
"Aku ini orang kaya, apa keuntungannya melakukan hal yang tidak baik kepadamu, kau pikir aku bodoh merusak nama baik ku sendiri hanya karena kau.
emangnya aku kurang kerjaan, aku ini CEO sebuah perusahaan."
"Huhh, Masih sempet- sempet orang ini menyombongkan dirinya, dasar orang kaya belagu."
Bintang berpikir sejenak karena kurang percaya dengan omongan Leo. "Terus apa tujuan anda untuk membawa saya ke apartemen anda? saya yakin pasti bukan lelah alasannya." Cecar Bintang yang tak mudah masuk perangkap.
"Pertama, aku memang benar lelah. Kedua, aku tidak akan melepaskan mu karena kau bisa saja lari dari tanggung jawab mu yang harus ganti rugi mobil ku yang lecet, besok pagi kita akan membahas itu dengan Assisten Erik," jawab Leo yang mencari-cari alasan yang lebih masuk akal.
"Saya tidak akan kabur Tuan, orang jujur seperti saya tak akan lari dari tanggung jawab," Lawan Bintang yang tak terima di ragukan moralnya.
"Aku tidak percaya padamu, pokoknya kau harus ikut dengan ku, Titik, kalau tidak mau aku bisa melaporkan mu ke polisi sekarang juga karena telah menabrak mobil ku."
Bintang menarik napas dalam-dalam, tangannya terkepal menandakan darah gadis itu mulai naik. "Cihh, mentang-mentang aku rakyat lemah yang salah, dia main seenaknya saja mengancam ku dengan melapor ke kantor polisi,"
"Semua ada di tanganmu, pilih yang mana?"
"Oke, saya ikut anda," jawab Bintang pasrah dengan mulut yang sudah di majukan sepanjang mungkin.
"Dasar pria pemaksa, mana mungkin aku bisa menolak jika ancamannya masuk jeruji besi yang dingin, mau di bawa kemana masa depanku jika aku masuk penjara. Nggak bisa apa ancamannya yang ringan-ringan aja gitu, kayak push up 10 kali atau lari keliling lapangan 10 kali." Et dah dia kira Leo adalah guru killer yang di takuti murid-muridnya.
Setelah beberapa menit perjalanan. Akhirnya meraka sampai di apartemen mewah di kawasan elit.
Leo tersenyum tipis.
"Hehh, dia tertidur, kamu pasti sangat lelah." Dia memperhatikan wajah Bintang yang sedang tertidur lelap.
Dia dapat melihat wajah tirus yang melelahkan itu. "Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa memandang mu secara langsung, memperhatikan wajah mu yang lugu dan manis saat sedang tertidur, jika sedang begini wajahmu sangat menenangkan jiwaku tapi saat sudah bangun kau selalu membuat ku kesal, Dasar gadis nakal." Leo terkekeh saat teringat bagaimana ekspresi Bintang saat melawan dan pada akhirnya ketakutan juga walaupun pada awalnya berani.
"Bintang kecilku, maaf aku selalu memaksa mu tapi ini jalan yang terbaik agar aku bisa menjaga mu secara langsung, aku ingin memberikan mu kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya, aku tidak tahu apa saja yang pernah kamu lalui selama 16 tahun terakhir tapi kedepannya aku akan memberikan yang terbaik untuk ku."
__ADS_1
Tangan pria itu menjulur ingin menyentuh pipi Bintang tapi dengan terpaksa dia harus menghentikan hal itu.
"Ehhhhh," lenguh Bintang.
Dia meregangkan badanya yang kaku akibat tidur dengan posisi duduk. "Sudah sampai ya?"
"Kalau belum, mana mungkin mobil ini berhenti, Cepat turun! membuang waktu saja harus menunggu mu bangun." Leo langsung turun setelah mengatakan itu.
"Dasar pria bodoh!" Bintang mendengus kesal. "Ya bangunkan saja kalau sudah sampai ngapain menunggu ku bangun, sekarang malah menyalahkan ku, nggak bisa apa sekali saja jangan terus menyalahkan ku, aku ini sedang lelah lemah letih lesu tau."
"Heii, keluar, kau bersemedi di dalam," Teriak Leo dari luar mobil.
"Ya sebentar," sahut gadis itu. "Nggak sabaran amat sih, kayak mau perang aja."
Ceklek.
Leo membuka pintu apartemennya.
Dengan ragu Bintang melangkah masuk. "Wahh, tempat tinggal anda luas, nyaman, bersih, cantik dan mewah sekali, saya seperti berada di dunia lain," Kagum Bintang yang terus memperhatikan detail apartemen elit yang sudah bisa di sebut penthouse.
"Kau suka?" tanya Leo.
"Tentu Tuan, siapa yang nggak suka tempat tinggal seperti ini, pasti impian orang susah seperti saya." jawab Bintang sambil sibuk terus mengangumi tempat tinggal Leo.
Leo menarik pergelangan tangan Bintang lalu menyerahkan card berwarna hitam ke gadis itu.
"Apa ini?" bingung Bintang, sambil menatap benda yang ada di telapak tangannya.
"Katanya kau suka dengan apartemen ini jadi aku berikan untuk mu, itu adalah card untuk membuka pintu agar kamu bisa masuk kapan saja."
Mata Bintang membulat, mulutnya terbuka lebar karena shock berat, dia merasa waktu sedang berhenti saat ini. "Apa aku sedang bermimpi atau gimana sih, nggak pernah aku bayangkan ada orang yang dengan suka rela memberikan hartanya secara cuma-cuma, Apa pria ini sudah mulai gila?"
__ADS_1
Sedetik kemudian Bintang menyadarkan dirinya. "Saya tidak mau," ujar Bintang mengembalikan kembali card itu ke tangan pria itu.
"Kenapa?" Leo mengangkat Alisnya heran.
"Anda ini sangat ceroboh, Apa anda tidak takut nanti semua barang-barang anda di curi oleh saya? saya kan orang miskin."
Leo kembali menarik tangan Bintang dan menyerahkan kunci berupa card itu. "Aku percaya pada mu, lagipula tak masalah jika kau mau curi semua barang ku disini, aku masih punya banyak harta." jawab Leo tersenyum sombong.
Bintang tak percaya begitu saja, mana ada orang sebaik Leo di dunia yang keras ini, tanpa ada maksud tersembunyi di dalamnya. "Tuan anda begitu baik kepada saya, pertama, anda mau mentraktir saya makanan mewah setiap hari. Kedua anda memberikan apartemen mewah ini kepada saya." Dia terdiam sejenak lalu menyipitkan matanya. "Anda mau menjadikan saya sugar baby ya?" tuduh Bintang to the point.
Tuk.
"Aww, sakit." pekik Bintang saat dahinya di sentil oleh Leo.
"Dasar otak mu ini yang kotor-kotor saja isinya, aku tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun gadis-gadis akan menempel kepadaku, wanita bangsawan saja aku tolak, masak mau menjadikanmu sugar baby, kau berpikir terlalu jauh." Ejek Leo.
"Benar juga katanya, mana mungkin orang kaya raya seperti dia susah untuk mencari pasangan, aku aja yang tak tahu diri, Bintang sadarkan dirimu, kau ini hanya seorang gadis miskin."
"Maaf, anda sih aneh tiba-tiba baik baru kenal 1 hari," ujar Bintang sambil mengelus dahinya yang terasa panas akibat sentilan jari besar itu.
Bintang, bintang. Babang Leo itu cinta berat sama kamu bukan mau menjadikan kamu sebagai sugar baby.
"Istirahatlah ini sudah sangat malam, disana kamarmu," ujar Leo menunjuk sebuah kamar tepat berada di samping kamarnya.
"Good night, aku masuk duluan," Leo beranjak dari sana meninggalkan Bintang yang masih membeku.
"Apa dia sekaya itu? Apa seperti ini kehidupan seorang sultan? main ngasih-ngasi sesuatu ke orang lain tanpa berpikir panjang, ini benar-benar rejeki nomplok."
Happy Reading ♥️😘🥰🥰😘
I LOVE YOU 3000😘♥️🥰😘♥️
__ADS_1