
"Mereka melakukan itu untuk keselamatan ku, kami dari keluarga terpandang dan juga kaya raya jadi pasti banyak pesaing bisnis yang tidak suka dengan ku. Tidak aneh jika bisa saja mereka akan menyakiti ku atau menjebak ku agar reputasi ku rusak. Jadi kemanapun aku pergi secara tidak terlihat ada orang yang sedang menjagaku. Maka dari itu tak ada yang bisa menyakiti ku bahkan tak ada yang mampu menyentuh ku sehelai ujung rambut pun." Menjadi putra dari keluarga yang terkenal dan sukses emang sedikit beresiko tapi bisa atasi dengan mudah oleh keluarga Hugo.
"Susah juga ya jadi anak orang kaya, nggak punya privasi sedikit pun, semua serba di awasi. Dan hidup juga bisa terancam." gumam Bintang dalam hati.
Dengan wajah cemas Leo menunggu jawaban dari Bintang. Dia berharap Bintang bisa menerima alasan nya dan tidak marah kepadanya.
"Masuk akal." gumam Bintang sambil mengangguk-angguk seolah dia menerima alasan Leo. Alasan yang di berikan Leo memang masuk di akal gadis itu. Dia saja yang hanya sebatas pacar kontrak di selidiki kehidupannya oleh Assisten Erik. Apalagi Leo yang adalah putra keluarga terpandang yang harus menjaga reputasi.
"Saya percaya, tapi anda harus meluruskan ke keluarga anda kalau kita tidak akan menikah seperti yang mereka pikirkan. Saya tak mau menyakiti siapapun dengan memberikan harapan palsu. Apalagi sudah menyangkut Mama anda. Saya tadi juga sudah menerangkan ke Nona Maya kalau kita hanya pacaran kontrak tapi sepertinya dia masih menaruh harapan kepadaku. Dan itu membuat ku gelisah dan cemas." Bintang mengatakan yang sejujurnya, dia bahkan seharian merasa gelisah memikirkan tentang itu.
"Baiklah, kau tak usah memikirkan itu lagi. Aku akan bicara langsung ke keluarga ku." Kata-kata itu harapannya bisa menenangkan Bintang.
"Awas kau Maya, kau membuat Bintang kecil ku merasa gelisah dan cemas. Akan ku bongkar photo-photo jelek mu ke suami mu." Leo tahu betul ketakutan Maya, Wanita cantik berusia 29 tahun itu tidak suka terlihat jelek di hadapan siapapun.
"Terimakasih Tuan atas mengerti anda." Akhirnya Bintang bisa bernapas lega saat ini.
Tak jauh dengan Bintang. Leo juga merasa lega karena Bintang tidak marah kepadanya.
"Sekarang kau ganti baju lah, kita akan makan di luar. Aku yakin kau pasti rindu udara luar."
"Tapi Tuan." Bintang menunjuk lehernya dengan malu.
__ADS_1
Leo tersenyum tipis. "Kau pakai saja baju yang berkerah tinggi." Pria itu memberikan solusi untuk sang kekasih. Leo mengerti kegelisahan Bintang jadi dia tak memaksa untuk Bintang memamerkan tanda merah itu ke semua orang. Kenyamanan Bintang adalah nomor satu, dia mengesampingkan egonya.
"Baiklah." Bintang beranjak dari sana pergi ke kamar.
*
Setelah perjalanan beberapa menit akhirnya meraka sampai di Restaurant dimana mereka makan malam terakhir kali.
Leo turun dengan cepat. Terlihat pria itu menggunakan pakaian casual yang membuat pria itu tidak terlihat tegas seperti biasanya.
Dia sedikit berlari kecil memutari mobil untuk membukakan pintu mobil untuk Bintang. "Silakan Nona Bintang." ujar Leo seolah-olah dia adalah Assisten Bintang.
"Dia selalu berlebihan. Memang nya aku Tuan putri."
"Ayo masuk." Leo menyerahkan tanganya agar bisa di gandeng oleh Bintang.
Namun Bintang yang tak mengerti malah berjalan begitu saja. Sungguh tidak peka sekali gadis itu. Sehingga membuat wajah Leo berubah masam. "Dasar pacar tidak peka, nggak bisa apa romantis sedikit. Malu sekali aku, harga diriku di jatuhkan ke dasar tahan oleh gadis yang aku cintai itu. Dia memang sungguh berbeda dengan wanita yang pernah aku kencani.
Menyadari Leo tidak mengikuti di belakang nya. Bintang menoleh ke belakang. "Apa yang di lakukan pria itu. Kayak patung diam disana. Nggak tahu aku sudah lapar apa." Gerutu Bintang yang melihat Leo tertinggal lumayan jauh di belakang.
"Tuan, Apa yang ada tunggu disana? Ayo cepat." Panggil Bintang sedikit menaikkan volume suaranya.
__ADS_1
"Iya, Tunggu." Jawab Leo dengan lemas.
Setelah insiden sedikit tidak menyenangkan dan memalukan bagi Leo. Akhirnya meraka masuk ke dalam Restauran mewah itu secara beriringan.
"Selamat Malam Tuan Leo dan Nona." Seorang pelayan Restauran menghampiri mereka dengan membungkuk hormat.
"Malam. Panggil dia Nona Bintang, dia kekasih ku. Kau melakukan kesalahan fatal. Apa manager mu tidak memberi tahu mu kalau aku datang dengan calon nyonya Hugo? " ujar Leo dengan datar tapi penuh penekanan. dan berhasil membuat pelayan wanita itu gemetar ketakutan. Aura mengintimidasi Leo sangat kuat, walaupun tidak membentak namun berhasil membuat orang ketakutan setengah mati.
Bintang sedikit terpaku karena Leo tanpa ragu memamerkan ke semua orang bahwa dia adalah kekasihnya. "Apa-apa sih pria ini, kenapa harus mengumumkan ke semua orang kalau aku kekasihnya. Dan kenapa juga harus memarahi pelayan malang ini sih." Walaupun Bintang merasa kesal karena Leo memarahi Pelayan wanita itu tapi di dalam hatinya terselip rasa senang karena pria itu tanpa takut mengakui dia sebagai kekasih ke orang lain. Dia jadi merasakan Leo tidak main-main dengan hubungan mereka.
"Kenapa aku merasa dia memperlakukan ku seperti kekasih sungguhan, membuat ku kepedean saja." Pipi Bintang sedikit memerah karena khayalannya namun seketika Bintang menepis pemikiran tidak masuk akal itu. "Ingat Bintang! kau tak boleh terlena. Kalian hanya pacar kontrak. Kita hanya melakukan apa yang tertera di kontrak itu. Pria ini melakukannya mungkin karena bosan. Orang kaya biasa melakukan hal yang aneh bukan."
"Maaf Tuan, saya tidak tahu Nona Bintang kekasih anda." Lagi-lagi Pelayan itu membungkukkan badan merasa sangat bersalah.
"Selamat Malam Nona Bintang. Maaf atas kelancangan saya tadi." Sang pelayan berusaha memperbaiki kesalahan.
Wajah pias pelayan Restauran wanita itu bisa Bintang lihat dengan jelas. "Kasian banget pelayan ini. Aku juga seorang pelayan cafe jadi bisa merasakan bagaimana takutnya saat di marahi oleh pelanggan, apalagi dia yang di tegur langsung oleh pemilik Restaurant. Pastilah dia takut sekali, takut di pecat juga. Dasar pria arogan sukanya mengancam orang yang di bawah dari dirinya."
"Selamat malam. Tidak perlu merasa bersalah. jangan hiraukan pria ini." Ujar Bintang tersenyum manis lalu dia menoleh kesamping dimana Leo berada. Bintang memberikan tatapan tajam mematikan ke Leo seolah sedang memaki Leo dengan sorot matanya sehingga membuat pria itu kelabakan.
"Baik sekali Nona Bintang. Tidak seperti kekasih-kekasih Tuan Leo sebelumnya yang di ajak ke sini. Mereka sangat tidak ramah dan tidak bisa tersentuh. Tuan Leo juga terlihat takut dengan Nona Bintang."
__ADS_1
Happy Reading ♥️♥️♥️😘
I LOVE YOU 3000😘♥️🥰♥️♥️