
"Tuan muda dia gadis yang menabrak mobil anda, tapi kenapa namanya Olivia ya? bukannya namanya Bintang."
"Aku tahu." Leo menyesap minumannya setelah mengatakan itu.
"Berarti dia punya 2 pekerjaan donk. Tadi pagi saya lihat dengan jelas dia memakai seragam baju pelayan cafe yang sering saya kunjungi dekat Apartemen saya, jadi saya hafal seragamnya," Lanjut Assisten Erik yang malah membahas tentang Bintang.
Leo melirik Assisten Erik dengan tatapan tajam karena terus cerewet. "Kenapa kau terus bicara, kau sangat peduli ya dengannya, pacari saja dia jika kau peduli,"
Sinis Leo menunjukkan kecemburuan karena Assisten Erik sangat memperhatikan secara detail tentang Bintang.
Ya elah Abang Leo, belum juga jadi pacar sudah cemburuan aja.
"Maaf ya Tuan muda, begini-begini saya pria yang setia tau." Dia secara tegas menyatakan bahwa dia adalah suami yang setia dan tak akan pernah berpaling walaupun ada yang lebih cantik.
"Terserah, pokoknya kau sudah membuat ku kesal."
Dahi Assisten Erik seketika mengkerut. "Lah, apa salah ku? kenapa kesal? seolah-olah dia sedang cemburu karena aku menggoda pacarnya, Sungguh aneh.
Ya wajarlah aku memperhatikan Nona Bintang, dia kan ada hubungan dengan gadis itu tentang masalah ganti rugi, bahkan tadi siang dia menyuruh ku untuk mencari tahu informasi tentang Nona Binatang, Apa dia lupa? Dasar bos menyebalkan, untung saja bos."
"Gimana Tuan Leo? anda suka dengan pertunjukan Olivia?" tanya Steven yang datang menghampiri Leo yang kembali duduk dengan santai.
"Berapa lama dia bekerja di sini?"
Dia Tidak menjawab pertanyaan Steven dia malah membalas dengan pertanyaan.
"Baru 2 bulan Tuan."
Leo memutar-mutar gelas wine itu perlahan sambil berpikir sejenak lalu menyesap kembali minuman itu.
"Berapa kali dia perform disini?"
"Tiga kali dalam seminggu Tuan."
Glek.
Kali ini Leo meneguk minumannya sampai habis.
"Aku ingin bertemu dengannya."
__ADS_1
"Baik Tuan, dia masih ada di ruang ganti."
"Ehhh, Apa tadi dia bilang? ingin bertemu? nggak salah dengar nihh.
Sepertinya Tuan Muda tertarik dengan Nona Bintang alias Oliver, sungguh langka kejadian ini, biasanya gadis yang mendekati dia duluan, aku penasaran apa yang akan Tuan muda lakukan terhadap Nona Bintang, mudah-mudahan bukan hal yang buruk, kasian bocah kecil itu harus berurusan dengan Tuan muda yang rada gesrek ini."
*
Tok, tok,tok.
"Iya masuk," teriak Bintang dari dalam.
"Ada apa Steven? bayarnya kamu transfer saja lewat rekening seperti biasa, tak usah berterima kasih karena kamu yang gaji aku dan juga stop memuji suara ku.
aku tahu penampilan ku memang selalu luar biasa tapi jangan memuji berlebihan." ujar Bintang panjang lebar sambil sibuk membersihkan riasannya tanpa tahu siapa yang ikut masuk.
"Hkmmm, hkmmm." Steven memberikan isyarat.
"Apa sih kamu berdehem gitu, ngomong yang jela_"
Bintang membeku saat tahu Steven tidak sendirian, keringat dingin tiba-tiba keluar saat dia mengenali dua orang yang ada di samping Steven. "Mati aku, pasti dia kesini mau minta ganti rugi, uang dari mana?"
"Olivia, kenalkan ini Tuan Leo pemilik Bar ini," ujar Steven memperkenalkan.
Bintang diam.
"Dasar Bintang, kenapa dia diam, bisa ngamuk Tuan Leo di perlakukan seperti ini, aku harus segera bertindak."
Sikap diam membisu Bintang langsung disadarkan oleh Steven.
Dia menghampiri Bintang dan menyenggol bahu gadis itu dengan bahunya agar Bintang tersadar.
"Bergerak lah, Apa kau lumpuh? cepat sapa Tuan Leo," bisik Steven yang sudah ketakutan setengah mati, takut bosnya itu marah besar dan itu akan berimbas kepadanya sebagai penanggung jawab Bar.
"Hehehe, maaf Tuan, dia sedang lelah makanya otaknya loading," Steven tertawa kaku untuk mencairkan suasana.
"Selamat malam Tuan," ujar Bintang gugup.
"Bungkukkan badanmu," bisik Steven lagi.
__ADS_1
Bintang langsung mengikuti perintah Steven. "Maaf karena sebelumnya saya tidak sopan," ujar Bintang.
Bulu kuduk Steven merinding karena melihat Leo menyeringai. "Tuan, kenapa wajahmu itu sangat mengintimidasi walaupun sedang tersenyum, Apa yang di pikirkan Tuan ya ? Apa dia marah? Tuan Leo tolong lah bicara jangan membuatku spot jantung karena ketakutan."
"Tinggalkan kami berdua!"
Suara berat itu kembali membuat Steven merinding. "Matilah kau Bintang, semoga kau tidak di tembak mati oleh Tuan Leo," bisik Steven ke Bintang.
Setelah mengatakan itu Steven langsung keluar bersama Assisten Erik.
Bisikan itu berhasil membuat Bintang merinding ketakutan. "Apa dia sekejam itu, apa benar aku akan di bunuh? Tuhan memang aku lelah menjalani hidup ini tapi aku belum mau mati, bagaimana dengan Nadia? aku belum sempat membalas budinya." Dia menelan ludah dengan kasar karena kerongkongan nya merasa kering akibat menahan rasa takut.
"Kau bilang namamu Bintang tapi tadi Steven bilang namamu Oliver.
Kau mau menipuku?" Selidik Leo sambil berjalan mendekat ke arah Bintang dengan derap langkah yang berhasil mengintimidasi Bintang.
Sehingga gadis kecil itu otomatis mundur kebelakang. "Saya tidak berbohong, Nama saya memang Bintang, Oliver adalah nama panggung untuk di Bar," ujar Bintang menunduk takut.
Bintang terus melangkah mundur karena Leo terus melangkah maju. Tindakan Pria itu seperti harimau yang siap menerkam mangsanya, dan hal itu sangat membuat Bintang takut.
"Tetap saja kau menipuku, Kenapa tidak memberitahu ku jika kau bekerja disini?"
"Emang siapa dia harus tahu tentang kehidupan ku dan kenapa juga harus memberi tahu dia.
Mana aku tahu kau pemilik Bar ini bodoh, alasan mu sungguh tidak masuk akal untuk menyalahkan ku, dasar menyebalkan, wajahnya aja ya tampan tapi otaknya kosong,"
"Kenapa kau diam? sudah paham apa kesalahan mu, Apa kau sudah merasa bersalah sekarang?" ujar Leo sambil terus melangkah maju mendekat ke arah gadis itu.
"Maaf Tuan, saya tidak tahu anda pemilik Bar ini," Berbeda dengan makiannya dalam hati, dia berbicara dengan lembut, berpura-pura sabar di hadapan Leo.
"Tangannya terkepal berarti dia sudah mulai marah, senang sekali mengerjainya, kau sangat lucu saat menahan amarah, Bintang kecil ku sangat manis." Beda dengan wajahnya yang mengintimidasi ternyata dalam hatinya dia menjerit senang melihat Bintang yang tertunduk takut tapi kenyataannya gadis itu sangatlah marah, bagi Leo itu sangat menggemaskan.
"Ehhhh," Lenguh Bintang karena punggungnya menabrak tembok putih yang keras itu.
Tubuh Bintang gemetar karena dia dapat melihat tangan Leo menempel di tembok, tangan kokoh nan berotot itu membentang disisi kanan dan kiri tubuhnya yang membuat dia terkurung tak berdaya. "Sial, matilah aku sekarang, Apa yang harus aku lakukan? Kenapa harus dekat-dekat gini sih, kan bisa bicara nggak sedekat ini, Apa jangan-jangan dia ingin mencekik ku sampai mati? Ihhhh menyeramkan." Bintang membayangkan kejadian selanjutnya yang akan terjadi padanya dan itu berhasil membuatnya semakin gemetaran
Happy Reading ♥️😘🥰🥰😘
I LOVE YOU 3000😘🥰♥️🥰🥰♥️
__ADS_1