
Di jam 2 pagi Bintang kembali terlihat gelisah di dalam pelukan Leo. Dahinya mengkerut dengan keringat dingin membasuh seluruh badannya.
"Akhhhh!" teriak Bintang dan akhirnya gadis itu tersadar tanpa memberontak seperti sebelumnya.
Dada Bintang naik turun seperti habis di kejar seseorang. Dia melihat sekitar sambil merasa ketakutan, takut orang yang menyakitinya dulu kembali lagi seperti di dalam mimpinya.
"Kamu kenapa?" Leo terbangun akibat suara yang cukup mengagetkannya. Saat terbangun dia sudah melihat wajah cantik Bintang di hadapannya. Meraka saling berhadapan dengan jarak wajah hanya 5 cm. Leo dapat melihat tatapan Bintang yang menatap dirinya dengan sayu seperti meminta pertolongan.
Dengan tatapan sendu Bintang mulai berbicara dengan nada memohon. "Tuan, tolong jangan serahkan saya ke orang lain. Anda bisa menghukum saya sepuasnya tapi jangan serahkan saya ke orang lain, jangan biarkan teman anda melakukan hal Bu_" Perkataan Bintang terhenti, dia sadar tidak seharusnya dia melibatkan Leo yang baru hadir di kehidupannya ke dalam masa lalunya yang kelam.
Leo dapat merasakan napas Bintang yang berhembus di wajahnya dan melihat betapa putus asanya wajah cantik itu. "Tenang, kau aman bersamaku. Kau akan selalu di sisiku. Aku tidak akan menyerahkan mu ke orang lain."
"Anda janji?" Bintang memberikan pertanyaan dengan tatapan nanar.
"Ummm." Leo mengangguk pelan.
"Aku janji padamu."
"Bintang kecil ku mana mungkin aku rela menyerahkan mu ke orang lain, memikirkannya saja aku tidak pernah sama sekali, malah aku mati-matian ingin kau yang menjadi pendamping hidupku."
"Terimakasih," ujar Bintang yang akhirnya mulai bisa tenang.
"Bintang, aku akan membantu mu tenang, jangan tegang dan nikmat saja," Leo merapikan anak rambut Bintang lalu dia mendekatkan bibirnya ke bibir gadis itu.
Dia mengecup lembut bibir merah milik Bintang. Perlahan dengan gerakan lembut tanpa pemaksaan Leo mulai ******* bibir manis itu.
Dan yang mengejutkan Bintang tidak berontak sama sekali, mata gadis itu terpejam menikmati gerakan lembut yang di lakukan pria itu.
Hanyut dalam suasana perlahan Bintang membalas ciuman itu. Mendapatkan balasan membuat Leo memperdalam ciumannya untuk memberikan rasa tenang dan kenikmatan sekaligus.
"Bintang kecil ku. Aku akan menunjukkan jika tidak semua pria akan berlaku kasar seperti mantan pacar mu, aku akan mengubah trauma mu dengan kenangan yang manis tentang percintaan."
*
Pagi harinya Leo terbangun duluan, dengan tangan yang menyangga kepalanya dia menatap wajah Bintang dengan seksama, memperhatikan setiap pahatan indah yang tercipta. "Sungguh indah ciptaan tuhan." Kata itu lah yang muncul di benak pria itu.
"Kau begitu manis saat seperti ini."
__ADS_1
Cup, Leo dengan gemas memberikan morning kiss ke Bintang.
"Ehhhhh." Lenguh Bintang terusik oleh kelakuan Leo yang diam-diam menciumnya.
Bintang perlahan membuka mata, dengan masih setengah sadar dia bisa melihat wajah Leo yang tengah menatapnya. "Tuan Leo?" gumam Bintang. "Apa ini nyata? Ahhh, nggak mungkin dia disini, dia ada di luar kota. Ini cuma bayangan nya saja seperti tadi malam, tapi kenapa aku sering membayangkan nya ya?" gumam Bintang lagi. Gadis itu berpikir keras sambil menyempurnakan penglihatannya yang masih kabur. Bintang mengucek matanya dengan gerakan menggemaskan bagi Leo.
"Hahaha, dia sangat lucu, ingin sekali aku menggigit hidung kecil itu." Di dalam hati Leo sudah tertawa cekikikan.
"Tapi wajah ini sangat nyata." Bintang menyentuh hidung Leo dan memainkannya.
"Senang sekali ya kau menyentuh ku, mulai jatuh cinta dengan ku."
Deg.
"Ini benar anda Tuan Leo?" tanya Bintang dengan polos.
"Terus kamu kira aku ini apa?" Leo mengelus pipi Bintang lembut.
"Akhhhhh, dia benar-benar Tuan Leo, aku bisa merasakan tangannya yang dingin."
"Kenapa anda disini?" ujar Bintang terkejut dan dia langsung bangun menyadari Leo terlalu dekat dengannya.
"Untuk menjaga kekasih ku yang sakit." ujar Leo dengan santai. Senyuman pria itu tercetak sempurna menyambut pagi kekasihnya.
Jderr.
Bintang terdiam, dia sedang mencerna apa yang terjadi, dia kembali flashback ke kejadian tadi malam. "Jadi yang tadi malam itu beneran terjadi, mau di mana taruh mukaku, awalnya aku yang menolaknya sekarang aku yang mau duluan, Akhhh sungguh malu diri ini. Bintang bagaimana kau bisa bodoh tidak bisa membedakan asli atau tidak. Lagipula jika hanya bayangan kenapa kau mau di cium olehnya, Dasar otak mesum."
"Kenapa diam, kau sekarang ingat semuanya." Leo tersenyum miring, seakan-akan mengejek Bintang.
"Emmm, a...ku ingin pipis, ya ingin pipis," ujar Bintang tersenyum malu, untuk menyembunyikan rasa malu gadis mulai ngomong ngelantur.
"Kanapa kau bilang padanya jika ingin buang air kecil, bodoh kau Bintang. kalau ingin pipis ya langsung ke toilet, bodoh." Tak usai-usai Bintang merutuki dirinya sendiri.
Mendengar kekasihnya ingin buang air kecil dengan sigap Leo langsung turun dari ranjang pasien itu. "Sini aku bantu." Dia mencoba ingin menggendong tubuh Bintang.
"Tidak usah Tuan, saya bisa berjalan sendiri." Tolak Bintang.
__ADS_1
"Tapi kamu masih sakit, bagaimana jika terpeleset atau terjatuh." Terlihat wajah yang tadinya mengejek sekarang berubah cemas.
"Tuan saya baik-baik saja, lihatlah." Bintang berusaha meyakinkan.
Ingin sekali Leo langsung mengangkat tubuh Bintang, ingin sekali dia tidak peduli dengan larangan Bintang tapi rasa cintanya tidak boleh malah membuat Bintang tidak nyaman. "Leo ingat! dia tidak suka pemaksaan, dia takut dengan pemaksaan."
"Baiklah tapi hati-hati." Leo belajar untuk menghargai Bintang, memberikan gadis itu ruang geraknya sendiri.
Perlahan Bintang turun lalu berjalan pelan sambil mendorong tiang infus dan Leo mengikuti nya dari belakang untuk memastikan gadis itu aman. Dia menggunakan cara lain untuk menjaga sang kekasih.
"Tuan anda mengikuti saya?" tegur Bintang.
"Aku hanya menunggu di luar, memastikan kamu baik-baik saja, jika terjadi sesuatu panggil aku oke."
Bintang hanya mengangguk tak mau berdebat dengan Leo.
Bintang masuk ke dalam kamar kecil dengan Leo menunggu di depan pintu.
"Bintang kamu kesusahan?" tanya Leo padahal baru saja Bintang masuk, dia menunggu Bintang gelisah tak karuan di luar kamar mandi.
"Saya baik Tuan." balas Bintang dari dalam.
Baru satu menit berlalu. "Bintang, kenapa lama? apakah kamu baik-baik saja?"
"Uhh, sungguh cerewet Tuan Leo ini, baru juga 1 menit, memangnya aku robot, aku masih lemes jadi nggak bisa cepat. bodoh." Bintang menggerutu kesal dengan sikap protektif Leo.
"Kenapa tidak menjawab, apa kau baik? aku akan dobrak ya." Leo panik karena tak mendapatkan jawaban.
"Jangan Tuan, saya baik-baik saja."
"Oke Leo, dia baik-baik saja, tenangkan dirimu." Pria itu berusaha untuk tenang.
Setelah beberapa menit akhirnya Bintang keluar. "Tuan anda masih disini?"
"Iya, aku khawatir. aku ingin memastikan kamu tak terluka." Tak sungkan Leo menunjukkan perasaannya.
Happy Reading ♥️😘😘🥰♥️
__ADS_1
I LOVE YOU 3000♥️🥰😘🥰