
Berjalan gontai Bintang masuk ke kamar kosnya seperti orang yang tak punya gairah hidup. Dia melempar tasnya ke sembarang arah. Bintang duduk di kasur dengan wajah yang sedih seakan-akan dunia akan berakhir sebentar lagi.
Dia kembali menatap kertas yang ada di tangannya. dia hanya bisa menyesal setelah melihat tanda tangannya dan tanda tangan Leo sudah tercantum di surat kontrak itu. "Akhhhh. kenapa tadi aku nggak bisa melawan sih, aku selalu saja terpengaruh oleh pria menyebalkan itu, Akkhh siapa pun tolong aku supaya bisa terlepas dari jeratan orang kaya yang menyeramkan seperti Tuan Leo."
"Woii. jangan ribut." Lagi-lagi Bintang di teriaki tetangga sebelah.
Bintang langsung menyumpal mulutnya dengan bantal guling.
"Tuh kan aku di teriaki lagi. Ini semua karena Tuan Leo gila itu. Aku jadi stres bicara sendiri."
"Tapi tenang aja wahai penghuni kos sebelah aku akan segera pergi dari sini dan tidak menggangu kalian lagi. Maafkan aku sudah membuat kuping kalian berdengung."
Setelah selesai meratapi nasibnya. Bintang mengemasi semua barangnya karena besok dia harus pindah tempat tinggal seperti perjanjian yang ada di surat kontrak itu.
"Selamat tinggal kasur ku yang keras, terimakasih sudah menemani ku saat aku mimpi buruk maupun mimpi indah, selamat tinggal meja yang sudah setia menampung barang-barang ku walaupun kau sudah reot, selamat tinggal kamar kos ku yang sungguh sempit ini, Hikss, aku sedih tapi maaf sebenarnya aku juga senang karena aku nggak perlu bayar kos lagi, semoga kau mendapatkan penghuni yang baru. ada baiknya juga sihh aku tinggal di apartemen Tuan Leo tapi aku pasti akan selalu bertemu dengannya setiap hari. aku pasti akan melihat wajah menyebalkan itu." Gadis itu melakukan perpisahan dengan kamar yang sudah dia tempati selama 4 tahun lamanya.
*
Pagi harinya Bintang terlihat berpamitan kepada sang pemilik kos dan memberikan kunci itu ke sang pemilik.
"Dik Bintang mau pindah kemana?" tanya sang pemilik kos dia terlihat sedih saat Bintang akan meninggalkan tempat ini.
"Maaf buk saya akan pindah ke tempat tinggal bos saya karena saya ada kerjaan tambahan disana." Bohong Bintang, dia juga terlihat sangat sedih karena ibuk kos ini sangat baik dengannya walaupun dia sering telat bayar.
"Semoga kamu betah disana ya, kalau ada apa-apa jangan sungkan kesini oke."
"Iya buk pasti, kalau gitu Bintang pamit ya udah di tunggu sama bos." Bintang menunjuk Assisten Erik yang sudah berdiri di samping mobil mewah berwarna hitam itu.
"Iya Nak."
__ADS_1
Sebelum beranjak pergi Bintang menatap kos itu sesaat. "Selamat tinggal, setelah tiga bulan mungkin aku akan kembali lagi ke sini."
"Selamat pagi Nona," Assisten Erik menunduk hormat saat pacar bosnya sudah ada di depannya dengan 2 koper di tangan gadis itu.
"Pagi Tuan Erik," jawab Bintang lesu.
"Sini saya bantu Nona. memindahkan barang anda ke bagasi."
"Tidak usah Tuan Erik, saya bisa sendiri." tolok Bintang yang tidak terbiasa di perlakukan seperti itu, biasanya dia yang harus melayani seseorang sekarang dia yang malah di layani.
"Nona jangan menolak, ini tugas saya, nanti saya di marahi oleh Tuan muda jika saya memperlakukan anda dengan cara yang tidak baik."
"Dasar Tuan gila yang senang menindas orang lemah yang ada di bawahnya, main marahin orang sembarangan, enak banget gitu, uhh selama tiga bulan aku akan terus seperti ini, kasian juga Tuan Erik punya bos kayak si Tuan gila."
Apalah daya Bintang. Dengan pasrah dia menyarahkan barangnya ke Assisten Erik. "Makasih Tuan Erik."
Dengan kecepatan sedang akhirnya Mobil itu melaju menembus keramaian kota menuju apartemen di kawasan elit, tempat tinggal yang akan di tempati Bintang selama 3 bulan kedepan.
"Tuan Erik, Apakah Tuan Leo punya kekasih?" tanya Gadis cantik yang sedang mengedarkan pandangannya menatap ke luar mobil.
Dia baru ingat akan hal ini, jika pria itu memiliki pacar pastinya dengan cepat dia akan membatalkan kontrak ini walaupun dia akan masuk penjara, karena dia tahu betul bagaimana rasanya di duakan.
"Tidak Nona."
"Kanapa Nona Bintang menanyakan itu? di mata Nona terlihat jelas tersirat kesedihan." Assisten Erik bisa melihat jelas bagaimana raut wajah Bintang dari kaca kecil di depannya.
"Anda yakin?" Bintang meragukan jawaban Assisten Erik.
"Iya Nona, terakhir tuan pacaran 2 tahun yang lalu, tapi ada satu hal yang harus saya ingatkan untuk anda."
__ADS_1
Alis Bintang mengkerut. "Apa itu?"
"Seperti yang anda ketahui Tuan muda adalah pria tampan dan kaya raya. Pastinya banyak wanita yang menginginkan Tuan muda untuk menjadi kekasihnya jadi anda harus siap-siap menghadapi para wanita itu, apalagi kalau mereka tahu anda pacar baru Tuan muda pasti meraka tidak akan tinggal diam, jadi anda harus hati-hati dan bisa membela diri, jangan mau tertindas oleh meraka, anda haru melawan. Dan Perhatian juga matan-mantan Tuan muda, mereka sampai sekarang masih terobsesi dan tidak terima di putusin oleh Tuan muda."
Panjang lebar Assisten Erik memberikan wejangan ke Bintang, dia nggak mau nanti Bintang kaget akan hal itu. Dia juga nggak mau nanti Bintang mengira Leo adalah pria yang playboy. Kenyataan nya para gadis itu yang mengikuti Leo dan ingin sekedar tidur satu malam dengan sang Tuan muda tampan.
Bintang menelan ludahnya kasar. "Waduh, susah amat jadi pacar kontrak Tuan Leo, aku jadi merinding saat membayangkan aku akan di keroyok oleh para wanita pemuja orang tampan dan kaya itu.
Bintang siap-siap kau akan babak belur, ini sih bukan pacar kontrak namanya tapi bodyguard kontrak. Hikss, nasib ku kok gini amat sih"
*
"Kau sedang apa?" Leo masuk ke kamar Bintang. dia melihat barang gadis itu berserakan di lantai.
"Apa dia buta? nggak lihat apa aku sedang merapikan barang-barang ku. main masuk-masuk aja nggak ketuk pintu, aku tahu dia yang punya tempat ini, tapi setidaknya dia mengerti apa itu privasi."
"Saya sedang merapikan barang Tuan," jawab Bintang tersenyum kaku padahal dalam hati sedang mencaci Leo.
Pria itu mengedarkan pandangannya ke semua barang yang baru saja di keluarkan Bintang dari koper berwarna pink itu. Mata Leo terfokus oleh box bening yang ada kalung di dalamnya.
Tanpa meminta ijin terlebih dahulu dia langsung mengambil box itu. Membukanya perlahan lalu melihat kalung itu.
Leo tersenyum. "Kau benar-benar Bintang kecilku," Leo ingat betul kalung itu adalah kalung yang dia berikan untuk Bintang 16 tahun lalu.
"Kenapa dia tersenyum seperti itu? Jangan bilang dia menginginkan kalung ku. Huaaaa jangan sampai itu terjadi. itu kan kalung pemberian dari kakak baik hati."
Happy Reading ♥️😘😘🥰🥰
I LOVE YOU 3000 ♥️🥰🥰🥰
__ADS_1