
"Kemarin saat kau pingsan di cafe. Tuan Leo dengan gagah dan keren mengangkat tubuhmu seperti seorang pahlawan penyelamat, seperti di drama-drama korea tau. Akhhh, saat itu rasanya aku ingin berteriak histeris tapi tubuh ku tiba-tiba kaku. Tuan Leo aslinya sangat tampan dan kau tahu aku hampir pingsan karena melihat ketampanannya. tadi saja jantung ku masih berdebar saat melihat nya. Sungguh ciptaan tuhan yang luar biasa. Tuhan tolong kirimkan aku pria seperti Tuan Leo." Nadia dengan semangat menceritakan bagaimana kesan pertama dia bertemu dengan Leo.
"Bintang kenapa kau diam saja." kesal Nadia yang tidak mendapatkan respon dari Bintang. sahabatnya seperti tidak tertarik dengan cerita yang telah dia jabarkan.
Bintang malah asik makan buah.
"Terus aku harus bagaimana? jungkir balik? salto? aku lagi sakit tidak bisa melakukan semua yang tadi aku sebutkan itu." ujar Bintang santai.
"Maksud ku, Apa kau merasakan hal yang sama seperti ku juga saat pertama kali bertemu Tuan Leo?"
"Tidak, biasa saja. bahkan aku kesal dengannya karena menyuruh ku ganti rugi mobil yang lecet itu." Bintang kesal jika mengingat itu. Padahal Assisten Erik sudah membebaskan nya waktu itu tapi Leo datang dan tiba-tiba menyuruhnya ganti rugi. Menyebalkan, Kan?
"Kan kau yang salah. jangan salahkan Tuan Leo donk." Bela Nadia sang pemuja Tuan Leo.
"Ohh, sekarang kau sudah berada di pihaknya ya?" Bintang menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Kau bersahabat saja dengan Tuan Leo jika senang dengan pria itu." kesal Bintang dengan bibir cemberut.
"Baiklah jika itu mau mu, aku akan bersahabat dengan Tuan Leo tapi pertanyaan dia mau nggak bersahabat dengan ku, nanti kau tanyakan ya dengan Tuan Leo. aku pingin deh punya teman yang kaya raya." Ujar Nadia yang malah menggoda Bintang.
Terlihat Bintang semakin kesal dengan Nadia. "Nadia, hiksss, hiksss." Rengek Bintang dengan air mata yang berlinang.
Mata Nadia langsung membulat melihat Bintang yang tiba-tiba menangis. Tumben temanya ini sensitif sekali, dia kan tadi hanya bercanda pikir Nadia.
"Heii, jangan menangis. kamu kenapa?" Panik Nadia melihat ujung mata Bintang sudah menganak sungai. "Aku tadi hanya bercanda, kamu kok tumben serius sekali, Maaf." Sesal Nadia yang tak menyangka Bintang akan bereaksi berlebihan.
"Hikss, Aku cuma punya kamu, kalau kamu memihak nya, aku sendiri donk, Hikss. Aku nggak sanggup lagi kehilangan." Entah apa yang merasuki gadis itu. Tiba-tiba dia begitu cengeng.
Penuh kasih sayang Nadia memeluk Bintang. dia mengusap punggung sahabatnya dengan lembut. "Tenang Bintang. Aku tadi cuma bercanda, kita kan sering bercanda kayak gitu. Mana mungkin aku meninggalkan mu demi Tuan Leo. Memangnya Tuan Leo itu siapa bisa menggantikan posisimu. Kau sahabat terbaik tak ada yang lain."
"Beneran?" Ujar Bintang sambil sesenggukan di pelukan Nadia.
"Iya. udah jangan nangis nanti cantiknya hilang."
"Biarin." Bintang mengeratkan pelukannya. Sepertinya dia enggan melepas Nadia.
__ADS_1
Nadia hanya bisa tersenyum mendengar ucapan sahabatnya ini. "Dia sungguh tak pernah berubah, aku berasa jadi pacarnya, untung saja aku perempuan."
Sebenarnya dari dulu Bintang memang memiliki trauma dengan yang namanya perpisahan. Di hati kecilnya selalu ada rasa takut di tinggalkan oleh orang yang dia sayang. Dari kecil Bintang terlalu sering di tinggalkan oleh orang yang dia sayangi, pertama ibunya, kedua ayahnya yang meninggal saat dia bisa melihat dunia luar setelah 12 tahun tinggal di asrama, sangat sedikit waktu yang bisa dia habiskan dengan kedua orang tuanya. Ditambah lagi dia pernah di tinggalkan oleh sang kekasih saat masih cinta-cintanya. Sekarang traumanya timbul lagi akhir-akhir ini. Itu semakin membuat Bintang takut di tinggalkan.
"Hahahaha. ini sangat lucu." Suara tawa Bintang yang renyah terdengar jelas sampai luar ruangan.
Sampai Leo yang ingin masuk memilih menghentikan langkahnya.
"Anda Kenapa Tuan muda?" tanya Assisten Erik yang melihat Leo berhenti, mematung di depan pintu ruang rawat.
"Dia terdengar bahagia. Aku belum pernah mendengar dia tertawa lepas seperti itu." gumam Leo pelan dengan wajah sendu. Tanpa dia ketahui Bintang sempat menagis tersedu-sedu tadi.
"Maaf saya tidak terlalu dengar, apa tadi Tuan muda?" tanya Assisten Erik yang mendengar suara dari Tuan mudanya yang akhirnya keluar setelah tadi sempat bungkam, namun dia tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang ucapakan Leo.
Ceklek.
Leo masuk tanpa menjawab pertanyaan Assisten Erik yang tengah kebingungan dengan tingkahnya. "Dia kira aku patung? dari tadi nggak di respon, dasar bos seenaknya."
Nadia langsung terlonjak bangun melihat kedatangan Leo. "Maaf Tuan," Nadia membungkuk hormat.
"Untuk apa kau melakukannya, emang dia raja di jaman kekaisaran kuno." bisik Bintang sambil menarik-narik ujung baju belakang Nadia yang ada di depannya.
"Diam kau." balas Nadia menoleh ke belakang lalu tersenyum kaku di hadapan Leo yang memandangnya datar.
"Tidak perlu minta maaf." ujar Leo dengan datar.
"Huhh, Aman." Nadia bisa bernafas lega mendapatkan pengampunan dari pria tampan itu.
"Bisa kau minggir, aku ingin melihat kekasih ku." Leo mengibaskan tangannya.
"Dia mengakui ku sebagai kekasihnya? Apa dia sedang mabuk? atau hilang akal?" Bintang terkejut karena Leo berani mengumumkan dia sebagai seorang kekasih di depan orang lain tanpa keraguan sama sekali.
Gadis dengan rambut ikal itu tersenyum malu, dia tidak sadar sudah menghalangi wajah Bintang yang ada belakangnya. "Ahhh, maaf Tuan, saya tidak sadar." Nadia dengan secepat kilat menggeser tubuhnya memperbaiki kesalahan yang dia buat. "Silakan Tuan."
__ADS_1
"Kamu kenapa? ada yang sakit?" cemas Leo yang melihat Bintang terdiam dengan mengerutkan dahinya.
Bintang menggeleng tanpa mengucapkan apapun.
Perlahan tapi pasti Leo duduk di tepi ranjang. "Apa sudah selesai berbincangnya? aku akan menyuruh Erik mengantar Nadia pulang." Leo berbicara dengan lembut selembut kapas.
"Tapi kami baru satu jam berbincang, saya belum puas berbicara dengan sahabat saya." Tolak Bintang, dia tak rela di tinggalkan Nadia. 1 jam waktu yang singkat baginya.
"Tak masalah Bintang. Aku bisa kembali pulang kok." Nadia merasa sungkan dengan Leo.
"Nggak mau!" Rengek Bintang.
"Bintang! jika kamu terus berbincang kapan kamu akan istirahat? kamu perlu istirahat yang banyak. Apa lupa dengan yang di katakan oleh dokter?" tegas Leo.
"Benar apa yang di katakan Tuan Leo, kamu seharusnya istirahat," sahut Nadia ikut membujuk Bintang yang seperti anak kecil. setiap sakit pasti gadis itu akan bertingkah seperti anak kecil. selalu ingin di temani.
"Ya udah, aku akan merelakan mu untuk pulang." Lesu Bintang dengan raut wajah sedih.
"Erik antar Nadia pulang." perintah pria itu.
"Baik Tuan muda."
"Aku pulang dulu ya, Byee, cepat sembuh ya." pamit Nadia tersenyum untuk menghibur sahabat nya yang sedih.
"Byeee, hati-hati di jalan." Bintang melambaikan tangan dengan lemas.
"Permisi Tuan, saya pamit." Tidak lupa Nadia berpamitan juga ke Leo.
Leo hanya mengangguk mengiyakan.
Happy Reading ♥️🥰🥰😘
I LOVE YOU 3000😘🥰♥️🥰
__ADS_1