
"Kenapa Mama begitu takut untuk menemui dan berhubungan dengan Bintang? bukankah seharusnya dia rindu dengan Bintang, Mama terlihat lebih mementingkan keluarga ini di bandingkan anak kandungnya sendiri, di balik semua ini pasti ada rahasia yang lain yang berusaha di sembunyikan dari ku." gumam Hani dalam hati, ada kecurigaan terbesit di pikirannya.
"Aku mohon lakukan demi aku Ma, kalau tidak aku sendiri yang akan memberi tau Papa tentang masalah ini." Ancam Hani, dia terpaksa menggunakan ancaman kali ini. Hani merasa berhutang dengan Bintang yang merasakan penderitaan selama 16 tahun karena jauh dengan sang ibu, walaupun ini bukan salah Hani namun dia tetap merasa bersalah dengan apa yang di alami oleh Bintang, dia menyesal pernah berbahagia di atas penderitaan Bintang sewaktu kecil.
"Baiklah, Mama akan menemui Bintang."
Hani tersenyum senang, namun di hatinya terbesit rasa takut kehilangan sang Mama, bagaimana jika Mama Rahma akan kembali ke Bintang dan meninggalkan dirinya. "Makasih Ma." Hanya kata itu yang bisa keluar di tengah kegelisahan yang dialami Hani.
Di tempat lain, Leo, Bintang dan Assisten Erik sudah sampai di apartemen.
Bintang memasuki apartemen mewah yang biasa dia kagumi itu dengan lesu dan murung. Leo dapat melihat tak ada perubahan dari raut wajah Bintang semenjak tadi, gadis itu tetap murung.
Leo menarik tangan Bintang yang melenggang ingin masuk ke kamarnya. "Bintang, tunggu, aku akan menemanimu ya?" ujar Leo menawarkan dirinya.
Bintang membalik badanya lalu menatap Leo dengan sendu. "Tuan, lebih baik anda bekerja saja, saya tak perlu di temani, saya baik-baik saja, saya bukan orang yang lemah, anda tak tahu seberapa berat hidup yang pernah saya lalui, lebih berat dari ini, saya mohon berikan saya ruang untuk menyendiri, saya ingin menenangkan diri saya sendiri." ujar Bintang dengan suara lemah, dia tak sanggup lagi untuk mendebat Leo seperti biasanya, jiwa dan raga gadis malang itu sudah lelah dengan semua hal yang terjadi di kehidupannya.
"Aku tahu apa saja yang pernah kau lalui Bintang, aku tau itu sangat berat, bahkan aku kagum padamu tetap bisa bangkit walaupun berkali-kali di jatuhkan." Leo menatap Bintang dengan sayu, hatinya ikut sakit melihat Bintang sedih.
"Kau yakin?" ujar Leo sekali lagi ingin memastikan keinginan Bintang.
__ADS_1
Bintang mengangguk lemah, ada rasa putus asa dari mata gadis itu.
Perlahan Leo melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan tangan Bintang, dia merelakan melepaskan Bintang untuk berjuang melawan rasa sedih seorang diri.
Leo menghembuskan napas kasar saat melihat Bintang sudah masuk ke kamar. "Aku harap kamu bisa kuat Bintang kecil ku, aku tak tahu apa yang ada di dalam pikiran mu, namun aku bisa merasakan kegelisahan di sana, aku akan berusaha membantu mu untuk bangkit lagi, tak ada yang akan bisa membuat mu bersedih lagi, aku akan melawan siapapun yang berani menyakiti mu."
"Erik, kita kembali ke kantor," ujar Leo memerintah.
"Baik Tuan," ujar Assisten Erik yang dari tadi menunggu di depan pintu apartemen. Dia segera mengikuti Leo yang berjalan mendahului dirinya. "Tuan muda meninggalkan Nona Bintang? perasaan tadi Nona terlihat sedih." gumam Assisten Erik dalam hati.
Di dalam kamar, Bintang menghempaskan tubuhnya di kasur empuk berukuran king size itu dengan kasar. Dia terdiam sejenak sambil memandang langit-langit kamar yang berwarna putih. "Harusnya aku senang, Kan?" Bintang tersenyum miris meratapi dirinya yang tak berbahagia padahal sebentar lagi akan bisa bertemu dengan sang ibu yang selama 16 tahun tak pernah dia jumpai.
Gadis itu merasa sedih karena dia merasa tidak percaya diri untuk menemui sang Mama, dia sadar dengan masa lalunya yang kelam, dia takut jika sang Mama tak menerima itu, apalagi Bintang saat ini tak memiliki apapun bahkan jika bukan karena Leo, dia tidak mungkin bisa merasakan kehidupan yang lebih baik seperti sekarang, mungkin saat ini dia masih berjuang demi sesuap nasi untuk bertahan hidup dan berjuang untuk membayar kos agar tetap mendapatkan kehangatan serta tempat berteduh.
Tak terasa langit yang cerah sudah berganti menjadi hitam menandakan malam hari telah tiba.
Mobil yang di tumpangi oleh Leo memecah jalan kota yang ramai dengan kecepatan sedang.
"Erik, apa kau sudah menyiapkan apa yang aku mau?" tanya Leo sambil matanya sibuk dengan ponselnya.
__ADS_1
"Sudah Tuan, nanti saya sendiri yang akan mengontrol agar semuanya lancar." jawab Assisten Erik.
"Kerja bagus, aku harap itu bisa sedikit membuat Bintang merasa lebih baik, kau bisa lihat bagaimana wajah sedihnya tadi, aku tidak mengerti kenapa dia masih saja sedih padahal akan bertemu dengan ibu yang selama ini dia cari?" ujar Leo yang tak mengerti dengan isi pikiran Bintang, apa yang gadis itu pikirkan sehingga sedih yang berkelanjutan.
"Pasti ada yang mengganjal pikiran Nona Bintang, mungkin hal itu tak bisa Nona bicarakan dengan anda."
"Aku ingin tahu apa yang mengganjal pikiran kekasih ku, aku akan segera membantunya untuk mengatasi masalah yang sedang dia hadapi, tak mungkin aku membiarkan dia menanggung beban sendirian, ini tak boleh terjadi, aku harus menjadi tempat pertama untuk Bintang bersandar." ujar Leo.
Assisten Erik dapat melihat kegelisahan di wajah Tuan mudanya. "Ini pertama kalinya aku melihat Tuan muda gelisah karena perempuan, biasanya dia tidak peduli dengan urusan orang lain selain keluarganya, sikap cuek selalu Tuan muda tunjukkan kepada pacar-pacar sebelumnya. Nona Bintang sangat spesial bagi Tuan muda. Walaupun Tuan muda terkenal selalu berganti pasangan namun dia setia mencintai Nona Bintang dari semenjak Nona Bintang kecil. Sungguh cinta sejati yang dimiliki Tuan muda untuk Nona Bintang."
"Erik, aku tidak membayar mu dengan gaji yang besar hanya untuk bengong, cepat berikan solusi mu, kau biasanya ahli tentang percintaan, kau ahli dalam membujuk istri mu." ujar Leo yang kesal di abaikan oleh Asisten Erik.
"Menurut pendapat saya, perempuan itu maunya di mengerti walaupun meraka tidak memberitahu kita apa yang sebenarnya mereka pikirkan, wanita sangat ingin pasangannya peka, maka dari itu saya sarankan anda untuk berinisiatif duluan menanyakan hal yang sedang mengganjal di hati Nona, tapi anda harus melakukannya secara perlahan agar Nona bisa nyaman bercerita dengan anda, buat suasana sebaik mungkin." ujar Assisten Erik memberikan saran ke Bosnya yang pertama kali di mabuk cinta.
Leo manggut-manggut setuju dengan saran dari gurunya yang sebenarnya juga amatir, Assisten Erik bahkan sampai saat ini belum bisa memahami perempuan dengan baik, perempuan sangat susah di tebak. Tak ada yang bisa mengerti jalan pikiran seorang perempuan.
Happy Reading ♥️♥️♥️😘🥰
I LOVE YOU 3000🥰😘♥️😘😘
__ADS_1