
"Siapa yang mengijinkan mu melawan ku." bisik Leo tepat di telinga Bintang.
Bintang langsung merinding mendengar bisikan yang mengerikan itu.
Bak bisikan setan yang akan siap membawa nya ke neraka. Dia hanya diam menunduk sambil meremas tangannya. tak berani menjawab ucapan Leo.
"Tuhan tolong aku, kenapa sih aku harus bertemu orang menyeramkan seperti ini. rasanya aku ingin mati saja. Tuhan lihatlah badanku sudah gemetaran. apa kau tidak kasian padaku? tolonglah hambamu ini."
"Kau sangat tidak sopan ya? lihatlah wajahku, aku sedang bicara padamu gadis nakal." bisik Leo lagi.
Perlahan tangan Leo mengelus pipi Bintang dengan punggung tangannya. "Kenapa kau sangat keras kepala? Apa kau mau di hukum seperti kemarin." ujar Leo sambil tersenyum menggoda.
Bintang sedikit menyerinyit karena merasa risih di sentuh seperti itu. dia sampai berkeringat menghadapi godaan pria itu. "Gimana ini? Hikss, hikkss. aku nggak mau di cium sembarangan lagi oleh pria menyebalkan ini tapi aku takut melihat matanya yang tajam."
"Nona kenapa anda tidak nurut aja sih, Tuan muda itu cinta mati dengan anda, anda tidak tahu aja Tuan muda sampai menangis hanya dengan mendengar sekilas tentang kehidupan anda. Kenapa harus keras kepala dan memancing Tuan muda yang agak gesrek itu. Bersiaplah anda di jahili seperti aku dulu. hiks, Hikss. aku bangga dengan diri ku karena bertahan bekerja dengan bos yang Menyebalkan seperti dia."
Perlahan Bintang menoleh ke samping. dia dapat melihat Leo yang sedang tersenyum manis. Tapi baginya itu adalah senyum mengerikan yang siap membunuh mentalnya.
Bintang mendongak sedikit. Mata Meraka bertemu dan terkunci beberapa saat sebelum Leo mulai bersuara.
"Dengarkan aku." ujar Leo dengan lembut, dia menatap Bintang dalam.
Gadis itu secara otomatis mengangguk seperti terhipnotis dengan tatapan pria itu. "Tatapan nya berubah lembut. Apa itu benar atau aku yang salah menilai." gumam Bintang.
"Apa kau lupa jika pacaran kontrak ini untuk melunasi hutang mu. jadi kau harus siap menebus dengan cara bersikap menjadi pacar ku walaupun itu hanya sebuah pacaran kontrak. Apa kau masih belum mengerti?"
"Sa sa sa...ya tahu ta...pi itu terlalu berlebih." Bintang berubah menjadi gagu saking takutnya.
Leo mendekat lalu menyatukan dahinya dengan dahi Bintang. dan berhasil membuat bintang semakin gugup mata gadis itu berkedip beberapa kali.
"Kenapa aku jadi kaku begini. Lawan dia Bintang, kenapa dia bisa menguasai mu seperti ini."
Tangan Leo terangkat merapikan rambut Bintang lalu menyelipkannya ke belakang telinga gadis yang tengah gugup itu. "Jika kau keberatan bersiaplah masuk penjara," ujar Leo halus tapi berhasil membuat Bintang merinding.
"Sekarang semua pilihan ada di tangan mu."
__ADS_1
"Tuhan. pilihan apa yang harus aku pilih. aku tak mau terjebak dengan pria ini tapi aku juga tak ingin masuk penjara. aku tak ingin keduanya. Huaaaa. siapapun tolong aku, apa kali ini aku harus memasukkan diriku lagi ke lingkungan orang berada, bagaimana kalau aku hanya di manfaatkan seperti dulu."
"Ku beri waktu 3 detik untuk mu berpikir karena aku sedang baik hari ini."
" Baik apanya? Gila ni orang, ngasi waktu 3 detik. Menyebalkan. Dia pikir aku robot."
"Satu." Leo semakin mendekat ke wajah bintang.
"Dua." semakin dekat lagi hingga bibir meraka hampir menyatu.
"Aduhh kok cepat benget. dia tidak pernah main-main." panik Bintang.
Assisten Erik pun ikut deg-degan melihat adegan itu. "Nona tamat lah anda. Tuan muda akan mencium anda sebentar lagi. Tuan muda sungguh mesum."
Mata Bintang terpejam di detik terakhir. "Tiiiiiii_"
"Stop." Teriak Bintang menahan dada Leo.
"Baiklah, saya akan menuruti semua yang ada di kontrak itu." ujar Bintang dengan sekali tarikan napas.
Bintang mengembuskan napas secara kasar. "Hampir saja."
"Anak baik." ujar Leo sambil mengelus rambut Bintang dengan lembut.
"Aku bukan anak-anak bodoh. jangan sentuh rambutku, tangan mu itu tidak cocok untuk menyentuh rambutku yang indah. Menyebalkan. Akkkhh aku sangat membencimu. Rasanya aku ingin membunuh mu sekarang juga, kalau bisa aku ingin merobek mulut mu itu supaya tak bisa mengancam ku." Tangan Bintang terkepal menahan amarah.
"Kau memaki ku?" tanya Leo menaikan alisnya.
Bintang tersenyum kaku. "Hahaha. tak mungkin saya melakukan itu." dia tertawa dengan kepura-puraan. siapa pun yang melihat itu pasti tahu kalau dia tidak tertawa bahagia.
"Ya aku memakai mu, memang kenapa? Apa yang ingin kau lakukan? kalau bisa aku ingin terus memaki mu seumur hidup ku." Ingin sekali Bintang berteriak seperti itu tapi apalah daya dia hanya bisa ngomel dalam hati untuk meluapkan kekesalan.
"Oke, karena kamu sudah setuju, silakan tanda tangani kontrak itu." ujar Leo tak merasa bersalah.
"Kau mengurung ku bodoh! bagaimana aku bisa bergerak. tak tahu malu sekali mulut itu berbicara."
__ADS_1
"Lepaskan saya." ujar Bintang dengan tatapan tidak suka dan Leo dapat melihat itu.
Untuk apa pria ini tetap memeluknya padahal dia sudah menyetujui segalanya. Dasar modus, pikir Bintang.
"Oke, baiklah." Leo langsung melepaskan tangan nya yang melingkar di pinggang Bintang.
Setelah itu Bintang langsung mengambil pulpen lalu sedikit menoleh Leo. "Tunggu apa lagi, silakan lakukan." ujar Leo dengan wajah tidak berdosa.
Dengan terpaksa Bintang menandatangani 2 file kontrak yang akan mencekik nya selama tiga bulan.
"Ini sih pemaksaan namanya. Siap-siap lah kau Bintang sebentar lagi akan masuk ke lubang neraka yang mengerikan."
Setelah di tanda tangani oleh Bintang. Leo mengambil nya lalu dia juga mendatangi surat kontrak itu.
"Erik apa ada yang kurang?" tanya Leo.
"Jap jempol belum Tuan muda." Setelah mengatakan itu Assisten Erik menaruh alat stempel cap jari itu di atas meja.
Leo dengan cepat langsung melakukan cap jempol tanpa basa basi sedangkan Bintang hanya bisa memaki dalam hati.
"Dasar orang ribet, kayak siswa yang lagi cap ijazah saja."
"Silakan Nona." ujar Assisten Erik yang melihat Bintang hanya terdiam sambil mengedarkan pandanganya melihat lembar kertas yang ada di atas meja.
"Ehhh. oh iya."
Bintang langsung melakukan hal seperti yang Leo lakukan tadi.
Setelah semua selesai Assisten Erik mengambil kertas-kertas tersebut dan mengecek ulang. "Nona anda bisa simpan yang ini untuk anda dan yang satunya kami yang simpan."
Dengan lemas Bintang menerima kertas kontrak itu. "Bersiaplah kau Bintang, hidup mu akan di kuasai pria ini, rasanya aku ingin menangis sekarang juga."
Berbeda dengan Bintang yang sedang meratapi nasibnya. Leo tersenyum kemenangan karena berhasil membawa Bintang masuk ke kehidupan nya yang hampa. "Terimakasih Bintang kecil ku."
Happy Reading ♥️😘🥰♥️😘🥰
__ADS_1
I LOVE YOU 3000🥰♥️♥️😘😘