
Mata Assisten Erik terbuka lebar saat mendengar penjelasan dari Bintang. Sekarang dia paham kenapa gadis itu bertanya seperti itu kepadanya tadi. "Dasar Tuan muda, kenapa harus ngomong gitu sih sama Nona Bintang. Bos kurang ajar. Sekarang bagaimana aku harus menjelaskan ke Nona Bintang?"
"Hehehehe, sekarang saya baru ingat kalau saya punya kebun," ujar Assisten Erik sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal. Tak ada lagi alasan yang tepat selain mengaku saja punya kebun walaupun kebun itu sebenarnya tidak ada.
"Apa saja yang anda tanam? lain kali ajak saya ke rumah anda ya. Saya ingin deh ketemu istri anda." Bintang begitu antusias mengatakannya, sampai senyuman gadis itu begitu lebar dengan tatapan penuh harapan.
"Tapi No_"
"Erik hanya menanam benih di istrinya saja jadi lebih baik kau jangan ikut bercocok tanam." seloroh Leo yang entah sejak kapan sudah ada disana mendengar percakapan antara Bintang dan Assisten Erik.
Wajah antusias Bintang berubah menjadi bingung. "Maksud anda Tuan?" tanya Bintang penasaran.
"Tanya sendiri ke Erik." ujar Leo yang menunjuk Assisten Erik dengan kepalanya.
"Tuan Erik apa maksudnya itu? kenapa anda menanam benih tanaman di istri anda? emangnya dia tanah!"
"Pikiran anda begitu positif Nona, bagaimana anda tidak mengerti apa yang di maksud oleh Tuan muda."
"Sudahlah Nona, Tuan muda memang senang bercanda, lebih baik anda sarapan." ujar Assisten Erik mengalikan pembicaraan.
Dengan cepat Assisten Erik menarik kursi untuk Bintang dan mengarahkan gadis itu untuk duduk.
"Kalian senang sekali membuat ku bingung dan penasaran." Rengek Bintang kesal.
"Nggak bos, nggak Assisten, sama-sama aneh tak jelas." gumam Bintang dalam hati merutuki Leo dan Assisten Erik yang ngomong tidak jelas.
Akhirnya Bintang sarapan dengan rasa penasaran yang belum terjawab.
Leo memperhatikan Bintang dengan seksama. "Kemarin dia beli kalung dan banyak pakaian, kenapa nggak di pakai? apa dia tidak suka dengan semua itu? apa aku harus membelikan yang baru?"
"Bintang, kau kemarin beli banyak paka_"
Belum selesai Leo bicara Bintang langsung berdiri dengan tergesa-gesa lalu membungkuk di hadapan Leo seperti seseorang yang merasa sangat menyesal. Tindakan Bintang membuat Leo dan Assisten Erik melongo tak mengerti.
"Apa yang di pikirkan gadis ini?" gumam Leo dalam hati.
__ADS_1
"Saya minta maaf Tuan karena kemarin saya sudah menghabiskan uang anda begitu banyak, saya sebenarnya tidak bermaksud tapi Nona Maya terus memaksa saya, saya terima semua hukuman yang akan anda berikan."
"Mampus, Tuan Leo akhirnya tahu ulahku yang menghabiskan uangnya kemarin. Siap-siap sekarang aku kena hukuman."
"Buuuahahahhaha. kau itu sangat, hahahaha. " Leo tertawa dengan terbahak-bahak mendengar semua ucapan Bintang.
Assisten Erik pun melipat bibirnya berusaha menahan tawa mendengar ucapan kekasih bosnya. "Hahahah, Nona Bintang sungguh konyol mengira Tuan muda akan mempermasalahkan tentang uang itu. Nona belum tahu saja seberapa kaya Tuan muda."
"Ehhh, kenapa dia tertawa? dia pasti tertawa senang karena akhirnya dia akan bisa menghukum ku sepuasnya. Ihhh sangat menyeramkan." Saat ini tawa Leo pun sangat mengerikan bagi Bintang.
Bintang yang tadinya membungkuk memberanikan mengangkat tubuhnya untuk melihat Leo yang tertawa begitu keras. Gadis itu menatap Leo dengan heran. "Apa dia sebahagia itu?" gumam Bintang dalam hati melihat Leo yang tertawa sampai mengeluarkan air mata.
Setelah puas tertawa Leo berusaha menenangkan dirinya agar bisa melanjutkan ucapannya.
Melihat Leo sudah tenang, dengan cepat Bintang langsung menaruh card berwarna hitam itu di meja. "Tuan, ini kartu ada."
"Kenapa kau mengembalikannya?" ujar Leo dengan datar.
"Karena itu milik anda Tuan." Bintang berkata dengan gugup.
"Ambilah kartu itu, sekarang itu menjadi milik mu." ujar Leo tersenyum.
"Ehhhh! milik saya?" Bintang menunjuk dirinya dengan ekspresi bingung.
Leo mengangguk pelan menjawab pertanyaan Bintang. "Kau bisa mengunakan kartu itu sepuas yang kamu mau, tak perlu mengkhawatirkan apapun."
"Pria ini sudah hilang akal apa dia sedang kesurupan malaikat baik?" Bintang semakin bingung dengan sikap Leo.
"Tuan, anda tidak marah? saya tidak di hukum kan?" ujar Bintang dengan hati-hati , jangan sampai dia merusak mood Leo yang nantinya membuat pikiran pria itu berubah.
Leo tersenyum manis. "Apa yang membuat mu berpikir jika aku akan menghukum mu? kau adalah kekasih ku jadi sudah kewajiban ku memfasilitasi semua kebutuhan mu."
"Cuma pacar bukan istri, kenapa juga harus memfasilitasi. Apa dia membiayai semua pacarnya seperti ini? tak heran jika para wanita terobsesi dengannya. Bahkan temanku Nadia sangat mengidolakannya."
"Saya takut anda menyuruh saya untuk ganti rugi seperti masalah mobil itu." jawab Bintang dengan ragu-ragu.
__ADS_1
"Dulu kau bukan pacar ku, sekarang kau adalah pacarku, jadi kau paham kan perbedaannya? sekarang ambil kartu ini dan kembali melanjutkan sarapan." ujar Leo dengan nada tegas, agar gadis itu tidak bertanya lebih banyak lagi. Bisa ketahun jika selama ini dia hanya memanfaatkan momen gati rugi itu untuk menjadikan Bintang pacarnya.
Takut Leo naik darah, Bintang segera mengambil kembali kartu itu lalu kembali duduk dengan tenang sambil menikmati sarapan. "Lebih baik aku menurut saja daripada dia berubah pikiran. Hari ini patutlah aku bersyukur karena pria ini sedang baik."
"Pantas saja Nona takut ternyata dia belum move on dari kejadian gati rugi itu. Sungguh wanita susah sekali melupakan hal yang pernah terjadi di masa lalu, sama seperti istri ku, sekecil apapun kesalahan ku pasti dia ingat dan di ungkit lagi saat dia kesal. Huhhh, wanita memang susah di tebak pemikirannya."
*
Setelah libur panjang akhirnya Bintang kembali lagi bekerja seperti biasanya.
"Bintang!" pekik Nadia langsung memeluk sahabat yang sudah seminggu ini sangat dia rindukan.
"Aku sangat merindukanmu wahai sahabat," ujar Nadia begitu dramatis.
"Aku juga merindukan mu," ujar Bintang memasang wajah sedih seperti anak kecil.
"Nadia aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Bintang menarik tangan Nadia untuk duduk.
"Ada apa? jangan membuat ku takut, wajah mu jangan serius seperti itu napa." gerutu Nadia sambil duduk menghadap Bintang yang terlihat begitu serius.
"Aku menemukan Mama ku di Mall." ujar Bintang.
"Apa? Kau sempat bicara padanya?"
Bintang mengangguk lesu. "Aku bicara dengannya karena tak sengaja menabraknya, tapi Mama tak mengenaliku." ujar Bintang sedih.
"Kamu yakin orang itu adalah ibu mu?"
"Aku yakin, walaupun 16 tahun tak pernah bertemu tapi aku sangat yakin dia adalah ibu ku, aku bisa merasakannya."
"Sepertinya kau harus mencari tahu terlebih dahulu apakah dia adalah ibu mu atau tidak, bisa saja itu orang yang mirip. Apa kau sudah mendapatkan informasi tentang orang itu?" ujar Nadia, bisa saja nanti Bintang salah orang karena Bintang berpisah dengan ibunya sejak Bintang tergolong masih sangat kecil.
Happy Reading ♥️♥️😘🥰
I LOVE YOU 3000🥰😘♥️😘😘
__ADS_1