Bintang Kecil Ku

Bintang Kecil Ku
Maafkan aku


__ADS_3

Tanpa ingin berdebat dengan Leo, Bintang melanjutkan berjalan menuju ranjang rumah sakit yang tak begitu jauh darinya.


Tapi di tengah jalan dia sedikit terhuyung karena masih lemas.


Hap.


Dengan sigap siaga Leo menangkap tubuh Bintang. Tangannya mendarat tepat di pinggang ramping gadis itu. "Kamu baik-baik saja?" entah sudah berapa kali Leo bertanya seperti itu.


Bintang memperhatikan wajah khawatir Leo. "Kenapa dia begitu tulus? padahal ini cuma pacaran kontrak, dia begitu serius menjaga ku selayaknya kekasih sendiri." Bintang menatap Leo yang terlihat menjaganya penuh dengan kasih sayang.


"Bintang bicaralah, jangan membuat ku takut."


"Ehhhh, maaf. aku tadi cuma lemas."


"Aku akan membantu mu," perlahan Leo mengalungkan tangan Bintang ke lehernya.


Berjalan dengan hati-hati, Leo menjaga tubuh Ana bak barang pecah belah yang sangat rapuh, penuh kesabaran Leo memapah tubuh Bintang menuju ranjang pasien itu.


"Hati-hati," Perlahan Leo membiarkan Bintang duduk di tepi ranjang. Dia ingin membantu mengangkat kedua kaki Bintang ke ranjang tapi di stop oleh gadis itu.


"Tuan saya bisa sendiri," ujar Bintang gugup, dia merasa tidak enak dengan Leo. Siapa lah dia yang harus di layani seperti itu. Dia sadar Leo adalah orang asing yang menjadi pacar kontraknya saja untuk menebus hutang.


"Diam! kamu masih lemas jangan memaksakan diri."


"Tapi saya merasa tidak enak Tuan. Anda adalah orang terhormat tidak pantas melayani saya seperti ini."


"Anggap saja aku melakukan ini untuk menebus kesalahan ku waktu itu. Apa kesalahan itu bisa di tebus dan di maafkan?" Tanya Leo, Dia menatap Bintang dalam seperti ingin menyampaikan sesuatu ke Bintang lewat tatapan matanya.


Bintang terdiam tak menjawab apapun. Dia sedikit kaget mengetahui jika Leo masih mengingat kejadian waktu itu. Dia mengira Leo adalah pria kaya yang seenaknya berbuat sesuatu dan pasti akan segera melupakan hal buruk yang pernah dia lakukan.


Bintang mengira Leo tidak merasa bersalah dan menganggap apa yang dia lakukan bukan kesalahan yang besar karena selama ini Leo bungkam tak pernah meminta maaf padanya.


Dengan perasaan bersalah Leo kembali tertunduk karena malu dengan Bintang. Dia merasa tidak pantas menatap gadis cantik itu setelah apa yang dia lakukan tempo lalu. "Leo lancang sekali kamu mengatur dia untuk memberikan kamu kesempatan untuk menebus kesalahan fatal itu." Leo merutuki dirinya yang tak tahu diri.

__ADS_1


"Maafkan aku atas kejadian yang membuat kamu tidak nyaman tempo lalu. Aku sangat menyesal melakukan hal buruk seperti itu kepada mu, aku merenungkan ini selama berhari-hari dan inilah waktu yang tepat untuk aku meminta maaf kepada mu." Leo semakin tertunduk lesu saat mengingat kejadian itu. Dia sungguh jahat kepada Bintang. Rasa bersalah yang dia miliki sungguh lah besar kepada gadis cantik itu. Leo membungkukkan badan di hadapan Bintang. "Maafkan aku Bintang." Dia akan terus berada dalam posisi membungkuk sebelum Bintang memberikan maaf.


"Rasanya aku sedang berada di dunia lain. Apa pria menyeramkan seperti dia bisa benar-benar sangat menyesal seperti ini? baru kali ini aku melihat wajah putus asanya." Bintang dapat melihat raut penyesalan di wajah Leo. Baru kali ini dia melihat sisi lain dari Leo. Biasanya Leo selalu dominan, selalu mengancam Bintang dengan berbagai cara, selalu melakukan hal semaunya tanpa memikirkan orang lain, selalu memaksa.


"Tuan angkat badan anda." ujar Bintang yang melihat pria itu terus membungkuk di hadapannya.


"Aku tidak akan berhenti membungkuk dan meminta maaf sebelum kau memaafkan ku."


"CK, Ternyata sifat memaksanya itu selalu ada tak pernah hilang." gerutu Bintang dalam hati.


"Baiklah Tuan, saya akan memberikan anda kesempatan untuk menebus kesalahan yang pernah anda perbuat kepada saya."


Mendapat kesempatan kedua membuat Leo langsung berdiri tegak, menatap Bintang dengan nanar.


Saking senangnya membuat Leo reflek langsung memeluk Bintang dengan erat meluapkan rasa bahagianya. "Makasih Bintang, aku janji tidak akan memaksakan sesuatu kepada mu lagi."


"Tu...an, sa...ya tidak bi...sa bernapas." ujar Bintang dengan suara terbata.


"Lagipula kenapa dia harus senang seperti itu. kayak orang habis mendapat hadiah lotre miliyaran aja." Bintang hanya bisa terheran-heran dengan Leo.


"Sekarang apa yang kau inginkan? aku akan mengabulkan segalanya."


"Emmm." Bintang berpikir sejenak. "Saya ingin sahabat saya Nadia untuk menemui saya disini, dia pasti khawatir karena saya tidak bisa menghubunginya. Ponsel saya tertinggal di loker tempat saya bekerja."


"Oke, baiklah, aku akan menyuruh Erik menjemputnya."


Senyuman manis itu melengkung merekah di bibir gadis itu. "Terimakasih Tuan, saya akan memberi tahu alamat Nadia."


"Tidak perlu, Assisten Erik sudah tahu."


"Apa?" pekik Bintang. Dia langsung menyipitkan matanya menyelidik. "Jangan-jangan Assisten Anda itu memata-matai teman saya ya? Apa mungkin Tuan Erik menyukai teman saya?" Cecar Bintang.


"Jangan berpikiran negatif, Erik sudah punya istri."

__ADS_1


"Terus kenapa dia bisa tahu rumah teman saya?"


"Jangan memikirkan tentang itu, lebih baik sekarang istirahat, kau sudah lama duduk, pasti pegal."


"Saya masih kuat, jawab dulu pertanyaan saya Tuan." Rengek Bintang.


Tak menghiraukan rengekan Bintang, pria itu langsung merebahkan tubuh gadis itu lalu menyelimutinya dengan baik. "Suttt, Diam, kau ingin cepat sembuh atau tidak?"


"Cepat sembuh," jawab Bintang sambil manyun karena rasa ingin tahunya yang tinggi harus terhalangi oleh Leo yang menurutnya pelit informasi.


"Dasar suka mengatur, memangnya aku siapanya?"


*


Di tempat lain, Nadia sedang menatap heran Assisten Erik. "Ini kan pria yang sering mengantar jemput Bintang, darimana dia tahu rumahku? dan ngapain juga dia datang kesini? bikin takut saja."


"Apa benar anda Nona Nadia teman Nona Bintang?" ujar Assisten Erik datar.


"I...ya, ini saya Nadia teman Bintang, ada apa ya?" ujar Nadia dengan ragu.


"Tegang amat sih ni orang, kok kuat ya ngomong formal kayak gitu." Di dalam pikirannya Nadia terus saja mengomentari gaya bicara Assisten Erik. Dasar Nadia julid hahaha.


"Tolong ikut saya ke rumah sakit, Nona Bintang ingin bertemu dengan Anda."


"Benarkah? Apa dia baik-baik saja?" Nadia sangat semangat akan mengetahui kabar terbaru sahabat nya yang terakhir dia ketahui pingsan di tempat kerja.


"Kabar Nona Bintang baik, Ayo ikut saya Nona."


Nadia terdiam tak mau melangkah, dia berpikir sejenak sambil menelaah Assisten Erik dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Mana buktinya kalau Bintang yang menyuruh ku kesana? saya tidak mau pergi dengan orang asing seperti anda." insting waspada Nadia sangat kuat. Dia sudah biasa hidup di kota yang keras sehingga membentuk mental nya sekuat baja.


Happy Reading ♥️


I LOVE YOU 3000♥️♥️♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2