Bintang Kecil Ku

Bintang Kecil Ku
Apa salah Mama?


__ADS_3

"Jujur Bintang, aku sangat sedih saat mengetahui fakta ini, aku sama seperti mu merasa kecewa, marah, dan sedih, Mama Rahma merawat ku penuh kasih sayang namun aku merasa terpukul di balik kasih sayang yang aku dapatkan ternyata ada seorang anak yang merasa menderita di tinggalkan oleh sang Mama, aku tahu persis bagaimana rasanya di tinggal oleh orang yang kita sayang."


Hani di tinggal oleh sang ibu saat dia berusia 9 tahun, dia sangat terpukul saat itu sehingga tak keluar kamar selama berhari-hari, namun ada seorang pengasuh yang baik hati mampu membujuk dirinya, dan bisa membuat dia lebih ceria kembali, dia adalah Rahma yang adalah ibu sambungnya saat ini, 2 tahun kemudian Papa nya memutuskan menikahi pengasuh putrinya, saat itu Hani begitu bahagia, wanita yang mampu membawa matahari kembali ke kehidupannya telah menjadi Mamanya.


"Nona Hani, anda tak perlu merasa bersalah, kita sama-sama masih kecil dan pastinya tak tahu apapun, jika anda berkenan membantu mempertemukan saya dan Mama saya, saya akan sangat berterimakasih."


"Aku akan membantu mu, aku pastikan dengan segara kamu akan bertemu dengan Mama Rahma "


Bintang tersenyum tipis. "Makasih Nona Hani, anda sangat baik."


*


Di dalam mobil Bintang hanya diam sambil memandang ke luar jendela mobil.


"Bagaimana tadi?" tanya Leo berusaha mencairkan suasana, setelah keluar dari restauran Bintang hanya diam membisu.


"Semuanya berjalan dengan baik, Nona Hani mau membantu saya," jawab Bintang tanpa menoleh, dia fokus memandangi suasana jalanan yang ramai.


"Jadi apa hubungan Hani dengan ibu mu?" selidik Leo.


"Ibu saya adalah ibu sambung Nona Hani."


Leo cukup terkejut mengetahui fakta ini. "Dunia sungguh sempit," ujar Leo.


Tak ada respon dari Bintang , gadis cantik itu kembali diam dengan pikirannya sendiri, apa yang sebenarnya gadis itu pikiran padahal Hani mau membantunya, seharusnya dia senang kan? sebentar lagi akan bertemu sang ibu.


"Bintang, sebenarnya apa yang ada di pikiran mu? berbagilah dengan ku, ku rasa kau belum memberiku ruang yang cukup lebar di kehidupanmu, aku ingin tahu segalanya tentang mu, aku tidak suka dengan sikap bisu ini, aku lebih suka melihat mu marah dan melawan ku."


Di tempat lain terlihat Mobil BMW hitam memasuki sebuah rumah bergaya modern, dia memarkirkan mobil secara sembarangan, seseorang turun dari mobil dengan wajah yang memerah menahan amarah dan orang itu adalah tentu saja Hani.


Brakkk.

__ADS_1


Hani membanting pintu mobilnya dengan keras, dia berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam rumah.


"Selamat siang Nona," para pelayan serempak menyapa, namun Hani tak menghiraukan itu sehingga membuat para pelayan bingung.


"Ada apa dengan Nona Hani?" bisik salah satu pelayan.


"Aku juga nggak tau, tumben Nona terlihat sangat marah," jawab pelayan yang lain.


Walaupun Hani di kenal cuek namun dia tak pernah mengabaikan sapaan para pelayan, Hani tak pernah masuk ke dalam rumah dengan ekspresi marah seperti itu, matanya memerah dengan tatapan yang memburu. Hani di kenal sebagai anak yang baik jika di dalam rumah, dia seperti kucing, di luar ganas tapi di dalam rumah menjadi sangat jinak.


"Mira, dimana Mama Rahma?" tanya Hani ke kepala pelayan.


"Ada di taman belakang sedang merajut Nona, perlu saya panggil_"


Belum sempat Mira selesai bicara, Hani sudah beranjak dari sana menuju taman belakang melangkah terburu-buru. "Enggg, ada apa dengan Nona Hani?" gumam Mira dalam hati.


Mama Rahma yang sibuk merajut segera menghentikan kegiatannya karena melihat sang anak sambung menghampiri dia.


Namun tangan Hani langsung mengisyaratkan untuk berhenti. "Aku ingin bicara dengan Mama, kita bicara di kamar," ujar Hani datar, setelah mengatakan itu dia langsung beranjak dari sana.


"Dia begitu dingin, apa mungkin ada masalah di pekerjaannya?"


Perasaan Mama Rahma berubah menjadi gelisah melihat tingkah sang putri sambung, dia melangkah mengikuti Hani dengan perasaan gundah.


Di kamar bernuasa pink miliknya, Hani duduk di sofa dengan pandangan lurus ke depan, pikirannya di penuhi dengan pengakuan Bintang, kata demi kata yang tadi Bintang lontarkan terus bergema di telinganya. Dia bisa merasakan betapa sakitnya perasaan Bintang. Saat ini hanya ada amarah tengah menyelimuti hati dan pikiran Hani.


Ceklek.


Terdengar pintu kamar terbuka, muncul Mama Rahma masuk ke dalam kamar.


"Sayang, kamu terlihat dalam suasana hati yang tidak baik, apa ada masalah?" Mama Rahma duduk di samping Hani.

__ADS_1


"Jujur sama Hani, apa yang Mama Rahma sembunyikan dari keluarga kami?"


Dahi wanita paruh baya itu mengkerut kuat. "Pertanyaan macam apa ini sayang, untuk apa Mama harus menyembunyikan sesuatu kepada mu?"


"Ma, aku tahu segalanya, tolonglah jujur, berhenti berbohong kepada kami, kalau Papa tahu semua ini apa yang akan dia lakukan? Hani pun tak bisa menghentikannya, kenapa Mama melakukan kebohongan yang sangat besar kepada kami? Hani sangat kecewa," lirih Hani dengan tatapan sendu, dia tak marah dengan masalalu ibu sambungnya yang pernah menikah dan mempunyai seorang anak, namun kenapa dulu harus berbohong mengaku sebagai seorang gadis lajang.


Hani juga sangat kecewa saat tahu Mama Rahma menelantarkan seorang anak demi bisa hidup dengannya, dia merasa sebagai orang yang sangat jahat, merenggut seorang ibu dari anak lainnya.


Mama Rahma semakin tak paham dengan ucapan Hani yang dia anggap ngelantur. "Mama tak paham Hani, kenapa kamu tiba-tiba marah seperti ini dengan Mama?"


"Mama pikirkan sendiri kesalahan yang Mama buat, Mama benar-benar lupa apa pura-pura lupa, aku sekarang mulai meragukan kasih sayang Mama selama ini, apakah itu kebohongan juga?" Hani mulai menaikan nadanya beberapa oktaf.


Hani seketika berdiri saking marahnya, dia tak bisa lagi menahan semuanya.


"Sayang, kamu berani menaikkan nada mu terhadap Mama, apa sebenarnya kesalahan Mama, katakan!" nada Mama Rahma ikut naik.


Hani tersenyum miring, merasa muak dengan elakan Rahma. "Berhenti merasa paling benar. Aku tahu Mama punya anak perempuan!" pekik Hani dengan keras.


Deg.


Mama Rahma terpaku, anak sambungan mengetahui fakta yang selama ini dia sembunyikan rapat-rapat. " Darimana dia tahu?" itulah yang ada di pikiran Mama Rahma saat ini.


"Itu semua bohong!" Bantah Mama Rahma tak mau mengaku.


"Apa bukti ini belum cukup untuk mengakui semua kebohongan Mama?" Hani mengeluarkan photo untuk di berikan ke Rahma.


Rahma melihat dengan mata kepalanya sendiri photo-photo masa lalu saat bersama keluarga kecilnya yang sangat sederhana. "Darimana kamu mendapatkan semua photo ini ?" Mama Rahma berkata dengan suara yang bergetar. Kali ini dia tidak bisa mengelak dari Hani.


Happy Reading 🥰😘🙏😘


I LOVE YOU 3000😘♥️🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2