
Sudah hampir jam 5 sore, Tomo sudah tidak sabar menunggu kedatangan Jack. Sudah lewat jam 5 sore dan akhirnya Jack datang.
Tomo langsung membuka kan pintu gerbang dan mengajak Jack masuk.
"papa senang akhirnya kamu mau menemui papa" ucap Tomo.
"aku ke sini untuk mendengar pengakuan sebenarnya" ucap Jack.
"duduk dan minumlah dulu nak"
"cepat saja jangan buang buang waktu" ucap Jack.
Jack dan Tomo duduk, tapi Tomo hanya diam saja belum mengatakan apapun.
"kenapa diam saja sih? apa tidak ada penjelasan yang akan ku dengarkan?" ucap Jack.
"Jeffry...ini semua salah Oma" ucap Elva dari belakang, ternyata Elva juga sudah sampai di Padang tadi siang.
"Oma.." ucap Jack yang tidak menyangka ternyata ada Elva.
Elva duduk dan menjelaskan semuanya kepada Jack.
"ini semua salah Oma, bukan papa kamu, Oma yang salah, jadi jika ada orang yang patut kamu benci dan salahkan orang itu adalah Oma, bukan papa"
Jack mengerut kan keningnya "iya tolong jelaskan apa yang terjadi agar aku tidak salah paham lagi" ucap Jack.
"Oma..Oma tidak suka Tomo menikah dengan Juita, pada saat itu keluarga Juita sudah keterlaluan memoroti Tomo, terutama si Panji dan Susan itu. Sampai akhirnya Oma tahu kalau Panji dan Susan memanfaatkan Juita untuk memeras Tomo. Pada saat itu Oma kecewa dan sakit hati, lalu Oma meminta Tomi menceraikan Juita tapi Tomo tidak mau karena dia sangat sayang pada kamu dan Juita.
Suatu ketika..Oma mengetahui satu fakta, bahwa Baron (ayah tiri Jack) ternyata dulu pernah menjalan hubungan dengan Juita sebelum menikah, tapi mereka berdua tidak mengatakan apa apa pada Tomo. Dan Oma memanfaatkan masa lalu mereka untuk membuat Tomo salah paham dan menuduh Juita dan Baron selingkuh diam diam. Tomo terhasut dan mengusir kamu atas perintah Oma" jelas Oma yang sudah meneteskan air mata.
Jack tidak menyangka ternyata semua ini perbuatan Oma, Jack juga sedih dan kecewa mengetahui fakta mama nya di fitnah hingga membuat mereka berpisah.
"tapi aku salah apa? kenapa tidak mencari ku selama ini? apakah tidak ada rasa sayang untuk ku?" tanya Jack
"kamu tidak salah Jeff, Oma yang salah..hiks hiks..Oma mengatakan pada papa kamu bahwa kamu bukanlah anak kandungnya, melainkan anak Baron, Oma juga memalsukan hasil tes DNA hingga Tomo percaya. Oleh sebab itu Tomo tidak mencari mu dan Juita, semua karena salah Oma yang telah memanipulasi Tomo" ucap Oma penuh air mata.
"oh..jadi begitu..berarti aku sudah tidak Oma inginkan, lalu kenapa masih mencari aku? karena cucu kesayangan Oma sudah meninggal baru mencari ku begitu?" ucap Jack yang terbawa suasana.
Oma salah, karena baru memberi tahu fakta ini saat Elang meninggal, setelah Elang pergi barulah Elva menceritakan kebohongan yang ia buat selama ini kepada Tomo. Hingga Tomo merasa sangat frustasi pada saat mencari Jack dan Juita, karena ia tidak tahu kemana mereka pergi, menanyai Panji dan Susan juga sulit, karena hubungan mereka memburuk setelah Juita berpisah dengan Tomo.
"Jeffry..jika papa tau papa tidak mungkin membiarkan ini terjadi nak, papa akan mencari kamu dari dulu, bahkan papa tidak mungkin pernah mengusir kamu dan mama" ucap Tomo.
"iya aku tau ini bukan salah papa, tapi ini semua salah Oma!!" ucap Jack.
"dari dulu aku tau Oma tidak pernah sayang padaku! dan sekarang setelah kehilangan cucunya baru mencari aku, MAAF SEMUA SUDAH TERLAMBAT!!" ucap Jack.
__ADS_1
Jack beranjak dari tempat duduknya dan ingin segera pergi.
"jangan pergi dulu nak, papa masih ingin bicara" ucap Tomo menahan Jack.
"udah cukup pa, aku sudah memaafkan papa, tapi maaf. Aku belum bisa memaafkan Oma. Aku mau pulang pa" ucap Jack.
"Jeffry...Oma minta maaf, jika kamu tidak ingin memaafkan Oma, setidaknya kamu harus mendengarkan papa dan ikutlah bersama papa ke Jakarta" ucap Elva yang memegang lengan Jack
"lepaskan!! hatiku tidak seluas benua Asia sehingga dengan cepat bisa memaafkan semua kesalahan Oma" ucap Jack yang langsung pergi.
---Jakarta (rumah orang tua Aliyah)
Ayah dan umi makan malam bersama dengan Fero.
"jadi nak Fero akan menetap di Jakarta ya?" tanya umi
"iya Tante Rani, papa udah ngasih perusahaan yang di Jakarta ini untuk Fero yang ngurus jadi Fero akan tinggal di Jakarta Tan" jawab Fero.
"wah..hebat ya kamu, masih muda udah bisa mimpin perusahaan" puji Rani (umi Aliyah)
"kondisi Anisa bagaimana Tan" tanya Fero.
"alhamdulillah Anisa sudah lebih baik dari sebelumnya" jawab umi
"iya alhamdulillah..kata dokter jika terapi secara rutin Anisa bisa kembali pulih" tambah ayah.
"kalau Aliyah kapan pulang Om Tan?"
"belum tau nak Fero, Aliyah juga sedikit susah di hubungi, anak itu memang begitu kalau sudah fokus belajar" ucap umi.
"ini kedatangan Fero kemari untuk menginterogasi kedua putri kami? haha" ucap ayah bergurau.
"haha om bisa aja, bukan begitu kok om" balas Fero.
"iya nih..ayah bisa aja bercanda ya, oh iya Fero, kamu sudah punya calon?" tanya umi.
"belum tante, hehe" ucap Fero malu malu.
"wah..kalau begitu cocok sekali, Aliyah juga belum punya calon kan, jadi bisa dong.." ucap umi sambil menyenggol bahu ayah.
"umi..Aliyah sudah dewasa, biarkan dia memilih, iya kan nak Fero? nak Fero juga pasti ingin memilih calon istri sendiri kan?" ucap ayah.
"oh iya om, sudah pasti" ucap Fero.
"iya umi paham yah..kira kira Aliyah termasuk kriteria Fero tidak..?" tanya umi.
__ADS_1
"sstt umi jangan mulai deh" bisik ayah
"udah yah, Fero untuk cocok dengan Aliyah" balas umi berbisik.
"kalau Aliyah mah..idaman semua pria Tan" ucap Fero
"bisa aja..jadi idaman Fero juga dong?" jawab umi
Fero pun mengangguk malu malu dan tersenyum.
"iya..tapi tetap saja kedua belah pihak harus saling suka dan sayang, barulah" ucap ayah.
Dan begitulah mereka bertiga saling bercerita.
Setelah Fero pergi umi dan ayah melanjutkan cerita mereka.
"umi gak lagi berniat untuk menjodohkan Aliyah dengan Fero kan?" tanya ayah
"tepat sekali..ayah betul" ucap umi
"mi..Aliyah sudah punya pria yang di cintainya" ucap ayah
"siapa?! cowok preman pasar itu maksud ayah? umi tidak setuju!" ucap umi.
"mi..dia bukan preman, dia orang baik makanya putri kita suka sama dia" ucap ayah.
"ayah..umi gak mau dengar pembelaan apapun, ayah mau nasib Aliyah seperti kedua saudara? yang tidak pandai memilih pasangan? ayah mau?" ucap umi.
"astagfirullah umi..ya enggak lah umi..mi! setiap orang itu memiliki takdir yang berbeda beda, belum tentu nasib Aliyah sama dengan nasib kedua kakaknya" tegas ayah.
"tapi ayah...umi hanya tidak ingin kejadian itu terulang lagi, andai saja Yudha mendengarkan kita dan tidak menikah perempuan mesir itu mungkin sekarang dia masih hidup, dan Anisa, andai anisa menyetujui menikah dengan Fero, mungkin sekarang kita sudah menimang cucu!!" ucap umi penuh penekanan.
"umi..jangan berandai andai seperti itu, ini semua sudah terjadi dan inilah takdir anak anak kita, jangan menyalahkan segala sesuatu yang telah terjadi" ucap ayah.
"ayah gak ngerti juga ya..ini semua demi kebaikan Aliyah! liat Fero dia sempurna untuk Aliyah" ucap umi lagi
"tapi hatinya tidak memilih Fero mi.." bela ayah.
"dan aku sudah berjanji padanya untuk menikah kan Aliyah hanya dengan pria yang ia pilih dan ia sayang" ucap ayah.
"apa?!! ayah gak bisa menikahkan Aliyah dengan preman itu, liat saja!!" ucap umi yang lalu pergi meninggalkan ayah di ruang tengah.
"astagfirullah...ampunilah istri hamba ya Allah..berilah ia hidayah dan tuntun lah kami menjadi orang tua yang baik bagi anak anak kami" ucap ayah yang selalu mengelus dada melihat tingkah istrinya.
.
__ADS_1
.