
"Tatapan Leo sangat berbeda saat melihat Bintang, aku bisa melihat ada cinta di dalamnya. Hahaha aku jadi cemburu dengan Bintang, tapi aku juga kagum dengannya karena mampu menaklukan Leo." gumam Hani dalam hati.
Sekarang Hani sadar kalau gadis imut yang ada di samping Leo bukan perempuan sembarangan, Bintang berharga bagi Leo, buktinya Leo sampai mau menurunkan egonya untuk menelepon Hani secara langsung. Hani cukup terkejut saat melihat nama Leo di layar ponselnya, dia kira Leo menyesal telah mengancamnya waktu itu tapi kenyataannya dia menghubungi Hani demi sang kekasih hati yang bernama Bintang.
"Bintang, kamu yakin bisa sendiri? aku mengkhawatirkan mu." Leo sepertinya enggan meninggalkan Bintang sendiri bersama Hani.
"Saya bisa menyelesaikan nya sendiri Tuan, anda tak perlu khawatir, saya tidak selemah itu," ujar Bintang, dia sadar Leo adalah orang luar yang tak harus terlibat lebih dalam permasalahan keluarganya, pria itu sudah cukup baik mau membantu mempertemukan dia dengan Hani.
"Aku tidak akan menyakitinya, kamu tenang saja." seloroh Hani ikut dalam percakapan kedua sejoli.
"Baiklah Bintang, kalau ini keputusan mu, aku akan menunggu di ruangan lain, Erik akan berjaga di luar, jika kau dalam bahaya langsung teriak."
Hani berdecak kesal, tuduhan Leo sangat berlebihan. "Aku bukan kriminal!" Seloroh Hani lagi, dia tak terima selalu di pojokkan, Leo yang meminta dia untuk datang bukan dia yang mencari masalah, bagaimana mungkin Leo malah mencurigai dia akan berbuat hal jahat.
"Beraninya kau selalu memotong pembicaraan ku dengan Bintang," Leo mendelik marah, tatapan yang tadinya menatap Bintang hangat sekarang berubah berapi seakan siap membakar Hani hingga hangus.
"Maaf," Hani merinding, bibir tebalnya yang seksi seketika meminta pengampunan, tak berani dia menyulut sumbu pendek seorang Leo.
"Aku keluar ya," ujar Leo kembali fokus ke Bintang.
"Hmmm," Bintang mengangguk pelan.
__ADS_1
Sebelum keluar Leo masih sempat memberikan isyarat ke Hani dengan mengarahkan dua jarinya ke arah matanya lalu menunjuk mata Hani dari kejauhan seolah ingin mengatakan jika berani berulah Leo lah yang harus di hadapi oleh Hani.
Ancaman Leo membuat Hani bergidik ngeri. "Tak menyangka aku menyukai seorang monster. Apa salah aku? aku kan tak menyentuh kekasihnya sama sekali, terlalu sensitif," gerutu Hani dalam hati, sikap Leo sangat kasar, saat masih jadi pacar saja sudah menyebalkan, apalagi sudah jadi mantan. Hani sadar dulu Leo hanya memanfaatkan nya saja sebagai teman di ranjang tapi dia sendiri yang salah karena merengek agar bisa menjadi pacar pria tampan yang berkuasa.
Untuk mengairi kerongkongannya yang kering akibat ancaman Leo, Dia menyeruput minuman yang ada di depannya sampai sisa setengah. "Hahh, Akhirnya aku terbebas dari tekanan pria itu." gumam Hani.
"Baik Nona Hani, pertama-tama saya ingin meminta maaf karena telah menganggu hari anda yang berharga dan terimakasih sudah meluangkan waktu untuk bertemu dengan saya hari ini. Saya mengundang anda kesini untuk membicarakan sesuatu."
Sesaat Bintang mengeluarkan beberapa lembar kertas yang disana tergambar hasil jepretan kamera, di photo tersebut ada dia sewaktu kecil dan kedua orang tuanya.
Bintang menaruh lembaran cetakan itu di meja lalu perlahan menggeser di hadapan Hani.
Hani mengeriyit. "Apa maksudnya ini?"
Tangan Hani terulur mengambil. Dia melihat sejenak, sepersekian detik kemudian Hani terlihat memasang wajah terkejut. "Mama Rahma?" Mata Hani membulat melihat ibu sambung yang selama ini mengasuh dia ada di photo yang di serahkan oleh Bintang, ibu sambungnya merawat dia dari umur 9 tahun jadi Hani ingat betul bagaimana wajah Rahma saat pertama kali bertemu, sama persis seperti yang ada di photo yang sedang dia pegang sekarang.
Tangan Hani sedikit gemetar. "Apa semua ini? kenapa Mama ku ada di photo ini, siapa anak kecil dan pria ini, kenapa meraka bisa berfoto bersama seperti sebuah keluarga?" tanya Hani dengan suara gelisah.
"Anak kecil yang ada di photo itu adalah saya, pria itu adalah almarhum ayah saya dan wanita yang anda sebut dengan Mama Rahma adalah Mama saya, namanya Rahma Wijaya, apakah itu benar?"
Jderr.
__ADS_1
Bak di sambar petir di siang bolong, pikiran Hani tiba-tiba berhenti, dia sesaat tak bisa berpikir dengan jernih, ibu sambungnya mengaku seorang lajang, dia merasa tertipu saat mengetahui ternyata Rahma mempunyai seorang suami dan anak perempuan.
Tubuh Hani lemas namun dia berusaha membangkitkan jiwanya agar lebih tegar untuk menggali lebih banyak informasi dari Bintang.
"Benar, namanya adalah Rahma Wijaya, dia adalah ibu sambung ku, dia menikah dengan ayahku saat aku berusia 11 tahun, namun dia mengaku lajang kepada kami, ceritakan lebih banyak, aku ingin tahu kebenaran nya." ujar Hani dengan susah payah, tenggorokannya tercekat menyelesaikan kalimat itu. Dia begitu kecewa dengan Rahma, walaupun dia hanya ibu sambung namun kasih sayang yang Rahma berikan seperti ibu kandung, itu sebabnya Hani sangat menyayangi Rahma.
Hari ini untuk pertama kalinya Hani begitu kecewa dan marah dengan Rahma. Kok bisa orang yang sangat dia sayangi mengkhianati dia dan sang ayah.
"Saat saya berusia 7 tahun, Mama dan Papa saya bercerai, Mama saya meninggalkan saya begitu saja walaupun saya sudah memohon hingga berlutut di kakinya, semenjak dia meninggalkan saya, saya harus hidup di asrama sampai lulus SMA, seumur hidup saya tak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua, saya kesepian, setelah lulus saya kira saya bisa menjalani hidup dengan Papa saya namun sayangnya Papa saya meninggalkan saya ke surga dengan begitu cepat dan meninggalkan saya sendiri di dunia yang kejam ini."
Bintang mengucapkan setiap kata dengan suara yang bergetar, air mata jatuh menyusuri pipi mulusnya namun dia menangis tanpa suara.
Dengan jiwa yang lapang, Bintang menghapus air matanya, dia tak boleh lemah, sudah cukup air matanya yang selalu habis menangisi sang ibu.
Bintang menelan ludahnya kasar untuk melanjutkan ucapannya yang sempat terpotong karena tenggorokan nya yang terasa tercekat saat mengulang kembali memori yang menyedihkan.
"Mama saya berjanji akan menjemput saya namun hingga usia saya sudah berusia 23 tahun, dia tak kunjung datang, saya sangat marah, kecewa, sedih, benci, semua bercampur menjadi satu, namun saya tetap mencintai nya, saya tetap ingin bertemu dengannya. Dia adalah satu-satunya keluarga saya yang tersisa di dunia ini jadi saya mohon kepada anda agar saya bisa di pertemukan dengan Mama saya." Air mata Bintang jatuh kembali walaupun sudah berusaha di tahan sebisa mungkin.
Hani tak kuasa menahan saat melihat Bintang menangis, tak terasa air matanya juga ikut luruh.
Bintang dan Hani berada di posisi yang sama mereka sedang berpura-pura tegar namun nyatanya ada luka di hati mereka.
__ADS_1
Happy Reading ♥️♥️😘🥰
I LOVE YOU 3000🥰😘♥️😘😘