Bintang Kecil Ku

Bintang Kecil Ku
Lewat perantara


__ADS_3

"Tapi dia tiba-tiba pingsan dok, cobak cek kesehatannya secara keseluruhan." Leo kurang yakin dengan apa yang dokter muda itu katakan.


"Itu tidak perlu Tuan, Nona hanya shock, mungkin ada yang memicu kenapa Nona seperti tadi. Kondisi fisik Nona tidak ada masalah." jelas sang dokter kepada pria yang terlihat panik itu.


"Oke, baiklah. Apa dia sudah sadar?"


"Sudah Tuan, ada yang di tanyakan lagi Tuan?"


"Tidak terimakasih."


"Baiklah Tuan kalau begitu saya permisi." pamit sang dokter muda lalu beranjak dari sana.


Untung nya Bintang tidak perlu di rawat di rumah sakit dan sekarang mereka sudah balik perjalan pulang.


Di dalam Mobil suasana begitu hening, tak ada yang mengeluarkan suara sama sekali.


Bintang yang ada di samping Leo tidak berniat melihat pria itu, dia hanya fokus melihat keluar mobil untuk melihat pemandangan kota yang ramai di hari Sabtu. Bintang sepertinya masih kesal dengan Leo, menurutnya Leo sudah keterlaluan. Bintang merasa hanya di manfaatkan saja oleh Leo untuk meraup kenikmatan dari tubuhnya. Leo sama saja seperti pria kaya lain yang hanya mempermainkan perasaan Bintang.


Sedangkan Leo hanya bisa melirik Bintang sesekali namun dia terlalu takut memulai pembicaraan dengan gadis itu. Dia tahu dirinya salah, pantas jika Bintang marah dan membisu seperti sekarang. "Leo kau melakukan kesalahan di hari pertama kalian hidup bersama, sungguh bodoh aku ini. Bagaimana caranya agar aku bisa meminta maaf dengannya? Dia terlihat sangat marah. Bahkan dia lebih menakutkan saat diam."


Bahkan Assisten Erik bisa merasakan aura dingin di antara keduanya. "Sepertinya aku sedang berada di Kutub Utara, Tuan sih pakai buat gara-gara di hari pertama Nona di apartemen."


Di tengah kesunyian handphone Assisten Erik berbunyi.


Ting.


Pesan masuk ke handphone Assisten Erik.


"Tuan muda? ngapain kirim pesan? Kan aku ada di depannya, Aneh." Assisten Erik dengan cepat membuka pesan itu.

__ADS_1


"Erik, tanyakan padanya apa dia lapar? atau menginginkan sesuatu?" Itulah isi pesan yang di kirim oleh sang Tuan muda.


Assisten laknat itu langsung melipat bibirnya untuk menahan tawa. "Hahah, Apa Tuan muda takut dengan Nona Bintang? Hahahah ini sangat lucu untuk tidak di tertawakan, akhirnya ada orang yang membuatnya bertekuk lutut." Assisten Erik melihat ekspresi bos nya melalui kaca kecil di depannya dan Leo tahu itu. Leo mengisyaratkan dengan kepalanya seolah berkata cepat tanyakan padanya.


Leo juga menatap tajam Assisten Erik karena dia tahu sedang di tertawakan secara diam-diam. "Dasar Assisten sialan, awas kau ya!"


"Nona apakah anda lapar? atau anda menginginkan sesuatu?" Assisten Erik bertanya dengan penuh hati-hati.


"Tidak Tuan Erik." jawab singkat Bintang yang seperti tak mau di ganggu melihat pemandangan di luar mobil.


Ting.


"Tanyakan lagi!" Leo kembali mengirim pesan ke Assisten Erik.


"Nona anda yakin tidak menginginkan sesuatu?"


"Saya yakin."


Ting.


Asisten Erik menghela napas dengan kasar. "Tuan muda kan punya mulut dan jarak mereka juga hanya beberapa centimeter. Kenapa aku sih yang harus jadi perantara. Menyebalkan."


Ting. Lagi-lagi pesan masuk. "Apa kau ingin di pecat?" Assisten Erik jadi merinding melihat pesan itu.


"Sial, Tuan muda tahu aja aku sedang memakinya di dalam hati."


Sebelum Tuannya benar-benar memecatnya, dia langsung bergegas menjalankan tugas.


"Nona. Apakah anda ingin ke suatu tempat yang bisa menenangkan anda? mungkin ke pantai atau ke sauna."

__ADS_1


Tangan Bintang langsung terkepal menandakan kesabarannya sudah habis dengan kecerewetan Assisten Erik. Dia menatap lurus ke arah depan. "Tuan Erik beritahu bos anda. Saya hanya ingin kembali pulang dan bisa beristirahat dengan tenang tanpa gangguan siapapun. Lebih baik anda fokus menyetir karena saya masih ingin hidup lama. Beritahu bos anda kalau mau mati jangan ngajak-ngajak saya." Tanpa mereka ketahui ternyata Bintang tahu gerak-gerik aneh antara Assisten dan bos itu. Bintang tahu Leo sibuk dengan handphone begitu juga Assisten Erik yang juga sibuk handphone.


"Waduh ketahun, tamat lah riwayat anda Tuan muda."


Setelah mendengar jawaban panjang lebar dari Bintang. Leo langsung diam seribu bahasa karena malu setengah mati. Dia ketahuan kalau dia itu pengecut. Pria tampan itu hanya bisa mengedarkan pandangannya ke sembarang arah karena salah tingkah.


*


"Sayang, bukankah aku kekasih mu? kenapa kamu serahkan aku ke temanmu? Hikss, Hikss. Tolong bantu aku. Tolong." Lirih Bintang dengan air mata yang sudah mengalir deras.


Bintang terbaring lemah tak berdaya di kasur dengan busana yang hampir terlepas semua. dan sudah ada 2 pria yang ada di atas tubuhnya dengan bertelanjang dada.


"Hahahaha." Tawa seorang pria tampan menggelegar di suasana kamar yang remang-remang.


Perlahan dia berjalan mendekati Bintang yang menangis memohon untuk di lepaskan. dan kedua pria yang tadi ada di atas tubuh Bintang langsung turun tanpa di perintahkan.


Pria itu tersenyum miring melihat wajah Bintang yang berantakan, terlihat wajah putus asa Bintang menatap sang kekasih.


Pria itu duduk di tepi kasur lalu mengelus pipi Bintang dengan lembut. "Kenapa kamu menangis sayangku?" ujar Pria itu halus, penuh lemah lembut.


Ada angin segar untuk Bintang karena kekasihnya mungkin akan melepaskannya dari jeratan 2 pria yang menatap Bintang dengan kilatan birahi yang tinggi. Hanya pria di depannya ini satu-satunya harapan untuk dia bisa keluar dari ruangan bak penyiksaan ini. "Sayang aku tahu kamu masih mencintai ku, Makasih sayang. Tolong bawa aku pergi dari sini, aku takut." Bintang mengenggam erat tangan sang pria. Bintang terlihat sangat ketakutan. Tubuh gadis itu bergetar hebat.


Dengan ekspresi santai tak bersalah sama sekali. Pria itu merapikan anak rambut Bintang dengan lembut.


Bukan kasih sayang yang Bintang dapat. Namun pria itu malah menekan-nekan dahi Bintang sambil mengucapkan kata-kata yang menyakiti Bintang. "Seharusnya kau menurut dan melayani teman-teman ku, kenapa kau jadi pembangkang seperti ini. Ahhh!" Bentak Pria itu, ekspresi pria itu yang tadinya tenang sekarang berubah menjadi menyeramkan.


Seluruh badan Bintang bergetar hebat mendapat tatapan mematikan dari sang pria yang Bintang panggil sebagai kekasihnya itu. "Hikss, Hikss. Kenapa kau jahat seperti ini? bukankah kamu selalu berkata sangat mencintai ku. Tapi sekarang kau malah membiarkan mereka menggauli ku. Dimana Cinta yang selalu kau gaungkan?" teriak Bintang yang sudah tak habis pikir dengan pria yang sungguh dia cintai sepenuh jiwanya ini.


"Beraninya kau melawanku gadis murahan!" Bentak Pria itu tepat di depan wajah Bintang. gadis itu sampai memejamkan mata saking takutnya. Bintang tahu betul pria itu akan berubah seperti monster jika sedang marah.

__ADS_1


Happy Reading ♥️😘🥰♥️🥰♥️


I LOVE YOU 3000🥰😘♥️😘😘♥️


__ADS_2