
Di lantai tertinggi gedung apartemen milik Leo.
Disana sudah ada Leo dan Bintang yang sudah merebahkan badannya di kasur. terlihat meraka sama-sama ada di pinggir kasur agar memberikan jarak di antara keduanya.
"Bintang." ujar Leo menatap langit-langit kamar.
"Hmmm," jawab Bintang yang posisi badannya sama seperti Leo. Menatap langit-langit kamar bewarna putih itu.
"Apa boleh aku memelukmu? aku kedinginan." ujar Leo menoleh ke samping.
"Bukannya anda sangat kuat dengan hawa dingin, saat bayi saja anda kuat dengan tiga AC, kamar ini kan cuma ada 1 AC dan suhunya sama seperti kemarin malam." jawab Bintang dengan nada menyindir.
"Sialan mulut ini, kenapa aku harus menggunakan alasan dingin, ketahuan kan kalau kemarin malam aku berbohong," gumam Leo merutuki dirinya sendiri.
"Mampus, kenapa diam? malu kalau ketahuan berbohong, hehhh, memangnya siapa yang percaya dengan alasan konyol seperti itu."
Bintang lupa kalau dirinya lah yang percaya dengan omong kosong Leo kemarin malam.
"Aku juga nggak tau, entah kenapa hari ini aku kedinginan, mungkin karena tadi pas di luar di terpa angin yang kencang sehingga aku harus menahan udara dingin."
"Katanya tadi nggak dingin sama sekali, sekarang malah mengeluh, siapa suruh sok-sokan ngasi jaketnya ke aku. Sok kuat!"
"Jadi anda menyesal memberikan saya jaket itu?" Tanya Bintang.
Terdengar suara hembusan napas kasar dari pria itu. "Salah lagi aku, terus aku harus pakai alasan apa? itu salah ini salah, punya saja dia celah untuk melawan ku." gerutu Leo dalam hati.
"Bintang bukan begitu maksud ku," ujar Leo dengan suara yang tertahan, terasa sekali pria itu sedang menahan amarah.
"Tuan anda marah?"
"Siapa bilang aku marah, aku dari tadi sudah bersabar menghadapi mu yang suka membantahku."
"Sama saja itu artinya anda marah cuma anda sedang menahannya saja. Saya tidak mau bertengkar dengan anda, saya lelah, jika anda ingin membuat masalah keluar dari kamar saya." Tak mau kalah dari Leo, gadis itu marah balik ke Leo.
Pria itu jadi panik saat di serang balik oleh Bintang, dia sadar sudah membuat Bintang mulai kehabisan kesabaran.
__ADS_1
Perlahan Leo menggeser ke samping agar tubuhnya mendekat ke Bintang. Lalu dia membalik tubuhnya menghadap ke gadis itu.
"Aku sama sekali tidak marah, aku hanya ingin memelukmu saat tidur saja, aku tak mau membuat masalah dengan mu." ujar Leo dengan nada lemah lembut untuk membujuk gadis itu.
Tak ada jawaban dari Bintang, gadis itu hanya diam membisu tak merespon omongan Leo lagi, malah gadis itu menutup matanya seakan-akan dia sudah tertidur.
"Aku tahu kamu belum tidur, Bintang jawab aku, lihat aku, aku ingin bicara." Bujuk Leo.
Lagi-lagi tak ada sahutan dari gadis itu. "Siapa juga yang mau mendengar dia, siapa suruh buat aku marah, ngomong tu sama tembok, peluk tu bantal guling." gerutu Bintang di dalam hati di tengah aktingnya yang pura-pura tidur.
Tiada hari tanpa pertengkaran antara dua insan manusia itu, ada saja sesuatu yang mereka perebutkan dan perdebatankan.
Srettt.
"Akhhhhh." pekik Bintang.
Tanpa aba-aba Leo menarik pinggang Bintang hingga menghadap dirinya.
"Tuan, anda mengangetkan saya." Kesal Bintang menatap mata Leo dengan tajam, yang tepat berada di depannya.
"Bintang, aku ingin bicara dengan mu, kenapa kau mengabaikan ku? aku terpaksa melakukan ini," Ujar Leo menatap hangat Bintang dengan mata sayu nya. Tanganya menjulur merapikan rambut Bintang dan secara lembut menyelipkannya ke belakang telinga Bintang. "Boleh ya aku memelukmu malam ini?" dengan suara lembut Leo bertanya ke Bintang.
Sekarang dia mengerti kekerasan hanya akan membuat Bintang terus melawan namun jika dengan kelembutan pasti gadis cantik itu akan melembut.
Melihat betapa memelas nya Leo membuat Bintang meluluh, tatapan tajam yang tadi dia berikan ke Leo seketika menghilang. "Hmm, anda boleh melakukannya." ujar Bintang dengan nada suara datar.
"Terimakasih kasih."
Dengan senyum sumringah pria itu membawa Bintang ke pelukannya. menenggelamkan wajah gadis itu di dadanya.
"Tuan, longgarkan pelukan anda!"
"Maaf, aku selalu lupa akan hal itu, aku terlalu senang." Leo perlahan memberikan sedikit ruang untuk Bintang.
"Apa benar sebegitu senangnya dia? Apa yang membuat anda senang Tuan Leo? aku hanya pacar kontraknya, apa dia sudah lupa akan hal itu. Aku harap tidak akan ada cinta yang tumbuh di antara kita." Ada sedikit ketakutan di hati Bintang jika mereka terlibat asmara sungguhan karena yang mereka lakukan saat ini seperti pasangan kekasih pada umumnya.
__ADS_1
Cup.
Leo mencium pucuk kepala Bintang dengan penuh kehangatan. "Tidurlah yang nyenyak, aku akan menunggu sampai kau tertidur. Mimpi yang indah." ujar Leo.
Kehangatan. Ya itulah yang dirasakan Bintang saat ini, walaupun pikirannya menolak tapi hatinya menghangat mendapatkan perlakuan istimewa dari Leo, pria itu berhasil membuat hati seorang Bintang tersentuh dengan kelembutan yang selalu Leo lakukan ke gadis itu. Dia berhasil membuat hati yang dingin karena trauma di masalalu berubah menjadi lebih menghangat.
*
Waktu berjalan dengan cepat, akhirnya gelapnya malam digantikan oleh cerahnya suasana pagi yang menyambut setiap insan manusia yang baru terbangun dari tidur nyenyak mereka.
Leo yang tengah tertidur di bangunkan oleh aroma masakan yang entah datang darimana.
Dengan mata yang masih terpejam hidungnya mengendus perlahan bau-bau enak yang membuat cacing-cacing di perutnya memberontak ingin di kasi makan.
"Mmmmm, bau dari mana sih ini? membuatku lapar saja," ujar Leo sambil merenggangkan badanya.
Perlahan mata Leo terbuka. "Kemana Bintang kecilku?" gumam Leo melihat tak ada Bintang di sampingnya.
Senyuman langsung melengkung di wajah tampan itu, walaupun baru bangun tak menghilangkan ketampanannya sama sekali. "Pasti ini bau dari masakan Bintang."
Dengan cepat Leo menyibak selimut lalu berjalan keluar untuk melihat sang kekasih.
Dan benar saja, terlihat Bintang sedang sibuk dengan peralatan dapur. "Anda sudah bangun?" tanya Bintang yang melihat Leo keluar.
"Ada ya orang seperti Tuan Leo, baru bangun tidur tetap tampan. Sialnya rambut berantakan baru bangun tidur itu malah membuat dia tambah seksi. Aku perempuan jadi itu dengan nya. Bintang sadar, kenapa kau jadi memujinya sih."
"Aku bangun karena bau masakan mu," ujar Leo sambil mengucek matanya yang masih sepat, sebenarnya dia masih ngantuk tapi entah kenapa semangatnya membara saat mencium aroma sedap dari masakan Bintang.
"Kenapa kau masak, nanti Erik akan membawakan sarapan untuk kita." tanya Leo semakin mendekat ke dapur.
"Tadi handphone anda terus berdering dan itu panggilan dari Tuan Erik jadi saya mengangkat panggilan tersebut, maaf jika saya lancang." ujar Bintang dengan rasa bersalah. Dia sadar sudah melewati batas privasi Leo.
Leo tersenyum hangat. "Ada apa dengan wajah mu? Tak perlu khawatir, aku tidak akan marah, kau boleh menggunakan segalanya yang aku punya. Apa kata Erik tadi?" tanya Leo mengalihkan pembicaraan yang sudah membuat Bintang tidak nyaman.
Happy Reading ♥️♥️😘🥰
__ADS_1
I LOVE YOU 3000🥰😘😘♥️😘