Bintang Kecil Ku

Bintang Kecil Ku
Dunia begitu sempit


__ADS_3

"Tapi sayang, Mama belum mendapatkan baju yang Mama inginkan," ujar Rahma.


"Kita cari di toko yang lain saja Ma, aku melihat baju yang Mama mau ada di toko itu. Ayo Ma." Hani menarik tangan Rahma seperti enggan untuk berlama-lama disana.


Dengan wajah bingung Rahma mengikuti langkah Hani, dia sedikit penasaran kenapa putri sambungan seperti takut dengan gadis yang baru saja menabraknya. "Seperti ada yang aneh dengan Hani? tak biasanya dia menghindari seseorang. Gadis itu juga seperti mirip seseorang, tapi siapa? aku tak ingat sama sekali."


Yang bisa Bintang lakukan hanya diam menatap sendu kepergian wanita paruh baya yang bernama Rahma itu, dia tak mampu menghentikan sang Mama, dia hanya orang asing bagi ibu yang telah melahirkannya itu. "Apa Mama tak ingat aku? aku sudah besar Ma, apa Mama tidak merasakan sesuatu saat melihat ku? kenapa Mama terlihat biasa saja? tak adakah ikatan batin bergejolak saat melihat ku." Air matanya ingin tumpah karena ini adalah moment yang dia tunggu selama 16 tahun lamanya namun pertemuannya tak seindah yang dia bayangkan.


"Tahan Bintang, kamu harus kuat, kamu tak boleh menangis, sudah cukup kamu menangis selama 16 tahun terakhir."


Ada rasa marah menyelimuti hati Bintang karena di tinggalkan dari kecil oleh sang Mama namun dia tetap merindukan sang Mama dan ingin bertemu dengan sang Mama. Dan akhirnya hari ini tiba, dia bisa bertemu dengan sang Mama tapi dia tak dapat melepaskan rasa rindu yang selama ini dia pendam, hanya bisa diam membeku dengan hati yang bergejolak, Bintang tak mengerti apa yang dia rasakan saat ini, dia merasa senang, sedih, marah, penasaran, bingung, semua bercampur aduk menjadi satu.


"Mama dan Nona Hani terlihat sangat dekat, apa mungkin Nona Hani adalah anak Mama dari pernikahan yang lain, jika iya berarti Nona Hani adalah saudaraku? kenapa dunia ini begitu sempit, aku harus menggali informasi dari Tuan Leo untuk mencari kebenaran."


"Dorrr." Maya mengangetkan Bintang yang sedang melamun meratapi kepergian sang Mama yang selalu ini dia rindukan.


"Ehhh, Nona Maya." Lenguh Bintang yang sedikit terperanjat di kagetkan oleh Maya yang tiba-tiba datang entah dari arah mana, Bintang terlalu fokus memperhatikan Hani dan sang Mama sehingga tak sadar ada Maya yang datang.


"Kamu kenapa berdiri disini? aku nyariin lo dari tadi, kamu sudah pilih pakaian yang kamu mau?" Maya tak melihat satupun sesuatu di tangan Bintang makanya dia bertanya seperti itu.


"Saya sedang melihat-lihat saja, anda sudah selesai?"


"Jangan hanya lihat-lihat saja, tapi harus beli, cepat beli yang kamu mau lalu kita akan lanjut belanja di tepat lain," ujar Maya dengan entengnya.


"Nona Maya saya tak menginginkan apapun, ayo kita ke kasir." Bintang berusaha menghindari pemaksaan dari Maya yang terus berusaha mempengaruhi dia untuk berbelanja.


"Susah juga ya punya colan kakak ipar yang nggak matre, biasanya wanita akan senang di manjakan oleh uang, tapi Bintang berbeda, dia terlahir dari keluarga sederhana, hidupnya juga tergolong susah tapi dia tidak terbuai dengan kekayaan kakakku, sungguh wanita langka."

__ADS_1


"Bintang, kamu ini susah banget ya di bilangin, pokoknya kamu harus beli apa yang kamu mau, hari ini kita wacananya adalah membelikan semua perlengkapan kamu, kalau nggak mau aku bakal ngambek." Setelah mengatakan itu Maya memalingkan wajahnya seperti orang yang sedang merajuk.


"Ya Tuhan, adik kakak sama saja suka memaksa. Sedikit saja sudah ngambek. Sama persis seperti Tuan Leo."


"Baiklah Nona, saya ambil ini," ujar Bintang mengambil sepatu putih yang emang dari tadi dia dambakan.


Senyuman manis langsung terpancar dari wanita cantik itu. "Gitu donk." ujar Maya menepuk pundak Bintang.


Hanya senyuman pasrah yang terpatri di wajah Bintang. "Tak peduli dengan kemarahan Tuan Leo, lagipula bukan aku yang meminta untuk berbelanja, Kan? adiknya sendiri yang memaksa, nanti kalau aku di marahi, bilang saja Nona Maya yang memaksa. Bukan salah ku."


Maya yang gila belanja terus menarik tangan Bintang dari satu toko ke toko lain, dan di setiap toko pasti ada saja yang mereka beli sampai tangan mereka sudah penuhi dengan paper bag.


"Kira-kira berapa ya harga semua total belanjaan ini, kenapa aku jadi menyesal menuruti Nona Maya, sepertinya aku sudah belanja berlebihan deh. Bintang bersiaplah kau akan kena marah." Yang Bintang pikiran hanyalah masalah uang, tak henti-hentinya dia khawatir tentang hal itu, dia terus menghitung di dalam otaknya berapa ya sudah dia habiskan. Dia hampir lupa dengan kakinya yang sudah lemas karena terus berjalan ke sana kemari dari tadi pagi.


"Bintang, ini sudah siang, kau pasti lelah dan lapar, ayo kita cari makan dulu sebelum melanjutkan pemburuan kita."


"Itu ide yang bagus Nona."


Tak terasa mereka sudah menghabiskan banyak waktu di pusat perbelanjaan sehingga tak sadar sudah jam 1 siang. Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari makan siang terlebih dahulu.


Di kantor, Leo baru saja selesai meeting dengan klien dari luar kota. Dia menghempaskan tubuhnya ke sofa untuk sedikit merengangkan tubuhnya yang pegal akibat duduk terlalu lama.


"Tuan, waktunya makan siang," ujar Assisten Erik.


"Apa jadwal kita selanjutnya?" tanya Leo.


"Jam 3 siang anda ada pertemuan dengan para investor pembangun Mall."

__ADS_1


"Pesankan saja makanan, kita tak punya waktu untuk makan siang ke luar. "


"Baik Tuan."


"Bagaimana Bintang? apa dia sudah pulang? apa dia sudah makan siang?" Tanya Leo bertubi-tubi, dia baru teringat kalau Bintang sedang ke Mall bersama Maya. Terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai lupa dengan sang kekasih


"Bagaimana aku bisa tahu, dari tadi aku meeting bersamanya, punya bos suka ngadi-ngadi."


"Saya belum mendapatkan kabar apapun Tuan, tapi ada pemberitahuan transaksi menggunakan kartu kredit anda di beberapa toko sebanyak 700 juta." Lapor Assisten Erik, dia tahu kalau bosnya memberikan kartu kredit ke Bintang.


Leo tampak santai mendengar nominal yang sangat banyak itu, dia tidak peduli dengan uang, yang terpenting Bintang senang. "Telepon Maya sekarang."


"Baik Tuan." Assisten Erik segera mengambil benda pipih seharga motor itu dari sakunya.


Kringgg.


Ponsel Maya yang berdering menghentikan langkah Maya dan Bintang yang tengah berjalan menuju gerai makanan. "Bintang, aku ingin mengangkat telepon dulu." ujar Maya.


"Baik Nona," jawab Bintang yang ada di belakang Maya.


"Siapa yang telepon sih! nggak tau lagi bawa barang belanjaan banyak apa! gini lah susahnya nggak bawa pengawal. Kenapa aku bisa lupa tentang hal itu sih." gerutu Maya yang sedang ribet dengan barang belanjaan yang memenuhi tanganya.


Bintang yang melihat itu juga tak bisa berbuat banyak karena tanganya juga di penuhi dengan belanjaan. "Maaf Nona kali ini saya tidak bisa membantu anda, inilah akibatnya jika anda belanja berlebihan."


Happy Reading ♥️♥️♥️😘


I LOVE YOU 3000😘♥️🥰♥️

__ADS_1


__ADS_2