Bidadari Untuk Preman

Bidadari Untuk Preman
Berunding


__ADS_3

H-7 pernikahan Aliyah dan Fero.


Siang ini Anisa akan bertemu dengan Fero. Mereka bertemu di sebuah caffe dan ngobrol berdua.


"apa kamu gak bisa bujuk orang tua kamu untuk batalin pernikahan ini? kasihan Lia Fer..." ucap Nisa


"batalin? aku bisa apa? ini semua bukan kehendak aku lagi, tapi orang tua kita" ucap Fero.


"ya enggak nya kamu bisa bujuk mereka fer. aku yakin orang tua kamu mau kalau kamu yang minta" ucap Nisa lagi.


"Nis..dengerin..orang tua aku gak mungkin batalin lah, persiapan pernikahan sudah hampir 100% dan pernikahan tinggal menghitung hari lagi.." ucap Fero.


Ucapan Fero sangat betul. Anisa menjadi terdiam dan bingung harus bagaimana lagi.


"apa kamu benar benar mencintai Aliyah?" tanya Nisa


#Percakapan mereka selanjutnya Author sensor dulu ya-- simak di akhir eps.


Hari ini Aliyah keluar, Aliyah hendak mencari buku.


Sesampainya di toko buku Aliyah langsung mengelilingi rak buku untuk mencari buku yang ia sukai. Aliyah menggapai buku di rak paling atas, tingginya tidak sepadan dengan tinggi badan Aliyah, Aliyah harus naik bangku untuk meraihnya. Tiba tiba Aliyah teringat kejadian dulu di toko buku bersama Jack, saat Jack menangkapnya yang hampir terjatuh dari kursi. Ingatan Aliyah buyar dan keseimbangan tubuhnya mulai goyah, Aliyah tergelincir. Namun, seseorang menangkap Aliyah dari belakang sehingga Aliyah tidak jadi menyentuh lantai.


Aliyah kaget dan melihat ke belakang, dan ternyata orang yang menangkapnya adalah Abdullah.


"Abdullah..kamu.." ucap Aliyah yang segera bangun dari dekapan Abdullah


Abdullah hanya nyengir dan senyum.


"kamu di sini juga" ucapnya


"kamu kenapa ada di sini?" tanya Aliyah masih tak menyangka bertemu Abdullah.


"aku ke sini cari buku untuk bahan ajar, dan tadi aku liat kamu di bawah, jadi aku ikutin kamu ke sini, dan aku liat kamu hampir jatuh tadi" ucap Abdullah.


"hem..begitu. terimakasih Abdullah" ucap Aliyah.


"sama sama Aliyah. Senang bisa ketemu kamu di sini" ucap Abdullah


Aliyah hanya membalasnya dengan senyuman tipis.


"kamu gak ngundang aku Lia?" tanya Abdullah. Ya tentu saja Abdullah tau Aliyah akan menikah dengan Fero.


"hem..satu minggu lagi, kamu datang saja jika tidak sibuk" ucap Aliyah datar.


"insyaallah aku akan datang Aliyah" ucap Abdullah tersenyum.


"iya..kalau gitu aku duluan ya, assalamualaikum"

__ADS_1


"waalaikumsalam"


Aliyah pergi meninggalkan Abdullah. Abdullah melirik Aliyah yang sudah turun ke lantai bawah. "tentu aku akan datang Lia, walaupun itu akan sangat menyakitkan, tapi aku akan memberi selamat kepada pria beruntung yang menjadi suamimu itu" ucap Abdullah pelan.


Aliyah segera meninggalkan toko buku dan pulang. Di dalam mobil Lia melihat kak Nisa bersama Fero di parkiran sebuah caffe. Aliyah penasaran kenapa kak Nisa dan Fero bisa berada di tempat yang sama, bahkan kak Nisa terlihat masuk ke dalam mobil Fero tadi.


Lia mencoba mengabaikan untuk saat ini "nanti aku akan tanya ke kak Nisa apa yang dia lakukan dengan Fero" ucap Lia dalam hati.


Sesampainya di rumah Aliyah sudah di tunggu oleh umi. "dari mana sayang?" tanya umi


"Lia pergi ke toko buku mi"


"kamu ini, udah umi bilang jangan keluyuran sampai kamu nikah"


"Aliyah gak keluyuran mi, Aliyah cuma beli buku ini aja tadi"


"ya udah, besok kalau mau keluar harus sama umi" ucap umi.


"pernikahan kamu seminggu lagi sayang, kamu harus aman sampai hari itu, umi gak mau terjadi sesuatu kepada kamu"


"iya umi..umi jangan terlalu khawatir, Aliyah aman mi" ucap Lia.


"Lia ke kamar dulu mi, udah hampir ashar mau mandi dan sholat"


"iya sayang" ucap umi.


Jack terlihat sudah berada di depan mobilnya hendak pulang dari kantor. Shela menghampiri Jack dari belakang.


"nebeng dong pak bos" ucap Shela memainkan alisnya.


"rumah kita gak se arah" ucap Jack.


"siapa bilang mau ke rumah aku, ayo jalan" ucap Shela.


"kamu ngapain si shel..aku mau pulang aja aku lelah" ucap Jack.


"kamu itu butuh asupan, healing, biar gak melamun dan galau terus, ayoo" ucap Shela.


Akhirnya Jack memutuskan untuk ikut dengan Shela.


Jack mengemudikan mobil sesuai arahan Shela, mereka pun sampai di sebuah hotel.


"kita ngapain ke hotel?" tanya Jack heran.


"makan malam lah, kamu pikir ngapain?" ucap Shela.


"kenapa gak di restoran aja"

__ADS_1


"di restoran mana ada yang kayak di sini, udah ikut, makanannya enak kok" ucap Shela.


Jack dan Shela menikmati makan malam di roof top hotel, restoran yang indah dengan design outdoor tanpa atap dan terletak di atap hotel yang sangat tinggi. Tempatnya indah, seakan akan kota Jakarta terlihat seluruhnya dari atas sini.


"restoran yang lumayan bagus" ucap Jack.


"aku dulu sering ke sini" ucap Shela.


"kamu mau loncat gak dari atas sini" ucap Shela tertawa.


"apaan si kamu, aku memang patah hati tapi bukan berarti aku mau mati" ucap Jack.


"nah pinter, tapi kenapa kamu kayak orang yang gak punya semangat hidup? kamu mungkin patah hati, tapi bukan berarti kebahagiaan di hidup mu berhenti kan" ucap Shela.


"Shel..gak mudah, kamu mungkin melihatnya enteng, tapi enggak untuk aku yang merasakan." ucap Jack.


"aku cuma gak pengen liat kamu sedih terus" ucap Shela.


"kenapa? jangan jangan...kamu suka ya sama aku" ucap Jack


Shela tertawa..."hahaha percaya diri banget kamu, enggak kok"


"terus? kenapa kamu care sama aku?" tanya Jack.


"karena aku tau, di saat kayak gini kamu butuh asupan bahagia" ucap Shela.


"aku masih ga ngerti sama kamu, kamu terlalu peduli sama aku, kalau kamu berniat untuk jatuh cinta sama aku lebih baik jangan deh"


"idih..kamu lebay. siapa juga yang jatuh cinta sama kamu"


"aku cuma mau bilang, ikhlasin dan cobalah memulai hidup baru dengan bahagia in diri kamu sendiri" ucap Shela.


"aku pulang sendiri ya, rumah kita gak searah kan, udah malam juga" ucap Shela.


"tunggu Shela. aku antar"


"gak usah..kamu di sini aja dulu, nikmati langit malam ini, langit nya cerah dan berbintang" ucap Shela melihat ke atas.


Kemudian Shela pergi meninggalkan Jack dia atas sana.


Saat di dalam taksi Shela terdiam ia mengingat kembali hal yang telah ia lalui dulu. "Aku tahu, kamu butuh teman, kamu butuh dukungan, dan kamu gak bisa sendirian, karena aku pernah di posisi kamu saat ini dulu" ucap Shela dalam hatinya.


Shela sama sekali tidak menyukai Jack, ia hanya peduli pada Jack. Karena Shela pernah merasakan apa yang saat ini Jack alami, tepatnya 2 tahun lalu, saat ia lulus kuliah dan baru mendapatkan pekerjaan, ia dan pacarnya hendak menikah, namun sayang, pacar Shela harus menikah dengan wanita pilihan orang tuanya dan meninggalkan Shela, hidup Shela sangat hancur saat itu, pekerjaan yang baru ia dapatkan tidak bertahan lama, karena ia depresi dan sering melamun saat bekerja, hingga ia menjadi pengangguran hampir setahun lamanya. Dengan sekuat tenaga Shela memulai hidup barunya hingga ia du terima kerja lagi di perusahaan papa Jack.


.


.

__ADS_1


__ADS_2