Bintang Kecil Ku

Bintang Kecil Ku
Jangan tinggalkan saya


__ADS_3

Di dalam mobil Leo sangat panik sampai ngomel-ngomel sendiri. "Bintang badan mu panas begini, kenapa kau bekerja sayang? untuk apa lagi kau berkerja keras seperti ini. Sudah ada aku pacar mu yang akan mencari uang sebanyak mungkin, pacarmu ini orang kaya, kau harus ingat itu." Leo mengelus pipi yang memerah akibat panas yang tinggi itu, dia sesekali mengecup kening Bintang.


"Pacar kontrak Tuan, ingat itu! Tuan muda ada-ada aja, masak Nona lagi pingsan di kasi ceramah." Assisten Erik hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah aneh bosnya jika sedang panik.


"Erik, cepat, kenapa kau lambat sekali menyetir, untuk apa aku menggaji mu mahal-mahal jika kau selambat ini. Cepat, kekasih ku segera butuh pertolongan, jika terjadi sesuatu dengan kekasihku, abis kau." Omel Leo melampiaskan rasa paniknya ke Assisten Erik.


"Maaf Tuan, jalanan sedang padat karena jam pulang kerja."


"Cari jalan lain, bodoh!" bentak Leo.


"Baik Tuan. saya usahakan."


"Sayang, sabar ya. tolong bertahan sebentar lagi, kamu pasti akan segera mendapatkan pertolongan. Maaf membuat mu menunggu, salahkan Assisten Erik yang lambat. Setelah kau bangun pukul dia. Oke."


"Lagi-lagi aku yang salah, kalau mau salahkan pemerintah kenapa macet terus di ibu kota, salahkan juga orang-orang kaya seperti anda yang memiliki kendaraan pribadi lebih dari satu. jangan bisanya ngomel terus."


Dengan keahlian mengemudi yang handal Assisten Erik menembus jalan dengan kecepatan kencang sesuai keinginan bosnya.


*


"Tuan, ini baju ganti dan makan malam untuk anda." Assisten Erik dengan sigap menyediakan segalanya untuk sang Tuan muda, karena dia tahu Tuan mudanya pasti melupakan diri sendiri jika sedang dalam kondisi cemas.


"Makasih Erik, sekarang kau bisa kembali pulang, aku sendiri yang akan menjaga Bintang disini." ujar Leo sambil melirik Bintang yang terkulai lemas terbaring di kasur rumah sakit dengan infus yang tertancap di tangannya.


"Apa anda yakin Tuan?" Tercetak wajah keraguan dia wajah Assisten Erik, dia sedikit ragu meninggalkan sang Tuan muda sendirian karena Leo biasa di layani dalam segala hal.

__ADS_1


"Tenang, aku bisa mengurus diri ku sendiri."


"Baik Tuan muda, kalau begitu saya pamit." Setelah membungkuk hormat Assisten Erik beranjak dari sana.


Tinggal lah Leo dan Bintang yang tersisa di kamar rumah sakit VIP yang luas itu.


Langkah kaki Leo secara otomatis langsung berjalan menuju ranjang pasien tempat dimana Bintang masih beristirahat. Tadi Bintang sempat sadarkan diri saat di tangani oleh dokter tapi sayangnya Leo tidak sempat melihat karena dia berada di luar ruangan.


Gerakan perlahan Leo duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan wajah yang tadi memerah sekarang berubah menjadi pucat pasi. beruntung panas badan Bintang sudah bisa sedikit turun setelah minum obat saat sadar tadi.


Dengan tatapan sayu Leo mulai menyatukan tangannya dan tangan Bintang. "Sayang, maafkan aku karena telah meninggalkan mu selama 2 hari ini, maaf karena aku tidak memperhatikan mu dengan baik. Semua ini salah ku, aku sangat menyesal." Leo meluapkan isi hatinya kepada Bintang yang tengah terbaring tanpa bisa merespon ucapan pria itu.


Lama Leo memandangi wajah Bintang menunggu gadis itu sadar tapi sayangnya Bintang tak kunjung membuka mata.


Leo melihat jam. "Jam 11 malam." gumamnya.


Setelah pakaiannya sudah berubah menjadi lebih casual. Leo memutuskan untuk menyantap makan malamnya, pria itu harus makan walaupun napsu makannya hilang, dirinya harus kuat demi Bintang.


Setelah makan malam, Leo duduk di sofa sambil fokus dengan laptopnya untuk membalas beberapa email penting. Dia juga sesekali melihat keadaan sang kekasih.


Sedangkan Bintang mulai bergerak dengan dahi yang mengernyit, terlihat dia sangat gelisah, dengan mata yang terpejam dia menggeleng kan kepala ke kanan dan ke kiri dengan perlahan tapi sesaat kegelisahan itu semaki menyeruak di ikuti dengan gelengan kepala yang semakin kencang. "Jangan, jangan! Lepaskan! Lepaskan aku!" Bintang berteriak histeris dengan mata yang masih setia terpejam tak mau terbuka.


Leo yang melihat itu langsung menghempaskan laptopnya asal ke sofa dan dengan sigap menghampiri Bintang yang tengah berteriak histeris. "Bintang kamu kenapa? sadarlah!" Ujar Leo dengan panik, Dia memegang tangan Bintang yang memberontak untuk menenangkan gadis itu.


Namun Bintang malah semakin berontak melawan.

__ADS_1


"Akkhhhh, lepaskan aku, lepaskan, hiksss. Lepaskan." pekik gadis itu terus memberontak menolak Leo yang sedang menggenggam tangannya. Karena tidak sadar mungkin dia mengira Leo adalah penjahat dalam mimpinya.


Dengan sigap Leo langsung memeluk Bintang yang sudah ketakutan setengah mati. Leo takut jika Bintang semakin berontak gelang infus itu akan terlepas dengan paksa dan membuat Bintang terluka. "Tenang Bintang, ini aku Tuan Leo mu, sadarlah," ujar Leo memeluk Bintang dengan erat.


Setelah mendengar suara Leo akhirnya Bintang mulai bisa tenang. Dia membuka mata perlahan dengan napas yang terengah-engah di dalam pelukan Leo. "Apakah anda Tuan Leo?" tanya Bintang pelan, gadis itu bisa mencium aroma badan Leo yang sangat familiar.


"Iya ini aku. Tenanglah."


"Jangan tinggalkan saya Tuan, jangan tinggalkan saya. Hikss, saya takut, saya takut." tangis Bintang pecah sambil memeluk erat Leo seakan tak ingin di tinggal. Dia mencari kenyamanan di dada bidang Leo, menempelkan wajahnya di tubuh besar itu.


Secara pelan Leo mengelus punggung Bintang lembut. "Aku akan disini, tak akan meninggalkan mu sedikit pun, aku janji padamu, bagaimana pun keadaannya aku akan selalu bersama mu selamanya."


Akhirnya Bintang mendapatkan ketenangannya, matanya mulai terpejam lagi dengan air mata yang masih meleleh di pipinya. Dia tertidur di pelukan Leo.


Mendapati tak ada pergerakan dari Bintang dan tangan gadis itu yang mulai kendur, Leo memutuskan merebahkan tubuh gadis itu secara hati-hati agar gadis itu mendapatkan kenyamanan saat tidur.


"Ehhhh," Lenguh Bintang, dia tersadar dan langsung kembali memeluk Leo dengan erat. "Jangan tinggalkan saya," gumam Bintang dengan mata yang terpejam.


Leo tersenyum. "Kau sangat mencintai ku ya, sampai takut di tinggal oleh ku." ujar Leo yang masih saja bisa Narsis di kondisi seperti ini.


"Baiklah, kalau ini maumu, nanti kalau kau tersadar jangan marah dengan ku ya. jangan tendang aku seperti waktu itu, sakit tau, hehehhe" ujar Leo memperingati Bintang sambil cekikikan karena mengingat kejadian waktu itu. Disanalah pertama kali dia merasakan bibir manis Bintang.


Akhirnya Leo ikut naik ke ranjang pasien untuk menemani Bintang tidur. Dia tidur tepat di samping Bintang sambil memeluk gadis pujaan hatinya. "Kenapa kamu bisa ketakutan seperti ini sayang? Apa yang membuatmu takut? Apa kamu bermimpi buruk?" Banyak pertanyaan di benak Leo.


Dia terus mengelus punggung Bintang sampai dia ikut terlelap karena dia juga sangat mengantuk dan lelah habis perjalanan jauh.

__ADS_1


Happy Reading ♥️😘😘🥰


I LOVE YOU 3000🥰♥️🥰😘♥️


__ADS_2