Bintang Kecil Ku

Bintang Kecil Ku
Bertemu kembali


__ADS_3

Bintang langsung sakit kepala saat melihat ban sepedanya yang sudah lepas dan mobil yang dia tabrak sedikit lecet. "Mati aku, bagaimana jika Si pemilik mobil minta ganti rugi, uang dari mana? sungguh sial nasib mu Bintang.


Sepeda rusak, terlambat kerja, dan sekarang pasti akan di maki-maki oleh pemilik mobil ini.


"Akhh, rasanya ingin menjerit saja.


Kenapa Kemalang selalu menimpaku sih."


"Nona, Ada tidak apa?" tanya Assisten Erik melihat orang yang dia tabrak kesakitan.


"Aku baik-baik saja. Bapak pemilik mobil ini?"


Assisten Eri mengangguk pelan dengan ekspresi kurang menyenangkan.


"Apa tadi dia bilang Bapak? emang mukaku kayak bapak-bapak?


Emang sih aku sudah menikah tapi aku kan belum punya anak, harusnya aku ini suami-suami.


Apa tadi dia bilang?


Bapak pemilik mobil ini?


Ya jelas kan aku yang turun dari mobil ini, tapi sebenernya bukan punya ku sih, punya bos lebih tepatnya."


Ada-ada saja Assisten Erik masak orang lain memanggilnya suami, kan aneh donk, memang Bos dan Assisten sama-sama gila.


"Kayaknya bapak ini galak deh, wajahnya aja serem banget dan jutek, aku harus segera berakting di hadapannya agar menarik simpati."


Bintang bersiap dengan muka yang sudah di pasang setebal mungkin. Dia berlutut di hadapan assisten Erik sambil mencakupkan kedua tangan dengan wajah yang memohon seperti orang yang minta-minta di pinggir jalan.


"Pak, ampuni perbuat saya, ini memang salah saya tapi saya tidak sengaja karena sedang buru-buru berangkat kerja, anda bisa meminta ganti rugi tapi di cicil ya, saya tidak punya uang untuk sekarang karena saya harus membayar uang kos, kalau saya tidak membayar nanti di usir dan kalau di usir dimana donk saya tinggal.


"Semoga ini berhasil, cara untuk meminta maaf ke orang kaya yang harus seperti ini supaya mereka terenyuh, siaplah sekarang kamu di cap perempuan tak tahu malu, mau gimana lagi kehidupan yang keras ini yang menyebabkan."


Mata Assisten Erik membulat kaget kenapa gadis yang ada di depannya ini memohon sampai segitunya padahal dia keluar kan ingin menyuruh sang pemilik sepeda agar memindahkan sepedanya agar dia bisa lewat.


"Ganti rugi? mana mungkin Tuan muda meminta ganti rugi, itu kan hanya lecet sedikit, bagi tuan muda itu hanya hal kecil.


Gadis ini menghina Tuan muda miskin donk, belum tahu saja siapa Tuan muda."


"Bagun." ujar Assisten Erik datar.


"Mampus aku, sekarang aku pasti di gantung dah, lihat saja wajah sangar itu, tak bersahabat sama sekali."


Doa terus Bintang ucapkan dalam hati agar tidak di hantam oleh orang kaya di depannya.


Dia perlahan bangun dengan kaki yang gemetaran.

__ADS_1


"Singkirkan sepada mu dari hadapan mobil ku, dan pergi dari sini," ujar Assisten Erik jutek.


"Apa aku nggak salah dengar?


Dia hanya menyuruh ku untuk memindahkan sepeda dan pergi.


Berarti dia nggak minta ganti rugi donk, walaupun wajahnya sangat sangar ternyata dia baik."


"Hei! jangan bengong, cepat singkirkan sepedamu, membuang waktu saja."


"Ehh, Maaf."


Dengan gerakan cepat Bintang berusaha menyingkirkan sepedanya yang rusak.


"Apa sih yang mereka bahas, lama sekali, membuang waktu saja, bisa telat meeting ini, sepertinya aku yang harus turun tangan, dasar Assisten tidak berguna."


Dengan sangat terpaksa Leo harus turun dari mobil.


"Emangnya kau rapat di jalanan? lama sekali, masak masalah seperti ini harus aku juga ya_"


Omelan pria itu berhenti.


Deg.


Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang saat melihat gadis cantik yang sedang sibuk menarik sepeda.


"Perasaan ini sama persis apa yang aku rasakan saat aku bertemu dengan Bintang kecilku 16 tahun yang lalu, siapa gadis itu sebenarnya?"


Tiba-tiba si Tuan cerewet ini berhenti mengomel, padahal hobinya kan mengomel."


Assisten Erik keheranan melihat Leo yang membeku tak bicara satu katapun dan hanya fokus melihat gadis yang menabrak mobil yang mereka tumpangi.


"Tunggu!" teriak Leo yang melihat Bintang akan pergi.


"Apa lagi sih? tadi menyuruh ku pergi sekarang memanggil ku lagi, sungguh menyebalkan, nggak tahu aku udah terlambat kerja apa."


Secara perlahan Bintang membalik badanya dengan rasa takut untuk di minta ganti rugi. "Ehh, orang yang berbeda? perasaan tadi cuma ada satu orang kenapa berubah jadi dua, ini mataku yang salah apa gimana sih?"


"Kesini mendekat," perintah Leo.


Dengan langkah ragu Bintang mendekat, dia menunduk takut mengetahui dirinya akan kembali di adili karena kecerobohan yang dia lakukan.


"Siapa namamu?"


"Bintang pak."


Deg.

__ADS_1


"Apakah ini nyata? atau mungkin kah aku sedang bermimpi, Bintang kecil yang baru saja aku bayangkan hadir tepat di hadapan ku dengan wajah yang berbeda tapi dengan perasaan yang sama seperti kita bertemu dulu.


Berarti perasaan cinta yang aku rasakan dulu adalah nyata.


Bintang kecilku mulai hari ini tidak akan ku biarkan kau lepas seperti dulu, sekarang aku mulai yakin dengan perasaan ku dan akan mengejar mu bagaimana pun caranya."


Assisten Erik dan Bintang saling lirik satu sama lain, Meraka yang belum kenal satu sama lain pun sudah mulai satu frekuensi dalam menilai tingkah Leo yang hanya diam membeku setelah Bintang memperkenalkan diri.


"Pak, ada apa dengan nya?"


"Jangan panggil aku pak, emangnya aku bapakmu," kesal Assisten Ken yang terus di panggil bapak oleh Bintang.


"Anak jaman sekarang memang tidak tahu sopan santun."


"Sensi amat si ni bapak tua, dasar tidak tahu diri sudah tua nggak mau di panggil bapak, udah untung aku panggil pak supaya sopan, terus aku harus panggil dik gitu."


Keduanya saling memandang dengan kilatan permusuhan, saling menggerutu dalam hati.


Meraka berdua seperti melakukan percakapan melalui tatapan mata.


"Hentikan!" Suara berat Leo menghentikan suara hati mereka yang saling menggerutu, Bintang langsung menunduk kembali.


"Untuk kau." Leo menunjuk Bintang. "Berikan no handphone mu supaya bisa di hubungi untuk melakukan ganti rugi dan Alamat rumah mu juga supaya kau tak bisa kabur," ujar Leo.


Mata Assisten Erik melotot heran.


"Tuan muda minta ganti rugi? Apa semua ini nyata? baru saja aku banggakan dia, sekarang malah mengecewakan, Tuan muda sungguh kejam kepada gadis miskin ini."


Dengan pasrah Bintang menerima handphone yang di serahkan oleh Assisten Erik, dia tidak melawan sama sekali karena tahu dirinya salah.


"Baru saja aku memuji orang kaya ini baik, akan ku tarik semua pujian ku, Dasar tidak punya perasaan, bisa-bisanya aku di prank oleh orang-orang kaya ini, menyebalkan, mudah-mudahan kau bangkrut karena telah menindas rakyat kecil seperti ku."


Sambil menggerutu dalam hati dia mengetik no telepon nya dan alamat kosnya.


"Ini," Bintang menyerahkan handphone itu kembali.


Kring.


Telepon Bintang berbunyi.


"Itu No ku. Simpanlah, terimakasih kau sudah jujur," ujar Assisten Erik.


"Walaupun aku miskin, aku ini orang yang jujur.


Sudah selesai, Kan? aku harus pergi."


"Silahkan."

__ADS_1


Happy Reading ♥️😘😘🙏😘


I LOVE YOU 3000🥰♥️😘🥰♥️


__ADS_2