Bintang Kecil Ku

Bintang Kecil Ku
Tanda cinta


__ADS_3

"Pasti dia di kamar mandi atau di walk-in Closet." Dengan rambut yang masih berantakan khas bangun tidur. Leo turun dari ranjang besar berukuran king size itu sambil mengucek mata agar pandangan nya yang masih kabur bisa semakin jelas.


Dia mengecek di kamar mandi namun tidak menemukan Bintang, Lalu dengan langkah pasti dia berjalan menuju walk-in closet.


Tangan Leo secara perlahan membuka pintu penghubung antara walk-in closet dan kamar mandi itu.


"Ketemu kau anak nakal."


Senyuman sumringah langsung terpatri di wajah Leo saat melihat Bintang sedang berdiri di depan cermin dengan jubah mandi yang terlihat kebesaran di badan kecil Bintang. Leo dapat melihat Bintang terus mengecek leher sambil menggerutu.


"Masak aku harus pakai shall untuk bekerja sih, kan aneh. Mana bekas nya banyak. Apa aku pakai foundation saja, Ya benar ide yang bagus, aku pakai foundation saja untuk menutupi." Tangan Bintang tergerak mengambil foundation yang di atas meja yang ada di sampingnya.


"Kau memang pintar Bintang." ujarnya sambil menuangkan cream berwarna senada dengan kulitnya itu ke sebuah spon berbentuk oval seperti telur.


Namun gerakan Bintang harus terhenti karena dari belakang ada 2 tangan besar terjulur mengambil foundation dan spon itu dari tangan nya.


Bintang sempat terkesiap namun dia langsung menghela napas panjang saat melihat wajah Leo di cermin besar itu.


"CK, Pria ini selalu saja menganggu aktifitas ku, muncul dari segala arah seperti seorang penyihir. Mungkin di kehidupan yang lalu di adalah penyihir yang di namakan nenek lampir kali ya. Menyebalkan."


"Berikan kepada saya, kenapa anda mengambilnya? menganggu saja." gerutu Bintang dengan bibir cemberut.


Bukannya memberikan kembali ke Bintang, Pria itu malah menaruh lagi di atas meja.


"Kenapa kau mau menutupi tanda merah yang aku buat?" Ujar Leo berbisik lembut di telinga Bintang lalu seketika kedua lengan kekarnya perlahan bertautan melilit pinggang ramping Bintang dengan gerakan mesra dari belakang.

__ADS_1


Gadis itu terlihat memutar bola mata dengan malas saat mendapat perlakuan seperti itu dari Leo. "Dasar gila. Terus aku harus memamerkannya kepada semua orang gitu? Heii semua orang lihat lah aku punya tanda merah di leher ku akibat ulah orang yang bernama Tuan Leo si pria mesum, aku harus mengumumkan kepada semua orang seperti itu? Dasar tidak tahu malu! Aneh!" Bintang hanya bisa memaki pria di belakang nya ini di dalam hati.


Berbeda dengan Bintang yang menggerutu kesal, Leo malah tersenyum bangga saat menatap cermin yang memperlihatkan dengan jelas tanda merah yang tercetak di leher jenjang nan mulus sang kekasih. Dia senang hasil karya nya tadi malam menempel sempurna di leher Bintang. "Sayang, kenapa kau ingin menutupi tanda merah yang indah ini. tanda ini sangat cocok untuk kulit mu yang putih bersih." Tangan kanan Leo terangkat mengelus setiap tanda merah yang ada di leher Bintang.


"Hentikan bodoh!" ingin sekali Bintang berteriak seperti itu. gerakan lembut jari-jari tangan Leo di lehernya membuat dia merinding sekaligus geli secara bersamaan.


"Sangat indah, Kan?" ujar Leo berbisik di telinga gadis itu. Bintang dapat dengan jelas bisa merasakan hembusan halus dari napas Leo. Dan itu semakin membuat dia meremang.


Cup.


Mata Bintang langsung terpejam saat merasakan bibir Leo mengecup telinganya dengan sensual. Dia bisa merasakan telinganya yang basah akibat kecupan itu. jantung gadis itu langsung bertedak dengan cepat tak beraturan.


Bintang terpaku saat bibir itu bukannya berhenti malah turun ke leher nya. Leo mengecup mesra disana.


Perlakuan itu berhasil membuat Bintang panas dingin. Tiba-tiba dia merasakan hawa aneh di tubuhnya.


Pria itu tersenyum miring di balik leher gadis itu. Dia bisa melihat wajah frustasi Bintang melalui cermin yang ada di depannya. Dia juga bisa merasakan hawa panas tubuh sang kekasih. "Itu hukumnya karena kau ingin menghapus karya indah yang telah aku buat."


Walaupun sudah di peringatkan Leo tidak mau berhenti, dia ingin menambah tanda merah di leher sang kekasih. Baginya itu adalah tanda cintanya kepada Bintang. Tidak ada yang boleh menghilangkan atau menambahnya selain dirinya.


"Akhhhh," Lenguh Bintang. Dia sudah tak bisa lagi menahan erangan yang dari tadi dia tahan.


"Bagus sayang, itu yang aku mau. Aku mau kau menikmati apa yang aku lakukan."


"Tuuuuan Tolong berhenti." ujar Bintang yang sudah tak bisa menahan lebih lama lagi. Dia bisa menggila jika Leo terus seperti ini.

__ADS_1


"Berjanji lah kau tidak akan mencoba lagi menghilangkan ataupun menyembunyikan apa yang telah aku buat di leher mu." Pria itu tak ingin melepaskan Bintang begitu saja.


"Taaa..Pi Tuan." Ujar Bintang yang sudah gelisah tak karuan. dadanya sudah naik turun untuk mengatur napas.


"Berjanjilah sayang. Jangan membantah jika ingin terlepas."


"Baaaaik lah Tuu..an. Saya janji." ujar Bintang dengan terpaksa. Dia harus mengikuti ucapan pria itu agar bisa terbebas dari siksaan ini.


Menurut nya Leo sedang menyiksa dirinya saat ini.


Leo tersenyum miring karena dia berhasil menaklukkan sang kekasih dengan kelihaian dalam menggoda. Jangan lagi meragukan pria sekelas Leo.


Akhirnya Bintang bisa bernapas lega saat Leo berhenti melakukan aktifitas yang membuatnya harus menahan napas dari tadi.


"Tuh kan tanda merahnya nambah banyak. Tadinya ingin menyembunyikan sekarang malah nambah. Aku tidak suka ini. Bagaimana aku bisa keluar hari ini. Pastilah aku akan malu setengah mati. Pria ini memang senang sekali menyiksa ku." Bintang terlihat khawatir saat dia melihat lehernya di penuhi kiss mark dari cermin yang ada di depannya.


Wajah cemas Bintang dapat di lihat oleh Leo. Dia membalik tubuh Bintang agar menghadap dirinya. "Kau tidak perlu malu. Kau adalah kekasih ku. Tanda itu adalah tanda kepemilikan yang aku cantumkan pada tubuhmu. Supaya tidak ada pria mana pun yang berani mendekati, apa yang sudah menjadi miliki ku. Apa kau mengerti?" Ujar Leo menatap dalam Bintang.


Secara otomatis tanpa perlawan Bintang mengangguk begitu saja tidak protes sama sekali.


Tapi sesaat kemudian Bintang mengeluarkan suaranya. "Tapi Tu_" ucapan Bintang terpotong karena jari telunjuk Leo menyentuh bibirnya agar tidak bisa melanjutkan omongannya.


"Kenapa membantah lagi?" ujar Leo lembut tanpa kemarahan sama sekali.


Bintang menyingkirkan jari Leo dari bibirnya. "Tuan biarkan saya bicara sebentar. Jangan memotong ucapan saya. Saya ingin mengatakan apa yang menjadi kegelisahan saya. Hari ini saya harus berangkat kerja dan bagaimana nanti pendapat orang lain saat melihat kondisi saya yang seperti ini. Saya tidak mau orang lain memandang rendah ke arah saya. Saya tidak suka itu, anda tidak mengerti jika orang miskin akan selalu di pandang rendah. Kita akan di tuduh melakukan hal buruk ini demi uang walaupun kenyataannya demi Cin_" Bintang menghentikan penuturannya yang panjang lebar. Terlihat Alis gadis itu mengkerut menandakan kecemasan yang luar biasa ada di dalam dirinya. Dia begitu khawatir dengan pendapat orang di luar sana.

__ADS_1


Happy Reading ♥️♥️😘


I LOVE YOU 3000😘♥️🥰😘


__ADS_2