Bintang Kecil Ku

Bintang Kecil Ku
Menjemput Nadia


__ADS_3

"Baiklah." Assisten Erik mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi sang Tuan muda.


Saat asik menyuapi Bintang sarapan, ponsel Leo berbunyi.


Kringg.


"Siapa sih ganggu momen ku bersama Bintang." Leo tak menghiraukan deringan ponsel itu.


"Tuan ponsel anda berbunyi." tegur Ana.


"Biarkan saja, aku sedang sibuk menyuapi mu makan." jawab santai Leo.


Kringgg.


Lagi-lagi ponsel yang ada di atas nakas itu berdering.


"Tuan angkatlah mungkin penting. Buktinya itu berdering beberapa kali." ujar Ana menunjuk ponsel yang ada di atas nakas itu dengan dagunya.


"Baiklah," dengan pasrah dia mengambil ponsel itu, kali ini Leo mengalah demi Bintang.


Rahangnya mengeras saat melihat siapa nama yang ada di layar ponsel itu. "Dasar Assisten menyebalkan, akan ku potong gajimu bulan ini. berani-berani nya menggangu suasana romantis ku bersama Bintang."


Dengan malas Leo menggeser layar ponselnya. "Halo." jawab Leo dengan sangat jutek minta ampun.


"Tuan, Teman Nona yang namanya Nadia tidak percaya jika saya di utus untuk menjemputnya." ujar Assisten Erik dari sambungan telepon.


"Terus?"


"Dia mau bicara langsung dengan Nona Bintang."


"Ada apa Tuan?" Terlihat wajah bingung Bintang saat Leo menyerahkan telepon ke dirinya.


"Nadia ingin bicara dengan mu."


"Ohhh." Bintang langsung menerima ponsel itu.


"Halo, Nadia."


"Halo Bintang. Apa benar kamu yang menyuruh seseorang untuk menjemput ku? aku senang sekali akhirnya mendengar kabar mu. aku khawatir sekali tau, sampai nggak bisa tidur semalaman." Nadia terlihat senang setelah mendengar suara yang sangat tidak asing di telinganya.


"Iya, aku ingin menemui mu, kau hari ini libur, Kan?"


"Iya, aku libur."


"Cepat kesini, aku merindukanmu." Rengek Bintang, dulu saat Bintang sakit Nadia lah yang menjaga dirinya. Hatinya belum merasa lega jika belum bertemu Nadia.


Wajah Leo langsung berubah masam mendengar kedekatan Bintang dan Nadia, dia cemburu karena tidak bisa sedekat itu dengan Bintang. "Kenapa dia tidak merindukan ku saat aku pergi selama dua hari. Isss menyebalkan . ngomong-ngomong Kenapa aku harus cemburu dengan perempuan Sih." Leo begitu sensitif, dia cemburu sama Nadia lagipula Nadia kan nggak bisa memacari Bintang soalnya Nadia dan Bintang kan sama-sama wanita tulen.


"Oke, siap. aku meluncur sayangku, sabar ya, cup,cup,cup." bujuk Nadia seperti membujuk anak kecil.

__ADS_1


"Oke, sampai berjumpa nanti."


Tutt. Sambungan telepon terputus.


"Ini ponselnya." Nadia menyerahkan ponsel milik Assisten Erik sambil tersenyum malu.


"Sekarang anda percaya Nona Nadia?" Ujar Assisten Erik penuh penekanan di setiap kata yang terucap dari mulutnya, dia kesal karena sempat di ragukan oleh Nadia sabahat Nona mudanya itu. Untung Assisten Erik sabar.


"Iya, sekarang aku percaya."


"Gitu aja ngambek, dasar cowok sensian."


Setelah sedikit perdebatan akhirnya mereka berangkat ke rumah sakit.


"Tuan, saya ingin bertanya sesuatu?" tanya Bintang sambil mengunyah makanan yang di suapi oleh Leo.


"Iya boleh."


Dengan perlahan Bintang menelan makanannya sebelum berbicara. "Kenapa Assisten Erik bisa tahu rumah Nadia?"


Terdengar hembusan napas putus asa dari Leo. "Uhhh. Ternyata dia belum bisa move on dari pertanyaan itu. sungguh dia mempunyai ingatan yang kuat."


"Dia sahabat mu, jelas Assisten Erik juga akan mencari informasi tentang Nadia." jawab Leo sambil memasukkan makanan ke mulut Bintang.


Dengan otomatis Bintang menerima suapan itu. "Kenapa begitu?" tanya Bintang dengan mulut penuh.


"Untuk menjaga keamanan mu, aku harus memastikan siapa saja yang dekat dengan mu."


Ceklek.


Assisten Erik di ikuti oleh Nadia masuk ke ruang rawat Bintang.


"Selamat pagi Tuan muda." Assisten Erik membungkukkan badan.


Nadia yang melihat itu malah ikut membungkukkan badanya. "Selamat pagi Tuan Leo." dengan ragu Nadia ikut menyapa pria tampan yang selalu berhasil membuat dia terkesima.


"Pagi." ujar Leo santai sambil mengupas jeruk untuk Bintang.


"Nadia. aku senang akhirnya kau datang." ujar Bintang dengan senang , wajahnya sangat sumringah saat melihat sabahat tercintanya itu.


"Haii, Apa kabar Bintang." ujar Nadia dengan canggung. dia merasa malu dengan Leo.


"Aku sudah mendingan kok. kata dokter besok sudah boleh pulang."


"Baguslah, aku senang mendengarnya." ujar Nadia yang masih saja canggung, dia sesekali melirik Leo yang tengah fokus dengan buah jeruk itu.


"Buka mulut mu, Aaaa." ujar Leo ingin menyuapi Bintang.


Bintang sedikit melirik Nadia. "Saya bisa sendiri Tuan." ujar Bintang mengambil jeruk yang ada di tangan Leo. Dia malu di lihat oleh Assisten Erik dan Nadia. Dia takut membuat mereka salah paham.

__ADS_1


"Bintang, kenapa kamu bodoh sekali, disuapi oleh pria tampan seperti Tuan Leo masak di tolak. Kalau aku di posisi Bintang udah nyosor duluan. Hehehe, kok aku kesannya kayak cewek yang mauan sih."


Nadia menyayakan tidak bisa melihat kemesraan antara Bintang dan Leo. "CK. Gagal deh melihat ke uwuuuan mereka."


"Tuan, bisakah anda memberikan saya ruang untuk saya berbicara dengan Nadia."


"Oke, aku akan duduk di sofa."


"Tuan, bukankah anda belum sarapan? mungkin ada bisa sarapan dulu dengan Assisten Erik. Anda juga belum sarapan kan Tuan Erik?" tanya Bintang.


"Iya Nona." jawab Assisten Erik ragu. takut Tuannya memarahi dia.


"Berarti dia tidak ingin aku mendengar percakapan meraka, sabar Leo, dia pasti butuh waktu untuk terbuka dengan mu." Leo sangat mengerti isyarat yang di berikan oleh Bintang.


"Erik, ayo kita sarapan di luar, aku lapar." Dengan terpaksa Leo mengalah demi Bintang, dia sudah berjanji akan tidak memaksakan kehendak ke Bintang. Dia akan belajar memahami Bintang.


"Baik Tuan."


"Wahhh, Tuan muda memang sudah bucin akut, dengan mudah Tuan muda menyetujui permintaan Nona Bintang, Biasanya Tuan muda tidak suka mengalah tapi apa yang aku lihat sekarang? Tuan muda tunduk dengan Nona Bintang."


"Aku pergi dulu, habiskan buah mu, aku nggak akan lama kok."


"Iya Tuan."


"Ayo Erik." Akhirnya Leo di ikuti oleh Assisten Erik beranjak dari sana.


"Ini tas kamu yang tertinggal di loker, semua isinya aman terkendali. aku taruh disini ya." Nadia menaruh tas ransel itu di meja.


"Makasih ya sahabat terbaik ku, beruntung sekali aku punya sahabat sebaik dan secantik kau."


Dengan percaya diri Nadia mengibaskan rambutnya. "Biasalah, Nadia gitu loh, sudah baik, cantik, tidak sombong, dan rajin menabung tapi nggak kaya-kaya, Hehehe."


"Hahaha, punya teman kok kocak gini sih," Bintang ikut terbahak-bahak mendengar celotehan Nadia.


"Ngomong-ngomong Tuan Leo sangat romantis ya, kau beruntung sekali bisa jadi pacar Tuan Leo."


"Ingat! cuma pacar kontrak."


"Pokoknya sama aja kalian itu pacaran." Kekeh Nadia.


"Tau nggak kemarin."


"Nggak tau." seloroh Bintang.


"Bintang, aku belum selesai bicara," rengek Nadia yang ucapannya di potong.


"Iya maaf, jangan ngambek gitu donk. Yuk lanjutkan my sister.".


Happy Reading ♥️😘🥰

__ADS_1


I LOVE YOU 3000🥰😘♥️😘😘


__ADS_2