
Jam makan siang telah tiba, Bintang dan Nadia makan siang di pinggir jalan.
Menu makan siang mereka hari ini adalah bakso abang-abang langganan mereka.
Meraka sangat menikmati bakso yang menjadi salah satu favorit makanan dua gadis itu. selain enak alasan utamanya ya karena murah meriah.
"Bintang, bagaimana perkembangan hubungan mu dengan Tuan Leo? aku ingin deh bertemu dengan Tuan Leo, pasti wajahnya tampan sekali jika di lihat secara langsung. Hidungnya yang mancung, bulu mata yang lentik, alis tebal yang tegas, warna mata coklat yang menghipnotis, di tambah bibir merah dan agak berisi. pas untuk di kiss kiss. Uwuuuuu, kalau aku jadi kamu sudah ku eksekusi Tuan Leo di atas ranjang hehehe." Dengan wajah yang berbunga-bunga Nadia membayangkan wajah Leo yang sering dia lihat di layar televisi.
Bintang hanya bisa geleng-geleng kepala dengan otak mesum temanya ini. Nadia sungguh membuat dia tak napsu makan karena membahas tentang Leo.
"Sadarlah kawan, ini bukan dunia mimpi, lebih baik kau cuci otak mesum mu itu. Kau memujanya seakan tahu tentang Tuan Leo. Dia itu menyebalkan asal kau tahu." Bintang kesal teman nya Nadia terlalu memuji Leo secara berlebihan. membayangkan wajah Leo saja sudah membuat Bintang kesal.
Seketika Nadia memicingkan matanya menatap Bintang dengan tersenyum jail. "Cieee, cieee. Ada yang cemburu nihh gebetannya di puji, kau tenang saja, kau tahu sendiri kan aku tipe orang yang nggak suka merebut sesuatu dari teman sendiri."
Dengan cemberut Bintang memalingkan wajahnya sambil melipat tangannya di depan dada . "Siapa yang cemburu? aku berkata kenyataan, si tuan Leo itu benar-benar menyebalkan."
"Hati-hati Lo benci bisa berubah jadi cinta." goda Nadia yang senang sekali melihat raut wajah lucu Bintang saat kesal.
"Jangan sembarang, aku ini tidak mudah jatuh cinta." Jawab Bintang gugup. Entah mengapa dia ragu kalau dia bisa bertahan untuk tidak jatuh cinta dengan Leo.
"Aku berani bertaruh kau akan jatuh cinta dengan Tuan Leo, siapa sih yang nggak jatuh dalam aura pria seperti Tuan Leo." Lagi-lagi Nadia membayangkan wajah tampan Leo.
"Emmm." Nadia tersadar akan sesuatu. "Kau belum menjawab pertanyaan ku. bagaimana kelanjutan hubungan mu dengan Tuan Leo? Bagaimana perkembangannya setelah 1 minggu hidup bersama. tolong beritahu aku, aku penasaran." Mohon Nadia yang sungguh penasaran dengan hubungan sahabat nya dengan pria dari keluarga Sultan itu.
"Biasa saja," jawab Bintang cuek.
"Jangan bohong! Ayo ceritakan semuanya, ayolah. Nanti aku bisa mati penasaran, kau mau lihat temanmu ini sekarat?" Rengek Nadia memohon dengan mata yang di buat puppy eyes.
"Aku harus jawab apa? memang biasa saja, aku hanya tinggal disana tapi kami tak saling bicara." jawab Jujur Bintang. memang dia dan Leo semenjak kejadian itu tidak pernah berkomunikasi sama sekali. Bintang selalu menghindar setiap ada Leo di apartemen.
__ADS_1
"Aduuhh Bintang. harusnya kau ngajak dia bicara donk. kalau dia nggak bicara kamu yang ngajak bicara duluan." Nadia terlihat kecewa dengan Bintang yang tak bisa agresif sama sekali, padahal dia berharap temanya itu bisa mendapatkan pria seperti Tuan Leo.
"kenapa tak saling bicara? kau malu?" tanya Nadia dengan raut wajah pasrah. Dia tak habis dengan temannya ini. Mau sampai kapan harus berlarut-larut dengan masa lalu. kali ini Bintang harus mencari pria yang bisa melindungi dia.
Bintang terdiam. dia tidak ingin temanya tahu kalau Leo melakukan hal yang kurang ajar ke dirinya. kalau Nadia tahu bisa di hajar Leo.
Bintang nggak mau membawa Nadia dalam masalah lagi seperti di masalalu, dia pikir sudah cukup membebani Nadia selama ini. Dia tak mau lagi memberikan beban pikiran ke sahabat satu-satunya itu.
Kali ini dia harus berusaha menyelesaikan masalah sendiri.
Mulut gadis cantik di depan Bintang sudah di majukan sepanjang mungkin. Sebagai tanda dia sangat sebal. "Ehhh, malah bengong." Nadia geleng-geleng kepala melihat Bintang, bukannya menjawab pertanyaan malah diam membisu kayak patung.
"Heii, Bintang, jawab pertanyaan ku malah bengong." Dengan sekuat tenaga Nadia mengguncang tubuh Bintang.
"Hmmm. jangan di bahas lagi, ayo kita kembali ke cafe, jam istirahat hampir habis." Bintang berdiri dan langsung meninggalkan Nadia.
"Woii, kau belum bayar." Teriak Nadia yang di tinggal begitu saja oleh Bintang.
"Dasar teman kurang ajar, seenaknya saja. Tapi aku jadi khawatir tingkah nya selalu aneh akhir-akhir ini, seperti menyembunyikan sesuatu dari ku." Gumam Nadia yang melihat perubahan dari Bintang. dari matanya gadis itu terlihat selalu cemas.
*
"Akhhhhh, Tolong jangan lakukan itu, lepaskan, lepaskan. Akhhhh."
Dalam kamarnya yang sepi Bintang mengigau ketakutan lagi.
"Akhhhh." Bintang terlonjak bangun.
Bintang terlihat mengatur napasnya yang ngos-ngosan.
__ADS_1
"Syukurlah cuma mimpi," lega Bintang dengan wajah yang sudah di penuhi oleh keringat dingin.
Bintang bangun lalu terlihat sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya.
Setelah beberapa saat mencari, dia mengeluarkan sebuah botol obat berwarna putih.
"Terpaksa aku harus minum obat ini daripada aku harus terus bergadang dan itu bisa menggangu pekerjaan ku."
Perlahan Bintang mengeluarkan satu kapsul obat dari botol itu lalu meminumnya dan menenggak air minum yang ada di nakas sampai tandas.
Dia sudah membeli obat itu dari satu minggu lalu tapi dia ragu untuk meminumnya karena tak mau bergantung oleh obat-obatan lagi seperti dulu. tapi dia terpaksa meminumnya karena ingatan masa lalu itu terlalu menghantuinya sampai tidak bisa tidur nyenyak berhari-hari.
Beberapa saat kemudian Bintang akhirnya bisa tenang dan mengantuk. kali ini dia bisa tidur dengan lelap.
*
"Bintang aku bisa minta lip balm donk, bibir ku kering banget." Ijin Nadia yang sudah ada di depan cermin toilet.
"Iya, ambil saja di tas ku," jawab Bintang yang masih menuntaskan sesuatu di salah satu bilik kamar kecil itu.
"Oke, thank you my baibehhhh."
"Temanku ini emang baik amat," gumam Nadia, dengan wajah berseri dia membuka tas Bintang mencari lip balm kesukaannya. Nadia bisa membeli sendiri tapi entah kenapa milik Bintang selalu lebih bagus, hehehe.
Dahi gadis itu mengkerut kuat saat melihat botol obat yang tidak asing baginya. "Obat tidur? sejak kapan dia mengonsumsi ini lagi?"
"Apa lip balm nya kete_" ucapan Bintang terhenti saat mendapati Nadia memegang botol obat tidur yang dia konsumsi semalam.
Bintang menelan ludahnya kasar sambil mendekati Nadia. "Sial, aku lupa kalau di tas ada obat itu."
__ADS_1
Happy Reading ♥️😘🥰
I LOVE YOU 3000🥰♥️♥️😘😘