
Hari demi hari telah berganti, pernikahan Aliyah semakin dekat. Semua persiapan pernikahan hampir siap. Aliyah kini hanya bisa berpasrah jika ini memang takdir yang Allah berikan untuknya.
Hari ini Aliyah sudah tidak ke kampus, ia sudah harus menjalani serangkaian prosesi menjelang pernikahannya dengan Fero.
Umi mengetuk pintu kamar Aliyah.
"sayang..Lia sayang..udah siap nak?" ujar umi dari balik pintu.
"iya mi. Aliyah sedang bersiap" jawab Lia
"buruan ya sayang, Fero sudah menunggu di butik" ucap umi
"iya mi.." Aliyah memandangi wajahnya di cermin meja riasnya, bola mata Aliyah mulai berbinar, hatinya serasa sesak bila mengingat ia akan menikah dengan pria yang tidak di cintainya. Namun, inilah jalan yang harus ia lalui.
Aliyah turun dari kamarnya menghampiri umi yang sudah menunggu di ruang tamu.
"ayo..kita harus cepat" ucap umi.
"ayo mi" ucap Lia.
Lain dengan Aliyah yang sedih, umi sangatlah gembira dan excited dengan pernikahan ini, keinginannya untuk berbesan dengan keluarga Fero akhirnya terwujudkan, walau dulu sempat gagal menikahkan Anisa dengan Fero, akhirnya kini Aliyah yang akan bersanding dengan Fero.
Umi dan Aliyah di antar oleh supir pribadi mereka. Aliyah duduk di samping umi dengan raut wajah tidak bersemangat.
"Aliyah..kenapa lesu gitu sayang" tanya umi
"kamu gak enak badan? sakit?" tanya umi
"Lia gak apa apa kok mi" ucap Lia
Akhirnya mereka kini sampai di butik, Fero sudah menunggu di dalam butik itu.
Setelah hampir sejam fitting baju pengantin, Fero yang sadar dari tadi Aliyah lesu pun mengajak Lia bicara berdua.
"kamu kenapa Lia? aku perhatikan dari tadi kamu seperti orang sakit saja" ucap Fero
"aku baik kok bang" jawab Lia
__ADS_1
"aku tau, kamu pasti masih belum menerima perjodohan ini" ujar Fero.
"Aliyah..aku sebenarnya juga tidak ingin memaksa kamu menikah denganku, tapi..ini bukan kehendak ku lagi, jika kita tidak menikah, aku tidak tau apa yang akan di perbuat oleh orangtuaku terhadap keluarga mu, kamu tau kan permasalahan apa" ucap Fero.
Aliyah kaget dan jantung nya berdebar mendengar ucapan Fero. Aliyah merasa bahwa ia benar benar harus berkorban demi ayah dan uminya.
"iya..aku akan menjalani ini dengan ikhlas, aku butuh waktu untuk menerima semua ini" ucap Aliyah.
Sementara itu Jack masih bersedih menerima fakta Aliyah akan segera menikah. Hatinya hancur, pujaan hati yang selama ini ia nantikan akan bersanding dengan pria lain. Jack melamun di ruang kerja nya di kantor. Selepas wisuda baru baru ini, Jack langsung mendapat posisi di kantor papanya.
Lamunan Jack buyar karena suara ketukan pintu.
"permisi pak, ini beberapa berkas untuk meeting besok" ucap Shela yang kini menjadi sekretaris Jack.
"terimakasih shela" ucap Jack.
"Jangan kebanyakan melamun, itu file file di meja minta di perhatiin loh" gurau Shela. Sudah belakangan ini Shela melihat Jack murung dan sering melamun.
Jack melirik dengan sudut matanya ke arah Shela.
Jack langsung menoleh dan ekspresi wajahnya sangat serius, padahal Shela hanya asal bicara tapi itulah kenyataannya.
"heh, serius? wah..tebakan ku akhirnya benar" hahaa Shela kembali tertawa tampa rasa bersalah.
"diem. lu gak tau kan gimana rasanya" ucap Jack sinis.
Shela diam, dan mulai kasihan kepada Jack.
"dan kamu bersedih murung setiap hari, melamun 24 jam sehari mikirin dia juga gak guna Jeff...kamu percaya jodoh di tangan tuhan?" ucap Shela.
Jack hanya diam dan menghiraukan Shela.
"hei..kalau kamu percaya jodoh di tangan Tuhan, lantas apa yang membuatmu kecewa? karena tuhan mentakdirkan kamu dengannya? lalu kamu kecewa sampai melamun seperti orang kehilangan harapan gini? seharusnya kamu percaya pada takdir dari Allah" ucap Shela.
"aku bukan bermaksud untuk kasih kamu ceramah atau apalah, tapi percaya deh..yang terbaik untuk hambanya Allah telah persiapkan itu" ucap Shela yang kemudian meninggalkan ruangan Jack.
Hari sudah menjelma menjadi malam, Jack masih termenung di balkon kamarnya, ucapan Shela tadi tergiang di benaknya membuat ia sulit tidur.
__ADS_1
"sepertinya aku benar benar harus mengikhlaskan mu Aliyah...mungkin kita memang tidak di takdir kan bersama" ucap Jack sedih.
Jack menatap ke langit, langit hitam tanpa bulan dan bintang, ia jadi rindu kenangan dengan Aliyah saat di kota Padang dulu, jack mengingat kenangan manis bersama Aliyah saat di bawah sinar bulan di pantai dan kenangan kenangan indah lainnya.
Semakin mengingat kenangan itu hatinya Jack.enkadi lebih sakit dan semakin sulit untuk melupakan Aliyah.
Di lain sisi Aliyah juga termenung di kamarnya, Aliyah sama seperti Jack, kehilangan semangat hidup dan sangat sedih.
Anisa mengetuk pintu kamar. tok tok tok
"Lia..kakak boleh masuk?" ucap Nisa
"masuk aja kak" jawab Lia
kemudian Nisa masuk dan duduk di samping Aliyah di atas ranjang.
"kamu masih sedih ya" ucap Nisa membelai rambut adiknya itu.
"andai kakak bisa bantu kamu dek, kakak gak tega liat kamu terpaksa begini" ucap Nisa.
"Lia...mungkin kalau aku di posisi kamu, aku akan kawin lari dengan Jack" ucap Nisa.
Aliyah kaget dengan ucapan Nisa.
"astagfirullah kak..aku gak mungkin lakuin itu" ucap Lia
"iya aku tau kamu gak mungkin lakuin hal itu, tapi apa kamu sanggup?" ucap Nisa.
"kamu berhak bahagia dengan pria yang kamu cintai Lia.." ucap Nisa
"kak..mungkin ini udah menjadi takdir aku kak..aku akan menjalani nya demi keluarga kita" ucap Lia
Anisa memeluk erat adiknya dan menangis bersama.
.
.
__ADS_1