langsung gugup dan mengalihkan pandangannya ke segelas arah. Tangannya mengetuk meja dan tubuhnya tidak tenang.
"Fero..jawab" ucap Nisa tegas.
"aa..aku..emm" Fero terbata-bata
"aku apa?" tegas Nisa.
"emm..tapi kenapa kamu tanya begitu?" sanggah Fero.
sekarang giliran Nisa yang terbungkam.
"kalau aku jawab iya kenapa? dan kalau aku jawab tidak kamu mau apa?" ucap Fero balik bertanya pada Anisa.
Nisa mencoba tenang, ia meminum jus yang ada di depannya.
"oke, gini..kalau kamu beneran sayang sama Lia aku mohon jangan sakiti dia.." ucap Nisa yang langsung berhenti bicara padahal masih ada kata yang hendak terucap dari bibirnya itu.
Fero menggenggam tangan Nisa. "apa yang terjadi kalau aku masih cinta sama kamu?" ucap Fero serius.
Anisa menatap dalam kedua bola mata Fero yang mulai memerah itu. Tatapan Fero begitu tulus seperti yang Nisa lihat.
Fero terkejut dengan jawaban lantang Nisa. Fero refleks melepas tangan Anisa, dan kursinya bergeser ke belakang saking kaget nya dia.
"ah? aku gak salah dengar kan? kenapa kamu bilang begitu?" ucap Fero kembali mendekatkan wajahnya ke depan Anisa.
Anisa terdiam, diapun tidak sadar apa yang telah ia ucapkan, seakan kata kata itu spontan keluar dari mulutnya.
Anisa mengalihkan wajahnya ia tidak cukup kuat melihat tatapan tajam Fero.
"kamu jawab aku nis, kenapa kamu bisa ngomong begitu? karena kamu tidak tega melihat adikmu di jodohkan denganku jadi kamu ingin menggantikan posisinya begitu?!" ucap Fero lantang, sontak membuat beberapa pengunjung caffe melirik ke arah mereka.
Anisa menoleh "iya..seperti itulah niatku fer" ucap Nisa jujur.
Fero menghela nafas, percakapan ini sungguh sangat menguras energi baginya.
"aku benar benar gak ngerti sama jalan pikiran kamu, kamu pikir jodoh bisa di tukar tukar seperti baju" ucap Fero mulai kesal, ia pun mulai beranjak dari meja itu.
Anisa menahan tangan Fero. "fer..aku paham jodoh itu gak mungkin bisa di tukar karena itu sudah kehendak Allah" ucap Nisa tegas.
Fero melirik Nisa dan kembali duduk di kursinya. "lantas kenapa kamu bisa berfikiran seperti itu? ingin menggantikan adikmu untuk menikah dengan aku?" ucap Fero.
"Karena aku tau fer, Aliyah gak cinta sama kamu, dia mencintai pria lain fer. Aku gak mau lihat dia sedih, aku tau dia menderita dengan semua ini fer, dan aku akan lakukan apapun demi dia, bahkan ganti in dia untuk menikah dengan kamu" ucap Nisa yang sudah berlinang air mata, tangan Nisa tidak lagi menggenggam lengan Fero, wajahnya tertunduk ke meja dan ia mulai menangis.
"Nis..jangan nangis di sini..heii" ucap Fero lembut.
__ADS_1
"aku mohon Fer. Aku gak mau Aliyah sedih" ucap Nisa tersedu sedu.
Fero mengangkat dagu nisa dan menyeka air mata yang berjatuhan di pipi mulusnya itu.
"jika kamu bersedia dan ikhlas menjadi istriku, aku akan menerima kamu dengan senang hati nis, i love you" ucap Fero.
"tapi bagaimana mungkin? apa yang akan di katakan oleh kedua orang tua kita nanti? pernikahan tinggal menghitung hari lagi nis" ucap Fero yang kini menggenggam erat kedua tangan Nisa.
"aku akan bicarakan ini dengan ayah dan umi fer, aku akan suruh kedua orang kita untuk membahas ini secepatnya" jawab Nisa.
Fero mengangguk tersenyum dan kembali mengusap pipi Anisa.
#flashback off
Keluarga Fero menerima negosiasi dari keluarga Aliyah dan sepakat untuk menikahkan Fero dengan Anisa, karena sejujurnya Fero memang mencintai Anisa. Kini Anisa dan Fero sudah lega, namun Aliyah mesin belum di beri tahu..
Keesokan paginya.
Gaun pengantin, seserahan, high heels, perhiasan dan segala pernak pernik pengantin sudah datang di rumah Aliyah. Tidak terasa pernikahan tinggal 4 hari lagi.
Aliyah tidak berekspresi melihat barang mewah itu tergeletak dihadapannya. Tatapan nya kosong tanpa senyum di wajahnya.
Umi menyadari kesedihan Aliyah yang masih sangat dalam. Umi merangkul Aliyah "anak cantik umi kok diam aja?" tanya umi lembut.
Aliyah hanya menggeleng.
"Dek..kalau kamu gak suka kakak aja ya yang pakai" ucap Nisa yang tiba tiba muncul dari belakang.
Anisa mengambil baju pengantin dan mencobanya, begitu pula dengan sepatu dan semua barang seserahan itu.
Aliyah heran melihat tingkah kakaknya itu. "kak..udah tarok aja dulu, nanti Lia coba kak" ucap Lia.
"kamu gak mau makai kan? kakak aja yang pakai, jadi kamu gak perlu menikah dengan Fero" ucap Nisa santai.
Aliyah kaget mendengar ucapan kakaknya itu, Aliyah berdiri dan mengambil baju yang berada di tangan Nisa.
"kakak gak perlu bercanda berlebihan untuk bikin aku ketawa" ucap Lia yang kembali duduk di samping umi.
"kakak kamu gak lagi bercanda sayang" ucap umi tersenyum.
Aliyah mengerutkan keningnya dan menatap umi serius.
Anisa menyentuh kedua bahu adiknya, keduanya kini bertatapan. "kakak serius, ini semua sudah di bicarakan dek, kakak lah yang akan menikah dengan Fero. bukan kamu" ucap Nisa sangat serius.
Aliyah tentu bisa membaca ekspresi wajah Nisa yang sangat meyakinkan itu.
"kak..maksudnya apa? umi..?" tanya Lia berbinar.
"semuanya sudah beres nak, kamu tidak jadi menikah dengan Fero. Nisa lah yang akan menikah" ucap umi yang ikut berbinar.
Aliyah masih tidak percaya, Aliyah langsung memeluk uminya erat dan menangis di dekapan umi. Nisa pun ikut memeluk umi dan Lia.
.
__ADS_1
.