Bintang Kecil Ku

Bintang Kecil Ku
Jatuh tertimpa tangga pula.


__ADS_3

Berjalan dengan gontai sambil membawa sepedanya yang rusak membuat Leo kasian pada Bintang.


"Maaf, aku meminta mu ganti rugi dan itu membuat mu sedih.


Ini satu-satunya cara agar aku bisa lebih dekat dengan mu, tak mungkin aku bisa melewatkan kesempatan yang sudah aku tunggu puluhan tahun."


Melihat Bintang sudah menjauh Leo memutuskan kembali melanjutkan perjalanan menuju kantor.


*


Setelah 1 jam akhirnya Bintang sampai di tempat kerjanya, dia terpaksa berjalan kaki hingga memakan waktu cukup lama untuk sampai disana. "Aku udah terlambat 1 jam, pasti lah aku akan di pecat hari ini, Sial banget sih." Bintang menghentakkan kaki kesal.


Bintang berjalan lemas lesu tapi senyuman langsung muncul di bibir tipisnya membawa sedikit harapan. "Wah, pintu belakang masih terbuka, berarti masih ada kesempatan."


Tanpa suara dia berjalan dengan pelan, mengendap-endap seperti maling.


Baru saja Bintang menjulurkan tangannya ingin menarik gagang pintu.


"Ngapain kamu?" suara seorang wanita mengangetkan.


Deg.


Bintang memejamkan mata. "Sial." dia kembali menarik tangannya karena tahu pemilik suara yang menggangu aktivitasnya untuk menyelinap masuk.


"Mampus, Buk Candra tahu kelakuan ku."


"Ehhh, Buk Candra, saya kira siapa, Selamat pagi buk." Bintang tersenyum kaku menghadap wanita cantik yang bernama Candra itu.


Tatapan mata wanita itu langsung menguliti tubuh Bintang seakan ingin memakannya hidup-hidup membuat tubuh gadis malang itu gemetar.


"Kamu terlambat lagi, dan sekarang kamu mau mengendap masuk ke dalam, memangnya saya bodoh bisa kamu kelabui, kamu itu sudah terlambat satu jam mana mungkin saya tinggal diam, sebelumnya saya bisa memaafkan karena kamu biasanya hanya terlambat beberapa menit tapi ini sudah sampai 1 jam, ini sangat membuat lambat kinerja kafe ini, saya tahu gaji kamu akan di potong tapi ini bukan sekedar masalah bayaran.


Bagi saya Tanggungjawab itu sangat penting dalam sebuah pekerjaan."


Buk Candra sudah tak tahan lagi dengan kelakuan Bintang yang setiap hari ada aja masalahnya.


Bintang hanya bisa menunduk di marahi oleh manager cafe itu.


"Maaf buk, tadi saya tertimpa kecelakaan, makanya telat," Lirih Bintang.


"Banyak alasan, ikut ke ruangan saya, kali ini kamu akan menerima surat peringatan yang kedua."


"Baik buk." Dengan gontai Bintang mengikuti manajer cafe itu.

__ADS_1


Kali ini dia mendapatkan surat peringatan yang kedua, jika satu kali lagi dia membuat kesalahan, siap-siap meninggalkan pekerjaan ini.


*


"Kenapa tu orang, jalannya lemes banget, kurang makan apa gimana sih," gumam Nadia teman baik Bintang yang masih sibuk mengelap meja.


Dia adalah teman Bintang sejak SMA, Nadia adalah anak yang baik sering membantu Bintang dalam menjalani kehidupan yang berat ini walaupun dia juga dari keluarga sederhana, bahkan pekerjaan ini juga bisa Bintang dapatkan karena bantuan Nadia si bocah cerewet tapi baik hati.


"Nadia," rengek Bintang.


Dia langsung memeluk sahabatnya itu tanpa aba-aba.


"Kamu kenapa sih, terlambat lagi? di marahin buk Candra?" tebak Nadia.


Perlahan Bintang melepaskan pelukan itu sambil cemberut.


"Lihat ini." Dia menunjukkan kertas dari Buk Candra. "Aku mendapatkan surat peringatan ke dua, Huaaaaa."


"Bukan hanya di marahi sampai Teling ku panas tapi hampir di pecat. Sekali lagi aku terlambat, aku akan langsung di pecat."


"Kenapa bisa terlambat? Telat bangun lagi? kamu sih kenapa harus kerja di Bar itu, kan kerjanya harus larut malam, bahaya juga untuk perempuan."


Berkali-kali Nadia terus menasihati Bintang karena dia sangat khawatir, takut terjadi sesuatu dengan sahabatnya yang bekerja di dunia malam, tapi dia juga paham Bintang memerlukan uang tambahan untuk memenuhi kehidupan di kota, Apalagi sahabatnya itu sedang menabung agar bisa beli motor.


Bintang menarik napas dalam-dalam siap menceritakan kesialannya. "Bukan hanya terlambat bangun tapi aku kecelakaan, aku menabrak sebuah mobil mewah milik orang kaya dan meraka meminta ganti rugi, Huaaaaa." lagi-lagi dia mewek menceritakan dirinya yang terus tertimpa kesialan.


Dengan rasa panik dia langsung mengecek kondisi Bintang dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Apa ada yang terluka?"


"Aku tidak tahu, tidak sempat melihat."


"Kamu ini ceroboh sekali, bagaimana jika terjadi sesuatu pada mu," omel Nadia seperti seorang ibu.


"Lihat lah sikumu terluka, Ayo kita obati." Nadia langsung menarik teman baiknya itu ke loker agar bisa mendapatkan penanganan dengan cepat.


"Duduk." perintah Nadia.


"Galak banget sih punya teman," gumam Bintang.


"Berhenti mengomel, aku bisa mendengar mu, aku galak karena khawatir sama kamu tahu,"


Nadia duduk di samping Bintang dan membersihkan luka Bintang dengan hati-hati.


"Awww, pelan-pelan donk."

__ADS_1


"Jangan merengek kayak anak kecil, aku lagi sibuk mengobati lukamu."


"Marah-marah aja kerjanya, dasar sahabat baik hati, apa dia tidak bosan ya selalu membantu ku, padahal kita tak ada hubungan darah, Tuhan Makasih sudah mengirim Nadia di dalam kehidupan ku."


Bintang menatap nanar sahabatnya yang sedang mengobati lukanya dengan telaten, Nadia seperti seorang ibu bagi Bintang.


"Jangan menangis, kau sudah berjanji akan selalu kuat," ujar Nadia yang sangat kenal sekali dengan sifat Bintang.


"Kamu tahu saja aku pingin nangis, dasar sahabat pengertian," canda Bintang merubah suasana.


Nadia hanya bisa tersenyum mendengar omongan Bintang yang suka nyeletuk lucu.


"Gimana ceritanya kamu bisa menabrak mobil itu?"


Bintang mulai menceritakan kejadian yang menimpa dirinya dari awal sampai akhir bagaimana dia terlihat kecelakaan karena kecerobohannya.


Dia juga menceritakan sepedanya yang rusak dan harus di taruh di bekel, dia juga jalan kaki selama 1 jam demi sampai ke tempat kerja.


"Sial banget kan nasib ku, sudah bangun telat, harus ganti rugi mobil orang yang lecet, sepeda rusak pasti akan memerlukan biaya, sekarang sampai di tempat kerja sudah langsung kena omel dan dapat surat peringatan ke 2," cerita Bintang dengan lesu menjelaskan semua kejadian buruk yang tiba-tiba terjadi dalam waktu sesaat. "Akhhh! karma apa yang aku perbuat dahulu hingga sering sial begini."


"Jangan lupa kau terluka dan harus berjalan kaki selama satu jam."


Dengan teganya Nadia menambakan kesialan yang terjadi kepada Bintang sang sahabat.


"Kau benar." Setuju Bintang. "Akhhh, Tuhan lebih baik kau bunuh saja aku!" teriak Bintang kesal dengan kehidupan yang dia punya, sejak kecil dirinya selalu menderita.


Nadia hanya bisa geleng-geleng kepala. "Sungguh kasian sekali sahabat ku ini, sudah jatuh tertimpa tangga lagi, bahkan di tabrak lagi sampai penyet."


"Huaaaaa." Bintang frustasi dengan hidupnya yang sengsara.


"Kamu sudah sarapan?" tanya Nadia.


"Belum, kamu kan tahu aku nggak pernah sempet sarapan," rengek Bintang.


Nadia mengambil tasnya dan mengeluarkan sebungkus roti dari dalam sana. "Ini makan dulu, nggak baik kerja dengan perut kosong."


"Hehehe, Makasih ya, kamu memang sahabat ku yang terbaik,"


Bintang memeluk Nadia dengan erat dan mengguncang tubuh Nadia setelah mendapatkan roti dari sang sahabat.


"Lepaskan bodoh, aku tidak bisa bernapas, mau ku pukul kau," geram Nadia.


"Iya maaf, marah-marah aja ibuk Nadia."

__ADS_1


Happy Reading ♥️😘😘🥰


I LOVE YOU 3000🥰♥️😘😘🥰


__ADS_2