
Perlahan Maya menaruh barang belanjaannya di lantai, setelah Maya terlepas dari jeratan paper bag itu, dia dengan gerakan cepat merogoh ponsel yang ada di tasnya. "Erik?" gumam Maya setelah melihat layar ponselnya. "Pasti ini atas perintah kakak, malas sekali dengan kakak ku yang satu ini. Suka sekali menggangu kesenangan ku."
Maya menggeser layar ponselnya lalu mengangkat telepon itu dengan malas. "Ada apa?" ketus Maya.
"Apa Bintang sudah makan siang?" Terdengar suara bas Leo sang kakak bertanya bukan Assisten Erik sang pemilik ponsel. Tapi Maya sudah menduga itu dan tak terkejut sama sekali.
"Oh jadi Kakak hanya menayangkan Bintang saja? dan tak peduli dengan adikmu sendiri."
"Apa itu Tuan Leo yang telepon? ngapain dia menghubungi Nona Maya? Apa untuk menanyakan uangnya yang habis? bisa gawat jika itu benar." Belum tau kebenarannya Bintang sudah takut duluan.
"Jawab saja, nggak usah banyak bicara," ketus Leo balik, adik kakak ini memang tak pernah bisa akur.
"Ini bicara sendiri dengan Bintang, kau kan hanya ingin tahun tentang Bintang."
Sebelum memberikan handphonenya ke Bintang, Maya terlebih dulu mengaktifkan mode loud speaker agar dia bisa menguping pembicaraan sang kakak, biasalah Maya si tukang kepo urusan kakaknya.
"Bintang ini kakak ku ingin bicara." Maya menyerahkan benda pipih itu kepada Bintang.
Dengan ragu Bintang menerima ponsel yang di serahkan oleh Maya. "Halo Tuan," ujar Bintang dengan gugup.
"Apa kamu sudah makan siang?" tanya Leo yang suaranya berubah menjadi melembut.
Dan Maya bisa mendengar perubahan suara sang kakak, berbeda jauh saat berbicara dengannya tadi."Dasar bucin, sama Bintang suara di buat-buat manis, lembut, penuh kasih sayang, cobak sama adiknya kerjanya pasti ngomel muluk. Kakak menyebalkan."
Setelah mendengar suara Leo yang lembut, Bintang bisa sedikit merasa lega. Itu tandanya Leo belum tau kelakuannya yang belanja begitu banyak. "Dia tidak terdengar marah, dia juga tidak menanyakan tentang uang, apa dia belum tau? baguslah kalau Tuan Leo tidak tahu, setidaknya aku aman untuk saat ini."
"Bintang, kenapa diam? Apa kamu sudah makan siang?" Leo kembali mengulang pertanyaan nya, mungkin saja Bintang tak dengar suaranya.
"Saya belum makan siang Tuan, ini saya akan menuju tempat makan bersama Nona Maya."
"Baiklah, setelah makan siang langsung pulang dan istirahat, aku nggak mau kamu sakit lagi. Hari ini aku akan pulang lebih awal. Dan satu lagi, malam ini aku ingin makan masakanmu."
"Baik Tuan."
__ADS_1
"Kalau gitu aku tutup panggilan nya."
"Iya Tuan."
Tutt, panggilan terputus.
"Ini ponsel anda Nona." Setelah panggilan terputus Bintang langsung menyerahkan kembali ponsel milik Maya.
"Kalian ini tak ada romantisnya ya, nggak ada ucapan I love you gitu di akhir percakapan? apa setiap hari kalian seperti itu? gaya pacaran kalian sangat membosankan." celoteh Maya mendengar percakapan kedua sejoli yang terdengar canggung satu sama lain, serta tata bahasa yang begitu formal, berbicara seperti seorang sekretaris dengan atasan.
"Bagaimana bisa romantis, aku kan cuma kekasih kontrak, dan kita juga baru kenal. bahkan ini pertama kalinya aku melakukan panggilan telepon dengan Tuan Leo."
"Nona, lebih baik kita mencari makan siang," ujar Bintang yang tak mau membahas hal tentang hubungan meraka.
"Baiklah, Ayo." Mala mengerti bahwa Bintang menghindari membicarakan masalah itu jadi Maya tak mau memperpanjang nya. Maya menghargai privasi gadis itu.
*
"Bintang, setelah makan siang kita ke salon yuk," ujar Maya sambil mengunyah makanannya.
"Kamu penurut banget sih, nggak asik deh, tak usah hiraukan perkataan Kakak ku, dia nggak bakal tau juga." Maya heran kenapa calon kakak iparnya ini begitu penurut dengan sang kakak. "Beruntung sekali kakak ku mendapatkan calon istri yang penurut dan tak suka memberontak."
"Tapi Nona, Tuan Leo kan bilang akan pulang lebih awal dan Tuan Leo ingin di masakin makan malam." Begitu kekehnya Bintang menjalankan perintah Leo. Dia sebenarnya tidak patuh dengan Leo tapi dia tak mau menghabiskan uang Leo lebih banyak lagi.
Maya memutar bola matanya malas . "Ya ampun Ini baru jam 1 siang Bintang, kau masih punya banyak waktu untuk menyiapkan makan malam."
"Aku harus pakaian alasan apalagi untuk menghindari ajakan Nona Maya, dia sama kekehnya seperti Tuan Leo, tak bisa di sangkal lagi mereka adalah adik kakak." Bintang sempat sedikit bingung untuk mengelabuhi adik dari kekasih kontraknya ini.
"Ini bukan karena Tuan Leo tapi saya harus istirahat karena saya merasa sedikit pusing." Bintang berpura-pura memijat kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak pusing.
"Oke baiklah, tapi lain kali temani aku ya." pasrah Maya.
"Iya Nona."
__ADS_1
"Hufttt, akhirnya Nona Maya menyerah juga untuk mengajak ku ke salon, pasti sangat membosankan jika harus di salon berjam-jam dan uang Tuan Leo pasti akan semakin terkuras lebih dalam lagi."
Kelegaan jiwa dan raga seorang Bintang akhirnya tercapai juga, dia bisa terlepas dari jeratan serta obsesi Maya terhadap dirinya.
*
"Nona terimakasih atas tumpangannya," ujar Bintang yang sudah turun dari mobil hitam yang di kendarai oleh Maya dengan paperbag memenuhi tanganya.
"Kau yakin tidak mau di antara sampai atas? yakin tak mau aku bantu membawa barang belanja mu?" ujar Maya yang masih di dalam mobil.
"Saya yakin Nona, saya bisa kok sendiri."
"Oke deh, kalau gitu aku pulang dulu ya, Byeee calon kakak ipar."
"Byeee, hati-hati Nona." dengan ragu Bintang melambaikan tanganya pelan.
Setelah menutup kaca mobil, Maya melajukan mobilnya meninggalkan Bintang yang masih berdiri di pelataran apartemen.
Setelah sampai di kamar, Bintang menaruh semua barang-barang yang membebani tanganya di walk-in closet.
Dengan kasar dia melempar tubuhnya di sofa. "Uhh, pegalnya kaki ku, setengah hari keliling mall capek juga ya, Nona Maya kenapa nggak ada kelihatan capeknya sama sekali sih, malah raut wajahnya begitu bahagia bisa menghabiskan waktu di tempat ramai seperti itu."
Saking lelahnya Bintang perlahan memejamkan mata lalu terlelap tidur di sofa dengan posisi duduk.
"Ma, jangan tinggalin Bintang. Ma, Mama, jangan tinggal Bintang. Bintang janji nggak akan nakal. Mama!" pekik Bintang keras.
Gadis cantik itu terbangun dengan keringat dingin yang membasahi dahinya, dia berusaha mengatur napasnya yang ngos-ngosan. "Cuma mimpi." gumam Bintang.
Rekaman memori saat dulu dirinya masih kecil berlari mengejar sang ibu yang meninggalkan nya, kembali datang di dalam mimpi Bintang yang sekarang sudah beranjak dewasa.
"Mama, aku sangat merindukanmu, hari ini akhirnya Bintang bisa menemukan Mama tapi sayangnya Mama tak mengenaliku, tapi Bintang janji akan menemui Mama lagi dan memeluk Mama dengan erat."
Happy Reading ♥️♥️♥️😘
__ADS_1
I LOVE YOU 3000🥰♥️😘😘