Bidadari Untuk Preman

Bidadari Untuk Preman
Diskusi


__ADS_3

--### Vila


"mau sampai kapan kamu di padang Tom?" ucap Husen rekan bisnis Tomo, yang villanya di sewa oleh Tomo.


"ya sampai aku berhasil membawa anak ku ke Jakarta tinggal bersama ku" ucap Tomo


"terus ibu anak mu?" tanya Husen


"aku tidak tau, jika dia bersedia ikut aku dengan senang hati mengizinkan, walaupun kami sudah bercerai secara agama, tapi tetap saja demi Jeffry aku mau" jawab Tomo.


"kalau mantan istri mu tidak mau ikut pasti anak kamu tidak ikut juga, percaya deh sama aku" ucap Husen.


"maksud kamu anak ku tidak mau ikut denganku?"


"begini..aku kasih kamu saran, anak mu pasti sangat menyayangi ibunya karena ya..dia yang selalu bersama nya kan dari kecil, jadi..kalau kamu mau membawa anakmu ke Jakarta, kamu harus yakinkan mantan istri kamu dulu, jika ibunya ikut pasti anaknya juga ikut. gimana menurut mu?" ucap Husen.


"kamu betul Sen, kenapa aku tidak terpikir hal itu ya? terimakasih untuk saranmu" ucap Tomo.


"mama tidak setuju dengan saran Husen!" ucap Elva yang sudah berada di ruangan itu, ternyata Elva menguping tadi.


"kenapa ma?" tanya Tomo


"lebih baik kamu bilang ke Jeffry, kalau dia akan menjadi pewaris tunggal keluarga kita, kamu bilang ke dia kalau semua harta kamu akan menjadi miliknya, pasti dia akan setuju dan ikut dengan kita ke Jakarta" ucap Elva.


"aku rasa tidak ma, Jeffry lebih menyayangi ibunya dari pada harta, aku yakin itu" ucap Tomo.


"dari mana kamu tahu? kamu kan belum mencoba, lagian yang mama katakan barusan adalah kenyataan, bahwa dia memang akan menjadi pewaris keluarga kita" ucap Elva lagi.


"Ma..menurut aku Jeffry tidak gila harta, karena kalau iya dari dulu pasti dia sudah mencari aku dan meminta hartaku" ucap Tomo


"Ya dia tidak melakukan hal itu karena mamanya pasti bilang kalau kamu mengusir dia karena dia bukan anak kandungmu, sekarang kan dia sudah tau fakta bahwa dia anak kandungmu, dengan begitu dia pasti setuju" ucap Elva dengan penuh keyakinan Jack akan ikut dengan mereka apa bila di imingi harta warisan.


"bagaimana menurut kamu Sen?" tanya Tomo.


"wah..gimana ya? aku tidak tahu anakmu ini seperti apa sifatnya, tapi kamu boleh juga coba saran dari buk Elva" ucap Husen.


"nah..Husen aja tau, udah Tomo, kamu temui Jeffry besok dan bilang ke dia" ucap Elva.


Keesokan paginya di rumah Jack.


Mama dan Jack baru selesai sarapan.


"Ma..apa papa bilang yang sebenarnya ke Mama? semua alasan papa mengusir kita apa papa cerita ma?" tanya Jack.


Mama kembali duduk di kursi, mama tadi sudah ingin ke belakang menaruh piring kotor.

__ADS_1


"iya nak, waktu papa kamu pertama ke sini dia sudah bilang semuanya ke Mama"


"berarti Mama tau kalau semua ini karena Oma Elva?" tanya Jack dengan bola mata yang mulai berkaca kaca.


Mama memegang tangan Jack "iya sayang, Mama tau semua dari papa kamu"


"dan sekarang apa mama bisa memaafkan mereka? bahkan Oma belum minta maaf langsung kan ke mama?" ucap Jack.


"sebenarnya ada apa nak? apa yang terjadi saat kamu bertemu papa kemarin?" tanya mama, jack belum sempat menceritakan saat ia pulang, karena Jack langsung ke kamar dan mengurung diri.


"Oma Elva kemarin sudah menceritakan semua ke Jeffry ma, dan Oma memohon agar aku memaafkan dia" ucap Jack.


"sudah kamu maafkan?" tanya Mama


Jack mengerutkan keningnya "menurut mama apakah pantas di maafkan? Oma itu sudah sangat keterlaluan, kalau mama sendiri apa sudah memaafkan? pasti belum kan" ucap Jack.


"Mama sudah memaafkan papa dan Oma" ucap mama di akhiri senyum tulus.


"mama pasti bercanda" bantah Jack.


"mama benar benar sudah memaafkan mereka nak, jagoan..dengarkan Mama, tidak ada gunanya menyimpan rasa dendam, apalagi jika orang itu sudah mengakui kesalahannya dan meminta maaf maka tugas kita adalah memaafkan nya" ucap Mama.


"tapi ma..memaafkan lebih sulit dari pada meminta maaf" tegas Jack.


"iya kamu betul, tapi nak, orang yang memaafkan pahalanya lebih besar dari pada orang yang meminta maaf, Allah saja maha pemaaf nak, kenapa kita tidak?" ucap Mama.


"Muhammad Jeffry Albintara" ucap Mama.


Jack kaget mendengar Mama mengucapkan nama lengkapnya. tumben tumbenan gitu.


"Nak..kita sudah belasan tahun melewati waktu tanpa mereka, dan kamu sudah hampir 16 tahun tidak merasakan kasih sayang papa dan Oma. Apakah dengan termakan dendam kamu mau melewati waktu tampa mereka lagi untuk selamanya?" tambah Mama.


"Ma..aku butuh waktu untuk menerima ini semua" ucap Jack.


"mama paham nak, tapi jangan membuang buang waktu berharga kamu, rasakan sedikitttt saja kesedihan papa dan Oma, mama yakin di hati kecilmu kamu menyayangi dan merindukan mereka" ucap Mama.


Jack hanya menyimak baik baik ucapan Mama dan meresapi dengan hatinya. Jack merasa semua yang di katakan mama sangat lah benar.


"Ma..Jeffry berangkat kerja dulu ya ma, dan..nanti malam mungkin Jeffry gak pulang ke rumah ma, Jeffry di ajak bang Rendi ke bukit tinggi, mama gak apa apa kan tinggal di rumah? nanti jeff suruh Anya nemenin Mama" ucap Jack


"iya jagoan..Mama gak apa apa kok, gak usah repotin Anya, kamu hati hati ya nak" ucap Mama.


Jack mencium tangan Mama dan pergi bekerja.


--Ada yang rindu dengan Aliyah? 🤭 Sekarang kita ke Mesir yak.

__ADS_1


(Al Azhar University, Kairo, Mesir)


Seperti biasa Aliyah pergi ke kampus berjalan kaki, karena asrama nya cukup dengan kampus. Aliyah memeluk kitab (buku) tebal dengan kedua tangannya. Saat sampai di ruang kelas Aliyah duduk di barisan bangku kedua dan membaca kitab yang ia bawa sembari menunggu dosen masuk kelas.


Seorang laki-laki menghampiri Aliyah, laki laki itu terlihat seumuran dengan Aliyah, tinggi, kulit putih, dan sedikit brewokan, dan ganteng tentunya.


"Assalamualaikum Aliyah" ucap laki laki itu.


"waalaikumsalam Abdullah" balas Aliyah.


Laki laki yang bernama Abdullah itu duduk di bangku depan tapi bangku nya ia putar sehingga berhadapan dengan Aliyah.


"Kitab Syeh Ali ya..boleh aku meminjam nya kalau kamu sudah selesai membaca kita itu?" tanya Abdullah. Dan ternyata Abdullah juga berasal dari Indonesia, ia juga sedang melanjutkan S2 dengan jurusan yang sama seperti Aliyah.


"baiklah, besok aku pinjamkan, tapi bisakah anta (kamu) berhenti menatap ana (saya)?" ucap Aliyah.


"Syukron Aliyah, baiklah saya akan menghadap ke depan" ucap Abdullah.


Kemudian Abdullah menulis pesan untuk Aliyah di atas kertas, tulisan dalam bahasa arab, namun jika di Indonesia kan tertulis seperti ini :


"Aliyah, kamu sangat baik, bolehkan saya menyukai kamu?" isi surat itu.


Lalu Abdullah meletakkan sehelai kertas itu di atas meja Aliyah, dan ia berbalik badan lagi ke depan.


Aliyah membaca tulisan arab di surat itu, dan ekspresi wajah Aliyah seketika berubah seperti orang tidak senang.


"Abdullah..berapa kali saya katakan bahwa saya tidak menyukai kamu, berhentilah agar kamu tidak menyakiti diri sendiri" ucap Aliyah dengan bahasa Indonesia, sehingga teman teman sekelas Aliyah tidak tahu mereka bicara apa.


Abdullah tersenyum mendengar ucapan Aliyah, namun dirinya tetap menghadap lurus ke depan dan tidak menoleh ke belakang.


"saya akan berhenti jika kamu sudah menjadi istri orang lain" ucap Abdullah dengan santai.


Aliyah mendengus mendengar jawaban Abdullah "huh..usaha kamu akan sia sia karena saya sudah memiliki seseorang untuk di jadikan calon suami kelak" ucap Aliyah.


"baiklah..saat ijab kabul selesai, maka saya akan berhenti" ucap Abdullah.


Tidak ingin semakin kesal, Aliyah pergi dari bangku itu. Sadar Aliyah mulai beranjak pergi Abdullah menoleh ke arah Aliyah.


"Aliyah.." ucap Abdullah. Tapi Aliyah tidak menjawab ataupun menoleh.


Setelah pindah ke bangku lain Aliyah mengeluarkan buku diary dari dalam tasnya, yang tak lain adalah buku pemberian Jack.


Buku itu sudah hampir penuh, tinggal beberapa helai saja halaman yang kosong, karena setiap harinya Aliyah selalu menulis sesuatu di dalam buku itu.


.

__ADS_1


.


__ADS_2