
"ada suratnya ternyata" ucap Aliyah
*isi surat
Maafkan aku Aliyah, percayalah hanya kamu, hanya kamu*
Isi surat yang singkat dan padat.
tiba-tiba Jack muncul dari depan saat Aliyah masih di depan gerbang rumahnya itu.
"aku jadi tidak bisa membedakan yang mana bunganya, karena kamu sama cantiknya dengan bunga-bunga itu Aliyah, bahkan mungkin bunga-bunga itu merasa insecure dekat sama kamu, ya..takut kalah cantik dari kamu" gombal Jack.
Aliyah tersipu malu mendengar perkataan Jack. "hem..jadi sekarang udah pintar gombal ya kamu"
"ya..setidaknya yang aku katakan adalah sebuah fakta" jawab Jack tersenyum.
"terimakasih bunganya Jack" ucap Aliyah yang kini sedang berbunga-bunga hatinya.
"yang aku mau sebuah maaf Aliyah, bukan ucapan terimakasih, jadi.." Jack belum selesai bicara sudah di potong oleh Aliyah
"aku sudah maafin kamu Jack, aku juga minta maaf karena perkataan ku kemarin berlebihan" ucap Aliyah.
Jack tersenyum mendengar ucapan Aliyah, hatinya lega Aliyah memaafkan dirinya.
"jadi..hari ini kita kemana?" tanya Aliyah melirik Jack seakan memberi kode.
"hem..maaf Aliyah hari ini aku harus masuk kerja, karena ada klien yang hanya mau mobilnya di servis sama aku, aku minta maaf ya..besok aku akan ajak kamu" ucap Jack dengan wajah memelas.
Aliyah menghela nafasnya "oke Jack...semangat ya kerjanya"
"tentu semangat, karena aku sudah melihat senyum bidadari cantik pagi ini" jawab Jack
"kalau gitu aku pergi ya, assalamualaikum Aliyah"
"waalaikumsalam Jack" jawab Aliyah.
.
Aliyah menaruh buket bunga itu di meja kamarnya, dirinya masih senyum senyum bahagia menerima bunga cantik itu.
"Jack..ternyata orang yang manis ya" ucap batin Aliyah.
"tapi sebentar lagi aku akan berpisah dengan dia, waktu benar benar akan memisahkan kita jack" batin Aliyah.
Sesampainya di showroom Jack memulai aktivitasnya, seperti kata Aliyah jack hari ini sangat bersemangat, dia tidak sabar untuk besok hang out dengan Aliyah.
Bang Rendi menghampiri Jack "Jack kamu cek mobil yang di sebelah sana ya"
"siap bang" jawab Jack semangat.
__ADS_1
Jack berjalan menghampiri pemuda pemilik mobil sport mewah itu, yang tidak lain adalah Fero.
"Permisi bang, mobilnya boleh saya cek dulu" tanya Jack
Fero memutar badannya dan melihat Jack "eh kamu..kamu..rasanya kita pernah bertemu" ucap Fero.
"ini kan cowok yang waktu itu ketemu gue sama Aliyah di pantai" batin Jack.
"ah masa, mungkin bukan saya bang" Jack mengelak, jack hanya malas mengungkit pertemuan nya dengan pria itu, apalagi Aliyah bilang Fero cukup dekat dengan Aliyah.
"iya iya..gue ingat, lu yang waktu itu di pantai sama Aliyah kan, oh jadi lu kerja disini" jawab Fero
Jack hanya tersenyum kecut dan tidak menjawab.
"Gue heran kenapa Aliyah bisa kenal sama cowok kayak lu, ya..secara lu sama Aliyah jauh berbeda ya kan, dan..ck lu gak usah terlalu dekat sama Aliyah" ucap Fero yang membuat Jack kesal.
"eh bang, gak usah ikut campur urusan saya, anda bukan siapa siapa saya, dan bukan siapa siapa Aliyah" jawab Jack tegas.
"hah, kita liat aja nanti siapa yang bakal dapetin Aliyah, loe apa gue" balas Fero sambil menyinggung bahu jack dengan telunjuknya.
"udah sekarang lu servis mobil gue, yang bener ini mobil mahal, jangan sampai lecet sama lu" ucap Fero
Jack mengepalkan tangannya, matanya seakan berapi api, dari awal Jack memang sudah tidak suka melihat Fero.
"dasar cowok songong, orang kayak lu gak pantas sama Aliyah" ucap Jack dalam hati.
.
Sepulang dari showroom Fero menyetir mobilnya menuju rumah Aliyah.
tok tok tok..
"assalamualaikum" ucap Fero.
Bik situ pembantu Aliyah yang membukakan pintu.
"waalaikumsalam, cari siapa mas" ucap bik siti
"Aliyah ada" tanya Fero
"oh non Aliyah ada, silahkan masuk" bik siti mempersilakan Fero masuk.
Kemudian bik siti memanggil Aliyah ke kamarnya.
"permisi non Lia..anu..ada mas mas nyariin non" ucap bik siti dari balik pintu.
Aliyah yang mendengar ucapan bik siti bergegas turun dan melihat siapa yang datang menemuinya itu.
"bang Faro, ada apa ya bang" tanya Aliyah.
__ADS_1
"gak ada apa apa Aliyah, gak boleh ya aku mampir ke rumah? padahal umi sering nyuruh aku mampir, jadi aku mampir deh sekarang" jawab Fero.
"iya boleh bang, cuma umi dan ayah belum pulang kerja" jawab Aliyah.
"ya gak apa apa, yang penting kan ada kamu" jawab Fero.
"oh iya ini aku bawain sesuatu buat kamu" ucap Fero sembari menyodorkan sebuah paper bag ke Aliyah.
"eh apa ni bang, gak usah repot repot bawain Aliyah sesuatu bang" tolak Aliyah.
"di lihat dulu dong apa isinya, kamu pasti suka, gak baik loh nolak pemberian orang, apalagi orangnya aku" ucap Fero dengan percaya diri.
Aliyah membuka paper bag itu dan isinya adalah beberapa buku puisi dan novel dari penulis terkenal. Fero cukup pandai memberi hadiah, Aliyah memang sangat menyukai buku, dan buku yang di bawakan Fero buku buku yang ia suka.
Aliyah tersenyum "makasih bang Fero"
"kamu suka kan, bagus deh kalau gitu, nanti malam kita dinner yuk" ajak Fero.
"maaf bang..kayaknya Aliyah gak bisa"
"aku akan minta izin ke ayah dan umi kamu, jadi tenang aja, nanti malam aku ke sini" ucap Fero
"kalau gitu aku pulang dulu, assalamualaikum"
Aliyah menghela nafasnya, ia sungguh tidak ingin pergi dengan Fero, tapi jika Fero minta izin ke umi pasti umi akan setuju, begitu juga dengan ayah. Mau tidak mau Aliyah akan makan malam dengan Fero.
Pukul 19.00 Fero sudah di rumah Aliyah, sedang berbincang dengan umi dan ayah di ruang tamu.
"wah Fero..kamu makin ganteng aja deh" puji umi Aliyah.
"hehe makasih tante, Fero masih sama aja kok kayak dulu" balas Fero sok jaga image.
"bolehkan Fero ajak Aliyah makan malam di luar, om tante?" tanya Fero.
"ya boleh dong, masa ga boleh, iya kan yah" ucap umi.
"hem..kalau nak Fero saja yang ikut makan dengan kami bagaimana? karena Aliyah tidak pernah tu keluar malam dengan cowok, apalagi kalian bukan muhrim" ucap ayah.
Fero melongo dan agak kecewa dengan sikap ayah Aliyah, tapi dia tidak habis akal untuk tetap pergi dengan Aliyah.
"tenang aja om tante, Fero nanti gak berduaan kok dengan Lia, jadi kebetulan ini mau makan malam sekaligus syukuran dari kantor Fero, nanti di sana bakal ada pengawai kantor dan teman teman kok" ucap Fero.
Fero tidak berbohong, dia memang berniat membawa Aliyah ke pesta perayaan kantornya, tapu tentu dengan niat lain juga Fero membawa Aliyah bersamanya.
"ya sudah, tapi jangan malam malam pulangnya, kamu harus jaga Aliyah" ucap ayah tegas.
"siap om haji ustadz, pasti Fero jagain kok" jawab Fero
Akhir nya Aliyah dan Fero pergi bersama, di dalam mobil Aliyah hening dan menatap ke luar jendela.
__ADS_1