Bintang Kecil Ku

Bintang Kecil Ku
Hadiah


__ADS_3

"Bagaimana Nona Hani? Apa kau sudah menentukan pilihan mu? minta maaf dengan kekasih ku atau photo-photo itu tersebar ke media?" Hanya dua pilihan itulah yang tersisa untuk Hani yang berani bermain-main dengan Leo dan dengan sombong menghina Bintang kecil miliknya yang sangat berharga.


"Baiklah aku akan minta maaf," jawab Hani lesu. Tak ada lagi pilihan selain mau merendahkan ego dan harga dirinya. Bisa hancur masa depannya jika dia melawan.


"Heii, aku minta maaf." ujar Hani yang masih acuh dengan Bintang. Dia canggung untuk meminta maaf kepada orang lain karena dia sama seperti Leo, lahir di keluarga kaya, tapi pasti tak sekaya Keluarga Hugo.


"Namanya Bintang. Lakukan dengan baik." geram Leo, menatap tajam Hani.


"Iya, maaf. Nggak usah menatapku seperti itu, membuatku takut saja," gerutu Hani. dia tak menyangka pria yang sangat dia cintai mempermalukan dirinya seperti ini.


"Bintang aku minta maaf karena mengatai mu tadi." ujar Hani dengan yakin dan pasti.


Bintang hanya memberikan senyuman membalas permintaan maaf Hani.


"Membungkuk lah!" bentak Leo.


Hani memutar bola matanya malas. "Setega ini kau padaku, menyesal aku sudah mencintaimu setulus hatiku, pria sialan." Hani seolah memaki Leo dengan sorot matanya.


"Kau ingin melawan lagi," ujar Leo yang melihat sorot mata Hani yang seolah menantangnya.


"Iya, aku akan membungkuk." ujar Hani Lesu. persetan dengan harga diri, lebih baik dia membungkuk di hadapan Bintang daripada karirnya hancur berkeping-keping.


Baru saja Hani perlahan akan membungkuk namun langsung di hentikan oleh Bintang. "Tidak usah Nona, saya sudah memaafkan anda."


"Sayang, kenapa kau sangat baik hati. Aku jadi tambah mencintai mu," ujar Leo dengan nada kagum sekaligus gemas.

__ADS_1


"Ayo sayang, lebih baik kita pulang, aku kedinginan," ujar Bintang lalu menarik tangan Leo untuk beranjak dari sana.


Sebelum pergi Leo masih sempat mengancam Hani mengunakan sorot matanya, seolah berkata. "Awas kau macam-macam lagi dengan kekasih ku."


Hani hanya bisa menatap kepergian dua sejoli itu tanpa bisa berbuat apapun. "Siapa sebenarnya gadis itu? aku sedikit kagum dengan nya karena bisa mengendalikan Leo yang selama ini tak bisa di kendalikan oleh siapapun, dari penampilan gadis itu yang udik sepertinya dia bukan dari keluarga kaya tapi kenapa bisa berhubungan dengan Leo? Selama ini Leo selalu berhubungan dengan wanita berkelas." Hani berdiri disana menatap punggung dua sejoli itu yang mulai menghilang dari pandangannya dengan sejuta pertanyaan di kepala Hani.


"Hahahaha," Bintang tertawa terbahak-bahak sesampainya dia di dalam mobil, dia tertawa sampai memegangi perutnya.


Leo yang ada di samping Bintang hanya tersenyum manis menanggapi gadis itu yang tertawa sampai terpingkal-pingkal. "Aku bangga karena bisa melindungi mu dari hinaan orang lain. Mulai sekarang dan seterusnya aku adalah pelindung mu."


"Tuan, anda bisa lihat kan bagaimana wajah ketakutan Nona itu? itu sangat lucu, hahahaha, tau rasa emang enak, makanya jangan sombong. Tapi kasian juga ya, saat melihat wajah pucat Nona itu." Bintang langsung menghentikan tawanya teringat betapa paniknya Hani tadi. Dia pernah sering di ancam oleh sang mantan kekasih tanpa ampun jadi dia bisa merasakan apa yang Hani tadi rasakan.


"Ada apa dengannya? perasaan tadi dia tertawa penuh kemenangan tapi kenapa dia berubah sedih? Apa dia merasa bersalah dengan Hani atau ada yang dia pendam tapi tak mau dia sampaikan?"


"Kau kenapa?" tanya Leo yang melihat ekspresi wajah Bintang yang seketika berubah murung, Leo dapat melihat ada kesedihan di mata indah itu.


"Kenapa kau menutupinya Bintang kecil ku? apa aku belum pantas untuk masuk ke dunia mu. Kau belum mempercayai ku?"


"Kenapa tadi kamu menyelamatkan Hani dari rasa malu? Aku sudah membukakan jalan untuk mu balas dendam tapi kau malah menghentikan Hani untuk membungkuk di hadapan mu." ujar Leo untuk mencari topik pembicaraan.


"Saya ini masih punya hati nurani Tuan, saya tak mau orang lain tunduk di hadapan saya. Saya hanya ingin di hormati secara manusiawi saja.Tadi saya hanya ingin sedikit memberikan Nona itu pelajaran karena merendahkan saya." ujar Bintang.


"Kenapa kau begitu baik sayangku?"


"Ngomong-ngomong tadi anda mengancam Nona itu dengan menggunakan apa ? apa yang ada di layar handphone anda itu? kenapa Nona itu terlihat ketakutan setengah mati?" Selidik Bintang menatap Leo dengan serius.

__ADS_1


"Itu bukan urusan mu yang penting sekarang aku minta hadiah karena aku sudah membantu mu tadi."


"Kenapa semua harus ada hadiahnya sihh, pamrih sekali dia menolong orang lain, dasar pelit. Memang dia pelit dari dulu makanya menyuruh ku ganti rugi mobil yang lecet itu. Katanya kaya tapi masih minta ganti rugi." Bintang hanya bisa menggerutu dalam hati.


"Hadiah Apa?" ujar Bintang malas.


"Malam ini aku ingin tidur dengan mu." ujar Leo tersenyum senang.


"Dasar modus, pasti dia akan berbuat mesum makanya minta tidur dengan ku, kemarin malam saja sudah membuat leherku merah semua, sekarang apa yang akan pria ini lakukan. Pertama dia mencium bibirku, lalu leherku terus nanti pasti turun lagi ke bawah. Akhhhh, ini tak boleh di biarkan."


"Tuan saya tidak mau, anda bisa minta hadiah yang lain, misalnya barang atau makanan." Saran Bintang, dia tak mau lagi terjebak tipu muslihat Leo.


"Aku tidak menginginkan barang apapun dari mu, aku orang kaya, aku sudah punya segalanya, aku hanya ingin malam ini tidur dengan mu." Tak terbantahkan Leo menginginkan tidur dengan Bintang malam ini, tanpa alasan dia menginginkan hal itu, dia tidak ingin Bintang tidur sendiri dan mengigau histeris seperti waktu di rumah sakit, namun sayangnya Bintang menganggap itu hanya akalan Leo yang ingin berbuat mesum.


"Pria mesum ini, tak bisa apa nggak membuatku pusing sekali saja, selalu saja berdebat dengan ku, menyebalkan."


"Terserah anda, pokoknya saya tidak mau tidur dengan anda malam ini," ujar Bintang kekeh pada pendiriannya.


"Baiklah aku minta hadiah yang lain saja, kau akan menjadi pacarku selama 6 bulan, aku ingin penambahan waktu 3 bulan, bagaimana?" Pria itu menaikan alisnya dengan percaya diri.


"Apa-apaan ini, kenapa dia pintar sekali mencari celah untuk menjebak ku, aku yang bodoh apa dia yang terlalu pintar? Ahh, bukan pintar tapi licik, belum sebulan aku hidup dengannya sudah tak sanggup apalagi nambah jadi 6 bulan. Bisa gila aku lama-lama."


"Baiklah, saya mau tidur dengan anda malam ini. Puas sekarang?" ujar Bintang dengan nada kesal. Lagi dan lagi Bintang haya bisa pasrah menuruti permintaan pria itu, daripada dia mengabiskan lebih banyak waktu dengan Leo, lebih baik memilih untuk tidur dengan pria itu, hanya satu malam saja, Kan? daripada nambah jadi 3 bulan.


Happy Reading ♥️♥️♥️

__ADS_1


I LOVE YOU 3000♥️😘🥰😘🥰


__ADS_2